
Liora tersenyum puas, dengan apa yang di dapatkannya. Di pandanginya lagi semua foto Zee dengan Jefry.
Tunggu pembalasanku. Kali i**ni kamu bakal di jauhi oleh Marshall. Batin Liora dengan senyum menyeringai.
Setelah Zee dan Jefry keluar dari toilet, barulah Liora keluar dari bilik toilet dengan wajah puas.
"Bagaimana, kamu berhasil memotret mereka?" Tanya Hanum penasaran. Takut jika Liora gagal dan ketahuan.
"Pasti dong. Liora gitu loh...." Ucap Liora bangga, seraya menarik turunkan alisnya.
Ketiga temannya itu tersenyum senang.
Zee dan Jefry sudah duduk kembali di mejanya dan segera melahap makanannya. Selesai menghabiskan makanannya Jefry segera mengantar Zee pulang ke kosannya.
Sekitar tiga puluh menit, mobil yang di kendarai oleh Jefry, tiba di depan gang.
"Terima kasih Om, sudah nganterin aku pulang," ujar Zee seraya membuka seat belt nya.
"Iya, sama-sama. Apa kamu yakin tidak mau Om antar sampai depan kosan."
"Nggak usah, Om." Seraya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. Hati-hati kamu jalannya," tutur Jefry lagi.
"Iya, Om."
Zee turun dari mobil dan sebelum melangkah pergi. Zee melambaikan tangannya, dan di balas oleh Jefry. Setelah itu Zee bergegas pulang, apalagi tubuhnya sudah sangat lelah dan ingin cepat-cepat beristirahat.
Zee yang sudah berada di kosannya, langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Memejamkan matanya sejenak, untuk menghilangkan rasa letih, apalagi kakinya masih terasa sakit jika di bawa berjalan.
Sekitar lima belas menit, Zee beristirahat. Zee segera membersihkan diri. Selesai mandi, Zee membuka tas sekolahnya dan belajar.
Satu jam sudah berlalu, Zee segera membereskan buku-bukunya dan memasukkan ke dalam tas, lalu Zee bergegas untuk tidur.
***
Sinar matahari mulai memancarkan biasnya dan suara alarm berbunyi nyaring. Zee melirik jam wekernya yang terletak di atas meja kecil.
Baru saja bangun dari tempat tidur, sebuah ketukan pintu mengejutkannya Zee.
"Siapa yang bertamu pagi-pagi, sih!" sungut Zee.
Dengan malas Zee membuka pintunya, dan sebuah senyuman manis di berikan untuk Zee.
"Kamu ngapain pagi-pagi sudah ada di sini?" ketus Zee kepada Marshall.
"Aku mau ajak kamu jalan," cetus Marshall.
__ADS_1
"Kenapa harus sepagi ini kamu ngajak aku jalan," kesal Zee. Menurutnya aneh jika seseorang mau ngajak dirinya jalan sepagi ini.
"Agar waktu untuk berdua sama kamu lebih banyak." lanjut Marshall lagi.
"Emang di sekolah nggak cukup apa?" Sungut Zee lagi.
"Nggak. Sudah sana kamu mandi. Aku tunggu kamu disini," tukas Marshall dan langsung duduk di teras.
Sebenarnya Zee, ingin menghabiskan akhir pekannya di kosan saja. Ia malas keluar, apalagi kakinya masih sakit jika di bawa jalan. Akan tetapi, seorang Marshall yang suka memaksa sudah menunggunya. Dengan sangat terpaksa Zee bergegas menuju kamar mandi.
Zee sudah rapi dan sudah siap untuk jalan bareng Marshall. Zee keluar menemui Marshall dan tidak lupa mengunci pintunya.
"Ayo, kita langsung berangkat," ujar Marshall dan menggandeng tangan Zee.
Sampai di depan mobilnya, Marshall segera membuka pintunya untuk Zee. Setelah itu dirinya segera masuk dan mengemudi mobilnya.
"Kita pergi kemana?" Tanya Zee.
"Ke rumahku," jawab Marshall santai.
"Apa?! Ke rumah kamu!" Kaget Zee. "Ngapain?" Sambung Zee lagi.
"Ya... Untuk di perkenalkan sama keluargaku."
"Aku nggak mau," tolak Zee.
"Kenapa nggak mau?"
Hati Marshall sedikit tak terima dengan alasan Zee. Memang hubungan antara dirinya dan Zee belum ke tahap pacaran, tapi apa salahnya mengajak Zee bertemu dengan keluarganya.
