Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kedatangan Haris dan Jefry


__ADS_3

Seminggu sudah Zee dan Mami Janet tinggal di desa. Hari ini hari ketiga Mami Janet membuka usaha terbarunya, yaitu membuka warung nasi dan Zee sudah kembali sekolah.


Rutinitas yang di jalaninya yaitu setiap pagi-pagi sekali Zee dan Mami Janet pergi ke pasar dan sekitar jam sepuluhan warung nasinya buka.


Walau belum banyak pembeli, tapi Zee dan Mami Janet bersyukur karena usahanya lancar.


Hari ini Zee libur sekolah dan seharian ini Zee akan membantu ibunya di warung. Zee senang melihat ibunya menikmati usaha barunya dan ibunya itu tidak pernah mengeluh.


Saat sedang melayani pembeli, sebuah mobil mewah berhenti di warungnya. Zee memperhatikan siapa pemilik mobil itu, dan terbukalah pintu mobilnya.


Menampilkan sosok lelaki tampan dan postur tubuh atletis. Zee membulatkan matanya melihat lelaki itu dan semakin terkejut lagi melihat lelaki yang juga turun dari mobil tersebut.


"Ibu...." Panggil Zee tanpa melihat ibunya. Tatapan matanya masih terpaku kepada dua lelaki itu.


"Apa, Zee," sahut Mami Janet dan mendekati Zee.


"Itu...." Tunjuk Zee kepada dua lelaki itu.


Mami Janet tertegun melihatnya, lebih tepatnya syok melihat dua lelaki itu yang kini tengah melangkahkan kakinya menuju warung.


"Darimana mereka tahu kalau kita ada disini?"


"Mana aku tahu, Bu," jawab Zee yang memang tidak tahu.


Dua lelaki itu adalah Haris dan Jefry. Keduanya kini sudah berdiri di depan etalase kaca. Mami Janet terlihat geram dengan kedatangan Haris.


Mami Janet melengos pergi meninggalkan Haris yang berdiri di depan etalase.


"Zee...." Sapa Haris dan tersenyum menatap anaknya itu.


"Iiiya, ayah," jawab Zee kikuk. Zee belum terbiasa memanggil Haris dengan sebutan ayah.


Haris tersenyum hangat. Senang rasanya di panggil ayah, anak yang tidak pernah diketahuinya.


"Sini, Nak. Apa kamu nggak mau peluk ayah?" Ucap Haris seraya merentangkan kedua tangannya, meminta Zee memeluknya.


Zee diam dan bingung. Zee melirik ibunya, akan tetapi ibunya terlihat cuek dan sama sekali tidak mau melihat Haris. Wajah ibunya sangat marah. Lalu Zee menatap Jefry, Jefry tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Dengan ragu, Zee melangkah pelan mendekati ayahnya dan saat sudah di hadapannya, Zee menatap wajah ayahnya. Ayah yang selama ini dirinya impikan akan kehadirannya dan kini kehadirannya sudah ada di depan matanya.


Zee yang tak sanggup menahan rasa bahagia, langsung menubruk kan tubuhnya ke dalam pelukan ayah tercintanya.


"Ayah...." Lirih Zee.


"Iya, Nak. Ini ayah...."


Zee semakin erat memeluk Haris dan menangis di pelukan ayahnya.

__ADS_1


"Maaf... Ayah baru datang menemui Zee. Maafkan Ayah yang tidak pernah ada untuk Zee." Suara Haris bergetar menahan tangis bahagia, karena bisa memeluk putrinya.


Zee melerai pelukannya seraya mengelap air matanya. Haris mencium kening Zee dengan rasa bahagia.


Zee kembali memeluk Haris. Biarlah ibunya itu marah, yang penting dirinya bisa memeluk ayahnya.


"Darimana ayah tahu kalau kami ada disini?" Tanya Zee di pelukan ayahnya dan menatap wajah ayahnya. Zee benar-benar tidak mau lepas dari peluk hangat ayahnya.


"Nanti ayah ceritakan," ucap Haris, kemudian Haris kembali mendaratkan ciuman hangat di kening Zee.


"Ehem...." Jefry sengaja berdehem.


Zee dan Haris menoleh ke arah Jefry, dan Jefry pura-pura pasang wajah cemberut.


"Mentang-mentang sudah ketemu. Aku diabaikan begitu saja. Aku kesini mau makan tahu." Sungut Jefry melirik Zee.


Zee tersenyum tipis, melihat Omnya itu.


