
Keesokan harinya, seperti biasa Zee hanya menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja. Walau sekarang hari minggu, tak membuat Zee ingin ambil hari liburnya. Sebenarnya setiap minggu pasti dapat jatah libur kerja, tapi Zee tidak mengambil hari liburnya, ia akan libur kerja jika ada keperluan mendesak.
Saat ini Zee kebagian mencuci piring, gelas dan peralatan lainnya. Zee dengan cekatan mencuci semua peralatan kotor, setelah semuanya sudah selesai, Zee keluar dari dapur dan akan masuk lagi jika cuciannya sudah mulai menumpuk. Zee mengantarkan minuman ke customer di nomor meja dua, selesai mengantarkan minuman, Zee berdiri di dekat hole tempat keluar makanan dan minuman dari dapur, sembari menunggu keluarnya makanan dan minuman, Zee mengelap sendok yang basah agar kering.
"Zee...." Panggil manager cafe yang bernama Pak Dito.
"Iya, Pak." sahut Zee kemudian mendekati Pak Dito yang berdiri di samping kasir.
"Ada apa?" Tanya Zee yang sudah berdiri di depan Pak Dito.
"Kamu bisa bawa motor?"
"Bisa Pak. Kenapa memangnya, Pak?"
"Kalau gitu kamu antarkan pesanan delivery ini ke alamat ini. Pak Dadang hari ini tidak masuk kerja karena sakit, sedangkan si Anwar lagi antar ke alamat yang lain," ucap Pak Dito sembari menyerahkan selembar alamat ke Zee.
"Baik, Pak," jawab Zee mengangguk.
Zee mengendarai sepeda motor dan menuju ke alamat yang di tuju. Sekitar dua puluh menitan, Zee tiba di sebuah rumah mewah dan Zee berdiri di depan pagar.
"Permisi..." Seru Zee menengok ke arah pos satpam.
Suroto keluar dari pos satpam. " Iya, cari siapa?"
"Ini, Pak. Saya mengantar pesanan ke alamat ini, atas nama Aisyah," jawab Zee.
"Oh, tunggu. Saya bukakan pagarnya." Lalu Suroto segera membuka pagar dan menyuruh Zee masuk.
Zee di antar oleh Suroto dan menyuruh menunggunya di depan. Suroto pun masuk untuk memberi tahu ke Aisyah, kalau pesanannya sudah datang.
Sambil menunggu, Zee memperluas pandangannya melihat sekeliling halam rumah itu. Dan seseorang keluar dari dalam rumah, siapa lagi kalau bukan Aisyah yang memang memesan makanan.
Zee mengulas senyum kepada Aisyah, sembari mengingat-ingat sosok perempuan yang ada di hadapannya.
Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?. Batin Zee sembari mengingatnya.
"Ini pesanku ya, yang dari cafe Heaven."
"Iya, benar," sahut Zee.
Zee pun memberikan pesanan Aisyah, kemudian Aisyah pun membayar pesanannya, dan setelah itu Zee pamit. Tapi di tengah jalan, tiba-tiba ban motornya kempes.
"Ya... Kempes lagi," keluh Zee, lalu melihat ke kanan dan kiri, mencari tukang tambal ban. "Nggak ada tambal ban lagi daerah sini. Terpaksa deh! Harus dorong nih motor."
__ADS_1
Terpaksa Zee mendorong motornya, sekitar lima belas menitan Zee mendorong. Zee pun menghentikan mendorong motornya, karena lelah. Keringat bercucuran dari dahinya, cukup lelah juga Zee mendorong motor.
Marshall yang di jemput oleh temannya, melihat Zee tengah berdiri sembari menyeka keringatnya.
Itu bukannya, Zee? Ngapain dia berdiri di situ?
Mobil yang di kendarai oleh Byan melewati Zee yang berdiri di samping motor.
"Yan... Yan! Berhenti, Yan," pinta Marshall seraya menepuk paha Byan. Byan pun menghentikan laju mobilnya ke bahu jalan.
"Ada apa, Shall?" Kata Byan bingung karena Marshall tiba-tiba meminta menghentikan mobilnya.
Tanpa menjawab pertanyaan Byan, Marshall buru-buru membuka pintu dan melangkah cepat menghampiri Zee, yang kini kembali mendorong motornya.