"Terus kamu maunya kemana?" Tanya Marshall. Padahal dirinya berharap Zee mau di ajak bertemu dengan keluarganya, tapi sebagai lelaki yang baik Marshall mencoba mengalah.
"Terserah kamu. Kamu kan yang ngajak aku," kata Zee sedikit kesal.
Marshall berpikir sejenak, kemana tempat yang cocok untuk menghabiskan akhir pekan ini dengan Zee.
"Bagaimana kalau ke pantai. Apa kamu setuju."
"Pantai... Boleh deh. Aku juga sudah lama nggak ke pantai," balas Zee sembari mengangguk setuju.
Marshall segera mengarahkan mobilnya ke tempat tujuannya. Perjalanan menuju pantai berjalan lancar, karena akhir pekan seperti ini semua orang tengah berquality time bersama orang terkasihnya.
Zee teringat, semenjak kemarin dirinya belum membuka WA. Zee membuka pesan-pesan yang masuk dan satu pesan mencuri perhatiannya, yaitu pesan dari ibunya.
Ibu meminta aku untuk menemuinya? Ada hal penting apa yang ingin ibu bicarakan. Batin Zee.
Zee segera membalas pesan ibunya dan mengatakan nanti ia akan menemuinya.
__ADS_1
Mereka berdua sudah sampai di tempat tujuan dan Marshall langsung membayar tiket masuk, setelah itu memarkirkan mobilnya.
Zee dan Marshall bergegas menuju pantai, dan ternyata suasana di pantai sudah ramai oleh pengunjung.
"Kita cari makan dulu ya," seloroh Marshall.
"Iya...."
Marshall mengajak Zee makan di restoran seafood. Keduanya duduk menghadap ke pantai. Angin pantai mengibaskan rambut Zee yang panjang dan legam. Marshall terpana melihat kecantikan alami Zee. Wajah Zee hanya di polesi bedak dan lipstik yang mewarnai bibirnya.
Cantik.
Pesanan keduanya datang dan segera di letakkan di atas meja oleh pelayan restoran.
"Kamu harus coba yang ini," ucap Marshall seraya mengarahkan tangannya ke mulut Zee dan Zee menerima suapan dari Marshall.
"Gimana? Enak nggak?"
"Enak," jawab Zee dengan raut wajah ceria. Kemudian Marshall menyuapi lagi dan lagi. Zee juga tampak bahagia, biasanya apapun yang lakukan Marshall selalu di tolaknya, tapi kali ini Zee terlihat lepas dan apa saja yang di ceritakan Marshall, Zee selalu tertawa renyah.
Marshall semakin bahagia, dan berharap Zee selalu seperti saat ini. Lepas dan ceria, tidak seperti yang dirinya lihat selama ini. Selesai makan, keduanya melanjutkan menyusuri tepian pantai. Selama menyusuri pantai Marshall terus menggenggam tangan Zee dan genggaman tangannya di balas Zee erat.
"Kita duduk di sana, yuk," tunjuk Zee ke arah pohon yang rindang, dan di angguki oleh Marshall.
Zee dan Marshall duduk di bawah pohon, Marshall mengeluarkan handphonenya dan menekan kamera.
" Kita foto-foto dulu ya," ujar Marshall dan Zee setuju.
Keduanya berfoto dengan berbagai gaya. Berapa kali jepretan kamera mengabadikan momen keduanya. Senyum ceria terus terukir di wajah Zee. Bagi Marshall, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan, karena jarang sekali melihat Zee tertawa ceria.
Karena cuaca semakin terik, Marshall mengajak Zee mencari tempat yang lebih sejuk. Zee dan Marshall duduk di tempat yang seperti saung.
"Abang...."
" Eh, kok Iyo ada disini?" Tanya Marshall bingung.
"Iyo kan lagi jalan-jalan sama ayah dan ibu. Tuh, ayah dan ibu lagi duduk di sana," ucap Adelio, seraya menunjuk dimana orang tuanya berada.
"Zee, ayo kita ke sana. Orang tuaku ada disini." Marshall langsung menarik tangan Zee dan mengajak Zee bertemu dengan orang tuanya. Sebenarnya Zee ingin menolaknya, tapi Marshall langsung menyeretnya ke tempat orang tuanya.
"Bucan...."
"Abang! Abang disini rupanya," ujar Hana, lalu tatapan Hana teralihkan ke Zee yang berdiri di samping Marshall.
πΊπΊπΊπΊ
Jangan lupa tinggalkan jejak like π
__ADS_1
Kalau boleh kasih tips cerita ini, dengan cara kasih iklan gratis.
To be continued....