Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Siapa lelaki itu?


__ADS_3

Zee dan Ghifari saling temu pandang. Ghifari begitu lekat memandangi wajah Zee yang berada dalam dekapannya.


Marshall yang dari tadi mencari Zee, terkejut melihat Zee yang di peluk oleh guru olahraganya itu. Marshall menggeram kesal melihatnya, lalu dengan langkah lebar Marshall menghampiri Zee dan Ghifari.


"Eehemm...." Marshall berdehem.


Ghifari segera melepaskan tangannya dari tubuh Zee.


"Lain kali hati-hati. Kaki kamu kan masih sakit," ucap Ghifari.


"Iya, Pak dan terima kasih sudah menolong saya," balas Zee sopan.


"Hmm...." Jawab Ghifari, setelah itu Ghifari pergi dari hadapan Zee.


Marshall mendengus sebal melihat sikap manis guru olahraganya itu kepada Zee. Hatinya tak suka melihat ada lelaki lain yang juga memperhatikan Zee selain dirinya.


Zee menatap Marshall yang tengah menatap sinis Ghifari yang berlalu dari hadapannya.


"Kamu kenapa ngelihatin Pak Fari kayak gitu?" Tanya Zee heran.


"Maksudnya?"


"Sudahlah lupakan."


Zee kembali melangkah dan kali ini sangat hati-hati, takut insiden tadi terjadi lagi. Cepat-cepat Marshall membantu Zee berjalan, meski hatinya masih dongkol, apalagi melihat bagaimana guru olahraganya itu menatap Zee. Sungguh membuat hati Marshall di landa cemburu.


"Tadi kamu habis darimana?" Tanya Marshall.


"Dari ruang guru."


"Ngapain?" Tanya Marshall lagi dan kali ini membuat dirinya penasaran.


"Di kasih pering--"


Ucapan Zee terpotong, karena Byan menyerukan nama Marshall


"Shall...." Panggil Byan, yang kini menghampiri Marshall dan Zee.


"Apa?"


"Jangan lupa, nanti sore kita latihan."


"Oke," Jawab Marshall.


Saat Marshall akan kembali menanyakan kenapa Zee ke ruang guru. Suara bel sekolah bunyi, dan Marshall melihat Bu guru Nisa tengah berjalan ke arahnya. Zee dan Marshall segera melangkahkan kakinya menuju kelas.


***


Jam pelajaran pun usai, yang artinya sudah waktunya pulang sekolah. Byan dan teman-temannya menunggu Marshall di depan kelasnya.


"Loh! Kalian kenapa ada disini?" Tanya Marshall yang heran melihat teman satu team basketnya pada ngumpul di depan kelasnya.


"Latihannya nggak jadi sore, kata Pak Ony kita latihan basketnya sekarang dan sudah di tunggu di lapangan," jawab Jojo.

__ADS_1


Marshall melirik Zee yang berdiri di sampingnya. Niat hati mau mengantarkan Zee pulang malah gagal karena harus latihan.


"Ya sudah, nanti aku nyusul ke lapangan. Aku mau anter Zee ke depan dulu," tukas Marshall.


"Oke, jangan lama-lama, Shall."


"Hmm...."


Setelah semua temannya pergi. Marshall mengambil handphonenya di saku celananya dan memesan taksi online. Setelah itu Marshall mengantar Zee sampai depan sekolah, tapi saat sudah di pintu gerbang. Zee menghentikan langkahnya.


"Kenapa berhenti?"


"Sudah sampai sini aja kamu nganterin aku."


"Nggak! Aku akan tetap antar kamu sampai naik taksi," paksa Marshall.


"Shall...."


"Please... Kamu nurut sama aku," mohon Marshall.


"Ya udah deh...." Zee mengalah, karena Marshall pasti tetap memaksanya.


Taksi yang di pesan oleh Marshall sudah datang, lalu Marshall membukakan pintunya untuk Zee.


"Pak, tolong bawa mobilnya hati-hati dan jangan ngebut."


"Iya, De," jawab sang driver.


Taksi pun berjalan meninggalkan Marshall yang masih berdiri di pinggir jalan. Marshall terus menatap taksi itu sampai menghilangkan dari pandangannya.


***


" Pak, antarkan saya ke rumah sakit P," ujar Zee.


"Tapi Neng, di aplikasinya kan bukan ke rumah sakit P."


