Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kemarahan Jefry


__ADS_3

Marshall yang tadi mengikuti Aisyah dan Zee. Berhenti melihat cowok-cowok memegang poster Zee yang mengenakan pakaian laknat. Marshall langsung merebutnya dan merobek poster itu dan ternyata di tembok juga ada poster Zee yang sama.


Marshall menggeram marah melihat banyak poster-poster yang tersebar di dinding.


Marshall teringat Zee, yang tadi di ajak Aisyah.


"Zee...." Gumam Marshall, yang kini berlari cepat mencari Zee.


Marshall tertegun melihat semua siswa berkumpul di lapangan dan memegang poster Zee yang tadi di robeknya. Bahkan ada kata-kata hinaan dan kata-kata kasar.


Marshall juga melihat poster Zee yang tengah berduaan bersama pria lain. Ada juga poster Zee yang masuk ke rumah indehoy.


Marshall mengusap wajahnya emosi. Marshall kemudian mencari Zee lagi.


"Ais...."


"Abang?" Aisyah terlihat sangat bingung dan bola matanya terus mengedarkan pandangannya mencari Zee.


"Zee mana?"


"Ini... Ais juga lagi nyari."


"Zee tadi pergi kemana?"


"Kalau Ais tahu, nggak bakalan nyariin, kak Zee!"


Marshall mengacak rambutnya frustasi. Kemana dia harus mencari Zee.


Saat sedang gundah gulana memikirkan Zee. Seorang siswa laki-laki bercelatuk kepada teman-temannya.


"Nanti malam, gue mau ke gang mawar. Gue mau coba anu nya si Zee. Kira-kira masih sempit apa sudah longgar."


Marshall yang mendengar itu semua, langsung menggeram marah. Marshall langsung menarik cowok itu dan di pukulnya rahang cowok itu.


Bugh....


"Kurang ajar kamu ngomong kayak gitu!" Berang Marshall yang tidak terima pacarnya di lecehkan lewat kata-kata.


"Brengsek elu!!" Maki cowok itu.


Cowok itu langsung tersulut emosi dan akan menghajar balik Marshall.


"Eh!! Jangan...." Cegah temannya.


"Apaan sih! Gue mau balas dia!" Hardik cowok itu.


"Jangan, dia adalah pacarnya si Zee. Kamu nggak boleh gegabah nyerang dia. Dia terlihat sangat emosional sekali," ucap temannya itu.


Marshall berlalu dari hadapan mereka dan kembali mencari Zee. Marshall terus mencarinya di setiap penjuru sekolah, dan Marshall juga mencarinya ke belakang sekolah. Tapi nihil, Zee tidak ada di mana-mana.

__ADS_1


"Zee... Kamu dimana?"


Marshall sangat cemas dan khawatir dengan keadaan Zee. Dia tidak mau sampai terjadi hal buruk kepada Zee. Berkali-kali Marshall mengusap wajahnya yang terlihat cemas, gelisah, dan berbagai perasaan yang membuatnya mengkhawatirkan Zee.


Marshall kemudian mengambil handphonenya di saku dan menelpon Zee. Akan tetapi telponnya tidak di angkat-angkat, membuat Marshall semakin mengkhawatirkan Zee.


Karena tidak di angkat-angkat, Marshall memutuskan mencari Zee lagi ke tempat-tempat yang pernah ia dan Zee singgahi.


Marshall memacukan motornya di jalan raya, berharap bisa menemukan Zee di jalan. Marshall menghentikan motornya di pinggir jalan. Ia tengah berpikir, kemana lagi tempat yang pernah dirinya dan Zee datangi.


Lama berhenti di pinggir jalan, seraya mengedarkan pandangannya.


"Mama, nanti sore kita main di taman ya...." Celoteh seorang anak kecil kepada ibunya.


Marshall yang mendengar kata taman dari anak kecil yang barusan lewat. Langsung teringat kalau dirinya dan Zee sering pergi ke taman yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.


Buru-buru, Marshall kembali melajukan motornya ke taman.


Tiba di taman, Marshall langsung mencari keberadaan Zee.


*


Zee yang saat ini tengah duduk di taman, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Isak tangisnya begitu memilukan. Di tengah kesedihan yang di rasakannya, Marshall yang berhasil menemukan Zee, segera duduk di samping Zee.


"Zee...."


Zee langsung menatap Marshall. Tangis Zee semakin menyayat hati. Di rangkulnya tubuh Zee, membiarkan Zee menangis sepuasnya.


