Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Zee, anak seorang mucikari?


__ADS_3

"Li... Li.. Liora," panggil Enzi, seraya menepuk pundak Liora.


"Apaan sih!"


"Itu... Itu bukannya si Zee?" Tunjuk Enzi ke arah Zee.


"Eh, iya bener, itu si Zee. Dia mau kemana?" Tanya Liora kepada Enzi.


"Mana aku tahu." Seraya mengedikan bahunya.


"Kita ikutin, yuk...." Celetuk Hanum, yang ikut melihat Zee.


Liora dan Enzi saling pandang dan saling tersenyum.


"Ide yang bagus," ujar Liora.


Liora dan teman-temannya, cepat-cepat mengikuti angkot yang di tumpangi oleh Zee. Liora terus fokus mengikuti angkot itu dan tidak mau sampai kehilangan jejak.


Zee berhenti di depan halte dan turun dari angkot.


Liora dan ketiga temannya, terus memperhatikan Zee dari dalam mobil.


"Pop, Zi. Kalian berdua ikuti si Zee," suruh Liora.


Popi dan Enzi bergegas turun dari mobil dan mengikuti langkah Zee dari jarak aman.


Enzi mengernyitkan dahinya, saat melihat Zee masuk ke gang mawar dan pastinya bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa Zee berbelok ke gang mawar?.


Enzi dan Popi terus mengikuti Zee, hingga keduanya berhenti saat melihat Zee akan masuk ke rumah indehoy. Enzi juga tidak lupa memotret Zee saat masuk ke rumah indehoy.


"Ini tempat apaan sih? Kok banyak sekali perempuan-perempuan seksi?" Tanya Popi yang memang tidak tahu itu tempat apa. Berbeda dengan Enzi yang sudah hapal dengan gang mawar, karena gang mawar itu cukup terkenal di kalangan pros titusi.


Enzi tidak menjawab pertanyaan Popi, karena di dalam benaknya tengah mempertanyakan soal Zee yang masuk ke rumah indehoy.


"Zi, aku tanya! Ini tempat apa?" Popi kembali mempertanyakan tempat yang dia datangi.


"Ini tempat para wanita penghibur," jawab Enzi.


"Apa? Kamu nggak salah ngomong kan?"


"Nggak...."


"Ayo, ikut aku," ajak Enzi sembari menarik tangan Popi.


"Eh, kemana?"


Enzi mendekati rumah yang di datangi Zee. Saat jiwanya yang penasaran, salah satu wanita seksi melewati mereka berdua dan Enzi langsung menghentikan wanita itu.


"Mba, boleh aku bertanya?"


"Tanya apa?"


"Mba, kenal yang namanya Zee? Soalnya tadi aku lihat Zee masuk ke rumah ini."


"Oh... Zee. Kenal, memangnya kenapa?"


"Gini, mba. Aku mau tanya, kenapa Zee masuk ke rumah ini," ucap Enzi yang sembari menunjuk rumah indehoy.


"Ini kan memang rumahnya. Zee itu anak dari Mami," terang wanita itu.

__ADS_1


"Mami? Maksudnya?"


"Si Mami itu, yang punya tempat ini dan Mami lah yang akan menawarkan kami ke para pelanggannya."


Enzi membulatkan matanya. Terkejut mendengar penuturan wanita itu.


Ternyata Zee anak seorang mucikari?


Enzi tersenyum tipis dan ini adalah senjata untuk menjatuhkan Zee dan pastinya, Zee akan kehilangan Marshall.


"Terima kasih atas informasinya ya, Mba."


"Iya, sama-sama." Kemudian wanita itu berlalu dari Enzi dan Popi.


"Ayo, kita segera pergi dari sini."


Enzi langsung mengajak Popi pergi dari depan rumah indehoy. Baru beberapa langkah, Enzi dan Popi di hadang oleh seorang lelaki berbadan tambun.


Enzi dan Popi menelan Salivanya, melihat lelaki itu menatapnya dengan tatapan mesum di tambah lagi dua pengawalnya yang sama menyeramkan.


"Enzi, gimana ini?" Cemas Popi, yang benar-benar ketakutan dengan tatapan lelaki itu. Tangan Popi mencengkram lengan Enzi dan tubuh Popi gemetar takut.


"Aku juga nggak tahu."


Enzi dan Popi benar-benar ketakutan dan tidak tahu harus gimana.


Lelaki bertubuh tambun itu, mendekati Enzi dan Popi dengan senyum mesumnya.