"Saya tahu. Nanti saya kasih tambahan buat Bapak."


"Baik, Neng."


Mobil taksi itu pun membelokan ke arah rumah sakit. Sekitar tiga puluh menitan, taksi yang di tumpangi Zee tiba di rumah sakit P. Zee turun dari taksi dan melangkah menuju ruang rawat Haris.


Mami Janet yang mengantar salah satu pekerja di rumah indehoy yang sedang sakit, tidak sengaja melihat Zee tengah berjalan di lorong rumah sakit seorang diri.


Mami Janet mengernyitkan dahinya, setelah memastikan pandangannya tidak salah lihat.


"Zee ngapain ada di rumah sakit ini?" Gumam Mami Janet.


Kemudian Mami Janet memanggil Agus yang berdiri tidak jauh darinya.


"Gus, sini kamu."


"Ada apa, Mi?" Ucap Agus.

__ADS_1


"Lihat itu Zee dan kamu saya perintahkan untuk mengikuti Zee dan ngapain Zee ada disini." Perintah Mami Janet.


"Baik, Mi."


Agus bergegas mengikuti Zee dari jarak yang aman, agar Zee tidak curiga.


Zee berhenti di depan kamar rawat Haris dan melangkah masuk. Agus segera mendekati kamar Haris dan mengintip dari balik pintu yang ada kacanya.


"Siapa yang sakit itu?" Gumam Agus, yang terus memperhatikan lelaki yang terbaring di atas brankar.


"Aku harus laporan sama Mami."


Agus bergegas meninggalkan kamar Haris dan melangkah cepat menuju Mami Janet, yang saat ini tengah menemani Susan.


"Mi...."


"Bagaimana? Apa kamu sudah tahu Zee ngapain disini?" Cecar Mami Janet yang sangat penasaran.


Agus mengangguk. " Non Zee, menemui seseorang yang di rawat disini." Lapor Agus.


"Siapa?" Mami Janet semakin penasaran dan menatap serius wajah Agus.


"Saya tidak tahu, Mi. Tapi yang saya lihat yang sakit itu laki-laki."


"Laki-laki? Siapa? Apa laki-laki itu masih muda?" Beruntun Mami Janet bertanya.


"Laki-lakinya terlihat sudah tua dan sepertinya laki-laki itu koma," terang Agus lagi.


Mami Janet terdiam dan berpikir tentang lelaki yang di temui oleh Zee.


Saat tengah berpikir, seorang dokter menghampiri Mami Janet dan memberitahu soal keadaan Susan dan di nyatakan harus di rawat inap. Setelah dokter itu pergi, Mami Janet meminta Agus menemaninya menemui Zee. Mami Janet sangat penasaran dengan lelaki yang di temui oleh Zee.


"Ini kamarnya, Mi," tunjuk Agus ke kamar rawat Haris. Keduanya sudah berada di depan kamar Haris.


Mami Janet mengintip dari balik pintu.


"Siapa orang itu," gumam Mami Janet, yang begitu penasaran dengan sosok yang terbaring itu. Sebab pandangannya terhalang oleh tubuh Zee, sehingga Mami Janet tidak tahu siapa yang di temui oleh Zee. Karena tidak tahu yang di temui Zee, Mami Janet memutuskan meninggalkan kamar Haris.


"Gus, ayo kita balik lagi ke kamar Susan," ucap Mami Janet, dan nanti di saat Zee sudah pulang. Mami Janet berniat datang lagi untuk mengetahui siapa yang di temui oleh Zee.


Mami Janet meninggalkan kamar itu dan di hantui oleh rasa penasaran dengan sosok yang terbaring itu.


"Gus, kamu tunggu di depan dan beritahu saya jika Zee sudah pergi dari sini," perintah Mami Janet dan di angguki oleh Agus.


Agus segera menjalani apa yang di suruh oleh Mami Janet. Agus menunggu Zee keluar dari rumah sakit dan setelah lama menunggu, akhirnya Zee terlihat keluar.


Agus segera menghubungi Mami Janet dan melapor kalau Zee sudah pulang.


Setelah mendapat laporan dari Agus, Mami Janet bergegas menuju kamar yang di temui oleh Zee. Tiba di depan kamar tersebut, Mami Janet membukanya dan menatap siapa gerangan yang terbaring itu.


🌺🌺🌺🌺🌺


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2