Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Mama sakit


__ADS_3

Sudah hampir satu Minggu, Zee berpisah dengan Marshall. Setiap harinya, Zee dan Marshall menghabiskan waktunya hanya melalui sambungan telepon atau video call.


Saat ini Zee tengah duduk dengan kedua tangannya di lipatkan di atas meja dengan menopang kan dagunya di atas lipatan tangannya. Zee tengah menatap handphonenya, menanti telpon dari Marshall.


Zee menghela nafasnya, karena lama menunggu telpon dari Marshall yang katanya akan telpon begitu tiba di rumahnya.


"Lama banget, sih!" Gerutu Zee seraya memanyunkan bibirnya. Pandangan matanya terus terpaku ke layar handphone.


"Zee, ada yang nyariin tuh," teriak Mami Janet, yang tengah meladeni pembeli.


Dengan malas Zee bangun dan melangkah keluar menemui orang tersebut.


"Dengan Zevania?" Tanya tukang kurir paket.


"Iya, benar." Sembari menerima paketan dari bang kurir.


Zee merasa heran, karena dirinya tidak memesan apapun. Akan tetapi nama tertera di kotak paket tersebut memang teruntuk dirinya.


"Kira-kira dari siapa, ya?" Ujar Zee seraya mengangkat kotak paket tersebut dan mencari nama pengirimnya.


Senyum Zee terbit, begitu tahu siapa yang mengirim paket tersebut.


"Ternyata dari Marshall," gumam Zee yang semakin melebarkan senyumnya.


Zee masuk dan kembali duduk ke tempat tadi. Diletakkannya kotak paket tersebut di atas meja, lalu Zee merobek kertasnya untuk mengetahui apa isi paket tersebut.


Senyum Zee semakin lebar saat tahu isi paket tersebut, yang ternyata sebuah boneka dan sebuah jaket kulit berwarna hitam. Di dekapnya boneka tersebut dengan rasa bahagia, hingga dering handphonenya mengagetkan Zee yang tengah tersenyum memeluk boneka.


Drrtt Drrtt


Zee segera mengangkat telponnya yang ternyata dari Marshall tersayangnya.


"Halo...." Jawab Zee.


"Lagi ngapain?" Tanyanya.


"Lagi peluk boneka baru."


"Oh, sudah sampai paketnya?"


"Gimana, kamu suka nggak?" Marshall kembali bertanya.


"Suka. Terima kasih ya," balas Zee.


"Syukur deh kalau kamu suka. Jangan lupa di pakai jaketnya dan anggap saja kalau aku tengah memeluk kamu," ujar Marshall.

__ADS_1


"Hm...."


Saat tengah asik teleponan, Zee melihat sebuah mobil SUV berwarna putih berhenti di depan warungnya.


"Nanti aku telpon lagi," ucap Zee yang pandangannya ke arah mobil tersebut.


"Iya," sahut Marshall.


Zee segera mematikan sambungan teleponnya, dan berdiri memperhatikan mobil tersebut.


Keluarlah seseorang dari dalam mobil itu dan orang tersebut adalah adik ayah Haris.


" Om Jefry?" Gumam Zee membulatkan matanya. Zee segera melangkah menghampiri Jefry yang berdiri di luar seraya Merapikan tampilannya.


"Om...." Sapa Zee dan langsung menyalami punggung tangan Jefry.


"Zee...." Balasnya.


"Ayahmu ada?" Tanya Jefry, raut muka Jefry begitu serius saat menanyakan ayah Haris.


"Ayah lagi pergi ambil barang ke warung kelontong yang di pasar. Kenapa Om? Kayaknya ada hal yang serius." Tukas Zee menebak.


"Memang ada hal yang penting, tapi Om harus bicara langsung ke kak Haris," ujar Jefry.


Zee manggut-manggut dan mengajak Jefry masuk ke warung nasi yang langsung di sambut oleh Mami Janet.


"Jefry, sendirian saja kamu kesini nya?"


"Berdua sama sopir," jawabnya.


Zee segera ke dapur dan membuatkan minuman buat Jefry dan supirnya. Selesai membuat minuman, Zee segera membawanya ke depan dan meletakkan minuman tersebut di depan Jefry dan supirnya.


"Minum dulu, Om," ucap Zee, menyorongkan minuman tersebut.


"Terima kasih, Zee."