Enzi dan Popi melangkah mundur saat lelaki itu melangkah maju. Wajah keduanya pias dan semakin ketakutan.


"Ternyata, Mami Janet mempunyai dua mangsa yang masih fresh," ucap lelaki itu.


"Sama... Aku juga takut."


Tubuh Enzi dan Popi, sudah terpentok di tembok. Mereka berdua sudah tidak bisa menghindar lagi. Sedangkan lelaki itu semaki dan semakin mendekat.


"Berhenti...!" Seru Joko.


Enzi dan Popi, semakin ketakutan melihat Joko yang kini ikut mendekatinya.


"Kalian siapa?" Tanya Joko kepada Enzi dan Popi.


"Ka-kami... Ke-kesasar, Om." Jawab Enzi dengan suara terbata-bata.


"Bisa-bisanya, kalian berdua kesasar ke sini. Cepat! Pergi kalian dari sini," usir Joko.


Enzi dan Popi segera berlari, meninggalkan tempat itu. Keduanya berlari seperti di kejar-kejar anjing.


Liora dan Hanum menautkan kedua alisnya, saat Melihat dua sahabatnya itu barlari cepat.


"Kalian kenapa lari-larian?" Tanya Hanum.


"Nanti aku jelasin. Sekarang, cepat kita pergi dari sini," desak Enzi.


Liora langsung menjalankan mobilnya. Enzi dan Popi masih terengah-engah, mengatur nafasnya.


"Kalian berdua kenapa lari-larian?" Hanum kembali bertanya.


"Kamu tahu! Apa yang kami dapatkan setelah mengikuti Zee dan ini informasi yang sangat-sangat penting," tukas Enzi dan di angguki oleh Popi.

__ADS_1


"Memangnya informasi apa?" Ucap Liora sembari melirik dua sahabatnya yang duduk di jok belakang.


"Kamu tahu... Ternyata si Zee itu anak seorang mucikari?"


"Seriously...?" Kata Hanum yang membulatkan matanya.


Liora sama terkejutnya, tapi sedetik kemudian, ia tersenyum tipis. Baginya ini adalah berita yang sangat besar dan Liora yakini, kalau sekarang ia bisa membalas Zee.


***


Keesokan harinya, Zee yang yang akan pulang sekolah. Menatap bingung, melihat Aisyah yang datang ke kelasnya dengan tergesa-gesa.


"Kamu kenapa lari-larian. Kayak habis lihat setan saja," tukas Marshall, yang heran melihat adiknya.


"Ini lebih seram dari setan, Bang!"


"Memang ada apa sih...." Kali ini Zee lah yang bertanya.


Aisyah tak menjawab, tapi Aisyah langsung menarik tangan Zee untuk mengikutinya. Dengan langkah cepat, Aisyah membawa Zee ke area lapangan.


Zee menatap heran, melihat semua siswa yang menatapnya dengan tatapan merendahkan.


Suara riuh para siswa, yang mengatakan Zee adalah seorang anak mucikari.


Aisyah dan Zee berhenti di pinggir lapangan. Zee tertegun melihat poster dirinya yang mengenakan pakaian seksi, bahkan lekuk tubuhnya benar-benar terekspos dan di poster itu tertulis.


'Zee adalah jal llang dari gang mawar.


Jika yang mau tidur dengannya, silahkan hubungi nomor ini.


0895xxxxxx.'


Beberapa siswa juga menuliskan sesuatu di kertas karton.


'Zee juga seorang sugar baby. Kami pernah melihatnya di cafe dan berduaan di dalam toilet.'


Hinaan dan celaan, Zee dapatkan dan sekarang bukan lagi sebuah kata-kata kasar yang Zee dapatkan, melainkan lemparan botol plastik yang Zee dapatkan.


"Huuh... Dasar jal llang!"


"Zee, nanti malam main di hotel melati yuk."


"Zee, berapa harga anu kamu."


Zee menutup telinganya rapat-rapat, lalu Zee berlari cepat meninggalkan lapangan. Air mata Zee tidak dapat di tahan lagi. Sakit rasanya, harus mendapatkan perlakuan buruk ini lagi. Ini adalah ketiga kalinya Zee alami. Hal ini benar-benar membuat Zee semakin sedih dan ingin rasanya Zee menyalahkan takdir. Kenapa harus terlahir dari wanita yang memiliki pekerjaan haram itu.


Zee pergi dan berlari tanpa arah. Ia ingin bersembunyi dari semua orang. Air mata terus mengalir deras membasahi pipinya.


*


*


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍


To be continued....

__ADS_1


__ADS_2