
"Aku nggak tahu mba. Hidupku sudah hancur...." Ungkap isi hati Janet kepada wanita itu dengan kesedihan yang mendalam.
Karena merasa kasian terhadap Janet, wanita itu mengajak Janet ke rumahnya. Tiba di rumah wanita itu, Janet tercengang dengan apa yang di lihatnya. Banyak para wanita-wanita seksi di sana, tapi Janet tetap bersikap biasa saja meski sekarang hatinya mulai merasa gelisah lantaran tahu, tempat apa yang dirinya datangi dengan wanita itu. Sampai di rumah wanita itu, Janet di ajak ke dalam rumah.
"Kamu jangan kaget dengan tempat ini. Disini tempatnya bekerja wanita penghibur," terang wanita itu sembari menyodorkan secangkir teh hangat kepada Janet.
"Oh ya, kita belum kenalan. Perkenalkan namaku Lita, tapi orang-orang selalu memanggilku Madam Lili," ujar Madam Lili sembari mengulurkan tangannya.
Janet membalas uluran tangan dengan Madam Lili. "Janet."
Sejak hari itu, madam Lili menganggap Janet sebagai adiknya dan Janet tidak di izinkan keluar dari rumahnya karena madam Lili tidak mau kalau Janet menjadi incaran pelanggannya.
Hingga suatu hari, Janet yang akan memeriksakan kandungannya ke dokter dan di temani oleh madam Lili. Tiba di rumah sakit, Janet dan madam Lili langsung menuju pendaftaran dan setelah itu mengantri untuk di periksa. Hingga tiba gilirannya masuk.
"Bagaimana dengan kandungan saya, dok?" tanya Janet yang sangat penasaran dengan kandungannya.
"Bagus. Janinnya berkembang dengan baik, tapi ibu tidak boleh terlalu lelah dalam beraktivitas. Apalagi kandungan ibu masih sangat muda dan masih sangat rentan. Jangan bawa yang berat-berat dan hindari beban pikiran yang membuat ibu stres," terang sang dokter.
"Baik, dok."
Selesai di periksa, Janet dan madam Lili menebus vitaminnya di apotek.
"Kamu tunggu di sini saja. Biar mba saja yang ambil obat kamu, sekalian mba mau langsung ke toilet," seloroh Madam Lili.
"Baiklah, aku tunggu di sini."
Madam Lili langsung melangkahkan kakinya menuju apotek. Saat sedang menunggu Madam Lili, Janet tak menyangka akan bertemu dengan Bu Cahyani disini.
"Ngapain kamu disini?" Tanya Bu Cahyani dengan tatapan sinis.
Janet tak menjawab, dan memilih pergi dari hadapan Bu Cahyani.
"Tunggu! Sebelum kamu pergi. Saya peringatkan kamu untuk tidak lagi menemui Haris, karena besok Haris akan menikah dengan wanita pilihan saya."
Janet menghentikan langkahnya dan menutup matanya mendengar omongan ibu mertuanya itu, kalau Haris akan menikah lagi. Hatinya yang masih terluka kini semakin menganga lebar luka hatinya.
"Sayang...." Panggil Haris dengan tatapan berbinar karena bertemu dengan Janet, istri tercintanya yang beberapa hari ini di carinya.
"Kamu ngapain kesini? Siapa yang jagain papa kamu?" Ucap Bu Cahyani melihat putranya berdiri tak jauh dari Janet.
"Papa di jagain sama Jefry," jawab Haris.
Haris mendekati Janet dan menyentuh tangan Janet, tapi Janet mengibaskan tangannya dan tak ingin di sentuh sama Haris. Apalagi dirinya mengingat lagi, bagaimana Haris bercumbu dengan wanita lain.
__ADS_1
"Sayang, aku mau bicara sama kamu," ucap Haris yang terus berusaha meraih tangan Janet.
"Tidak ada yang harus di bicarakan! Hatiku terlanjur sakit melihat kamu berselingkuh di belakangku dan begitu teganya kamu mengkhianati pernikahan kita." Desis Janet yang menahan diri agar tetap kuat di hadapan Haris. Dirinya tidak mau memperlihatkan kerapuhannya di depan Haris.
"Maka dari itu aku mau jelasin semuanya."
Janet menggelengkan kepalanya. Apapun penjelasan Haris, dirinya sudah tidak percaya lagi.
"Mau menjelaskan apa, hah! Mau jelasin kalau semua yang aku lihat tidak benar, begitu!" Desis Janet penuh emosi.
"Sayang, tolong dengarkan penjelasku dulu," mohon Haris.
"Cukup, mas. Aku nggak mau mendengarkan penjelasan kamu!"
Janet langsung pergi dari sana, dan berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah sakit menghindari Haris.
