Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Bertanya


__ADS_3

"Abang! Abang disini rupanya," ujar Hana, lalu tatapan Hana teralihkan ke Zee yang berdiri di samping Marshall.


Hana menyipitkan matanya melihat Zee. Tatapan Hana begitu intens menatap Zee dari atas sampai bawah.


"Siapa cewek ini?" Tanya Hana.


"Pacarnya Abang, Ibu," timpal Aisyah, lalu Aisyah langsung menyeret Zee untuk bergabung dengan keluarganya.


"Itu pacar baru Abang?" tanya Hana lagi.


"Bukan, tapi lagi OTW, Bucan," jawab Marshall cengengesan. Hana hanya menggelengkan kepalanya.


Zee duduk bergabung dengan adik-adiknya Marshall. Sebenarnya Zee sangatlah gugup bertemu dengan keluarga Marshall. Marshall langsung duduk di samping Zee dan tersenyum menatap wajah Zee.


"Sayang...." Panggil Aries, yang baru tiba dari toilet.


"Abang ada disini bersama pacarnya," bisik Hana.


"O ya...."


Aries yang penasaran langsung melangkah mendekati anak-anaknya dan duduk bersama mereka. Aries menyimpitkan matanya menatap wajah Zee. Hana ikut duduk di samping Aries.


"Hai, Ayah...." Sapa Marshall.


"Hmm ....." Jawab Aries, yang tetap menatap Zee. Hana mencubit paha Aries.


"Aw... Kenapa mencubit aku," ringis Aries sembari mengelus bekas cubitan Hana.


"Abay, ngapain ngeliatin pacarnya Abang kayak gitu!" Bisik Hana, dengan nada menggeram kesal.


"Karena dia cantik," jawab Aries pelan di telinga Hana.


Hana langsung melototi Aries. Bisa-bisanya, memuji wanita lain di depannya. Membuat Hana tersengat aliran cemburu.


"Tapi... ibu tetap juara di hati ayah. Apalagi soal adon mengadon, ibu paling jago," lanjut Aries berbisik lagi.


"Iiih... Bisa-bisanya ngomong kayak gitu di depan anak-anak," cetus Hana mendelik sebal terhadap suaminya itu.


"Anak-anak nggak denger, sayang dan satu lagi punya ibu tuh paling pulen, makanya ayah nggak bisa berpaling ke lain hati." Bisik Aries yang masih terus menggoda Hana. Sengaja Aries berucap seperti itu agar Hana tidak lagi cemburu dan juga sangat menyenangkan menggoda istrinya itu.


"Ayah, udah dong ngomongnya," lirih Hana dengan wajah merah merona.


Aries tertawa melihat Hana yang tersipu. Sungguh menggemaskan melihat sang istri merona.


"Kenapa pipi ibu memerah?" Tanya Adelia polos.


"Ibu kepanasan, apalagi sinar mataharinya sangat terik," jawab Hana asal, sedangkan Aries semakin melebarkan senyumnya.


"Oh... Kepanasan." Cicit Adelia.


Hana mengalihkan pandangannya ke Zee.


"Nama kamu siapa, Nak?" Tanya Hana lembut kepada Zee.


"Zee, Tante," jawab Zee dan Hana manggut-manggut.

__ADS_1


"Teman sekelas Marshall atau beda kelas," tanya Hana lagi.


"Teman sekelas, Tante."


Beberapa menit berlalu, Zee sudah merasakan kehangatan keluarga ini. Zee sudah bisa akrab dengan adik-adik Marshall, apalagi Adelia yang memang sangat cerewet. Si bungsu juga terlihat lengket dengan Zee, karena Zee begitu manis memperlakukan Andreo.


Hana dan Aries juga memperlakukan Zee dengan sangat baik. Jadi Zee merasa tidak canggung, berbaur dengan keluarga Marshall. Hingga tak terasa waktupun cepat barlalu. Mereka semua memutuskan untuk pulang, apalagi melihat si kembar dan si bungsu sudah terlihat mengantuk.


"Bucan, ayah, Abang antar Zee pulang dulu," ujar Marshall.


"Iya, hati-hati Abang bawa mobilnya," ucap Hana.


"Iya, Bucan...."


"Tante, Zee pamit pulang dulu."


"Iya, Zee...." jawab Hana.


Tiba-tiba Adelia mendekati Zee dan memeluk Zee erat, lalu Adelia mengadahkan kepalanya menatap Zee dengan senyum manisnya yang terukir di bibir mungilnya.


"Kakak Zee, besok main lagi ya. Yaya masih pengen main sama kak Zee," cetus Adelia.


"Oke...." Jawab Zee seraya jari telunjuk sama jempol membentuk lingkaran.


