
Sepulang sekolah, Zee akan langsung bekerja. Saat sudah dekat dengan tempatnya bekerja, Zee melihat banyak sekali para warga yang berkumpul tidak jauh dari tempatnya bekerja. Bahkan ada mobil pemadam kebakaran di bahu jalan.
Zee yang penasaran, berlari ke cafe Heaven dan betapa terkejutnya Zee melihat apa yang terjadi pada cafe tempatnya bekerja. Cafe tersebut sudah hangus terbakar.
"Kenapa bisa terbakar," gumam Zee, menatap cafe tersebut yang masih mengeluarkan asapnya.
Zee mengedarkan pandangannya, mencari rekan kerjanya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, Zee melihat teman kerjanya tengah berkumpul di sana. Zee langsung menghampiri mereka.
"Kak Luna...." Teriak Zee yang berlari mendekatinya.
"Zee...." Sahut Luna.
Zee sudah berada dengan teman kerjanya dan berkumpul bersama.
"Apa yang terjadi? Kenapa cafenya bisa terbakar?" Cecar Zee, yang sangat penasaran dengan semua yang terjadi.
"Aku juga nggak tahu kenapa bisa kebakaran dan penyebabnya apa? Tapi yang jelas saat aku baru nyampe sini, cafenya sudah terbakar," terang Luna.
"Terus Pak Dito nya mana?" Zee kembali bertanya.
"Nggak tahu, aku belum lihat Pak Dito," jawab Luna.
Akhirnya Zee dan rekan kerja berdiri lesu dan menunggu nasib kerjaannya. Zee kembali menatap cafe yang sudah ludes di lahap oleh si jago merah.
Kalau begini aku harus cari kerjaan lagi, tapi kerja apa ya?
"Zee...."
Zee pun menengok ke arah orang yang memanggilnya dan ternyata orang itu adalah Marshall. Sejak putus dengan Liora, Marshall selalu mengikuti Zee diam-diam, hanya untuk memastikan keadaannya. Marshall menatap Zee penuh dengan rasa penasaran dengan apa yang di lihatnya yaitu cafe yang terbakar.
"Apa? Dan kenapa kamu ada disini," ucap Zee.
"Kebetulan aku lewat sini. O... ya, kenapa cafenya terbakar?" Tanya Marshall penasaran.
Zee mengedikan bahunya. "Aku juga nggak tahu. Saat aku datang sudah seperti ini," jelas Zee.
Marshall mendekati Zee dan berdiri di sampingnya. Terlihat sekali kalau Zee tengah gundah.
"Apa sudah ada kabar dari atasan kamu?"
"Belum. Aku dan yang lainnya juga lagi nunggu Pak Dito," terang Zee.
Setelah lama menunggu akan nasib kerjaannya, akhirnya Pak Dito datang menemui Zee dan teman kerjanya. Pak Dito sudah berdiri di depan Zee dan yang lainnya. Sedangkan Marshall izin membeli minuman.
"Maaf, saya baru bisa menemui kalian, karena tadi saya harus bertemu dengan bos kita dan menanyakan bagaimana dengan nasib kerjaan kalian setelah cafe ini terbakar dan beliau bilang kalau kalian semua akan di pindahkan ke cafe yang satunya lagi. Tapi... cafe yang satu lagi jauh dari sini. Apa kalian mau di pindahkan ke sana?"
Semuanya diam dan saling pandang karena bingung, sebab cafe yang satu lagi lokasinya jauh dari sini. Zee mengangkat satu tangannya.
__ADS_1
"Pak, kalau seandainya saya tidak mau di pindahkan bagaimana?"
"Jika kamu tidak mau di pindahkan ke sana dan memilih berhenti, kamu cuma akan dapat uang pesangon saja."
"Mm... Kalau gitu saya memilih keluar, Pak. Soalnya cafenya terlalu jauh dari sekolahan saya dan mana mungkin saya pindah sekolah," ungkap Zee.
"Oke... nggak apa-apa, Zee. Jika kamu memilih berhenti, terus bagaimana dengan yang lainnya?" Pak Dito kembali bertanya sambil menatap wajah-wajah bawahannya, dan jawaban teman-teman kerjanya Zee ada yang mau di pindahkan dan ada juga yang berhenti.
Setelah selesai dengan pembicaraannya dengan Pak Dito, Zee memutuskan untuk pulang saja dan Marshall sudah ada di sampingnya.
" Nih, minum dulu." Marshall memberikan sebotol air mineral yang sudah di buka.
