Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Habis terbakar


__ADS_3

Polisi pun sudah datang. Kedatangan polisi ke sekolah membuat para siswa heboh. Apalagi melihat Liora dan kawan-kawannya di giring menuju mobil polisi.


Liora dan teman-temannya menutup wajahnya, malu. Itu yang mereka rasakan saat ini. Digiring oleh polisi, seakan mereka adalah seorang penjahat. Begitu pemikiran Liora dan teman-temannya.


Jefry masih tetap stay di sekolah dan meminta kepada kepala sekolah untuk mengumpulkan semua siswa di aula.


Sesuai perintah Jefry, semua murid berkumpul di aula. Terdengar bisik-bisik dari semuanya.


"Kenapa kita semua kumpul di aula?" Begitu isi pembicaraan semua siswa.


Jefry datang bersama Gunawan dan Kepala sekolah. Jefry menatap dingin kepada semua siswa. Jefry berdiri tegap di depan mikrofon.


"Kalian tahu, kenapa kalian semua di kumpulkan di sini?!" Kata Jefry, menatap semua siswa.


"Karena kalian semua telah membully keponakan saya, yang bernama Zevania Ayluna Sarasvati alias Zee. Saya sebagai Omnya tidak terima keponakan saya mendapatkan perlakuan buruk dari kalian semua dan saya harap ini terakhir kalinya kalian membully keponakan saya dan juga untuk yang lainnya."


Jefry menjeda kalimatnya sesaat.


"Kalian tahu, jika kalian membully. Kalian akan mendapatkan hukuman paling lama tiga tahun enam bulan. Apa kalian mau masuk penjara?" Lanjut Jefry.


Hampir semua siswa menggelengkan kepalanya. Jelas mereka semua tidak ada yang mau masuk penjara. Siapa yang mau coba?.


"Maka dari itu stop Bullying. Kalian paham!"


"Paham...." Serentak menjawabnya.


Salah satu dari siswa perempuan mengangkat tangannya.


"Pak... Mm... Saya... Mau minta maaf karena kemarin saya ikut melempar botol ke Zee. Saya benar-benar minta maaf, Pak," sesal siswa perempuan itu.


"Saya juga minta maaf, Pak."


"Saya juga minta maaf, Pak."


"Saya juga, Pak."


Mereka yang melempari Zee botol, serentak meminta maaf dan mengaku salah dan juga menyesal. Sebab mereka semua terprovokasi oleh Liora dan teman-temannya.

__ADS_1


"Seharusnya kalian semua meminta maafnya kepada Zee," timpal Jefry.


Marshall merasa lega, karena kasus perundungan yang menimpa Zee kini terselesaikan dan ternyata lelaki yang di katai oleh Liora sebagai sugar Daddy, ternyata adalah Omnya Zee dan Zee bukanlah sugar baby, seperti yang di ucapkan Liora.


Ngomongin tentang Zee, hatinya kembali merindukan Zee.


Kira-kira Zee lagi apa? Apa dia juga merindukan aku. Batin Marshall.


"Saya juga kecewa dengan para guru. Karena para guru terlambat menanganinya dan seharusnya para guru secepatnya bertindak dan membubarkan murid-muridnya yang sedang membully keponakan saya."


"Kami semua minta maaf, Pak," ucap kepala sekolah.


"Saya maafkan, tapi saya akan berhenti sebagai donatur sekolah ini dan semoga kejadian ini tidak terulang lagi."


Setelah itu Jefry langsung undur diri dan melenggang pergi dari aula.


***


Saat ini Zee, tengah meringkuk di atas kasur tipisnya. Zee tengah demam, akibat kehujanan kemarin. Hingga dering handphonenya mengagetkan Zee yang baru saja memejamkan matanya.


Dengan malasnya Zee mengangkat telponnya, yang ternyata dari Joko.


"Halo...." Lirih Zee.


"Non...! Gawat, Non!!" Terdengar suara panik dari Joko.


"Gawat apa, Jo? Ngomong tuh yang jelas."


"Ini, Non... Rumah... Rumah Mami kebakaran!"


"Apa?" Zee langsung duduk dan terkejut mendengar kabar dari Joko.


"Terus ibu gimana?" Tanya Zee yang mulai panik dan cemas.


"Mami selamat, walaupun tadi Mami sempat terjebak di dalam rumah dan sekarang Mami pingsan."


"Tapi ibu baik-baik saja kan?"

__ADS_1


"Belum tahu, karena sekarang Mami sedang di bawa ke klinik," sambung Joko.


"Aku segera ke sana. Tolong kamu share alamat kliniknya."


"Baik, Non."


Zee mematikan teleponnya dan berganti pakaian. Setelah itu Zee bergegas menuju klinik. Di sepanjang perjalanan menuju klinik, Zee sangat mencemaskan keadaan ibunya itu.


Sekitar tiga puluh menit, Zee sudah tiba di klinik tersebut. Zee berlari masuk dan mencari keberadaan ibunya. Zee juga mengabaikan rasa sakitnya.


"Jo...! Ibu mana?"


"Itu di dalam," tunjuk Joko ke arah ruang perawatan.


Zee gegas masuk dan melihat ibunya sudah siuman, tapi tatapan ibunya terlihat sendu sedan.


"Bu...." Zee menyentuh tangan ibunya.


"Zee...." Mami Janet langsung menumpahkan kesedihannya dan memeluk putrinya itu.


Kesedihan melihat rumah indehoy nya terbakar dan hampir seluruh bangunannya ludes di lahap oleh si jago merah. Bahkan harta bendanya juga habis terbakar.


Mami menangis di pelukan Zee. Zee mengusap lengan Ibunya yang masih terbaring itu.


"Rumah ibu, Zee... Rumah ibu terbakar...." Ucapnya penuh kesedihan dan air matanya terus mengalir deras.


"Yang sabar, Bu. Mungkin ini ujian buat ibu, agar ibu berhenti dari pekerjaan ini," timpal Zee.


"Tapi ibu nggak ikhlas rumah itu terbakar. Bagaimana dengan Madam Lili? Beliau kan yang menyerahkan rumah itu dan ibu sudah berjanji akan terus melanjutkan pekerjaannya."


"Sudahlah, Bu. Jangan bersedih. Madam Lili pasti mengerti, mungkin memang sudah saatnya ibu meninggal pekerjaan haram itu dan mulai menata diri, menjadi yang lebih baik."


"Ibu nggak mau. Ibu nggak mungkin meninggalkan pekerjaan ibu."


"Ya sudah... Ibu yang sabar saja," tukas Zee berusaha menyabarkan hati ibunya.


Zee berharap, dengan kejadian ini. Ibunya berubah dan kembali ke jalan yang benar. Itulah harapan seorang anak terhadap ibunya, agar ibunya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan semoga dari kejadian ini membawa hidayah untuk semua penghuni rumah indehoy, termasuk ibunya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2