Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Menembak


__ADS_3

Setelah menghabiskan akhir pekan, hari ini Zee kembali dengan dengan rutinitas yaitu sekolah. Dan hari ini Marshall tidak datang menjemputnya. Sebenarnya Zee senang Marshall tidak menjemputnya tapi di sisi lain seperti ada yang kurang. Entahlah Zee bingung menjawabnya.


Zee sudah sampai di sekolah, saat akan melangkah masuk ke kelas. Tieta, tiba-tiba menariknya dan menyeret Zee.


"Ada apa? Kenapa kamu menarik aku?" Tanya Zee bingung dengan Tieta.


"Nanti kamu juga bakal tahu," cetus Tieta.


Tieta mengajak Zee ke lapangan, disana semua siswa tengah berkumpul mengelilingi seseorang yang tengah berdiri di tengah-tengah lapangan.


Tieta dan Zee, menerobos kerumunan siswa dan akhirnya Zee dan Tieta berhasil menerobos. Zee terkejut dengan seseorang yang tengah berdiri seraya menatapnya teduh, di tangannya ada sebuket bunga cantik.


Dia adalah Marshall. Marshall tersenyum manis kepada Zee, lalu Marshall mendekati Zee dan menarik Zee ke tengah lapangan. Marshall, kemudian berlutut di hadapan Zee seraya mengulurkan bunganya.


Sorakan semua siswa menggema di lapangan itu dan berkata. Cie....


Sedangkan Zee, ingin menghilang dari hadapan mereka semua dan juga ingin sekali dirinya mencekik Marshall. Sungguh sangat memalukan.


"Zee, setiap kali aku bersamamu, aku tidak bisa menghindari merasakan sesuatu yang sangat istimewa di hatiku. Satu-satunya alasan adalah aku akan senang bersamamu sepanjang hari dan membuat segalanya mungkin untuk membuatmu bahagia. Aku ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu seperti aku mencintai ibuku. Zee, apakah kamu mau menerima cintaku."


Sorak gemuruh dari semua siswa, yang mengatakan kata, "Terima... Terima... Terima...."


Zee bingung, apa yang harus di katakan nya. Terima atau tolak. Akan tetapi, teriakan semua siswa membuat Zee dilema.


Apa mungkin sudah saatnya aku harus bisa membuka hatiku dan merasakan yang namanya bahagia dengan orang yang memang mencintaiku.


Marshall terus menunggu jawaban Zee, meski kakinya sudah sangat pegal.


Zee menarik nafas dan membuangnya perlahan, lalu di tatapnya Marshall yang masih setia menanti jawabannya.


"Ii... Iya, aku mau," jawab Zee seraya mengambil bunganya dari tangan Marshall.


Seketika, Marshall langsung selebrasi dengan berlari memutari lapangan dan berteriak. "AKU CINTA ZEE."


Zee menutup wajahnya dengan bunga. Sungguh sangat malu, apalagi semua siswa semakin bergemuruh, menggoda dirinya. Marshall berhenti berlari dan menggenggam tangan Zee lalu di ciumnya tangan punggung Zee dengan mesra.


"Cie... wit- wit...." sorakan dan siulan dari semua siswa.


"Eehemm...." Deheman keras dari seorang guru BK, yang berdiri tidak jauh dari Zee dan Marshall.


"BUBAR...!!" Titah sang guru tegas.


Semuanya bubar, kecuali Marshall dan Zee. Karena guru BK itu menatap keduanya tajam.


"Kalian berdua ikut Bapak!"


"Iya, Pak," jawab Marshall seraya menundukkan kepalanya.


Marshall segera mengikuti langkah guru BK nya seraya menggenggam tangan Zee. Pak guru itu, menengok ke arah Zee dan Marshall.


"Kenapa bergandengan tangan, memangnya mau nyebrang apa?!" Tegur Pak guru.


Marshall langsung melepaskan genggaman tangannya dan melirik Zee, begitupun juga Zee. Keduanya saling lempar senyum dan terus melangkah mengikuti Pak guru.


Zee dan Marshall sudah duduk di depan meja guru BK-nya. Keduanya saling menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Siapa yang mengumpulkan semua siswa di lapangan?"


"Saya, Pak," jawab Marshall.


"Alasannya apa? Sampai kamu mengumpulkan semua siswa di lapangan?"


"Karena... Saya... Mau nembak cewek," ucap Marshall .


"Dia ceweknya." Tunjuk Pak guru ke arah Zee.


"Iya, Pak."


