Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Memotret


__ADS_3

Mami Janet terpundur syok, melihat lelaki yang terbaring itu. Dadanya seketika mendadak sesak dan detak jantungnya terasa berhenti. Mami Janet tak menyangka kalau lelaki yang di temui oleh anaknya adalah Haris, ayah kandung Zee.


Tanpa terasa air matanya menetes tanpa bisa di cegah. Ingatannya kembali berputar ke masa lalu, dimana suaminya itu tengah bercumbu dan bergulung mesra dengan wanita lain.


Mami Janet menutup kembali pintu kamar itu dan melangkah cepat meninggalkan kamar Haris. Mami Janet duduk di kursi besi, air matanya terus mengalir deras, rasa sakit yang di berikan oleh Haris masih terasa sakit sampai saat ini. Berkali-kali Mami Janet memukul dadanya yang menyesakkan hatinya.


Di sekanya air matanya dan menarik nafas panjang, lalu membuangnya secara perlahan. Mami Janet berusaha mengontrol diri agar tidak kembali rapuh dan tetap berdiri tegak tanpa ada Haris di sampingnya.


"Aku harus bicara sama Zee," gumam Mami Janet, lalu menyeka air matanya.


Mami Janet menghubungi Agus dan meminta Agus untuk menjaga Susan selama dirinya pergi.


Kini Mami Janet sudah meninggalkan rumah sakit dan segera menemui Zee di kosannya. Tiba di kosan Zee, Mami Janet langsung saja mengetuk pintunya.


Tok tok tok


Lama Mami Janet mengetuk pintu, dan pintu tak kunjung di buka oleh Zee. Karena tidak di buka-buka, akhirnya Mami Janet menelpon Zee. Mami Janet semakin kesal, karena Zee tidak mengangkat telponnya. Berkali-kali Mami Janet menelpon Zee dan hasilnya tetap sama, tidak di angkat oleh Zee.


"Nih, anak kemana sih! Kenapa teleponku nggak di angkat-angkat," geram Mami Janet.


Pada akhirnya Mami Janet mengirim pesan saja.


Temui ibu di rumah. Ada hal yang harus ibu bicarakan sama kamu.


Setelah mengetik pesan, kemudian di kirim pesannya dan berharap Zee segera membaca pesannya. Mami Janet memilih untuk pulang dan menunggu Zee di rumah.


***


Saat ini Zee sedang berada di kantor Jefry, karena hari ini Zee harus menjalani sesi pemotretan. Walaupun beberapa bagian tubuhnya terluka akibat keserempet mobil, Zee tetap bertanggung jawab dengan pekerjaannya.


Selesai pemotretan, Zee berganti pakaian dengan seragamnya lagi.


"Zee, kamu di tunggu sama Pak Jefry di ruangannya," ucap salah satu kru perempuan.


"Oh, iya kak," jawab Zee.


Zee bergegas ke ruangan Jefry. Sebelum masuk Zee terlebih dahulu mengetuk pintunya.


"Masuk," seru Jefry dari dalam ruangannya.


Zee masuk dan melangkah mendekati meja Jefry.


"Ada apa Om panggil aku," tanya Zee.


Jefry membuka laci dan mengambil amplop coklat, lalu di berikan kepada Zee.


"Ini bonus buat kamu, karena kamu sudah bekerja keras memberikan yang terbaik untuk perusahaan, Om dan juga kamu sudah bersedia meluangkan waktu kamu buat jagain kakak, Om."


"Tapi, Om. Kemarin kan sudah di kasih bonus, kenapa sekarang di kasih lagi," jawab Zee.


"Itu bonus yang kemarin, kalau yang ini beda lagi. Ini Ambil." Paksa Jefry tidak mau tahu.


Zee mengangguk dan mengambil amplop tersebut dari tangan Jefry.

__ADS_1


"Terima kasih, Om," ucap Zee.


"Iya, sama-sama."


"Kalau gitu aku pamit pulang dulu," ujar Zee.


"Tunggu! Biar Om yang antar kamu pulang. Kebetulan pekerjaan Om sudah selesai."


"Oke...."


Zee dan Jefry pun beriringan keluar dari kantor dan segera naik ke dalam mobil.


"Zee, sebelum pulang kita makan dulu ya. Kamu mau kan menemani Om makan?"


Zee mengangguk sembari menampilkan senyumannya. Setelah mendapat persetujuan dari Zee, mobil pun berbelok ke restoran. Zee dan Jefry masuk ke restoran tersebut dan langsung memesan makanan.


