
Marshall mengerjapkan matanya dan ketika kedua matanya sudah terbuka sempurna. Marshall tersenyum menatap wajah Zee, yang pagi ini kecantikannya alami.
Marshall merapatkan diri ke tubuh Zee dan mencium pipinya, lalu Marshall mengelus pipinya. Kebahagiaan yang saat ini di genggamannya semoga tidak akan lepas lagi.
Zee merubah posisi tidurnya menghadap ke Marshall. Tangan Zee melingkar di pinggang Marshall. Zee membuka matanya menatap dada bidangnya Marshall yang tak mengenakan pakaian, kemudian Zee mencium dada bidang Marshall. Setelah itu Zee mendongakkan kepalanya, tersenyum menatap Marshall.
"Selamat pagi, sayang." Sapa Marshall sembari mencium pucuk kepala Zee.
"Pagi juga," balas Zee.
"Ayo bangun, bukannya kita harus ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan kamu," ucap Marshall, sambil mengelus punggung Zee.
"Nanti, aku Masih ingin peluk kamu. Aku kan masih kangen."
Marshall tertawa kecil, begitu manjanya ibu hamil ini. Padahal setiap hari bertemu.
Sekarang ini pernikahan Zee dan Marshall sudah hampir satu tahun dan saat ini Zee tengah mengandung dan kehamilannya sudah sembilan bulan. Kata dokter, perkiraan persalinan Zee sekitar dua minggu lagi.
"Ayo bangun, sayang," bujuk Marshall.
"Lima menit lagi, aku masih ingin memeluk kamu."
"Baiklah...." Marshall mengalah dan menuruti permintaan ibu hamil ini.
Tok tok tok.
"Zee... Marshall... Cepat bangun!" Teriak Mami Janet.
"Iya, Bu!" Jawab Marshall.
"Tuh, ibu sudah menyuruh kita bangun. Ayo cepat bangun."
Dengan malas Zee bangun dan segera mandi bersama dengan Marshall. Selesai mandi dan berpakaian, Marshall dan Zee keluar dari kamar.
"Ayo, sarapan," suruh Mami Janet.
Zee dan Marshall pun segera sarapan.
"Kalian jadikan ke rumah sakit?" Tanya Mami Janet.
"Jadi, Bu. Inikan terakhir Zee periksa kandungan," jawab Marshall dan Mami Janet mengangguk.
Saat ini, Zee dan Marshall tinggal bersama Mami Janet dan ayah Haris. Marshall ingin , jika saat Zee merasakan kontraksi ada Mami Janet yang siap membantunya.
__ADS_1
Selesai sarapan Zee dan Marshall segera berangkat ke rumah sakit. Hampir dua puluh menit, Zee dan Marshall tiba di rumah sakit.
Marshall dan Zee masuk ke dalam rumah sakit dan menuju ke dokter kandungan. Setelah cukup lama menunggu untuk di periksa, zee dan Marshall masuk ke ruangan dokter. Zee disuruh langsung berbaring di atas kasur dan perut Zee di periksa oleh dokter.
"Bagus, kepalanya sudah di bawah. Air ketubannya juga bagus. Tinggal tunggu waktunya saja. Sering-sering jalan kaki ya dan kalau tidur harus sering miring ke sebelah kiri," ucap dokter.
"Iya, dok," jawab Zee.
Selesai di periksa, Zee dituntun duduk oleh Marshall.
"Vitaminnya masih adakan?"
"Masih, dok."
"Jangan lupa di minum. Untuk hari ini saya tidak akan memberikan vitamin dan semua pemeriksaannya juga bagus. Semoga lancar ya, Bu, Jika sudah waktunya melahirkan."
"Iya, dok. Terima kasih...."
Setelah itu, Zee dan Marshall pun keluar. Zee dan Marshall memilih pergi menemui Hana.
Tiba di sana, Zee dan Marshall di sambut oleh adik-adiknya. Apalagi Andreo yang begitu senang melihat Zee. Sebab Andreo sangat suka mengelus perut besarnya Zee.
"Ibu mana?" Tanya Zee.
"Ada lagi di dapul. Ibu... Ada kakak sama Abang...!" Teriak Andreo berlari menghampiri Hana yang saat ini tengah memasak.
Hana menghentikan acara memasaknya dan menyuruh mba Ida menggantikannya. Hana segera menemui anak dan mantunya di ruang keluarga dan langsung bergabung dengan Zee dan Marshall.
"Apa sudah kerasa," ucap Hana seraya mengelus perut besarnya Zee.
"Belum, tapi kalau kontraksi palsu sering," jawab Zee.
"Mudah-mudahan di lancarkan persalinannya ."
"Amien...."
"Assalamualaikum...." Salam Aisyah, yang baru pulang dari kuliahnya.
"Wa'allaikumsalam," jawab Zee dan Hana.
"Tumben jam segini sudah pulang?" Tanya Hana.
"Iya, Ais nggak enak badan. Kepala Ais pusing dan juga mual."
__ADS_1
"Ais mendingan langsung istirahat saja," suruh Hana dan Aisyah pun mengangguk. Aisyah segera melangkah menuju kamarnya.
"Bu, Ais sakit apa? Zee lihat matanya sedikit kuning."
"Mungkin kecapean kali. Akhir-akhir ini tugas kuliahnya banyak."
Zee mangut-mangut.
***
Malam harinya, Zee yang akan bersiap tidur merasakan perutnya mules. Zee yang sudah merebahkan tubuhnya, kembali duduk.
"Kenapa?" Tanya Marshall.
"Biasa, kontraksi palsu," jawab Zee, sebab rasa mulesnya sudah tidak terasa lagi.
"Oh...."
Lalu Zee kembali berbaring dan perutnya terasa mules lagi. Zee duduk lagi dan mengelus perutnya.
"Mules lagi?"
Zee mengangguk, lalu Marshall mengelus perutnya Zee.
"Sudah nggak mules lagi." Zee kembali berbaring.
Hampir setiap tiga puluh menit, Zee merasakan perutnya mules. Zee membangunkan Marshall yang sudah tertidur pulas.
"Shall... Bangun. Perutku mulesnya terus-terusan."
Marshall pun bangun dengan wajah yang mengantuk.
"Mules lagi?" Zee pun mengangguk dan meringis merasakan perutnya yang kembali mules.
"Kalau gitu kita ke rumah sakit."
Marshall dan Zee segera berangkat ke rumah sakit bersama Mami Janet dan ayah Haris. Rasa mules yang Zee rasakan, semakin mules.
Tiba di rumah sakit. Zee langsung di tangani oleh bidan yang bertugas, sedangkan dokter kandungannya belum datang.
"Sudah pembukaan enam," ucap bidan seraya membuka sarung tangan.
"Istirahat saja dulu ibunya dan jika mulesnya sudah sering, panggil saya lagi."
__ADS_1
"Iya, Bu bidan."
Zee mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur miring ke kiri. Marshall terus berada di samping Zee dan menggenggam tangan Zee yang meringis merasakan perutnya yang mules.