"Terima kasih...." Jawab Zee.
"Sekarang kamu mau kemana?" Tanya Marshall.
"Pulang."
"Sebelum pulang, bagaimana kalau kita cari makan dulu, aku lapar," tukas Marshall.
"Boleh."
Marshall dan Zee sudah berada di rumah makan Padang, keduanya tengah melahap makanannya masing-masing. Selesai makan, Marshall mengajak Zee jalan ke taman, dan kini keduanya sudah berada di taman.
Di tepi danau, Zee dan Marshall duduk berdua menatap air danau yang tenang sembari menikmati suasana sore hari.
"Iya, aku harus cari kerja lagi."
"Kalau boleh, aku akan bantu kamu cari kerjaan yang pas buat kamu," tukas Marshall tersenyum menatap Zee. Di dalam hatinya, Marshall ingin sekali menggenggam tangan zee, tapi dirinya tidak berani menyentuh tangan Zee, jadi dirinya harus bisa menahannya.
"Nggak usah, terima kasih atas tawarannya. Soal cari kerja biar aku saja yang mencarinya," tolak Zee halus.
"Baiklah kalau begitu. Semoga saja kamu secepatnya mendapatkan pekerjaan lagi."
Zee mengangguk dan tersenyum simpul, senyum yang jarang di tunjukkan untuk orang lain.
Cantik.
Satu kata yang terucap di hatinya Marshall, saat melihat senyum manisnya, tapi di balik itu semua ada rasa kecewa di hatinya, karena Zee kembali menolak bantuannya. Padahal dirinya tulus membantu Zee.
Zee menatap langit sore yang kini terlihat mendung dan berhias awan hitam.
"Aku mau pulang," ujar Zee.
"Ayo, aku antar kamu pulang," timpal Marshall yang langsung berdiri seraya mencangklongkan tasnya di bahu kanan.
"Jangan! Aku pulang sendiri saja. Lagian ini sudah sore dan mau hujan, nanti yang ada kamu bakal di marahin sama ibu kamu," larang Zee.
__ADS_1
"Nggak papa, dan kamu tenang saja. Ibu aku nggak akan memarahi aku, jika aku pulang terlambat. Ayo, kita segera pergi dari sini, takut keburu hujan." Marshall tetap kekeuh mengantar Zee pulang.
"Baiklah...." Jawab Zee mengalah.
Marshall segera melajukan motornya ke jalan raya dan mengantarkan Zee pulang, tapi sayang di tengah jalan hujan langsung mengguyur membasahi bumi.
Marshall langsung membelokan motornya ke pertokoan dan bergegas turun karena hujan semakin deras.
"Hujannya makin gede," seloroh Marshall.
"Iya...."
Hujan yang semakin deras, disertai angin yang berhembus kencang. Membuat tubuh Zee kedinginan, di tambah lagi dengan pakaiannya yang basah terkena hujan.
"Dingin," gumam Zee mengusap-usap lengannya karena di landa dingin. Marshall yang melihat Zee kedinginan membuka jaketnya.
"Kamu kedinginan? Pakailah jaketku," ujar Marshall seraya mengulurkan jaketnya ke Zee.
"Terima kasih, sudah pinjamin aku jaket." Zee mengambil jaketnya dan langsung memakainya.
"Sama-sama."
Ternyata hujannya lama berhentinya dan kini Marshall juga mulai kedinginan, apalagi angin terus berhembus kencang. Marshall mengusap-usap telapak tangannya.
"Kamu juga kedinginan?" Tanya Zee.
"Ya... Tapi tak apa," jawab Marshall santai.
Tanpa di duga, Zee menggeserkan tubuhnya membelakangi Marshall.
"Kamu bisa memasukkan tangan kamu ke saku jaket. Siapa tau bisa menghangatkan tangan kamu yang dingin," cetus Zee sembari menengok ke arah Marshall.
"Kamu yakin...." Tanya Marshall ragu, sebab tangan Zee juga berada di saku jaket.
"Ya...."
Dengan ragu, kedua tangan Marshall masuk ke saku jaketnya. Marshall bisa merasakan kulit tangan Zee di dalam saku jaket.
Deg deg deg
Detak jantung Marshall terpacu cepat, apalagi posisinya begitu dekat dengan tubuh Zee yang berdiri di depannya. Zee menoleh ke arah wajah Marshall dan begitupun juga dengan Marshall. Keduanya saling beradu pandang, menatap satu sama lain.
πΊπΊπΊπΊ
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....
__ADS_1