"Om, mau makan apa?" Tawar Zee yang kini melepaskan pelukannya dari ayahnya.


"Om, mau orek tempe, ayam goreng dan sayur capcay." Tunjuk Jefry di kaca etalase.


"Oke, kalau ayah?"


"Nggak," tolak Haris.


"Silahkan, Om." Zee meletakkan piring berisi makanan di depan Jafry.


"Terima kasih, Zee."


"Iya, sama-sama," jawab Zee yang terus menyunggingkan senyumnya.


Zee lalu melirik ayahnya, yang tengah menatap sang ibu. Zee berpikir harus melakukan sesuatu, agar ibu dan ayahnya saling mengobrol dan itu hanya berdua saja.


Tiba-tiba Zee tersenyum, terbesit sebuah ide agar ayah dan ibunya duduk berdua untuk menyelesaikan masalahnya.


"Ayah, nanti ayah menginap di sini kan?" Tanya Zee.


"Memang boleh?"


"Boleh dong, memang siapa yang melarang ayah nginep disini," tukas Zee.


"Ayah sih mau-mau saja, tapi bagaimana dengan ibumu," ucap Haris ragu, jika Mami Janet menyetujuinya.


"Soal ibu, itu urusan aku, Yah. Pokoknya aku mau ayah nginep disini," paksa Zee dan tidak mau tahu.


"Baiklah, ayah mau."

__ADS_1


Zee tersenyum senang dan semoga idenya berhasil.


"Kalau Om nggak di tawarin nginep," celetuk Jefry.


"Om juga harus nginep disini, tapi Om tidurnya di depan TV."


"Oke, nggak masalah."


Sekitar pukul lima sore, warung nasi sudah tutup. Zee dan Mami Janet membereskan semua dagangannya dan mencuci peralatannya.


Haris juga tak berpangku tangan, Haris juga membantu anak dan istrinya itu. Di dalam hatinya Haris merasa senang karena keluarga kecilnya kembali berkumpul bersama, walau Mami Janet masih menjutekinnya.


Pada pukul tujuh malam, semuanya makan malam bersama. Disini Zee benar-benar melayani kedua orang tuanya dengan sepenuh hatinya. Sepanjang makan malam, semuanya tidak ada yang bersuara. Hening dan tetap fokus menyelesaikan makan malamnya.


Selesai makan, Zee masuk ke kamar ibunya dan duduk di tepi ranjang. Zee mulai menjalankan idenya.


"Bu... Besok aku nggak bisa antar ibu ke pasar."


"Kenapa?"


"Mm... Besok pagi-pagi sekali, aku dan Dinda ada tugas dari sekolah. Nggak apa-apa kan kalau aku nggak nganterin ibu ke pasar."


"Kalau kamu nggak bisa antar ibu ke pasar, terus gimana dagangnya? Masa nggak dagang," pungkas Mami Janet. "Pokoknya kamu harus antar ibu ke pasar dulu," kekeuh Mami Janet.


"Iya deh iya... Aku antar ibu ke pasar."


Baiklah, Zee mengiyakan saja dulu. Soal ke pasar Zee sudah punya rencana lagi.


Zee lalu melangkah ke luar kamar dan mengambil kuncinya dari pintu. Sebelum menutup pintunya Zee memasukkan lagi kuncinya dari luar kamar.


"Aduh... Perutku." Zee pura-pura meringis sakit.


"Ayah...." Panggil Zee seraya memegangi perutnya.


Haris segera mendekatinya dan terlihat khawatir melihat Zee kesakitan. "Kenapa?"


"Ayah, perutku sakit. Antar aku ke kamar." Ringis Zee.


"Ayo, ayah antar kamu ke kamar."


"Tunggu, biasanya kalau perutku sakit. Aku selalu mengolesi perutku pakai minyak kayu putih, sedangkan minyak kayu putihnya ada di dalam kamar ibu. Ayah bisakan ambilkan kayu putihnya." Zee memasang wajah kesakitan agar ayahnya itu mau mengambil minyak kayu putihnya.


"Ya sudah, kamu tunggu disini."


Haris segera masuk ke kamar Mami Janet. Zee tersenyum rencananya berhasil, setelah itu Zee menutup pintunya dan menguncinya dari luar kamar.


Zee tidak peduli jika nanti ibunya marah kepadanya, yang penting malam ini kedua orang tuanya bisa menyelesaikan masalahnya.

__ADS_1


__ADS_2