Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Iya, aku masih cinta


__ADS_3

Sudah hampir pukul enam sore, Haris belum juga pulang ke rumah, sedangkan Mami Janet sudah menunggunya pulang. Berkali-kali Mami Janet menengok ke arah pintu tapi sampai detik ini Haris belum menampakkan batang hidungnya.


Mami Janet semakin kesal dan marah, karena Haris belum pulang juga. Sebenarnya bisa saja Mami Janet menelpon Haris, tapi Mami Janet gengsi. Nanti yang ada Haris ke ge'eran lagi.


"Tuh orang pergi kemana sih!" Geram Mami Janet, masih menengok ke pintu.


Zee yang sedang bermain handphone, tersenyum melihat ibunya yang terlihat gelisah menunggu ayahnya pulang.


Lalu Mami Janet melangkah ke arah pintu dan melihat ke arah jalan, memastikan Haris sedang jalan pulang.


"Sebenarnya pergi kemana tuh laki! Awas saja kalau pulang!" Gumam Mami Janet, masih memperluas pandangannya ke arah jalan.


"Tapi... Sejak kapan mas Haris kenal tuh cewek. Mana tuh cewek cantik dan kayaknya masih muda. Masa iya, mas Haris sudah berpaling dari aku."


"Iiih...! Kenapa jadi begini sih," kesal Mami Janet.


Mami Janet menghentakkan kakinya kesal, karena Haris belum pulang juga. Mami Janet terpaksa menutup pintunya, karena sudah malam.


Zee terus saja memperhatikan ibunya yang terlihat gelisah. Ibunya itu akan masuk kamar tapi melangkah lagi ke arah pintu dan membuka pintunya lagi, setelah itu menutupnya lagi.


Hampir lima belas menit sejak pintunya di tutup oleh Mami Janet dan akhirnya ketukan pintu terdengar.


Mami Janet yang duduk, menunggunya pulang segera berdiri dan melangkah cepat ke arah pintu. Tapi saat akan membukakannya, Mami Janet malah berbalik badan dan meminta Zee yang membukakannya.


"Kamu saja yang buka pintunya. Ibu malas ketemu ayahmu." Kemudian Mami Janet masuk ke kamarnya dan tidak lupa mengunci pintu kamarnya.


Zee membuka pintunya.


"Kok, ayah baru pulang?"


"Ayah ketiduran di rumah bibi Na. Ibumu mana?" Tanya Haris seraya melangkah masuk ke dapur.


"Di kamar. Ayah tahu... Sejak tadi ibu nungguin ayah pulang dan kayaknya ibu kesal karena ayah nggak pulang-pulang."


"O ya...."


"Iya...." Seraya mengambil handuk di jemuran kecil, lalu di berikan kepada ayahnya.


"Semoga kali ini ayah berhasil meluluhkan hati ibu," sambung Zee.


"Mudah-mudahan. Ayah mandi dulu," tukas Haris, lalu melangkah masuk ke kamar mandi.


Sekitar lima belas menit, Haris selesai mandi dan melangkah ke arah kamar. Haris mengetuk pintunya, sebab pintunya di kunci dari dalam.


Tok tok tok

__ADS_1


"Sayang, buka pintunya. Aku mau masuk, mau ambil baju," seru Haris sembari mengetuk-ngetukkan pintunya.


"Ngapain pulang, dan sekarang pengen masuk. Pasti itu hanya alibinya saja." Gerutu Mami Janet yang duduk di atas kasur.


Haris menghela nafasnya, karena pintu kamarnya tidak di buka-buka. Akhirnya Haris mengetuk kamar Zee dan kayaknya harus meminta bantuan anaknya lagi.


"Zee...." Panggil Haris seraya mengetuk pintunya.


Zee membuka pintu kamarnya. "Iya, kenapa, Yah?"


"Ayah minta bantuan lagi sama kamu, Nak. Tolong ketuk pintu kamar ibumu. Ayah sudah mengetuk pintunya dan ibumu nggak membuka pintunya."


"Oh...." Kemudian Zee segera mendekati pintu kamar ibunya.


Tok tok tok


"Ibu, buka pintunya. Aku mau bicara," teriak Zee.


Mami Janet membuka pintunya dan menatap Zee yang berdiri di depan kamarnya.


"Mau bicara apa?" Ucap Mami Janet.


"Ini...." Zee menarik tangan ayahnya yang berdiri di dekat pintu kamar.