"Yeehh...." Sorak Adelia, kemudian Adelia masuk ke dalam mobil.


Zee tersenyum simpul melihat Adelia yang terlihat bergembira. Aries, Hana dan keempat anaknya sudah masuk ke dalam mobil, sebelum Aries menjalankan mobilnya, Adelia menurunkan kacanya dan berseru kepada Zee.


"Kak Zee, besok Yaya tunggu kakak di rumah."


"Gimana? Apa kamu senang bertemu dengan keluargaku?" Seloroh Marshall sembari melingkarkan tangannya di bahu Zee.


"Iya, keluarga kamu terlihat harmonis dan juga hangat. Aku senang berada di tengah-tengah keluarga kamu. Semuanya saling menyayangi."


Ada kegetiran di hati Zee, karena selama ini dirinya tidak pernah mendapatkan itu semua dari ibunya, apalagi kehangatan seorang ayah yang akan menjadi orang pertama yang memberikan cintanya untuk putrinya.


***


Perjalanan kali ini cukup tersendat karena macet, hampir satu setengah jam, perjalanan yang ditempuhnya. Marshall menghentikan mobilnya di depan gang. Saat Marshall akan membuka seat belt nya, Zee mencegahnya.


"Nggak usah anterin aku," ujar Zee.


"Kenapa?"


"Nggak apa-apa. Lebih baik kamu langsung pulang saja. Kamu kan seharian ini sudah menjagaku dengan sangat baik," ucap Zee lembut.


"Tapikan--"


"Please... Kali ini aja," mohon Zee.


"Baiklah," jawab Marshall mengalah.


"Kalau gitu aku pulang dulu."


Zee akan membuka pintu mobil. " Tunggu! Nanti malam aku boleh telpon kamu," tukas Marshall.

__ADS_1


"Iya boleh."


Zee kembali akan membuka pintu mobil, tapi lagi-lagi Marshall mencegahnya.


"Ada apa lagi?" Tanya Zee.


Marshall memajukan tubuhnya dan Cup. Marshall mencium pipi kanan Zee. Zee termangu menatap Marshall yang tiba-tiba menciumnya.


"Ehem...." Zee berdehem pelan, dan segera turun dari mobil,


Zee melangkah meninggalkan Marshall yang masih terdiam menatap punggung Zee.


"Jika Zee menoleh ke sini, berarti Zee juga suka sama aku," gumam Marshall.


"Satu... Dua... Tig--" Zee pun menoleh ke belakang dimana mobilnya Marshall terparkir.


"Yes...." Sorak Marshall tersenyum sumringah. Marshall segera menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobilnya, setelah Zee sudah melanjutkan langkahnya menuju kosannya.


Saat Zee akan memasukkan kunci pintunya, Zee baru teringat kalau dirinya harus segera menemui ibunya. Zee kembali menarik kunci pintunya dan kembali melangkah ke jalan raya.


Zee berangkat ke rumah ibunya menggunakan ojek online. Zee berhenti di halte, yang tidak jauh dari gang mawar.


Zee sudah berada di depan rumah ibunya dan langsung masuk tanpa harus mengetuk pintu, karena di rumah ibunya itu banyak para wanita penghibur duduk berjejer di sofa menanti pelanggan baru yang mau tidur bersamanya.


Zee naik ke lantai dua, dimana ibunya berada.


"Ibu mana?" Tanya Zee kepada bodyguard ibunya yang kepalanya plontos.


"Ada, di ruangannya," jawabnya.


Zee bergegas masuk ke dalam dan melihat ibunya tengah duduk sambil menerima telpon. Zee duduk di sofa dan menunggu ibunya berhenti menelpon seseorang.


Mami Janet sudah mematikan sambungan teleponnya, dan mendekati putrinya yang tengah duduk sambil bermain handphone.


"Ibu nyuruh aku kesini, emang ada hal apa yang ingin ibu bicarakan?"


"Justru ibu mau nanya sama kamu, kemarin ibu lihat kamu di rumah sakit P. Kamu temuin siapa?" Tanya ibunya dan pura-pura tidak tahu.


"Emang ibu ada di sana, tapi kok aku nggak lihat ibu?"


"Ibu nganterin Susan yang sakit. Sekarang jawab, siapa yang kamu temui di rumah sakit?"


"Aku temui Om Haris. Beliau itu kakaknya bos aku, beliau sakit sudah belasan tahun. Jadi, bosnya aku meminta aku untuk sering menemuinya," terang Zee.


"Siapa bos kamu?"


"Om Jefry...."


🌺🌺🌺🌺


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


Kalau boleh kasih tips cerita ini, dengan cara kasih iklan gratis.


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2