Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kesalnya ayah Haris


__ADS_3

"I love you, my prettiest woman."


Hati Zee semakin melambung tinggi dan ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Zee benar-benar merasa sangat bahagia. Ungkap cinta Marshall mampu melelehkan hati Zee.


Wajah Zee yang lagi tersipu dan merona, membuat Marshall gemas dan jika tidak ada orang di tempat ini, Marshall pasti mencium bibir Zee yang sudah jadi candunya.


"Permisi, kak. Ini bunganya sudah jadi," ucap seorang pelayan wanita sembari menyerahkan sebuket bunga cantik kepada Marshall.


"Terima kasih, Mba," sahut Marshall menerima bunganya dan pelayanan tersebut menganggukkan kepalanya.


Marshall segera membayar bunga tersebut. Setelah itu Marshall dan Zee kembali ke dalam mobil.


"Tolong pegang bunganya dan jangan sampai rusak," cetus Marshall. Zee hanya mengangguk.


"Kalau boleh tau, ini bunga buat siapa?" Zee kembali bertanya sebab sampai sekarang Zee penasaran.


"Yang jelas buat orang yang spesial," jawab Marshall.


Zee memanyunkan bibirnya, karena Marshall tidak memberitahu untuk siapa bunga itu.


Kini mobil yang di kendarai Marshall sudah berada di kompleks perumahan Zee. Marshall mengklaksonkan mobilnya, meminta satpam membuka pagar rumah Zee. Setelah di buka, Marshall segera memasuki halaman rumah. Zee dan Marshall bergegas turun dari mobil.


"Kemarikan bunganya," pinta Marshall dan Zee menyerahkan bunganya kepada Marshall.


Zee dan Marshall langsung memasuki rumah dan mengucapkan salam. Mami Janet menjawab salam keduanya dan tersenyum menatap Marshall.


"Siang Tante," sapa Marshall sopan.


"Siang juga, Shall," balas Mami Janet. "Ayo, duduk."


Marshall mengangguk dan langsung mendudukkan diri di sofa.


"Ibu, nenek dimana?" Tanya Zee.


"Ada di kamarnya, lagi istirahat mungkin karena tadi habis makan siang nenek langsung ke kamar."


Oh...." Jawab Zee, lalu Zee menengok ke arah Marshall yang tengah duduk.


"Shall, aku Meu lihat nenek dulu ya."


"Aku boleh ikut?" Ucapnya penuh harap.


"Boleh," balas Zee.


Marshall langsung berdiri dan mengikuti langkah Zee menuju kamar Bu Cahyani. Zee membuka pintu kamarnya perlahan dan mengintip sang nenek. Zee tersenyum lebar karena Bu Cahyani ternyata tengah duduk di atas ranjang sembari melihat sebuah album foto.


"Nek, boleh aku masuk?"


Bu Cahyani mendongakkan kepalanya dan tersenyum melihat Zee yang tengah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Nak. Sini masuk."


Zee membukakan pintunya lebar sembari mengajak Marshall ikut masuk ke dalam kamar. Bu Cahyani mengernyitkan dahinya saat melihat seorang pemuda tampan masuk bersama cucu tersayangnya.


"Ini siapa?" Tunjuk Bu Cahyani kepada Marshall.


"Dia, Marshall. Pacarnya aku," ucap Zee malu-malu.


Bu Cahyani melebarkan senyumnya seraya mengangguk-angguk.


"Hai, nek. Maaf, kemarin-kemarin aku belum sempat menjenguk nenek, tapi aku senang nenek sudah kembali sehat. Mm... Ini bunga untuk nenek dan semoga nenek suka."


Bu Cahyani menerima bunga pemberian dari Marshall dan menatap hangat wajah Marshall yang rupawan.


"Terima kasih Nak...."


"Marshall, nek," sahut Marshall.


"Terima kasih Nak Marshall," ucap Bu Cahyani.


"Iya, sama-sama Nek."


"Kalian sudah lama pacarannya?"


"Lumayan lama, Nek," jawab Marshall lagi dan Bu Cahyani mengangguk kecil.


Zee duduk di tepi ranjang, tepatnya di dekat kaki Bu Cahyani. Zee memijit kaki Bu Cahyani dengan sepenuh hati.