"Dasar anak jaman sekarang, mau nembak cewek kok di lapangan. Harusnya kalau mau nembak cewek tuh, di tempat yang romantis. Ini nembak cewek di lapangan sekolah," ujar Pak guru.


"Bikin bapak ngiri aja," sambungnya lagi lirih.


Marshall menegakkan kepalanya bingung, mendengar ucapan guru BK-nya itu. "Maksud Bapak apa, ya?"


"Lupakan. Besok-besok jangan bikin kehebohan lagi, ngerti kalian berdua."


"Ngerti, Pak," jawab Marshall dan Zee.


"Sekarang kalian boleh keluar dan ingat jangan pacaran terus," imbuh Pak guru


"Iya, Pak," jawab Marshall seraya mengangguk.


Zee dan Marshall segera meninggalkan meja guru BK-nya dan menuju ke kelas.


Pak guru yang melihat Zee dan Marshall, langsung tertunduk lesu.


Marshall dan Zee, langsung di sambut sorakan teman sekelas.


"Cie... Cie... Cie...." Ledekan semua teman sekelasnya.


Zee benar-benar sangat malu di ledek teman sekelasnya dan nggak nyangka akan seheboh ini. Berbeda dengan Marshall, yang sejak tadi terus tersenyum bahagia.


"Silahkan permaisuri ku," ucap Marshall mempersilahkan Zee untuk duduk di bangkunya.


"Cie...." Ledek Tieta.


Zee memukul pundak Tieta dengan bunganya. Tieta terus saja meledek Zee, sampai Zee benar-benar sebal. Tapi di balik itu semua, hatinya berbunga-bunga.


Semoga aku terus menggenggam kebahagiaan ini dengan orang yang ku sayangi. Batin Zee.


***


Di kelas yang berbeda, Popi dan Enzi berlari mendekati Liora yang tengah memakai lipstiknya.


"Liora...!" Seru Popi, yang langsung menepuk bahu Liora.


Liora yang sedang memakai lipstik, langsung melenceng dari bibirnya.


"Iiih... Apaan sih! Lihat nih, lipstiknya jadi belepotan!" Gerutu Liora kesal.


"Kenapa kalian berdua pada heboh?" Tanya Hanum yang langsung meletakkan handphonenya di meja.

__ADS_1


"Kamu harus tahu berita ini, Li," ucap Popi.


"Berita apaan?!" Ketus Liora.


"Kamu tahu. Marshall nembak si Zee," sambung Popi.


"Apa? Marshall nembak si cewek sialan itu?" Kejut Liora.


"Iya... Dan Zee menerima Marshall jadi pacarnya," timpal Enzi.


"Nggak! Mereka nggak boleh di biarin pacaran. Aku harus buat mereka putus," sungut Liora penuh emosi. Selain itu juga hatinya langsung terbakar api cemburu.


"Kalau gitu, tunjukan foto Zee sama si om-om itu," cetus Hanum.


Liora terdiam kesal. Sungguh dirinya tak terima melihat Zee dan Marshall jadian.


Aku akan hancurkan hubungan kalian. Lihat saja nanti. Batin Liora.


***


Jam istirahat pun tiba, Marshall langsung menarik tangan Zee dan mengajak Zee ke kantin.


"Kamu duduk disini," titah Marshall, lalu Marshall memesan satu mangkok bakso dan satu gelas es teh manis.


Setelah memesan makanan, Marshall kembali duduk di samping Zee. Aisyah yang baru datang di kantin, langsung menghampiri Marshall dan Zee.


"Cie... Yang baru jadian. Traktir-traktira nya mana nih," goda Aisyah.


"Ais, mau di traktir?" Kata Marshall.


"Iyalah, tapi bukan traktiran makanan. Melainkan traktiran yang lain."


"Emang mau di traktir apa sama Abang."


"Traktirin Ais sepatu baru."


"Kalau mau sepatu baru, mintanya sama ayah jangan sama Abang."


"Pelit!" Sungut Aisyah.


"Biarin. "


Pesanannya sudah datang dan di letakkan di meja.


"Kenapa pesannya satu?" Tanya Zee bingung.


"Karena aku maunya semangkok berdua. Biar romantis," sahut Marshall seraya menaikan kedua alisnya.


"Jangan mau kak. Mulut Abang ini membawa penyakit," ejek Aisyah.


Marshall langsung melototi Aisyah. Sedangkan Zee mengulum senyumnya.


♥️♥️♥️♥️♥️


Terima kasih, masih setia dukung cerita ini. Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2