
Marshall tiba di rumahnya dan berjalan santai memasuki rumah. Sambil bersiul, Marshall menaiki anak tangga.
"Abang!" Panggil Aries dan Marshall menoleh ke arah Aries yang tengah berdiri tidak jauh dari tangga.
"Iya, yah ada apa?"
"Ayah mau bicara sama kamu."
Marshall kembali turun dan menghampiri Aries.
"Kita bicara di ruang kerja ayah saja," ucap Aries. Marshall mengangguk dan beriringan berjalan menuju ke ruang kerja Aries.
Aries langsung mendudukkan dirinya di kursi kerjanya, sedangkan Marshall duduk di depan meja kerjanya.
"Ayah mau bicara apa?" Tanya Marshall serius.
"Ini soal perusahaan almarhum papa Adam."
"Terus...." Marshall semakin penasaran dengan perkataan sang ayah.
"Ayah berharap kamu mau meneruskan usaha almarhum papa Adam."
Marshall terkejut mendengarnya dan menatap lekat wajah sang ayah.
"Sebentar. Bukannya perusahaan papa Adam di kasih ke Ais? Terus kenapa ayah menyuruh Abang yang meneruskan usaha papa Adam?"
"Karena ayah mau kamu yang mengelola perusahaan papa Adam dan ini semua sudah dapat persetujuan dari Ais. Jadi gimana? Abang maukan?"
Marshall terdiam bingung menerima tawaran ini. Meski sudah dapat persetujuan dari Ais, tapi Marshall masih ragu untuk mengelola perusahaan almarhum papa Adam.
"Bang, gimana?" Aries kembali bertanya.
__ADS_1
"Boleh Abang pikirkan dulu," pintanya.
"Baiklah, tapi jangan lama-lama," lanjut Aries
"Iya, yah. Kalau gitu Abang ke kamar dulu," pamitnya.
Aries mengangguk dan Marshall segera meninggalkan ruang kerja tersebut. Tiba di dalam kamarnya, Marshall langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan menatap langit-langit kamarnya. Hatinya gamang menerima permintaan ayahnya dan dirinya takut jika suatu saat nanti tidak mampu mengelola perusahaan almarhum papa Adam.
"Huft...." Marshall membuang nafasnya.
"Aku harus bagaimana? Apa aku mampu meneruskan usaha papa? Pa, apa yang yang harus Marshall lakukan." Marshall benar-benar dilema.
Saat tengah bimbang memikirkan permintaan ayahnya. Aisyah menyelonong masuk tanpa mengetuk pintu kamarnya.
"Abang!"
Marshall tersentak mendengar panggilan Aisyah. Lalu Aisyah mendudukkan tubuhnya di atas kasur dan menatap Marshall yang tengah berbaring.
"Apa ayah sudah bicara sama Abang, soal perusahaan papa."
"Terus gimana keputusan Abang?"
"Abang masing bingung. Jujur, Abang takut nggak bisa mengembangkan perusahaan papa, sedangkan perusahaan papa termasuk perusahaan besar. Jadi Abang masih ragu," ungkap Marshall dengan kebimbangannya.
"Tapi kan nanti di ajarin dulu sama ayah. Bagaimana cara mengurus perusahaan papa. Toh Ais nggak keberatan kalau Abang yang meneruskan perusahaan papa. Abang jangan ragu, Ais yakin Abang bisa mengurus perusahaan papa."
Marshall menatap lekat wajah Aisyah. "Ais yakin kalau Abang bisa mengurus perusahaan papa?" Ucap Marshall dan Aisyah mengangguk yakin.
"Tapi, Abang harus memikirkan hal ini masak-masak. Abang nggak mau nantinya mengecewakan ayah, apalagi papa yang sudah tenang di sana."
"Ngomongin soal papa, Ais jadi kangen." Aisyah berubah murung dan menundukkan kepalanya. Marshall bangun dan segera menarik tubuh Aisyah ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Abang juga kangen sama papa. Papa adalah pahlawan kita dan papa adalah papa terhebat," ucap Marshall sembari mengelus punggung Aisyah dengan sayang. Marshall mengingat-ingat kembali wajah papa Adam yang sudah lama tiada. Meski dirinya dan Aisyah bukan anak kandungnya, tapi kasih sayang yang di curahkan papa Adam sangatlah tulus. Walau sebenernya kasih sayang yang papa Adam tunjukkan lebih condong ke Aisyah.
"Bang, bagaimana kalau besok kita ke makam papa," usul Aisyah dan Marshall pun mengangguk setuju.
"Abang!!" Teriak si kembar dan si kembar langsung berlari mendekatinya. Si kembar langsung menubruk tubuh Marshall dan Aisyah.
"Yey! Berpelukan...!" Seru Adelia.
"Teletubbies dong," cetus Marshall.
"Memang," jawab Adelia dan Adelio kini malah naik ke punggung Marshall dan duduk di pundak Marshall.
"Abang ayo kita lari. Iyo mau terbang kaya Superman," pinta Adelio.
"Mana ada Superman terbang di pundak Abang," cibir Adelia.
"Biarin, wlee. Suka-suka Iyo. Sirik aja jadi orang," balas Adelio.
"Sudah-sudah jangan berantem," lerai Aisyah. "Iyo, turun dari pundak Abang."
Dengan mengerucutkan bibirnya Adelio turun. Marshall hanya tersenyum melihat adik-adiknya yang hampir setiap hari adu mulut dan kedua-duanya terkadang nggak mau kalah.
Setelah Adelio turun, Aisyah berdiri dan menarik Marshall. "Abang bangung," pinta Aisyah dan Marshall menurutinya.
Sedangkan si kembar memperhatikannya kedua kakaknya. "Turunkan tubuh Abang," suruh Aisyah. Marshall seketika mengerti apa yang akan di lakukan Aisyah. Marshall menurunkan tubuhnya, lalu Aisyah naik ke punggungnya.
"Yey, kakak yang menang!" Aisyah berseru senang.
"Kak Ais curang," sungut Adelio, dengan bibirnya yang semakin manyun.
Marshall, Adelia dan Aisyah tertawa terbahak-bahak, lalu Marshall membawa Aisyah keluar dan Adelio serta Adelia langsung mengejarnya.
__ADS_1
"Kak Ais curang!" Teriak Adelio yang terus mengejar Marshall. Aisyah semakin tertawa senang.
Aries yang melihat kelakuan anak-anaknya, menggelengkan kepalanya. "Dasar anak-anak. Nggak yang besar, nggak yang kecil sama aja kelakuannya," gumam Aries.