Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
My prettiest woman


__ADS_3

Seminggu kemudian dan hari ini Bu Cahyani sudah di nyatakan sembuh, serta sudah di perbolehkan pulang. Jefry sudah datang sejak sepuluh menit yang lalu dan menjemputnya.


Dengan penuh semangat, Bu Cahyani turun dari ranjang dan duduk di kursi roda yang di bawakan oleh Mami Janet. Senyumannya terus tersungging di bibirnya, karena mulai hari ini dan dalam sejarah hidupnya, Bu Cahyani akan berkumpul dengan menantu juga cucu tercintanya.


"Nggak ada barang yang ketinggalan?" Kata Jefry kepada Mami Janet.


"Nggak ada, cuman ini saja. Sebagian kan sudah di bawa sama mas Haris," ujar Mami Janet.


Jefry mengangguk dan kini Mami Janet, Bu Cahyani dan Jefry meninggalkan kamar rawat tersebut. Ketiganya sudah sampai di depan pintu keluar dan langsung masuk ke dalam mobil, karena sang supir pribadinya sudah menunggunya.


Kini mobil yang mereka tumpangi berjalan meninggalkan rumah sakit. Sekitar setengah jam, mobil yang tumpangi mereka sudah sampai di rumah.


Kepulangannya di sambut oleh para ART nya yang sudah berdiri di depan pintu.


"Akhirnya, Nyonya sehat kembali. Saya sangat senang melihat Nyonya sudah sembuh," ucap Mbok Cicih seraya membungkukkan badannya.


"Terima kasih, Cicih," balas Bu Cahyani yang kini tengah di papah oleh Mami Janet.


Setelah itu, Bu Cahyani dan Mami Janet mesuk ke dalam rumah dan mengajaknya menuju ke kamarnya.


"Mama istirahat dulu."


"Iya...."


"Aku keluar dulu dan kalau Mama butuh sesuatu panggil saja, karena aku ada di dapur," ucap Mami Janet.


Bu Cahyani mengangguk dan Mami Janet keluar.


***


Sudah beberapa hari ini, Zee kembali kuliah dan sudah di daftarkan ke universitas ternama di ibu kota. Ayah Haris sengaja memasukkan Zee ke universitas yang berbeda dengan Marshall demi menghindari keduanya yang bakal terus pacaran.


Meskipun begitu, Marshall tidak peduli dan setiap pulang kuliah Marshall selalu menjemput Zee. Seperti saat ini Marshall tengah menunggu Zee di kampusnya. Marshall tidak peduli harus menunggu Zee sampai setengah jam.


"Zee, gue antarin kamu pulang ya," pinta Axel, sesaat setelah dosen keluar dari kelas.


"Terima kasih, tapi maaf aku sudah di jemput," jawab Zee sembari mencangklongkan tasnya ke bahu.


Axel tertunduk lesu, karena ini ke sekian kalinya Zee menolaknya padahal dirinya tulus mau mengantarkan Zee pulang dan selain itu Axel suka kepada Zee sejak pertama kali bertemu.


"Aku duluan," ujar Zee kepada Axel dan bergegas keluar dari kelas.


"Pokoknya, gimanapun caranya gue harus bisa dapatkan Zee," gumamnya dan Axel pun segera mengikuti Zee.


Axel terus mengikuti Zee, hingga tiba di parkiran mobil.


Marshall tersenyum manis begitu melihat Zee tengah berjalan menujunya. Marshall melambaikan tangannya kepada Zee dan Zee tersenyum melihatnya.

__ADS_1


Zee mempercepat langkahnya, hingga seseorang yang tengah berlari menabrak tubuh Zee.


Brugh


Zee langung terpundur dan tubuh Zee akan terjatuh ke tanah. Dengan cepat Axel menangkap tubuh Zee dari belakang.


"Maaf-maaf!" Ucap orang yang menubruk Zee. " Aku soalnya lagi buru-buru."


"Iya, tapi hati-hati dong," balas Zee, yang kini sudah berdiri.


"Iya. Sekali lagi maaf," ujarnya, orang tersebut melirik jam di pergelangan tangannya. "Sekali lagi gue minta maaf."


Zee mengangguk dan orang tersebut tergesa-gesa meninggalkan Zee dan Axel.


Marshall yang melihat tangan Axel yang masih melingkar di pinggang Zee, langsung menggeram marah. Marshall berlari cepat mendekati Zee dan Axel.


"Lepaskan tangan elo dari cewek gue!" Berang Marshall dengan tatapan tajam.


Axel langsung melepaskan tangannya dan Zee juga baru menyadari kalau kedua tangan Axel melingkar di pinggangnya.


