
Hampir seminggu Marshall di sibukkan dengan kuliah dan setumpuk pekerjaan di kantor. Untuk bertemu dengan Zee saja sangat susah. Meski sibuk, Marshall selalu menyempatkan untuk menelpon Zee atau mengirim pesan.
Zee selalu mendukung semua yang di lakukan Marshall. Bagi Zee, tidak ada alasan untuk mengeluh karena waktu bersama Marshall berkurang.
Pagi ini Marshall sengaja menyempatkan diri mengantar Zee kuliah, sebelum berangkat ke kantor dan hari ini Marshall tidak ada kelas.
"Semangat kerjanya," ucap Zee.
"Pasti," jawab Marshall tersenyum menatap wajah cantik Zee.
Sebelum turun, Zee mencondongkan tubuhnya mendekati pipi Marshall.
Cup
Zee mendaratkan ciuman mesranya di pipi Marshall.
"Yang ini juga," pinta Marshall seraya menunjuk ke bibirnya dan tanpa protes, Zee mencium bibir Marshall lembut.
Zee menyudahi ciumannya dan tersenyum melihat bibir Marshall ada noda lipstik. Zee mengelap bibir Marshall menggunakan ibu jarinya.
"Kenapa?"
"Ada lipstiknya," ujar Zee.
"Oh...."
Selesai membersihkan bibir Marshall, Zee bergegas keluar dari mobil. Zee melambaikan tangannya kepada Marshall, setelah mobil Marshall pergi, Zee segera melangkah menuju kelasnya.
*
Marshall tiba di kantor dan melangkah memasuki perusahaan dengan langkah tegap dan cool.
"Selamat pagi, Pak," sapa beberapa karyawan.
Marshall mengangguk dan tersenyum, menanggapi sapaan karyawan dan kini Marshall sudah berada di ruangannya.
Tok tok tok
__ADS_1
"Masuk!"
Sekretaris Mona masuk, dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Permisi, Pak. Saya mau memberitahukan jadwal hari ini. Jam sepuluh ada meeting dengan beberapa direksi dan jam satu ada pertemuan dengan perusahaan Corporindo, di lanjut jam tiga meeting bersama dengan perusahaan The Star Grup," lapor Mona.
"Oke. Nanti ingatkan aku lagi."
"Baik, Pak." Lalu Mona pamit dan saat akan keluar, Pak Didi datang.
"Silahkan, Pak," ucap Mona, mempersilakan Pak Didi masuk terlebih dahulu. Setelah itu, Mona keluar dari ruangan Marshall.
"Selamat pagi, Pak," sapa Pak Didi.
"Pagi juga, Om."
"Ini tolong di tandatangani dan ini laporan mengenai perkembangan laba perusahaan kita, Pak." Ucap Pak Didi seraya menyerahkan berkas untuk di tandatangani oleh Marshall.
Sebelum menandatangani, Marshall terlebih dulu membaca poin-poin pentingnya dengan teliti, setelah itu baru menandatanganinya.
Marshall menyerahkan kembali berkasnya dan Pak Didi pamit undur diri. Setelah Pak Didi keluar, Marshall memfokuskan diri ke layar laptop. Hingga tak terasa waktupun sudah menunjukkan pukul sembilan lebih empat puluh menit dan sekretaris Mona mengingatkan kalau sebentar lagi meeting dengan para direksi perusahaan.
Pukul satu kurang tujuh menit, Marshall dan Pak Didi sampai di perusahaan Corporindo. Keduanya segera memasuki perusahaan tersebut dan menuju lantai teratas.
Sekretaris CEO Corporindo, menyambut kedatangan Marshall dan Pak Didi. Sekretaris tersebut memberitahukan kedatangan Marshall ke atasannya.
"Mari Pak...." Ajaknya menuju ruangan atasannya. "Silahkan masuk." Seraya melebarkan pintu kaca.
Marshall mengangguk dan melangkah masuk ke dalam. CEO Corporindo berdiri menyambut kedatangan Marshall, tapi... CEO Corporindo terkejut melihat Marshall masuk ke ruangannya.
"Marshall," ucapnya terkejut.
Marshall pun sama terkejutnya melihat CEO Corporindo.
"Loh... Om! Jadi, Om pemilik perusahaan ini?" Tanya Marshall yang tak di sangka kalau pemilik perusahaan Corporindo, adalah ayah Haris.
"Iya, terus kamu ngapain kesini? Bukannya sekarang kamu waktunya kuliah?"
__ADS_1
"Seharusnya sih begitu, tapi karena rasa tanggung jawab terhadap perusahaan. Akhirnya aku berada disini."
"Maksudnya?" Ayah Haris bingung.
"Om Didi, tolong jelasin ke Pak Haris. Siapa aku."
Pak Didi pun mengangguk.
"Pak Marshall ini adalah Bos perusahaan asuransi kami," terang Pak Didi.
"Apa?! Bocah ingusan ini Bos perusahaan PT. AA'KHAN?!" Ayah Haris semakin terkejut mendengar perkataan Pak Didi dan tak menyangka kalau ternyata Marshall seorang pengusaha sukses.
"Benar, Pak," jawab Pak Didi lagi.
"Apa kami berdua tidak di izinkan duduk?" Timpal Marshall.
"Oh... Silahkan duduk." Ayah Haris mempersilahkan Marshall dan Pak Didi duduk di sofa.
Setelah Marshall dan Pak Didi duduk. Sekretaris ayah Haris masuk membawa tiga cangkir minuman.
Pembicaraan mengenai pekerjaan di mulai. Marshall menerangkan beberapa kelebihan tentang asuransinya secara mendetail. Pertemuan itu sudah berjalan hampir satu jam dan ayah Haris merasa bangga melihat Marshall. Terbukti bagaimana seorang Marshall menarik minat kliennya agar mau bekerjasama dengan perusahaannya.
Marshall juga ternyata sangat profesional. Selama pertemuan itu, Marshall terlihat sangat serius dan selalu memanggil ayah Haris dengar panggilan 'Pak'. Ayah Haris pikir, Marshall akan tetap memanggilnya 'om'.
"Semoga kerjasama kita terus berlanjut," ucap Marshall, sesaat setelah menandatangani surat kerjasama.
"Iya...."
Marshall dan Pak Didi bangun dari duduknya dan Marshall berjabat tangan dengan ayah Haris.
"Kami permisi dulu, Pak," pamit Marshall sopan. Sangat berbeda dengan Marshall yang di kenalnya selama ini.
Sudah tiga puluh menitan, Marshall pergi dari kantornya dan handphone ayah Haris berdering. Ayah Haris mengernyitkan dahinya melihat panggilan masuk dari supir yang menjemput Zee. Ayah Haris segera mengangkat telpon dari Pak Jeje.
"Hal--"
"Tuan! Non Zee di culik." Suara Pak Jeje terdengar lemah.
__ADS_1
"Apa?!"