Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Aku cinta kamu


__ADS_3

"Marshall...!" Jerit Zee.


Axel sekali lagi menusuk perut Marshall dan Zee kembali menjerit melihat Marshall di tusuk lagi oleh Axel. Jefry langsung menghajar Axel tanpa ampun. Tidak peduli dia sekarat atau tidak, yang jelas Jefry tidak akan memberi ampun.


Zee segera berlari mendekati Marshall. Dengan Isak tangis, Zee menangkap tubuh Marshall yang mulai roboh.


"Marshall...."


Zee menutupi luka Marshall dengan telapak tangannya. Berharap darahnya berhenti, tapi nyatanya luka tusukan itu terus mengeluarkan darah, membasahi tangannya.


"Om...! Cepat bawa Marshall ke rumah sakit!" Teriak Zee, yang panik, khawatir dan cemas menjadi satu melihat keadaan Marshall yang terluka.


"Kamu tenang saja. Aku akan baik-baik saja," pungkas Marshall, sembari meringis menahan lukanya.


Jefry yang berhasil melumpuhkan Axel, segera mendekati Zee dan Marshall. Jefry segera membawa Marshall pergi dari sini dan secepatnya membawa Marshall ke rumah sakit. Sedangkan Gunawan mengurus Axel dan bawahannya untuk digelandang ke kantor polisi.


Byan dan Dhika menyusul Marshall ke rumah sakit.


"Om, cepatan bawa mobilnya," desak Zee, meminta mempercepat laju mobilnya. Air mata Zee tak henti-hentinya mengalir deras.


"Iya, Zee. Ini sudah cepat," jawab Jefry, sama khawatirnya melihat Marshall yang mulai melemah.


"Shall... Aku mohon jangan tutup mata kamu... Hiks... Hiks...."


Marshall tersenyum melihat kekhawatiran Zee terhadapnya. Tangan Marshall terulur mengelus pipi Zee dengan lembut.


"Aku nggak akan tutup mata aku, karena aku ingin terus melihat wajah cantik kamu. Aku juga ingin terus bersamamu," lirih Marshall, yang berusaha tetap membuka matanya demi Zee.


"Hiks... Hiks... Makanya kamu harus tetap bertahan. Aku... Mohon...."


Marshall mengangguk lemah dan terus tersenyum menatap Zee.


"Sial...!!" Maki Jefry memukul setirnya. Dalam keadaan darurat seperti ini, jalanan malah macet.


Jefry menengok ke belakang, memastikan keadaan Marshall yang tetap tersadar di pangkuan Zee. Jefry sedikit lega melihat Marshall masih membuka matanya dan tengah tersenyum menatap Zee.

__ADS_1


Bertahanlah Shall, aku yakin kamu bisa. Batin Jefry.


Sudah hampir lima belas menit, mobilnya belum bergerak juga. Membuat Jefry semakin kesal dan berkali-kali Jefry kembali menoleh ke belakang.


"Kenapa lama banget sih macetnya!" Gerutu Jefry kesal.


"Om... Kenapa lama banget berhentinya."


Rasa khawatir dan cemas terus menyelimuti perasaan Zee. Zee nggak mau Marshall datang terlambat ke rumah sakit. Nyawa Marshall harus segera tertolong.


"Om juga nggak tahu, kenapa macetnya lama banget."


Samar-samar, terdengar suara orang berbicara dan mengatakan di depan sana ada kecelakaan mobil.


Karena tidak mau terlalu lama menunggu, apalagi melihat kondisi Marshall. Jefry memilih keluar meminta bantuan kepada warga atau siapapun.


"Shall, aku mohon tetap bertahan." Pinta Zee, penuh pengharapan.


Marshall mengangguk lemah dan terus menatap wajah kuyu Zee yang terus menangisinya.


"Zee...."


"Aku juga," balas Zee dengan derai air mata.


"Zee... Aku ngantuk... Boleh aku tidur," ucap Marshall lirih, menatap wajah cantik Zee.


"Aku mohon... Jangan tutup mata kamu...." Air mata Zee semakin deras membasahi pipinya. Zee mendekap kepala Marshall, mencoba memberi kekuatan, agar Marshall tetap bertahan dan tetap membuka matanya.


"Shall...."


Hening


"Shall...."


Zee meregangkan dekapannya dan menatap wajah Marshall yang kini menutup matanya.

__ADS_1


"Shall...!!" Panggil Zee, sembari memukul pelan pipi Marshall.


Marshall tidak merespon panggilan Zee dan tidak membuka matanya. Seketika rasa takut menyergap hatinya Zee, ya... Zee takut kalau Marshall tidak akan membuka matanya lagi.


"Shall, buka matanya... Aku mohon... Hiks... Hiks...."


"Om... Marshall nggak bangun, Om...." Tangis Zee semakin pecah.


"Marshall...!!" Jerit Zee, meraung-raung membangunkan Marshall yang sudah tidak membuka matanya.


Zee memeluk Marshall, tangis Zee begitu menyayat hati memeluk Marshall.


"Bangun Shall... Aku mohon...." Zee terus terisak memeluk Marshall.


"Mana janjimu... Yang kamu katakan tadi...." Suara Zee semakin parau.


Jefry datang dan masuk kedalam mobil, tapi saat melihat Zee terisak sampai memilukan membuat perasaan Jefry menjadi gamang.


"Om... Marshall, Om... Hiks...."


Tanpa membuang waktu, apalagi melihat Marshall tidak bergerak. Jefry menyalakan mesin mobilnya dan Jefry meminta bantuan kepada petugas kepolisian yang sedang berada di tempat kecelakaan.


Jefry segera menjalankan mobilnya ke rumah sakit dan berharap Marshall tetap bertahan.


Tiba di rumah sakit, Jefry meneriaki para petugas medis.


"Sus! Tolong sus!"


Beberapa petugas medis datang menghampirinya dan Marshall segera di bawa masuk. Zee dan Jefry terus mengikuti petugas medis menuju ruang IGD.


"Maaf, kalian dilarang masuk," ucap perawat.


Terpaksa Zee harus menunggu Marshall di luar. Zee tak henti-hentinya berdoa, agar Marshall terselamatkan.


Zee terus berdiri di depan pintu IGD. Dengan perasaan yang tak menentu. Hingga pintu itu terbuka lebar.

__ADS_1


"Dok! Gimana keadaannya?" Tanya Zee yang begitu mengkhawatirkan Marshall.


"Keadaan pasien...."


__ADS_2