"Ayah mau masuk. Kasihan ayah, belum pakai baju. Masa... Ibu tega membiarkan ayah dalam keadaan begini," tunjuk Zee kepada ayahnya yang hanya menggunakan handuk yang melingkar di pinggangnya.


"Ayah, masuk sana," sambung Zee lagi.


"Terima kasih ya, Nak," ucap Haris, lalu masuk ke dalam kamar.


Zee kembali masuk ke kamarnya dan melanjutkan belajarnya.


Mami Janet menutup pintunya dan duduk di atas kasur, seraya mendelikkan matanya.


"Sudah puas jalan sama cewek lain!" Sindir Mami Janet.


Haris yang akan mengambil pakaiannya berhenti mendengar perkataan istrinya itu.


"Kenapa? Apa kamu penasaran!"


"Nggak! Ngapain juga aku penasaran!" Sengit Mami Janet.


"Ya sudah. Berarti aku nggak perlu ngejawabnya," timpal Haris dan mengambil bajunya di lemari.


"Dasar nyebelin!" Lalu Mami Janet merebahkan tubuhnya kesal.

__ADS_1


Haris menghela nafasnya dan mendekati mami Janet yang tengah merajuk itu dan bajunya di letakkan begitu saja di atas kasur.


"Terus mau kamu gimana? Bukannya aku sudah berusaha meluluhkan hati kamu, tapi kamunya sampai sekarang nggak mau memaafkan aku dan apa salah jika aku memilih mendekati wanita lain. Aku juga punya perasaan dan aku juga akan lelah jika orang yang aku cintai tidak mau memaafkan aku, padahal aku sudah berulang kali meminta maaf."


"Jadi kamu menyerah begitu saja!" Kesal Mami Janet dan kembali duduk menatap Haris.


"Aku akan menyerah dan melepaskan kamu dari pernikahan ini. Aku nggak mau memaksa kamu tetap bertahan di dalam pernikahan ini."


Mami Janet memukul punggung Haris seraya mencebikan bibirnya.


"Kamu jahat! Aku sebel sama kamu! Kamu nggak peka! Pokoknya kamu paling... Iih," kesal Mami Janet memukul dadanya Haris.


Haris menangkap tangan Mami Janet yang terus memukulinya.


"Terus maunya kamu gimana? Sedangkan aku nggak mau memaksa kamu, kalau kamu saja sudah tidak cinta lagi sama aku. Walau sampai detik ini aku masih mengharapkan kamu," ucap Haris menatap kedua manik Mami Janet.


"Katakan... Apa yang harus aku lakukan?" Sambung Haris lagi.


"Ya... Kamu bilang... Masih mencintaiku," ucap Mami Janet sedikit terbata-bata.


"Terus...." Haris semakin intens menatap istrinya.


"Terus... Ya... Pokoknya aku nggak mau kamu deket-deket cewek lain. Aku nggak suka!" Ucap Mami Janet seraya memalingkan wajahnya.


Haris mengulum senyumnya, kemudian tangan Haris menarik wajah Mami Janet untuk kembali menatapnya.


"Katakan kalau kamu masih mencintaiku," ucap Haris menatap kedua mata Mami Janet.


Mami Janet menganggukkan kepalanya pelan. "Aku butuh jawaban, bukan anggukan."


"Apa harus aku menjawabnya?"


"Harus! Jika kamu memang masih mencintaiku."


"I-ii-ya...."


"Iya apa?" Desak Haris.


"Iya. Aku masih cinta sama kamu."


Akhirnya kata cinta terucap juga dari mulut Mami Janet dan Haris langsung melabuhkan bibirnya di bibir mungil istrinya.


Keduanya hanyut dalam perasaan cinta yang semakin merekah indah. Haris dan Janet saling merayu tubuhnya dan memberi kehangatan dalam setiap inci kulit yang saling bersentuhan.


Saling membalas ciumannya dan saling memanjakan dengan sentuhan-sentuhan mesra yang mereka lakukan di atas ranjang. Sampai akhirnya di puncak ternikmatnya yang hakiki, Haris menyirami tanaman Janet yang sudah sangat lama tidak di semai akan benih-benih cinta.

__ADS_1


Ya... Malam ini. Malam yang indah bagi Haris, karena dirinya bisa mendapatkan lagi cinta dan raga Janet. Wanita yang sangat di cintainya sampai detik ini dan seterusnya.


__ADS_2