Di meja yang berbeda Liora dan teman-temannya tengah berbicara setelah menghabiskan makanannya. Saat akan memanggil waiters, Liora tak sengaja melihat Zee tengah duduk berdua dengan lelaki dewasa.


"Eh... Eh... Itu bukannya si Zee, ya?" Tanya Liora kepada ketiga temannya.


"Mana?" Tanya Enzi yang belum melihat Zee karena tubuh Zee terhalang oleh tubuh Jefry.


"Itu...." Tunjuk Liora.


"Eh... Iya bener, itu si Zee. Ngapain dia sama om-om?" Ucap Hanum.


"Mana gue tahu...." Jawab Liora seraya mengedikan bahunya.


"Apa jangan-jangan si Zee itu simpanan om-om lagi," timpal Popi.


"Ih, nggak nyangka ya, ternyata dia simpanan om-om," cibir Popi.


"Liora, kamu lagi ngapain?" Tanya Enzi yang bingung melihat Liora tengah memegang handphonenya.


"Aku lagi ngefotoin si Zee sialan itu."


"Untuk apa?" Tanya Enzi lagi.


"Untuk nyebarin foto ini dan otomatis Marshall nggak bakalan mau lagi dekat sama si Zee lagi." Liora tersenyum licik .


Ketiga temannya itu tersenyum jumawa sembari menatap Zee. Tiba-tiba, terbesit sebuah ide dari Hanum untuk menjebak Zee.


"Aku punya ide," cetus Hanum.


"Ide apaan?" Tanya Popi.


"Sini kalian mendekat," pinta Hanum.


Semua temannya mendekat dan mendengarkan apa yang di ucapkan Hanum. Liora tersenyum menyeringai, setelah apa yang di ucapkan oleh Hanum.


Liora dan teman-temannya, menjalankan apa yang sudah di rencanakan. Enzi memanggil waiters dan menyuruh waiters itu untuk menumpahkan minuman ke tubuh Zee.


"Tolong kamu tumpahkan minuman ini ke cewek yang sedang duduk berdua dengan lelaki itu," suruh Enzi.

__ADS_1


"Tapi, kak..." Waiters itu ragu dengan apa yang di suruh oleh Enzi, lalu Enzi memberikan satu lembar uang lima puluh ribu ke waiters itu. Agar waiters itu mau dengan apa yang disuruhnya.


Waiters itu pun setuju dan waiters itu berjalan ke arah meja Zee dan Jefry, lalu waiters itu pura-pura tersandung dan seketika minuman yang dibawa oleh waiters itu tumpah membasahi baju Zee.


"Maaf kak... Maaf. Saya tidak sengaja," ucap waiters itu.


"Kalau kerja tuh yang bener dong!" Sentak Jefry kesal,


"Sudah-sudah, aku nggak apa-apa kok," pungkas Zee, dan Zee tidak mau memperpanjang masalah yang menurutnya itu tidak di sengaja.


"Sekali lagi saya minta maaf, kak."


"Iya, tapi lain kali hati-hati," imbuh Zee.


"Iya, kak."


Waiters itu di suruh pergi oleh Zee. " Om, aku ke toilet dulu."


"Iya." Sembari menganggukkan kepalanya.


Zee bergegas menuju toilet untuk membersihkan bajunya yang kotor. Setelah Zee sudah di toilet, Popi mendekati Jefry.


"Om, apa Om ini temannya perempuan yang berseragam sekolah?"


" Iya, benar. Kenapa memangnya."


"Itu... Tadi aku lihat teman Om masuk ke toilet yang pintunya rusak," ucap Popi.


"Apa?"


"Cepat Om, tolongin dia. Nanti yang ada teman Om nggak bisa keluar," desak Popi.


Jefry yang tidak mau itu terjadi, segera melangkah ke toilet dan langsung membuka pintu toilet itu sedikit kasar.


"Loh, katanya pintunya rusak?" gumam Jefry.


Zee yang berada di dalam toilet, menatap heran kepada Jefry.


"Ada apa, Om?"


"Ini, katanya pintunya rusak," ujar Jefry bingung.


"Rusak?"


"Iya, tadi ada yang bilang. Katanya pintunya rusak, makanya aku kesini," tukas Jefry.


"Siapa orangnya, Om?


Jefry tidak menjawab tapi Jefry melihat baju Zee yang basah, apalagi yang basah bagian atas dan terlihat dalemannya. Jefry membuka jasnya dan memakainya langsung ke tubuh Zee, dan di saat itulah Liora memotret Zee dan Jefry dari bilik toilet.


🌺🌺🌺🌺


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2