Setelah di rasa cukup membaik. Zee menarik diri dari pelukan hangat Marshall. Marshall menghapus sisa-sisa air mata.


"Apa... Setelah kamu tahu... Kalau aku anak seorang mucikari. Apa kamu akan meninggalkan aku?" Ucap Zee sesegukkan.


Marshall menggelengkan kepalanya.


"Nggak. Aku nggak akan ninggalin kamu. Bagiku kamu tetap pacar aku dan... Aku nggak peduli kamu anak dari seorang mucikari atau anak seorang penjahat sekalipun. Perasaanku sama kamu nggak akan berubah."


Air mata Zee kembali menetes. Ia tak menyangka kalau Marshall tidak seperti dugaannya dan berpikir kalau Marshall pasti ilfil sama dirinya. Tapi ternyata, Marshall malah menerimanya dan tidak memperdulikan siapa dirinya.


"Sstt... Aku kan sudah bilang, jangan nangis lagi." Marshall kembali menyeka air matanya Zee.


"Iya...."


Marshall tersenyum dan memeluk Zee lagi. Di ciumnya kepala Zee dengan sayang.


"Kita pergi dari sini. Sebentar lagi akan turun hujan."


Marshall dan Zee, meninggalkan taman itu dan Marshall berniat akan mengajak Zee ke rumahnya. Zee pasti bakal senang jika bertemu dengan adiknya, Adelia.


***

__ADS_1


Di kantor , Jefry tengah sibuk dengan setumpuk pekerjaannya. Sebisa mungkin ia selesaikan pekerjaannya dengan sangat baik dan teliti. Di tengah kesibukannya, Gunawan datang dengan wajah panik.


"Tuan, ini gawat! Barusan, Yogi mengabari saya kalau Nona Zee tengah di bully oleh semua siswa di sekolahnya. Yogi bilang semua siswa tahu soal Zee anak dari mucikari." Lapor Gunawan.


"Apa? Kurang ajar. Sekarang kita ke sana."


Jefry segera meninggalkan kursi kerjanya dan berjalan cepat menuju lift. Gunawan mengikuti langkah lebar Tuannya dari belakang.


Selama ini, Jefry menyuruh orang untuk selalu mengikuti Zee kemanapun dia pergi. Jefry tidak mau sampai ada hal buruk yang terjadi kepada keponakannya itu, dan sekarang adalah hal buruk yang di dengarnya dari bawahannya.


Sekitar hampir satu jam, Jefry tiba di sekolah SMA Nusa Bangsa. Suasana di sekolah sudah sepi dan hanya tersisa sampah-sampah foto Zee yang mengenakan pakaian seksi dan juga poster Zee dengannya.


Jefry menggeram marah, melihat foto-foto itu. Jefry tidak akan membiarkan masalah ini selesai begitu saja. Pokoknya Jefry harus membawa masalah ini ke jalur hukum.


"Gun, kamu cari tahu siapa dalang di balik ini semua."


"Baik, Tuan. "


"Dan pastikan, besok kamu harus sudah menangkap orang itu."


"Baik, Tuan."


Jefry melempar poster yang di remasnya ke sembarang arah dan kini Jefry berjalan cepat menuju ruang guru.


"Permisi, saya mau bertemu dengan kepala sekolah," ucap Jefry yang berusaha meredam emosinya.


"Silahkan, Pak. Ruangannya di sebelah sini," tunjuk guru perempuan ke ruang kepala sekolah.


"Terima kasih."


Tanpa mengetuk pintu, Jefry langsung menemui kepala sekolah dan tanpa basa-basi Jefry mengungkapkan kekecewaannya.


"Ada yang bisa saya bantu," ucap kepala sekolah.


"Ya, saya sangat kecewa dengan sekolahan ini. Bagaimana bisa, semua murid membully keponakan saya!"


"Maaf, kalau boleh tahu nama keponakannya siapa?"


"Zevania Ayluna Sarasvati. Tadi keponakan saya mengalami perundungan oleh semua murid dan saya sangat kecewa dengan kinerja anda! Kenapa anda sebagai kepala sekolah tidak cepat tanggap dengan masalah keponakan saya. Sekarang saya tanya sama anda, Pak! Dimana anda ketika semua murid membully keponakan saya."


Jefry benar-benar sudah sangat marah dan kemarahannya sudah di atas rata-rata.


*


*


*


Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2