Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Di culik


__ADS_3

Pukul dua siang, Zee selesai kuliahnya. Zee, Ayu dan Friska berjalan bersama, sedangkan Ria tidak kuliah karena sakit.


"Zee, kami berdua mau jenguk Ria. Semalam Ria masuk rumah sakit," ucap Ayu, mengajak Zee.


"Maaf, aku nggak bisa ikut. Nenekku ngajak aku pergi ke rumah kerabatnya," jawab Zee. Ada rasa tak enak hati saat Zee menolak ajakan Ayu dan jika dirinya tidak buat janji ke Bu Cahyani, pasti Zee bakal ikut jenguk Ayu.


"Oh... Ya sudah, nggak apa-apa jika kamu nggak bisa ikut."


"Salamin saja ya, buat Ria. Aku doain semoga lekas sembuh."


Ayu mengangguk tersenyum. Tiba di depan kampus, Zee dan kedua temannya berpisah. Pak Jeje sudah menunggu Zee dan siap mengantar Zee kemanapun.


"Non, mau pergi kemana dulu?" Tanya Pak Jeje.


"Langsung pulang saja, Pak," jawab Zee seraya mengambil sesuatu di dalam tasnya.


Pak Jeje mengangguk dan segera menjalankan mobilnya. Di pertengahan jalan, mobil yang di kendarai oleh Pak Jeje tiba-tiba di hadang oleh mobil lain dan mobil itu sudah mengikutinya dari kampus.


"Kenapa berhenti, Pak?" Tanya Zee bingung karena Pak Jeje menghentikan mobilnya tiba-tiba.


"Mobil kita di hadang, Non."


"Apa?! Siapa yang menghadang mobil kita?"


"Saya tidak tahu, Non."


Empat orang keluar dari mobil tersebut dan wajahnya di tutup topeng. Dua orang di antaranya mendekati mobil Zee dan satu orang menempelkan sebuah alat ke kaca mobil.


Prang....

__ADS_1


Kaca mobil di sebelah Pak Jeje pacah. Zee yang berada didalamnya ketakutan di buatnya.


"Keluar, woy... Keluar!" Pintanya seraya menodongkan pisau ke arah Pak Jeje.


"I- iya," jawab Pak Jeje terbata-bata.


Pak Jeje keluar dari mobil dengan tubuh yang gemetaran.


"Hajar dia," suruh temannya yang berdiri di dekat mobilnya dan dua orang tersebut langsung menghajar Pak Jeje.


Zee terpekik melihat Pak Jeje di hajar oleh orang itu. Zee mengambil handphonenya dan menelpon Marshall, tapi saat genting seperti ini Marshall tidak mengangkat telponnya.


"Angkat...." Gumam Zee panik dan Zee kembali menelpon Marshall. Lagi-lagi telponnya tidak di angkat oleh Marshall. Zee semakin bingung dan panik.


Bugh Bugh


Dengan bergantian, Pak Jeje di hajar. Pak Jeje tersungkur ke aspal dan orang itu menendang punggung Pak Jeje berkali-kali. Sedangkan dua orang lagi, mendekati mobil Zee.


"Cepat kejar dia," ucap salah satu yang mendekati mobil Zee.


Zee sudah berusaha berlari sekencang mungkin, tapi nyatanya Zee ketangkap oleh dua orang tersebut.


"Lepas!!" Jerit Zee berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman orang tersebut.


"Tolong...! Tolong...!!" Teriak Zee dan berharap ada orang yang lewat dan menolongnya.


Zee di tarik ke arah mobil, sambil terus berteriak meminta tolong. Tidak lama, sebuah motor lewat dan Zee berteriak meminta tolong. Pengendara motor berhenti dan turun dari motornya.


"Lepaskan dia!" Ucap si pengendara motor itu.

__ADS_1


Zee sedikit bernafas lega, karena si pengendara motor menolongnya.


"Urus orang itu," suruh orang yang mencengkram tangan Zee, sedangkan Pak Jeje sudah terkapar tak berdaya di aspal.


Si pengendara motor melawan dua orang tersebut. Perkelahian pun sangatlah sengit dan sama kuatnya. Karena si pengendara motor itu susah di kalahkan, akhirnya salah satu dari mereka mengeluarkan pisau dan saat si pengendara motor itu lengah, orang yang memegang pisau langsung menusuk punggungnya dua kali. Melihat si pengendara motor terluka, tanpa ba bi bu menghajarnya sampai terjatuh ke aspal.


"Cepat! Kita pergi dari sini!" Ucap yang menusuk si pengendara motor.


Dengan cepat, mereka segera masuk ke dalam mobil dan membawa Zee pergi dari tempat tersebut. Zee yang terus memberontak dan berteriak, langsung di bekap oleh sapu tangan yang sudah di beri obat bius.


***


Zee membuka matanya perlahan-lahan. Menyimpitkan matanya karena silauan lampu yang benderang. Setelah kesadarannya sudah pulih, Zee menegakkan tubuhnya dan ternyata Zee di ikat di sebuah kursi.


"Tolong!!" Teriak Zee.


Ketiga orang yang menculik Zee, keluar dari ruangan lain. Ketiganya tersenyum menyeringai melihat Zee. Bahkan tatapan mereka bertiga seolah sedang menelan jangi Zee.


Zee ketakutan melihat ketiga lelaki itu. Apalagi melihat tatapannya yang menjijikkan.


"Siapa kalian! Kenapa kalian menculik ku!"


Ketiga lelaki itu malah senyam-senyum mendengar pertanyaannya Zee. Salah satu di antara mereka maju dan menekan dagu Zee.


"Kamu tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kamu akan ikut dengan bos kami."


"Siapa bos kamu!" tanya Zee penuh emosi.


"Nanti juga kamu tahu siapa bos kami." Setelah itu dagu Zee di lepaskan. Lalu mereka bertiga menjauhi Zee, tatapi tatapan mereka terus tertuju kepada Zee. Seolah-olah Zee akan kabur dari mereka.

__ADS_1


Tidak lama terdengar suara langkah kaki dari arah samping Zee. Zee yang penasaran, menoleh ke arah suara langkah kaki. Zee terbelalak melihat orang yang baru saja datang, dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Axel...!" Ucap Zee terkejut.


__ADS_2