
Keesokan harinya, Marshall dan teman-temannya berencana pergi ke Curug. Antusias di wajah sahabatnya jelas tergambar nyata betapa senangnya pergi ke Curug, tapi tidak untuk dirinya. Hatinya masih menyimpan kesedihan yang mendalam, setelah apa yang di lihatnya kemarin sore.
Marshall dan yang lainnya, segera masuk ke dalam mobil. Setelah itu berangkat ke Curug dan di supirin oleh Mang Yatno.
Tiba di sana. Mereka harus melewati jalan setapak untuk bisa sampai di Curug. Sekitar lima belas menit, Marshall dan yang lainnya sampai di Curug.
Dhika berbinar bahagia melihat keindahan Curug tersebut, apalagi melihat air terjunnya. Dengan gerakan tergesa-gesa, Dhika segera nyemplung ke sungai dan mendekati aliran air yang jatuh dari atas tebing.
"Woy... Seger banget airnya! " Teriak Dhika kepada teman-temannya.
"Wah, aku juga mau cepat-cepat berenang," seloroh Sigit membuka kaosnya.
Marshall duduk di bebatuan yang besar, sembari melihat sahabatnya yang begitu asik berenang di sana.
"Kamu nggak ikut nyemplung," kata Byan yang sudah siap untuk menyusul kedua temannya.
"Nanti. Aku mau menikmati keindahan Curug ini," jawab Marshall.
Setelah itu, Byan langsung gabung bersama Sigit dan Dhika yang lebih dulu nyemplung ke sungai.
Marshall menikmati keindahan Curug yang terpampang di depannya. Sungguh indah di pandang. Air sungai yang jernih dan air terjun yang jatuh menghantam bebatuan sangat indah untuk di pandang. Suara burung yang berkicau nyaring dari pohon menambah kesan indahnya alam ini.
Hampir seharian bermain di Curug dan puas meloncat dari tebing ke dalam air serta berenang. Kini Marshall dan yang lainnya pulang meninggalkan Curug tersebut.
Mobil yang membawa mereka sudah siap mengantar mereka pulang ke villa.
"Gue lapar, bro," cetus Dhika seraya memegangi perutnya yang berdendang riang.
"Sama, aku juga lapar nih," Sahut Byan.
Sedangkan Sigit hanya terkantuk-kantuk, karena kelelahan bermain air di Curug.
"Kalau gitu kita cari makan saja dulu. Soalnya gue sudah lapar banget," sambung Dhika lagi.
"Oke deh."
Kemudian Byan meminta kepada sang supir untuk mencari tempat makan. Setelah menempuh belasan menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah warung nasi yang tidak jauh dari villa.
"Bangun, Git. Kita makan dulu," ucap Byan yang membangunkan Sigit.
Mereka semua sudah turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam warung nasi.
Dhika sudah menelan air liurnya. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera mengisi perutnya yang keroncongan.
__ADS_1
Haris tersenyum kepada mereka dan menanyakan makanan apa yang mereka inginkan. Setelah memilih mau makan dengan sayur apa, Marshall dan yang lainnya menunggu makanannya tersaji.
Setelah menunggu, makanan yang mereka pesan sudah berada di depan mereka dan segera memakannya.
Tiba-tiba Zee datang ke warung dan melewati Marshall yang tengah makan. Zee tidak memperhatikan siapa saja yang sedang makan.
Zee datang membawa Leo, anak kecil yang kemarin di gendongnya.
Marshall berhenti menyendokkan makanan ke mulutnya, karena terkejut melihat Zee ada di situ.
"Zee...." Marshall menyerukan namanya pelan dan Zee menengok karena mendengar seseorang memanggilnya.
"Marshall...."
Zee sama terkejutnya melihat Marshall ada di warungnya. Marshall dan Zee saling pandang, bahkan Zee ingin meneteskan air matanya melihat orang yang masih bertahta di hatinya ada di depannya.
Ingin rasanya, Zee berlari dan memeluk Marshall. Sekedar melepaskan kerinduan yang tertahan selama ini.
"Eh... Cucu nenek ada disini," seloroh Mami Janet yang kini mengambil Leo dari gendongan Zee.
Zee masih terus menatap Marshall dan enggan berpaling dari lelaki itu.
