
"Marshall...! Pokoknya aku ikut," kekeh Liora yang kini mengejarnya dan kembali meraih pergelangan tangan Marshall.
Marshall menghentakkan nafas kesalnya, menatap wajah mantan pacarnya itu.
"Kenapa sih! kamu tuh susah di kasih tahu. Kalau kataku nggak ya nggak!" Kesal Marshall.
"Shall...." Liora mengiba, dan berharap hatinya Marshall sedikit luluh.
"Sudahlah Liora, aku tuh capek sama sikap kamu. dan satu lagi, jangan dekati aku lagi. Ngerti kamu!"
Setelah itu, Marshall kembali melanjutkan langkahnya. Marshall terus saja menggandeng tangan Zee sampai berada di parkiran motor. Zee ingin sekali melepaskan tangannya, sebab semua mata memandanginya. Bahkan ada yang mencibirnya, karena yang mereka tahu, Marshall adalah pacar Liora.
"Berhenti !" Seru Zee.
Marshall menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Zee, tanpa melepas genggaman tangannya.
"Apa?"
"Aku nggak bisa ikut sama kamu," cetus Zee.
"Kenapa?" Jawab Marshall penuh tanya.
"Aku ada urusan. Sekarang lepaskan tanganku," pinta Zee dengan tatapan memohon.
"Urusan apa? Biar aku antar," kekeh Marshall dan tidak peduli dengan tatapan memohon Zee.
"Nggak perlu. Aku bisa sendiri," Zee kembali menolak tawaran Marshall untuk kesekian kalinya.
Zee menarik tangannya dari genggaman tangan Marshall. Marshall mendengus karena Zee melepaskan genggaman tangannya dan lagi-lagi Zee menolak tawarannya.
Setelah berhasil melepaskan tangannya, Zee meninggalkan Marshall dan melangkah ke arah jalan raya. Zee berdiri di pinggir jalan, kemudian Zee mengeluarkan kartu nama dari sakunya. Zee kembali terngiang dengan tawaran pekerjaan dari lelaki yang tadi pagi menemuinya.
Apa aku terima saja ya tawaran dari dia. Apalagi sekarang aku nganggur dan sebentar lagi aku harus bayar kosan. Apa nanti aku bisa jadi seorang model?. Batin Zee berperang soal tawaran kerja jadi model. Setelah berpikir ratusan kali, akhirnya Zee memutuskan menerima tawaran tersebut.
"Aku coba dulu deh," gumam Zee, lalu menyetop angkot dan segera naik.
Tanpa sepengetahuan Zee, Marshall diam-diam mengikuti Zee.
"Inikan bukan jalan ke arah kosannya dia?" Gumam Marshall yang terus mengikuti angkot yang di tumpangi oleh Zee.
***
Zee tiba di depan perusahaan yang tercantum di kartu nama. Setelah turun dari angkot, Zee segera menelpon nomor Jefry dan langsung di angkat oleh Jefry.
"Halo...." Ucap Zee.
"Iya... Ini dengan siapa?" Tanya Jefry di sebrang telpon.
"Ini saya, Zevania. Orang yang tadi pagi Om tawarin kerjaan," terang Zee.
"Oh, Zevania! Bagaimana? Apa kamu menerima tawaran dari Om?"
"Mmm ... Iya, Om dan sekarang saya sudah ada di depan kantor Om," sambung Zee.
__ADS_1
"O iya...! Kamu sudah ada di depan? Oke, kamu tunggu di sana, biar asisten pribadi Om jemput kamu di depan," ujar Jefry dengan nada senang.
"Baik, Om."
Panggilan telepon pun di putus oleh Jefry.
Marshall yang melihat Zee dari jarak aman, terus saja memperhatikan Zee yang berdiri di depan perusahaan ternama.
Zee lagi ngapain di sana? Apa jangan-jangan Zee mau ngelamar kerja di perusahaan fashion itu?. Batin Marshall terus bertanya-tanya.
Sekitar tujuh menit menunggu, asisten pribadi Jefry datang menemui Zee yang berdiri di depan kantor tersebut.
"Nona Zevania," panggil asisten Jefry.
"Iya...." Sahut Zee, tapi Zee menautkan kedua alisnya melihat asisten pribadi Jefry.
"Sebentar... Sepertinya kita pernah bertemu?" Tanya Zee sembari mengingat asisten pribadi Jefry.
Asisten pribadi Jefry tersenyum ramah.
"Betul, kita pernah bertemu sebelumnya, yaitu di halte," jawabnya.
