
Saat ini Zee sedang berada di ruang VK. Pembukaannya sudah sempurna. Dengan keringat yang bercucuran, Zee menggenggam tangan Marshall.
Nafasnya Zee tersengal-sengal, setelah mengeden dan mendorong baby-nya untuk keluar.
"Ayo, dorong lagi Bu." Pinta dokter.
Zee kembali mengeden sekuat tenaga dan genggaman tangannya semakin kuat mencengkram tangan Marshall.
"Huuh... Huh...." Zee melepaskan nafasnya, setelah mengeden kuat.
Marshall mengelap dahinya Zee yang bercucuran.
"Aargh...." Zee kembali merasakan kontraksi. " Shall...." Ringis Zee.
"Iya, sayang. Kamu pasti bisa," ucap Marshall, lalu mencium kening Zee.
"Ayo Bu dorong lagi. Kepalanya sudah kelihatan."
Zee mengangguk dan mengeden lagi.
"Ayo, terus Bu. Lebih kuat lagi dorongnya. Pintar ibunya. Jangan berhenti ngedennya, kepala bayinya sudah keluar." Kata dokter.
Zee terus mengeden dan semakin kuat mendorong sang buah hati untuk keluar.
Oek... Oek... Oek....
Tangisan suara bayi menggema di ruang VK. Marshall langsung mencium keningnya Zee dan meneteskan air mata bahagianya.
"Terima kasih, sayang. Kamu hebat," lirih Marshall.
"Bayinya perempuan," ucap dokter.
Setelah di bersihkan, sang baby pun di letakkan di atas dadanya Zee. Marshall dan Zee tersenyum melihat sang buah hati yang tengah menangis.
Marshall mengelus pipi merah sang buah hati. Hatinya membuncah bahagia dan kini rumah tangganya semakin lengkap dengan hadirnya sang buah hati tercinta.
***
Saat ini Zee sudah di pindahkan ke ruang rawat. Senyum bahagia terpancar dari semuanya. Terutama Hana dan Mami Janet, serta Bu Cahyani.
Mereka tengah mengerubungi sang bayi yang memiliki berat badan dua kilo sembilan ons.
"Cantik sekali, cicit ku," seloroh Bu Cahyani, sembari menggendongnya. Tidak lupa mendaratkan ciuman hangat di pipi merah sang bayi.
Zee dan Marshall tersenyum melihat orang tuanya berebutan ingin menggendong sang buah hati.
__ADS_1
"Mau makan," tawar Marshall.
"Belum lapar."
Ayah Haris datang setelah menyelesaikan pekerjaan yang tertunda. Dengan rasa yang bahagia, ayah Haris langsung menggendong cucunya dari tangan Mami Janet.
"Cucuku sangat cantik dan mirip sekali denganku," ucap ayah Haris.
"Enak aja, cucuku lebih mirip ke aku. Nggak lihat apa kalau aku ini kakek yang paling ganteng," celetuk Aries yang sejak tadi diam menyaksikan para ibu-ibu mengerubungi sang cucu.
"Jelas-jelas, cucuku mirip aku. Lihat tuh, matanya, bibirnya."
"Nggak ada mirip-miripnya. Apalagi hidungnya. Cucuku itu hidungnya mancung kalau kamu... Pesek!" Ejek Aries.
"Enak aja kamu ngatain aku pesek. Hidungku itu terlalu minimalis dan ini keren."
"Iya minimalis alias pesek," Aries langsung tertawa terbahak-bahak, dan yang lainnya hanya menggelengkan kepalanya.
Dua kakek ini selalu saja berdebat, jika sudah bertemu. Hal remeh saja diributkan. Begitulah pemikiran para istrinya.
Aisyah datang bersama Byan, Sigit dan Jojo. Mereka bertemu di depan rumah sakit.
"Kak Zee, selamat ya," ucap Aisyah sembari memeluk Zee.
"Iya," balas Zee.
"Lucunya...." Gemas Aisyah. " Dede bayinya mirip kak Zee, cantik."
"Ternyata mirip Zee. Nggak mirip kamu," celetuk Aries, menyindir ayah Haris. "Kasihan kamu, Ar. Kalau kamu ingin cucuku mirip kamu, kamu harus jadi wanita dulu. Biar cantik." Aries kembali tertawa terbahak-bahak, senang rasanya meledek sahabatnya itu.
"Asem!!" Maki ayah Haris.
"Selamat ya Zee, Shall," ucap Byan.
"Iya, sama-sama," jawab Marshall.
"Akhirnya kamu sekarang jadi bapak-bapak," timpal Jojo.
"Ho'oh, PAUD. Papa muda," timpal Sigit.
"Bisa aja kamu," kata Marshall seraya menepuk pundak Sigit.
Marshall dan ketiga sahabatnya memilih mengobrol di luar kamar, karena saat ini Zee tengah memberi ASI kepada sang buah hati.
Aisyah tersenyum melihat keponakannya itu tengah mengisi energinya dengan sangat kuat. Aisyah mengelus pipi sang bayi. Tatapannya Aisyah begitu lekat memandangi bayinya Zee.
__ADS_1
"Ais, sakit?" Tanya Zee.
"Nggak tahu, Kak. Akhir-akhir ini Ais merasa nggak enak badan," jawab Aisyah.
Zee memperhatikan raut wajah Aisyah yang terlihat pucat dan bola matanya Aisyah, sedikit kuning.
"Kak, Ais keluar dulu ya," pamit Aisyah dan Zee mengangguk.
Aisyah keluar dari kamar rawatnya Zee. Baru saja menutup pintu, tiba-tiba kepala Aisyah mendadak pusing dan Aisyah langsung ambruk jatuh ke lantai.
Byan yang melihat Aisyah pingsan, berlari mendekati Aisyah.
"Ais...!" Pekik Byan.
Marshall, Jojo dan Sigit pun berlari mendekati Aisyah. Marshall jelas sangat mengkhawatirkan Aisyah.
"Kenapa dengan, Ais?" Tanya Marshall panik.
"Nggak tahu. Tiba-tiba Ais pingsan," jawab Byan.
Marshall langsung mengangkat tubuh Aisyah dan membawanya ke ruangan IGD. Tiba di sana, Aisyah segera di tangani oleh perawat dan dokter.
Sigit memberitahu kepada Aries dan Hana dan disinilah sekarang. Di hadapan dokter Aries dan Hana mencemaskan keadaan Aisyah yang tadi langsung menjalani serangkaian pemeriksaan tentang kondisi Aisyah.
"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" Tanya Aries.
Dokter yang baru saja membaca hasil laboratorium milik Aisyah, menatap lesu kepada Aries dan Hana.
"Dari hasil pemeriksaan seluruhnya. Anak anda menderita sakit pengerasan hati."
Aries dan Hana terkejut dan tak percaya begitu saja.
"Tapi... Bisa sembuhkan, Dok?" Tanya Aries lagi.
"Saya tidak bisa menjawab, karena orang yang menderita pengerasan hati itu susah untuk sembuh."
"Apa?!" Hana langsung lesu mendengarnya. Air matanya menetes tanpa bisa dicegah.
"Apa nggak ada cara lain, Dok?"
"Ada. Transplantasi hati."
Seketika dunianya Hana dan Aries runtuh. Aisyah anak kesayangannya menderita penyakit yang serius. Hana menangis di pelukan Aries, tak mampu menahan kesedihan
🌺🌺🌺
__ADS_1
Di bab ini akan nyambung dengan kisah Aisyah.
Di tunggu ya dan jangan marahi othor kalau ternyata Aisyah harus menderita sakit serius.