Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Menjemput Zee


__ADS_3

Marshall sudah lama menunggu Zee di depan kosannya, tapi sampai jam segini Zee belum juga pulang, padahal ini sudah jam sembilan malam.. Marshall menghela nafasnya, karena sudah hampir satu jam setengah, Marshall menunggu Zee pulang.


Pada akhirnya, Marshall memilih pulang saja, tapi saat sudah hampir di ujung gang. Marshall melihat Zee keluar dari mobil mewah. Marshall memicingkan matanya, melihat Zee melambaikan tangannya kepada seseorang yang ada di dalam mobil.


Marshall langsung melajukan motornya mendekati Zee, yang kini sudah mulai berjalan. Marshall menghentikan motornya di depan Zee.


"Kamu pulang diantar sama siapa?" desak Marshall, yang entah kenapa dirinya tidak suka Zee di antara oleh orang lain.


"Kok, kamu ada disini?" tanya Zee yang terkejut dan malah balik bertanya.


"Sejak kapan aku ada disini, itu tidak penting. Sekarang kamu jawab, siapa yang antar kamu pulang?" ulang Marshall mempertanyakan siapa yang mengantarkan Zee pulang.


"Hanya rekan kerja."


"laki-laki atau perempuan?"


"Nggak penting aku di antar siapa? Lebih baik kamu pulang sonoh, nggak usah antar aku sampai kosan, di tambah lagi aku sudah capek," terang Zee, lalu Zee kembali mengayunkan langkah kakinya meninggalkan Marshall yang masih diam di atas motornya.


*


Mentari pagi kini sudah memancarkan biasnya. Seorang pemuda tampan sudah tampak rapi dengan pakaian seragam sekolahnya.


Marshall tengah berdiri di depan cermin, meneliti kembali tampilannya yang sebenernya sudah sangat oke. Marshall melirik jam di dinding, lalu Marshall menyambar tasnya dan bergegas turun untuk sarapan pagi.


"Selamat pagi...." Sapa Marshall kepada Hana yang tengah menyiapkan sarapan paginya.


"Hmm... Tumben Abang jam segini sudah turun. Biasanya juga jam setengah tujuh baru keluar dari kamar," ujar Hana yang memang tahu kebiasaan anak-anaknya.


"Kenapa memangnya, nggak boleh Abang bangun lebih awal?"


"Ya nggak kenapa-napa, bagus malah. Tapi kan aneh aja kalau Abang jam segini sudah turun dan juga sudah sangat rapi. Pasti karena cewek nih?" Tebak Hana menyimpitkan matanya.


Marshall nyengir kuda. "Bucan tahu aja, kalau Abang mau jemput cewek," tukas Marshall tidak bisa berbohong terhadap Hana. Walaupun Hana bukan ibu kandungnya, tapi kasih sayang Hana terhadapnya sama besarnya kepada anak kandungnya, maka dari itu Marshall selalu berusaha bersikap jujur dan patuh kepada Hana. Lagian kalaupun dirinya berbohong, ibu angkatnya itu pasti tahu kalau dirinya tengah berbohong.


"Siapa? Liora?"


"Bukan," jawab Marshall seraya menyambar sandwich yang sudah di buat oleh Hana.


"Tumben sekali anak bujang sudah ada di meja makan?" Kata Aries yang baru tiba dan langsung duduk di kursinya.


"Abang mau berangkat lebih awal," terang Marshall yang sudah menyelesaikan sarapannya.


"Iya, berangkat lebih awal. Sekalian jemput cewek," timpal Hana.


Aries memicingkan matanya menatap Marshall. "Jangan pacaran terus, bang. Pikirkan dulu sekolahnya."


"Iya, ayah. Sekolah dan belajar tetap nomor satu," jawab Marshall. " Abang berangkat dulu."

__ADS_1


Marshall mendekati Hana dan mendaratkan satu kecupan manis di pipi Hana dan juga tidak lupa mencium punggung tangan wanita yang sudah melimpahkan kasih sayangnya terhadap dirinya. Marshall juga mencium tangan Aries, setelah itu Marshall melenggang pergi keluar rumah.


***


^^^Marshall sudah tiba di depan kosannya Zee, lalu Marshall melangkah ke arah kosan dan mengetuk pintu kamar kosan Zee. Mulai hari ini, Marshall akan terus antar jemput Zee, apalagi semalam Zee di antar oleh orang lain, dan melihat dari bayangannya terlihat yang mengantar Zee pulang adalah seorang lelaki. www.^^^


Tok tok tok


Pintu pun di buka oleh Zee. "Kamu...! " Zee terkejut dengan kedatangan Marshall yang sudah berdiri di hadapannya itu.