"Zee...." Marshall menyerukan namanya.
Zee mengernyitkan dahinya melihat Marshall ada di depannya.
"Kenapa motornya?" Tanya Marshall.
"Ban motornya kempes," jawab Zee. " O iya, kamu tahu nggak? Tukang tambal ban di daerah sini."
"Tahu, mungkin sekitar dua ratus meteran baru ada tukang tambal bannya." Kata Marshall.
"Eh, jangan! aku nggak mau merepotkan kamu," cetus Zee yang nggak mau di tolong oleh Marshall.
"Nggak papa, santai aja kali."
Byan keluar dari dalam mobil dan melihat Marshall malah membantu Zee mendorong motor.
"Shall, kamu ngapain bantuin cewek itu! Cepetan masuk, bukannya kita harus latihan," seru Byan.
"Kamu duluan aja, nanti aku nyusul deh ke lapang," ujar Marshall.
"Ya sudah, aku tunggu kamu di sana," tukas Byan lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Marshall.
"Kalau kamu ada urusan, ngapain kamu bantuin aku," seloroh Zee merasa tak enak hati, karena membiarkan Marshall membantunya.
"Bisa nanti. Kamu tenang aja, lagian aku nggak tega ngelihat kamu mendorong motor sedangkan tambal ban masih cukup jauh," pungkas Marshall.
Akhirnya keduanya sampai di tukang tambal ban, dan kebetulan tukang tambal bannya tidak terlalu ramai, sehingga Zee tidak terlalu lama menunggu ban motornya di tambal.
"Kamu nggak langsung pergi, bukannya tadi kamu ada latihan dan lagian ban motorku juga sedang di tambal," cetus Zee, karena Marshall masih setia menunggu ban motornya di tambal.
__ADS_1
"Kamu nggak suka kalau aku nunggu motor kamu selesai di tambal,"
"Bukan... Bukan gitu. Aku nggak enak sama teman kamu, pasti teman kamu tengah menunggu kedatangan kamu," ujar Zee.
"Nggak papa, teman-temanku nggak akan marah. Kamu tenang saja, lagian ini memang keinginan aku."
Akhirnya ban motornya sudah selesai di tambal. Saat Zee akan membayar ongkos tambal ban. Marshall lebih dulu mengeluarkan uangnya dan membayar ongkos tambal ban.
"Eh! Nggak usah, biar aku aja yang bayar." Tukas Zee.
"Nggak papa," jawabnya santai.
"Tapikan...."
"Sudah jangan banyak omong."
Zee semakin tak enak hati, karena Marshall sudah membantunya dari mendorong motor sampai di bayarin pula.
"Sekali lagi, terima kasih," ucap Zee.
"Iya...."
"Kalau gitu aku pergi dulu, nggak enak sama manager ku. Ini sudah terlalu lama aku pergi mengantarkan pesanan." Terang Zee sembari menggunakan helmnya.
Marshall pun mengangguk dan membiarkan Zee pergi. Sebenarnya Zee ingin mengantar Marshall sebagai ungkapan rasa terima kasihnya, tapi keadaan yang membuatnya nggak bisa mengantarkannya ke tempat tujuannya.
*
*
*
Setelah kejadian itu, Marshall yakin kalau Zee akan mau menjadi temannya. Memang sulit mendekati gadis itu, bukan berarti Marshall suka dengan Zee. Ini murni kalau Marshall hanya ingin berteman dengannya.
Marshall sudah duduk di bangku kelasnya. Zee datang dan duduk di bangkunya. Zee mengeluarkan kotak bekal yang warna tutupnya berwarna hijau. Zee mencolek punggung Marshall.
"Apa?" Tanya Marshall yang kini mengubah posisi duduknya menghadap ke samping.
"Ini, aku membuatkan kamu bekal sebagai ucapan terima kasih aku karena kamu sudah membantu aku kemarin," ucap Zee seraya menggeserkan kotak bekal ke dekat Marshall.
"Padahal aku ikhlas bantuin kamu, tapi aku terima bekal dari kamu. Terima kasih ya...." Sahut Marshall sembari mengangkat kotak bekal tersebut.
"Iya, sama-sama."
__ADS_1