Marshall langsung menarik Zee, tapi tatapannya masih sengit terhadap Axel.


"Sorry, gue nggak sadar," kata Axel.


Marshall tidak menimpalinya, tapi Marshall langsung meninggalkan Axel.


"Kamu nggak apa-apa?" Tanya Marshall dan tatapan Marshall langsung melembut.


Marshall membuka pintu mobil dan Zee segera masuk. Marshall bergegas menuju pintu mobil yang satu lagi dan masuk ke dalam mobil.


"Kamu kebiasaan deh, tidak langsung memasang seat beltnya," seloroh Marshall yang langsung memakaikan seat beltnya. Zee hanya nyengir.


"Terima kasih," ucap Zee.


"Hmm...."


Marshall langsung menyalakan mesin mobilnya dan bergerak meninggalkan parkiran kampusnya Zee.


Pertengahan perjalanan, Marshall membelokan mobilnya ke toko bunga. Zee menautkan alisnya dan heran kenapa Marshall berhenti di toko bunga.


"Ngapain kita ke toko bunga?"


"Mau beli bunga. Ayo turun," ajak Marshall yang sudah membuka pintu mobilnya.


Zee mendengus. Zee juga tahu kalau ke toko bunga pasti beli bunga tapi pertanyaannya untuk siapa?.


Zee juga bergegas turun dari mobil dan tangannya langsung di gandeng oleh Marshall.

__ADS_1


"Selamat datang di toko bunga kami," sambut salah satu pelayan.


"Mba, tolong buatkan satu buket bunga yang indah," pinta Marshall.


"Baik, kak. Silahkan kakak tunggu di sebelah sana." Tunjuknya di kursi tunggu.


Marshall dan Zee mengangguk dan duduk di sana. Setelah beberapa menit menunggu dan Marshall bangun dari duduknya.


"Aku ke toilet dulu ya," tukas Marshall dan di angguki oleh Zee.


Sambil menunggu Marshall ke toilet, Zee melihat-lihat bunga di sana.


"Cantik," seloroh Zee ketika melihat salah satu bunga mawar yang berwarna pink, kemudian Zee juga melihat ke berbagai bunga.


Zee melirik jam di handphonenya dan ternyata Marshall sudah lama pergi ke toiletnya.


"Lagi ngapain sih di toilet, kok lama banget!" Gerutu Zee dan menengok ke arah toilet. Zee mendengus karena Marshall tak kunjung keluar dari toilet. Karena sebal menunggu, Zee kembali memusatkan perhatiannya ke bunga-bunga yang bermekaran indah.


"Zee...."


Zee pun segera menengok dan mendengus melihat Marshall yang tengah tersenyum.


"Kamu habis bersemedi di toilet!" Ucap zee kesal, tapi Marshall tak menjawabnya. Justru Marshall mendekati Zee.


"Bunga ini cantik ya," tunjuk Marshall dan tidak memperdulikan kekesalan Zee.


"Yang namanya bunga pasti cantik," ketus Zee menimpalinya.


"Iya, tapi... Ada yang lebih cantik lagi. Yaitu Zevania," bisik Marshall tepat di telinga Zee sembari mengedipkan sebelah matanya.


Seketika semburat merah menghiasi pipi Zee dan Zee memalingkan wajahnya ke arah lain. Marshall tersenyum melihat Zee yang merona. Zee membalikkan badannya menghindari tatapan Marshall yang membuatnya tersipu-sipu. Saat sedang berpura-pura melihat-lihat bunga, tiba-tiba sesuatu melingkar di atas kepalanya.


Zee melirik ke atas dan meraba benda apa yang di pasangkan Marshall di kepalanya.


"Kamu makin cantik," ucap Marshall. Zee semakin tersipu atas apa yang Marshall persembahkan.


Ya... Sebenarnya Marshall tadi tidak pergi ke toilet, melainkan pergi ke arah lain dan Marshall meminta bantuan kepada pelayan toko bunga untuk membantunya membuat hiasan bunga di kepala. Marshall membuatnya sendiri, meskipun di bantu oleh pelayan toko.


"Jadi kamu tadi nggak pergi ke toilet?" Tanya Zee.


"Nggak."


"Dan kamu buat ini sendiri?"


Marshall mengangguk. "Spesial buat kamu. Wanita tercantik yang pernah aku temui."


Zee tambah tersipu-sipu, perbuatan manis Marshall membuat hatinya berbunga-bunga, seperti bunga yang bertebaran di toko bunga tersebut.

__ADS_1


"Sweet banget sih. Terima kasih," timpal Zee lagi dan Marshall mencondongkan tubuhnya untuk berbisik di telinga Zee.


"I love you, my prettiest woman."


__ADS_2