"Ah... Iya benar! Jadi anda--"
"Ayo, saya antar Nona Zevania ke ruangan Tuan Jefry," potong asisten pribadi Jefry sembari mempersilahkan Zee berjalan lebih dulu.
"Baiklah."
Zee berjalan lebih dulu memasuki perusahaan tersebut. Tiba di depan ruangan Jefry, asisten pribadi Jefry membukakan pintu untuk Zee.
Zee mengangguk, setelah itu Zee melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Jefry. Setelah itu asisten pribadi Jefry langsung meninggalkan ruangan bosnya.
"Permisi...." Sapa Zee.
"Silahkan duduk." Jefry langsung menyambut kedatangan Zee.
"Terima kasih," jawab Zee tersenyum tipis, lalu Zee duduk di depan meja kerja Jefry.
"Jadi kamu terima tawaran dari saya?" Jefry langsung to the point.
"Iya...." Jawab Zee sembari menganggukkan kepalanya.
Jefry tersenyum senang, karena Zee bersedia kerja di perusahaannya. Jefry segera menekan interkom untuk menghubungi asistennya.
"Gun, tolong siapkan surat kontrak," titah Jefry kepada asisten pribadinya.
"Baik, Tuan," jawab Gunawan.
"Kamu mau minum apa?" Tawar Jefry, setelah selesai menghubungi asistennya.
"Tidak usah, Om," tolak Zee halus.
Tidak lama, Gunawan datang membawa surat kontrak kerjasama antara Zee dan perusahaan Jefry. Gunawan langsung menyerahkan surat kontrak kepada Jefry.
__ADS_1
Setelah menerima surat kontrak tersebut, Jefry langsung menggeserkan kepada Zee.
"Silahkan di baca dulu perjanjian kontrak ini," ujar Jefry.
Zee mengangguk dan membacanya dengan teliti di setiap poin-poin yang tertulis di perjanjian kontrak tersebut. Setelah di rasa oke, Zee membubuhkan tanda tangannya di atas materai.
"Semoga kerjasama kita tetap lancar dan terus berlanjut," ucap Jefry sembari mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Zee.
"Iya, Om. Eh... Pak!" Jawab Zee kaku, sembari bersalaman dengan Jefry.
"Panggil Om saja," tukas Jefry.
"Baik, Om."
"Kalau gitu, saya permisi dulu," pamit Zee seraya mencangklongkan tasnya di bahu.
"Iya, silahkan...."
Zee melangkah keluar dengan harapan yang sangat besar untuk menjadi orang yang sukses dan bisa menunjukkan kepada ibunya, kalau mendapatkan uang yang halal tidak kalah besarnya di bandingkan dengan bekerja menjadi seorang mucikari.
Jefry terus saja menatap punggung Zee yang melangkah keluar meninggalkan ruangannya. Jefry menghela nafasnya menunduk sendu, lalu Jefry membuka laci dan mengambil selembar foto seorang lelaki yang tengah tersenyum lebar.
"Aku akan membawanya bertemu denganmu," gumam Jefry yang terus menatap foto tersebut dengan tatapan sendu.
***
Zee sudah berada di halte bus dan seperti biasa, Zee akan menunggu angkutan umum. Sembari menunggu, Zee mengecek handphonenya, hingga sebuah klakson membuyarkan konsentrasinya ke layar handphone.
"Mau pulang neng," seloroh Marshall seraya membuka kaca helmnya.
Zee mengernyitkan dahinya, menatap bingung kepada lelaki yang duduk di atas motornya, yang tak lain adalah Marshall.
"Loh... Kok... Kamu ada disini?" Tanya Zee bingung dengan keberadaan Marshall yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
"Aku habis dari rumah teman dan kebetulan aku lewat sini. Eh... Nggak taunya aku lihat kamu duduk disini," bohong Marshall.
"Oh... Begitu," jawab Zee manggut-manggut.
"Kamu juga, kenapa ada disini?" Tanya Marshall yang sangat penasaran soal kunjungan Zee ke perusahaan ternama itu.
"Aku juga habis bertemu seseorang," jawab Zee.
"Siapa?" Tanya Marshall yang semakin penasaran.
"Ada deh...."
Marshall mendengus dengan jawaban Zee.
"Kamu mau pulang kan? Ayo, aku antar kamu pulang," lanjut Marshall.
Zee mengangguk dan segera naik ke boncengan motor Marshall. Setelah itu, Marshall langsung melajukan motornya, mengantarkan Zee pulang ke kosannya.
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like ππ
To be continued....