"Hai...." Sapa Marshall seraya menyunggingkan senyumnya.


"Kamu ngapain pagi-pagi sudah ada disini?"


"Jemput kamu," jawab Marshall enteng.


"Jemput aku?"


"Iyalah, masa jemput tetangga kamu," cetus Marshall.


"Lain kali nggak usah jemput aku," ujar Zee seraya mengambil tasnya yang ada di atas kasur.


"Kenapa? Apa itu memalukan baut kamu, kalau aku jemput kamu," kata Marshall sedikit tersinggung. Biasanya kalau cewek lain bakal senang di jemput sama dirinya, tapi beda dengan Zee. Dia tidak mau di jemput olehnya, padahal dirinya rela bangun lebih awal agar bisa menjemput gadis di hadapannya ini.


"Besok-besok jangan jemput lagi. Aku nggak mau sampai ada yang salah faham sama kita, padahal kita nggak ada hubungan apa-apa. Cuman Deket doang, itupun kamu yang terus deketin aku," papar Zee sambil jalan ke arah motor Marshall.


"Tapi aku akan tetap jemput kamu, walau kamu menolaknya," sahut Marshall, yang di balas oleh Zee dengan mencebikan bibirnya kesal.


Marshall menyerahkan helm kepada Zee, setelah Zee memakainya langsung naik ke boncengan motornya.


Sekitar dua puluh menitan, Marshall tiba di sekolah dan memarkirkan motornya. Zee langsung melepaskan helmnya dan akan segera melangkah lebih dulu.


"Tunggu," cekal Marshall menahan tangan Zee.


"Apalagi sih!" Kesal Zee.


"Kita bareng masuk kelasnya," ucap Marshall sembari merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan.


Zee menghentakkan nafasnya dan terpaksa Zee berjalan bersama menuju kelas dengan Marshall. Saat akan berbelok ke arah kelasnya, Zee dan Marshall bertemu dengan Liora yang tengah berdiri di depan kelasnya. Tatapannya begitu tajam terhadap Zee.


"Abaikan saja," seloroh Marshall yang langsung menarik tangan Zee menuju kelasnya.


"Lepaskan!"


"Nggak mau," kekeh Marshall.


"Aku nggak mau orang-orang salah faham dengan kita. Nanti di sangkanya kita pacaran," tukas Zee yang berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tangan Marshall.

__ADS_1


" Biarkan saja. Aku nggak peduli dengan omongan orang dan biarkan saja mereka dengan asumsinya, yang jelas aku nggak mau ambil pusing," ucap Marshall.


Akhirnya Zee, tetap membiarkan tangannya terus di genggam oleh Marshall, hingga masuk ke kelas. Semua mata tertuju kepada Zee dan Marshall, bahkan terdengar bisik-bisik kalau Zee penyebab putusnya hubungan Liora dan Marshall.


Zee langsung duduk di bangkunya, tatapan Tieta begitu lekat menatapnya.


"Kamu pacaran sama Marshall?"


"Nggak," jawab Zee jujur.


"Tapi kok, kalian pegangan tangan?" Tieta kembali bertanya.


"Memang kenapa? Pegangan tangan bukan berarti aku dan dia pacaran kan?" Tukas Zee.


"Iya juga, tapi orang-orang beranggapan kamu dan Marshall pasti pacaran," sambung Tieta lagi.


"Tapi nyatanya nggak. Sudahlah jangan di bahas lagi, yang jelas aku dan dia nggak pacaran," tegas Zee memberi penjelasan.


"Oke...."


Waktu istirahat pun tiba. Marshall langsung memiringkan tubuhnya ke belakang dimana Zee duduk.


"Ke kantin yuk," ajak Marshall.


"Nggak! Aku mau di kelas saja," tolak Zee dan berusaha menghindar dari Marshall, walau itu susah baginya menghindari Marshall.


"Bener nggak mau ikut ke kantin?"


"Hmmm...."


"Ya sudah, aku ke kantin dulu."


"Iya...."


Marshall pun pergi ke kantin. Zee yang berada di kelas lebih fokus membaca buku, hingga Tieta datang membuyarkan fokusnya membaca buku.


"Kamu nggak ke kantin, Zee?" Tanya Tieta sembari membuka tasnya dan mengambil dompetnya.


"Nggak, malas," jawab Zee.


"Kalau gitu aku ke kantin dulu ya," ujar Tieta seraya berjalan meninggalkan Zee.


Zee pun mengangguk dan kembali fokus ke buku lagi dan Zee benar-benar tidak meninggalkan kelas sampai jam istirahat selesai.


Ting


satu pesan masuk ke handphone Zee.

__ADS_1


Nanti pulang sekolah , Om jemput kamu.


__ADS_2