"Janet! Tunggu!" Haris mengejar Janet hingga keluar dari rumah sakit.
"Aku mohon dengarkan penjelasku dulu." Haris kembali memohon seraya mencoba meraih pergelangan tangannya.
"Nggak! Aku nggak mau mendengarkan penjelasan kamu. Semua yang aku lihat sudah menjelaskan semuanya dan kamu berselingkuh di belakangku, bercumbu mesra dengan wanita selingkuhan kamu!"
"Sayang... Aku mohon beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."
Janet menggelengkan kepalanya dan kembali melanjutkan langkahnya ke arah jalan raya. Haris terus mengikuti Janet dan harus menjelaskan semuanya kepada Janet.
"Aku akan terus mengikuti kamu, kemanapun kamu pergi," kekeuh Haris.
Janet menghela nafasnya, kemudian menatap wajah suaminya itu.
"Jika kamu terus mengikutku. Aku akan berlari ke jalan raya dan membiarkan diriku di lindas kendaraan," ancam Janet.
Haris semakin frustasi dan mengusap wajahnya yang kalut. Janet kembali melangkahkan kakinya meninggalkan suaminya itu. Haris yang tidak mau kehilangan jejak Janet, mengikuti Janet lagi. Hingga Janet mengetahui kalau Haris masih mengikutinya. Janet mendengus kesal melihat Haris yang tetap kekeuh membuntutinya.
Janet berhenti di sebuah jembatan yang di bawahnya perlintasan kereta api. Janet membalikkan tubuhnya mengarah ke Haris yang kini berdiri tidak jauh darinya.
"Jika kamu terus mengikutku, aku bersumpah akan meloncat dari sini." Janet beri peringatan kepada Haris dan ucapannya tidaklah omong kosong belaka. Dirinya benar-benar akan loncat.
"Tarik ucapan kamu, sayang," ucap Haris gelisah melihat keseriusan di wajah Janet.
"Aku nggak main-main dengan perkataanku. Jika kamu tetap bersikukuh mengikutku maka detik ini kamu tidak akan melihatku lagi di dunia ini."
Janet berajalan geser ke tepian jembatan dan sudah naik ke pembatas jalan.
__ADS_1
"Sayang aku mohon... Jangan melompat. Oke... Oke... Aku nggak akan mengikutimu lagi." Haris mengalah demi cintanya. Dirinya rela menjauh dari wanita yang sangat di cintainya itu.
"Sekarang turun dari pagar itu," mohon Haris. Hatinya gamang dan benar-benar tak tau lagi.
"Kalau gitu, pergi kamu dari sini," usir Janet.
Tapi yang ada Haris tetap berdiri di tempatnya dan tidak ada tanda-tanda Haris akan pergi dari sini.
"Baik. Aku akan melompat dari sini." Dan saat itu juga kereta api terlihat akan melintasi jembatan itu. Janet sudah ancang-ancang akan melompat.
"Jangan loncat...! Oke... Aku pergi," cegah Haris, dengan terpaksa Haris pergi dan meninggalkan Janet dengan sejuta kepahitan dalam hidupnya.
Setelah melihat Haris pergi. Janet turun dari pagar pembatas jalan. Janet langsung ambruk duduk di sana seraya menangisi hidupnya.
Flashback off.
*
*
*
*
Zee terbangun karena mendengar suara alarm di handphonenya. Setelah mematikan bunyi alarm, Zee memindai matanya ke samping dimana ibu tidur.
Zee membuang nafasnya, karena ibunya sudah tidak ada di kamar kosannya, entah jam berapa ibunya pulang. Zee bangun dan segera mandi. Selesai mandi dan sudah mengenakan pakaian seragamnya, Zee di kejutkan dengan suara ketukan pintu.
Tok tok tok.
Zee membuka pintunya dan memutarkan matanya melihat Marshall sudah berada di kosannya. Marshall tersenyum lebar melihat Zee sudah rapi dan siap berangkat sekolah.
"Sudah siap. Ayo kita langsung berangkat saja," cetus Marshall dan terpaksa Zee berangkat bareng sama Marshall. Mau gimana lagi, Marshall sudah menjemputnya.
Marshall memberikan helmnya ke Zee, dan setelah itu Marshall langsung melajukan motornya membelah jalanan di pagi hari.
"Kita cari sarapan dulu ya. Soalnya aku belum sarapan, karena ingin secepatnya menjemput kamu ke sekolah," tukas Marshall, menghentikan motornya di lampu merah.
"Iya, terserah kamu," jawab Zee.
Marshall melanjutkan lagi laju motornya, setelah lampu lalulintas berganti hijau.
πΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Langsung tinggalkan jejak like π, jangan lupa ya....
To be continued....