Zee mengangguk dan duduk di samping Jefry. Zee memperhatikan raut muka Jefry yang terlihat gelisah dan terlihat gerak tubuh Jefry yang tak bisa diam, tapi Zee tidak berani bertanya.


Zee cuman berharap, semoga Jefry tidak membawa berita buruk.


"Masih lama ya kak Haris pulangnya?" Tanya Jefry.


"Mungkin sebentar lagi," sahut Mami Janet, " Memang ada apa?" Mami Janet bertanya, karena Mami Janet melihat Jafry terlihat risau.


"Memang ada hal penting dan ini menyangkut dengan kak Haris."

__ADS_1


"Hal penting? Hal penting apa kalau boleh tahu?" Kata Mami Janet yang penasaran.


"Nanti saja ngomongnya, kalau kak Haris pulang dari pasar," tukas Jefry yang kembali meminum minumannya.


Mami Janet mendengus samar, karena Jefry tidak mau bercerita dan Mami Janet hanya bisa menduga-duga, tentang apa yang akan di omongkan Jefry ke suaminya.


Sekitar lima belas menitan, ayah Haris datang dan menurunkan beberapa barang bawaannya.


Ayah Haris terkejut melihat Jefry ada di warungnya dan Jefry tersenyum menatapnya.


"Kak...." Jefry segera mendekati ayah Haris yang masih terkejut dengan kedatangannya.


Jefry langsung memeluk ayah Haris, yang langsung di balas pelukannya.


"Mama sakit," bisik Jefry di telinga ayah Haris.


Ayah Haris tertegun mendengar kabar buruk mengenai ibunya yang sudah lama tidak di jumpainya. Jefry melerai pelukannya dan membantu ayah Haris membawa barang belanjaannya ke warung.


Kini ayah Haris,m dan Jefry berada di rumahnya. Ayah Haris sengaja mengajak Jefry berbicara di rumah bukan di warung, agar lebih leluasa saat berbicara.


"Mama sakit apa?" Tanya ayah Haris.


"Mama terkena serangan jantung dan sekarang tengah di rawat di rumah sakit. Mama meminta aku untuk menjemput kakak ke Jakarta."


"Mama sangat merindukan kakak dan ingin sekali bertemu dengan kakak," sambung Jefry, " Tapi... Mama hanya ingin kakak saja yang datang menemuinya dan mama tidak mau bertemu dengan Mba Janet," ucap Jefry.


Ada rasa tak enak hati, saat Jefry mengatakan keinginan ibunya. Ia tahu seperti apa perjuangan kakaknya untuk bersatu lagi dengan keluarganya.


Ayah Haris terdiam dan tidak menjawab perkataan Jefry. Di dalam hatinya, ia juga merindukan Bu Cahyani dan sebagai seorang anak dirinya ingin mengurus ibunya yang sudah tua. Akan tetapi sikap ibunya terhadap istrinya yang membuat dirinya tak bisa berbuat adil.


"Tapi keadaan mama tidak begitu parah kan?" Tanya ayah Haris.


"Kondisi mama sangat memprihatinkan dan mama ingin sekali bertemu dengan kakak. Aku juga datang kesini karena paksaan dari mama, agar kakak ikut denganku ke Jakarta."


"Kakak akan ke Jakarta, dan kakak akan mengajak istri kakak dan juga Zee."


"Kakak memang harus mengajaknya, tapi untuk sementara waktu Mba Janet dan Zee jangan di ajak bertemu dengan mama dulu. Kakak tahu sendiri seperti apa mama tidak suka kepada Mba Janet."


"Iya, kakak tahu."


"Kalau bisa kita segera berangkat ke Jakarta. Aku khawatir dengan kondisi mama."


Ayah Haris mengangguk dan segera mengabari ke Mami Janet yang saat ini masih berada di warung.


Pada malam harinya, seluruh keluarga ayah Haris berangkat ke Jakarta dan menitipkan rumah beserta warungnya ke bibi Na.

__ADS_1


Ada keraguan di hati Mami Janet saat kembali ke ibu kota. Apalagi kedatangannya ke Jakarta untuk menemui Bu Cahyani. Orang yang sudah mengacaukan rumah tangganya.


Berkali-kali Mami Janet menghembuskan nafasnya, dan berharap semoga kembalinya ke Jakarta tidak membawa keburukan dalam rumah tangganya yang sudah kembali utuh.


__ADS_2