Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Berpisah untuk sementara


__ADS_3

Rencananya Marshall mau ngajak Zee ke mal, tapi karena sudah sore. Akhirnya Marshall mengajak Zee makan di sebuah warung makan Sunda.


Marshall dan Zee duduk lesehan di saung yang bawahnya kolam ikan. Semilir angin yang berhembus sedang, membuai kulitnya keduanya. Marshall mendekatkan duduknya dengan Zee dan melingkarkan tangannya di bahu Zee.


"Zee...."


"Hmm... Kenapa?" Jawab Zee yang kini tengah menyenderkan kepalanya ke bahu Marshall. Rasanya sangat nyaman bersandar di bahu orang yang kita cintai.


Marshall kemudian maraih jari jemari Zee dan di tautkan dengan jemarinya.


"Besok aku dan yang lainnya harus kembali ke Jakarta," ucap Marshall sembari tangannya yang melingkar di bahu Zee membelai rambut legam Zee.


Zee langsung menegakkan tubuhnya dan menatap wajah Marshall dengan pandangan terkejut.


"Besok?" Cicit Zee dengan dahi berkerut.


"Iya," jawab Marshall cepat.


Zee langsung tertunduk lesu dan mulai berkaca-kaca. Hatinya yang baru saja merasakan kembali indahnya cinta, kini harus melepaskannya lagi.


Boleh nggak sih, kalau dirinya meminta Marshall tetap berada disini. Dirinya belum siap kembali berpisah dengan Marshall. Dirinya masih ingin berlama-lama berada di dekat Marshall.


Marshall mengangkat dagu Zee yang tengah menundukkan kepalanya.


"Zee, aku tanya sekali lagi. Apa kamu mau balik lagi sama aku?" Marshall kembali mengutarakan keinginannya, meminta Zee kembali menjalin kasih.


Marshall dan Zee saling bertautan memandang satu sama lain.


"Apa kamu sanggup kalau kita LDR?" Tanya Zee yang merasa ragu terhadap Marshall, bila menjalin cinta jarak jauh.


"Sanggup. " Jawabnya mantap dan penuh keyakinan.


"Karena disini cuman ada satu nama. Dari dulu sampai sekarang tidak ada yang bisa menggantikan posisinya di sini dan itu kamu." Tunjuk Marshall di dadanya, tepatnya di hatinya.


Zee menghela nafasnya dan kembali menatap kedua manik Marshall.


"Bila aku bilang iya. Apa kamu nggak akan menduakan aku, secara hubungan yang akan kita jalani LDR."


Marshall tersenyum dan menggelengkan kepalanya penuh keyakinan. "Nggak dan kamu harus percaya sama aku, kalau aku nggak akan menduakan kamu."

__ADS_1


Kemudian Marshall mengusap pipi Zee dengan jempolnya.


"Jadi kamu mau kan kalau kalau kita balikan?" Tanya Marshall lagi.


Zee menganggukkan kepalanya pelan." Iya, aku mau," jawab Zee.


Marshall tersenyum dan menarik Zee ke dalam pelukannya. Hatinya membuncah bahagia karena Zee mau kembali ke pelukannya dan menjalin kasih lagi.


"Terima kasih Zee. Aku sayang kamu," ucapnya dan mencium pucuk kepala Zee dengan rasa bahagia.


Zee mengangguk di pelukan Marshall dengan senyum tersungging di bibirnya.


***


Sekitar pukul limaan Marshall mengantar Zee pulang ke rumahnya, tapi sebelum pulang. Marshall mengajak Zee ke sebuah toko pakaian. Marshall memilih pakaian couple, setelah mendapatkannya Marshall dan Zee menggantinya di toko pakaian tersebut.


Marshall tersenyum sumringah melihat dirinya dan Zee sama-sama memakai pakaian yang sama.


Biarlah di bilang lebay, tapi yang jelas saat ini hatinya tengah bahagia.


"Kamu cantik," kata Marshall.


"Biasa aja," balas Zee, tapi rona merah di pipinya jelas terlihat.


"Ayo kita pulang," ajak Marshall mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Zee. Keduanya melangkah keluar toko pakaian dengan bergandengan tangan.


Tiba di depan motornya, Marshall langsung memakaikan helm ke kepala Zee, setelah itu dirinya juga memakai helm.


Sekitar dua puluh menitan, mereka berdua tiba di depan rumah.


"Terima kasih ya," ucap Zee seraya menyerahkan helm ke Marshall.


"Hmm... Besok sebelum berangkat. Aku mampir dulu kesini," tukas Marshall seraya menyingkirkan anak rambut Zee ke belakang telinga.


"Iya."


Marshall turun dari motor dan mencium kening Zee.


"Aku pulang dulu," pamit Marshall dan Zee hanya mengangguk kecil.

__ADS_1


***


Keesokan harinya, Marshall sudah berada di rumah Zee dan berpamitan kepada kedua orang tua Zee.


"Om, Tante. Aku mau pamit, karena hari ini aku mau balik ke Jakarta," ucap Marshall kepada Mami Janet dan ayah Haris.


"Oh... Mau balik ke Jakarta. Kalau gitu hati-hati di jalan," jawab Mami Janet. "Huh... Jadi kangen Jakarta lagi," gumam Mami Janet yang ternyata merindukan ibu kota yang sudah banyak memberikan pengalaman hidup.


Marshall bersalaman dengan Mami Janet dan ayah Haris dengan takzim. Zee ikut mengantar Marshall sampai ke villa.


Tiba di villa, ternyata yang lain sudah siap untuk berangkat. Marshall menggenggam tangan Zee dengan erat.


"Aku berangkat dulu dan nanti aku bakal kesini lagi." Kata Marshall.


"Aku tunggu kamu," balas Zee dengan tatapan sendu.


"Jangan bersedih. Aku janji bakal menemui kamu dan kalau bisa langsung nikahin kamu," ucap Marshall seraya membelai pipinya Zee.


"Shall, ayo kita berangkat," panggil Byan.


"Iya, sebentar."


"Aku berangkat ya. Jaga dirimu baik-baik, nanti aku telpon kamu bila sudah sampai," tukas Marshall.


"Aku pasti bakal merindukan kamu," timpal Zee sedih.


Marshall tersenyum dan menarik Zee ke dalam pelukannya. "Aku juga pasti merindukan kamu."


Kemudian Marshall mengangkat dagunya Zee dan mencium bibir Zee.


"Aku berangkat," ucap Marshall.


Dengan berat hati, Zee melepaskan Marshall dan membiarkan Marshall pergi dari sisinya.


Marshall masuk ke dalam mobil. Zee melambaikan tangannya ketika mobil yang di tumpangi Marshall bergerak meninggalkan halaman villa.


"Hati-hati di jalan...! I LOVE YOU...!!" teriak Zee.


Zee terus memandangi mobil tersebut, sampai menghilangkan dari pandangannya.

__ADS_1


Zee langsung menundukkan kepalanya dan menyeka air matanya yang turun membasahi pipinya.


"Baru saja di tinggal dan aku langsung merindukan kamu," lirih Zee.


__ADS_2