
Marshall, Byan dan Dhika tiba di sebuah rumah berlantai dua. Keadaan di sana sepi. Marshall turun dari mobilnya dan menghampiri mobil Byan yang berada didepan mobilnya.
"Kamu yakin ini tempatnya?" Tanya Marshall, memastikan kalau rumah yang mereka datangi benar.
"Kalau dilihat dari sini sih, benar," jawab Dhika sembari melihat laptopnya.
"Kalau gitu kita turun dan memastikan keadaan di sana," timpal Byan.
Marshall dan Dhika mengangguk setuju dan mereka bertiga segera turun dari mobil. Dengan penuh kewaspadaan Marshall, Byan dan Dhika mendekati rumah itu.
"Bagaimana caranya kita masuk?" Ucap Dhika bingung melihat pagar rumah yang tingginya sekitar dua meter.
"Memanjatnya," cetus Byan.
Byan lebih dulu memastikan sekitarnya dan sudah dirasa aman, Byan memanjat pagar rumah itu.
"Hati-hati, By. Ujung pagar ini runcing," seloroh Dhika dan Byan mengacungkan jempolnya.
Dengan hati-hati, Byan memanjat pagar tersebut dan akhirnya Byan berhasil melewati ujung pagar yang runcing. Meski sedikit kesulitan, Byan melewati ujung pagar. Melihat Byan berhasil masuk, Marshall pun juga segera memanjatnya dan mengikuti cara Byan melewati ujung pagar, begitu juga dengan Dhika.
Kini Marshall, Byan dan Dhika sudah berada di halaman rumah tersebut. Mereka bertiga berjalan dan melihat-lihat keadaan rumah tersebut.
"Aman dan sepertinya rumah ini tidak jaga dengan ketat," cetus Dhika.
"Ayo, coba kita masuk kedalam," ucap Marshall.
Mereka memeriksa beberapa jendela, berharap ada salah satu jendela yang tak terkunci, tapi ternyata semua jendela terkunci. Marshall, Byan dan Dhika tak putus asa. Mereka mencoba berjalan ke belakang rumah tersebut.
Saat sudah berada di belakang rumah, mereka bertiga dikagetkan melihat seseorang yang tengah bertelpon.
"Aman, bos." Jawab orang itu. Setelah itu, orang tersebut masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Marshall, Byan dan Dhika keluar dari balik tembok dan menuju pintu itu. Marshall menekan handle pintu itu dan berharap pintunya tidak di kunci.
Kali ini Dewi Fortuna memihaknya, pintu tersebut tidak di kunci. Marshall segera masuk dan dengan langkah waspada Marshall memasuki rumah tersebut.
Byan dan Dhika mengikutinya dari belakang. Mereka berdua berjaga-jaga, bila seseorang datang menyerangnya secara tiba-tiba.
Satu persatu, pintu kamar di lantai itu di periksa dan berharap ada Zee di dalam kamar.
"Zee nggak ada disini?" Kata Byan.
"Coba kita naik ke atas," timpal Marshall.
Saat akan melangkah, mereka mendengar suara langkah kaki. Buru-buru, Marshall, Byan dan Dhika bersembunyi di dalam kamar.
Marshall membuka pintunya sedikit dan kedua bola mata Marshall terbelalak melihat orang yang tengah berjalan menuju tangga.
"Ternyata dia!" Geram Marshall dan seketika kemarahannya memuncak melihat Axel.
Tiba di lantai dua, Marshall, Byan dan Dhika mencari dimana Zee disekap.
"Pintu itu sedikit terbuka. Coba kita periksa," ucap Byan.
Mereka segera mendekati pintu itu dan terdengar suara Axel berbicara.
"Bagaimana, kamu suka dengan kebaya ini?" Tunjuk Axel memperlihatkan kebaya yang di belinya.
"Lepaskan aku!" Pinta Zee geram.
"Gue kan sudah bilang. Gue nggak akan melepaskan kamu sebelum kamu menjadi pengantinku dan setelah itu kita bisa hidup bahagia."
Marshall yang mendengar perkataan Axel yang akan menikahi Zee, membuat emosinya kian bertambah besar. Marshall sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
__ADS_1
Dengan langkah cepat, Marshall membuka pintu itu penuh kemarahan yang menggebu.
"Kurang ajar kamu! Dasar baji ngan!" Bengis Marshall dan langsung menghajar Axel.
Melihat bosnya di hajar, ketiga bawahannya Axel langsung menolong Axel dan menghajar Marshall. Dhika dan Byan masuk dan membantu Marshall menghajar bawahannya Axel.
Axel yang melihat Marshall tengah berkelahi, segera membuka ikatan yang mengikat tubuh Zee. Dari belakang Axel di tendang oleh Marshall.
Bugh
Axel terjungkal ke lantai. Marshall yang sudah sangat emosi langsung menarik tubuh Axel dan menghajarnya. Axel pun tidak tinggal diam, dia pun melawan Marshall.
Bugh Bugh Bugh
Perkelahian Marshall dan Axel sama kuatnya, saling menendang dan meninju. Axel mulai kewalahan menghadapi serangan Marshall, lalu Axel mengeluarkan sebilah pisau dari jaketnya.
Kali ini Marshall harus waspada, melihat Axel mengeluarkan pisau. Serangan demi serangan Axel lakukan dan berusaha menusuk Marshall, tapi berkali-kali Marshall mampu menghindar dari serangan Axel.
Pada akhirnya, Marshall mampu menaklukkan Axel dan pisau yang di pegangnya ya terlepas.
Bugh
Marshall menghajar Axel tanpa ampun, dan membuat tubuh Axel tersungkur ke lantai.
"Cepat bantu mereka!" Perintah Jefry yang baru tiba di sana.
Marshall menoleh ke arah Jefry yang kini menghampiri Zee. Axel yang melihat Marshall lengah segera mengambil pisau yang tergeletak tidak jauh darinya dan dengan cepat mengambil pisau tersebut.
Saat Marshall akan kembali menghajar Axel, dengan cepat Axel menusuk perut Marshall.
"Marshall...!!" Jerit Zee melihat Marshall di tusuk oleh Axel. Seketika darah mengalir keluar dari perut Marshall.
__ADS_1