Bu Cahyani menghela nafasnya pelan. Penyesalan masih membelenggu hatinya. Bu Cahyani kembali teringat dengan almarhum suaminya yang sudah lama meninggal. Beliau lah yang selalu mengingatkan semua tindakan jahatnya dan selalu menasehatinya untuk tidak membenci Janet dan juga menghancurkan rumah tangga Haris.


Mengingat itu semua, membuat air matanya menetes tanpa bisa dicegah.


"Nenek kenapa menangis? Apa pijatanku menyakiti kaki Nenek?"


"Tidak. Nenek cuma teringat sama almarhum kakek kamu. Seandainya kakek kamu masih ada, pasti kakek orang pertama yang sangat bahagia memiliki seorang cucu cantik seperti kamu."


"Kalau gitu besok kita ke makam kakek," timpal Zee.


"Iya. Nenek juga sudah lama tidak berziarah ke makam kakek kamu."


Menjelang sore, Marshall pamit untuk pulang dan saat sudah berada di teras rumah. Marshall langsung menarik Zee untuk di peluk.


Marshall meresapi pelukan hangat yang di berikan Zee. Bahkan, kalau bisa dirinya tidak mau melepaskan pelukan hangat ini.


Ayah Haris yang baru pulang dari kantor langsung mendengus melihat anaknya tengah di peluk oleh Marshall. Ayah Haris berjalan cepat mendekati keduanya dan Marshall tidak menyadari kehadiran ayah Haris yang sudah berada tidak jauh darinya, sebab Marshall dan Zee tengah terlena dengan pelukan hangatnya.


"Zee!!" Ayah Haris menggeram memanggil Zee.


Marshall dan Zee langsung melepaskan diri dari pelukan yang melenakan itu.

__ADS_1


"Sore, Om." Sapa Marshall.


"Kamu kalau mau pulang, ya tinggal pulang. Nggak usah main pelak peluk anak orang!" Ketus ayah Haris.


"Iya, Om."


"Sudah sana, pulang!" Usirnya.


"Iya, Om."


Lalu Marshall menoleh ke arah Zee. " Aku pulang dulu ya. Besok aku jemput kamu."


"Nggak perlu! Besok Zee berangkat kuliahnya bersama Om," sambar ayah Haris cepat.


"Oh, baik Om."


"Aku pulang dulu," pamit Marshall. "Permisi Om."


Marshall membungkukkan sedikit tubuhnya saat dirinya melewati ayah Haris, tapi setelah melewati ayah Haris. Marshall menghentikan langkahnya dan berbalik badan.


"Zee...!"


"Apa?" Sahut Zee.


Marshall melirik ayah Haris yang tengah menatapnya dan menyeringai tipis. Tanpa di duga oleh ayah Haris, Marshall berjalan cepat mendekati Zee dan....


Cup


Marshall mencium pipi Zee, setelah itu Marshall segera kabur karena ayah Haris sudah membulatkan matanya alias melototi dirinya.


"Marshall...!!" Geram ayah Haris.


"Peace, Om...." Seru Marshall yang sudah berlari ke arah mobilnya. Marshall segera masuk ke dalam mobil dan nyengir lebar melihat ayah Haris menggeram kesal.


Sebelum meninggalkan Zee dan ayah Haris. Marshall menurunkan kaca mobilnya dan berteriak. "I love you, Zee!!"


Emosi ayah Haris semakin naik level, lalu ayah Haris melepaskan jasnya dan memberikan kepada Zee. Setelah itu ayah Haris membuka lengan kancingnya dan menggulung lengan kemejanya. Siap menghajar Marshall yang sudah menaikkan kaca mobilnya.


Marshall yang melihat ayah Haris siap menghajarnya, segera menyalakan mobilnya dan meninggalkan rumah Zee sembari membunyikan klakson mobilnya beberapa kali.


"Dasar anak kurang ajar!" Kesal ayah Haris yang melihat mobil Marshall yang kini sudah bergerak pergi.


Zee juga buru-buru masuk ke dalam rumah, menghindari omelan panjang sang ayah.


"Zee!!" Teriak ayah Haris, sebab Zee sudah kabur darinya.


Ayah Haris menghentakkan nafasnya kesal.


"Sepertinya aku harus lebih ketat lagi mengawasi mereka berdua," gerutu ayah Haris.

__ADS_1


Setelah berhasil mendinginkan emosinya, ayah Haris bergegas masuk ke rumah.


__ADS_2