"Hai, Zee. Apa kabar," ucap Sigit menyapanya.
Zee benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Marshall, Sigit dan Byan.
"Iya, kita disini lagi liburan. Sudah lama banget ya kita tidak bertemu," lanjut Sigit berkata.
"Iya...."
"Itu... Tadi siapanya kamu," tunjuk Sigit kepada anak kecil yang sedang di gendong oleh ibunya.
"Oh... Dia anak s...."
"Dek, Leo mana?" Tanya lelaki yang kemarin bersama Zee.
"Ada, sama ibu. Tadi di bawa masuk ke dapur," jawab Zee.
Lelaki itu segera menuju dapur untuk menemui anaknya. Zee masih tetap menatap wajah Marshall yang terlihat muram.
Marshall berdiri dan bergegas meninggalkan warung dan masuk ke dalam mobil. Byan dan Sigit merasa iba melihat kesedihan Marshall.
Dhika dan Byan menyusul Marshall ke mobil, sedangkan Sigit harus membayar tagihannya. Sebelum pergi, Sigit mendekati Zee yang masih terpaku melihat ke arah mobil.
__ADS_1
"Zee, aku minta nomor handphone kamu."
Oh... I iya," jawab Zee tergagap dan langsung menyebutkan nomor handphonenya.
"Thanks ya. Nanti aku telpon kamu dan ada hal yang ingin aku bicarakan,' ucap Sigit.
"Iya...." Zee mengangguk.
Setelah itu Sigit segera melangkah ke mobil.
Sampai di villa, Marshall buru-buru turun dan melangkah cepat ke kamar. Dhika, Sigit dan Byan menautkan alisnya melihat Marshall yang buru-buru pergi.
Sigit dan Dhika semakin di buat tercengang melihat Marshall yang membereskan pakaiannya ke dalam tas.
"Kenapa bajumu di masukin semua ke tas?" Tanya Sigit yang kini duduk di tepi kasurnya.
"Aku mau balik ke Jakarta."
"Apa? Kenapa harus balik ke Jakarta."
Marshall menghentikan gerakan tangannya dan menghela nafasnya.
"Apa karena Zee? Came on, kita belum tahu siapa lelaki itu? Kita harus selediki dulu. Kamu jangan patah semangat gitu dong. Nggak asik tahu nggak!" Ucap Sigit yang kesal melihat Marshall menyerah begitu saja.
"Kamu nggak tahu gimana perasaan aku, Git!. Sakit, Git. Sakit. Sekarang kamu bayangkan, orang yang selama ini kita cintai ternyata sudah memiliki seorang suami. Gimana perasaan kamu, sakit, sedih karena kita tidak bisa lagi mendapatkannya." Marshall berbicara dengan begitu emosional, karena dirinya harus menerima kenyataan bahwa Zee sudah ada yang punya. Marshall sangat yakin kalau Zee sudah menikah, apalagi tadi ibunya Zee memanggil dirinya nenek dari anak yang di gendong oleh Zee.
"Terserah kamu deh. Tapi kamu jangan menyesal setelah tahu kebenarannya. Kembali ke Jakartanya besok aja, jangan sekarang. Sebentar lagi mau malam dan kali ini kamu harus nurut sama omongan aku." Sigit sebisa mungkin menahan Marshall pergi dari sini, sebelum dirinya mengetahui siapa lelaki itu.
Pada malam harinya. Sigit chattingan dengan Zee dan mengajanya untuk bertemu. Zee setuju dan Zee memberi tahu tempat janjiannya dimana.
Sigit sudah bersiap-siap untuk pergi, tapi sebelum pergi Sigit menengok ke belakang dimana Marshall berada.
"Shall, aku mau keluar dulu," ucap Sigit.
"Mau kemana malam-malam begini?" Tanya Marshall yang sedang rebahan di kasur.
"Mau cari bakso, kamu mau ikut nggak," ajak Sigit.
"Nggak ah! Malas."
"Oke, kalau gitu aku pergi dulu."
"Hmm...."
__ADS_1
Sigit segera melangkah keluar dan hanya dia seorang yang pergi bertemu dengan Zee. Semoga usahanya mencari informasi tentang siapa lelaki itu tidak sia-sia dan juga berharap kalau Zee belumlah menikah.