Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Selamat tinggal....


__ADS_3

Zee akhirnya meneteskan air matanya. Di dalam pelukan Marshall, Zee benar-benar harus bisa melepaskan orang yang sangat di cintainya itu. Marshall adalah lelaki pertama yang di cintainya. Lelaki yang berhasil meraih hatinya dengan sejuta perhatian yang diberikannya. Lelaki yang menawarkan cerita cinta yang manis, walau akhirnya perpisahanlah yang mereka alami.


Sedih... Jelas. Siapa yang tidak sedih melepaskan orang yang sangat kita cintai, tapi inilah yang terbaik buat semuanya. Walau sangat menyakitkan dan tersiksa.


"Zee... Aku sangat mencintai kamu dan kamu harus tahu, sampai kapanpun kamu akan terus berada di dalam hatiku," ucap Marshall yang sama-sama menumpahkan air matanya. Marshall benar-benar tidak sanggup akan kehilangan Zee di dalam hidupnya.


Zee tidak bisa berkutik saat berada di pelukan Marshall. Sebenarnya hatinya sama seperti yang di rasakan Marshall, tapi apalah daya, dirinya tidak mungkin menolak keinginan ibunya untuk pindah. Apalagi mengingat penolakan ayahnya Marshall, semakin mantap hati Zee untuk pergi dari sini.


"Zee, cepetan! Mobilnya sebentar lagi jalan," teriak Mami Janet yang menyembulkan kepalanya di jendela mobil.


Dengan sangat terpaksa Marshall melepaskan Zee dari pelukannya. Di tatap wajah Zee dengan rasa sendu sedan, lalu Marshall mencium kening Zee seraya menumpahkan air matanya yang kini menetes ke kening Zee.


Marshall menempelkan keningnya ke kening Zee. Keduanya sama-sama sedih, lalu Zee perlahan mundur dan melepaskan jemari Marshall. Setelah itu, Zee memutarkan tubuhnya dan segera melangkah masuk ke dalam mobil seraya menyeka air matanya.


"Kamu harus ikhlaskan dia. Berat memang, tapi ini yang terbaik buat kita," ucap Mami Janet mengusap punggungnya dan Zee hanya mengangguk kecil.


Marshall masih berdiri di tempatnya, sembari menatap mobil yang di tumpangi Zee. Beberapa menit kemudian, mobil travel itu mulai bergerak jalan dan membelokan arahnya ke jalan.


"Zee...." Gumam Marshall yang mulai panik melihat mobil itu jalan.


"Zee...!" Marshall mengejar mobil travel, yang kini sudah meninggalkan tempatnya.


Zee menengok ke ara luar, dimana Marshall tengah mengejarnya dan terus memanggil namanya.


"Zee...!!" Teriak Marshall yang sudah tidak dapat mengejar gerak mobil itu dan sudah tertinggal jauh.


"Zee...." Lirih Marshall, yang kini menjatuhkan tubuhnya di tanah. Marshall terus saja menatap mobil travel tersebut sampai menghilang dari pandangannya.


Semua pasang mata memperhatikan Marshall dan dirinya tidak memperdulikan perhatian para warga sekitar. Dirinya hanyut dalam kesedihan yang semakin menyayat hatinya yang terdalam.


Zee berkali-kali menyusut air matanya. Menahan rasa sedih yang sangat perih di hatinya.


Terima kasih, sudah mencintaiku sepenuh hatimu.


Terima kasih, sudah menjadikan aku ratu di hatimu.


Terima kasih, sudah memberikan sejuta cinta yang kau beri.


Terima kasih, sudah menjadi lelaki terbaik di dalam hidupku.


Biarlah cintamu aku bawa pergi jauh dan berharap esok kamu melupakan tentang kita.


Ya... tentang kita. Yang memiliki cerita manis untuk di kenang.

__ADS_1


Biarlah aku akan terus menggenggam rindu ini sendiri.


Selamat tinggal pacar... Selamat tinggal kenangan manis.


Zee menyentuh letak jantung dan hatinya. Dimana setiap debaran itu selalu di tunjukkan buat Marshall. Dimana hatinya selalu bersemai namanya yang sudah terukir indah di dalam sana.


***


Marshall bangkit dan berjalan lesu meninggalkan tempat itu. Dengan penuh kesedihan Marshall meninggalkan tempat itu.


Marshall tiba di rumahnya dan berjalan lunglai, lesu dan tidak ada semangatnya. Marshall naik tangga dengan pandangan sendu dan muram.


Hana yang tengah duduk seraya menjaga Andreo, menatap aneh melihat putranya itu, pulang dalam keadaan kacau.


"Abang, kenapa ya...." gumam Hana, yang terus memperhatikan Marshall sampai lantai atas.


"Bu Nunik...."


"Iya, Bu," jawab BI Nunik.


"Tolong jagain Andre. Saya mau ke kamar Marshall dulu ."


"Baik, Bu."


"Bang...."


Hana melihat Marshall tengah duduk di tepi ranjang menghadap jendela. Hana duduk di samping Marshall dan menyentuh pundak putranya itu.


"Abang, kenapa?"


Marshall menggeleng pelan tapi wajahnya tertunduk diam menatap kakinya.


"Apa ada masalah? Coba ceritain sama ibu," pinta Hana lembut.


Marshall tetap menggeleng dan diam.


Hana menghela nafasnya. Dirinya tahu kalau putranya itu tengah punya masalah. Hana terus mencoba meluluhkan hati Marshall, agar mau bercerita akan masalahnya.


"Ceritain saja, Bang. Ibu siap jadi pendengar yang baik dan anggap saja ibu adalah teman Abang, bukan ibunya Abang."


Tiba-tiba, Marshall langsung merangkul Hana dan menyembunyikan wajahnya di bahu Hana. Hana mengelus punggung putranya itu dengan lembut dan juga penuh kasih sayang.


Hana membiarkan Marshall memeluknya sampai dia merasa membaik.

__ADS_1


"Kenapa? Apa yang terjadi? Apa ini ada hubungannya dengan Zee?" Beruntun Hana bertanya.


Marshall mengangguk di pelukan Hana.


"Kenapa dengan Zee?"


Marshall menarik diri dari pelukan ibunya dan Marshall masih menundukkan kepalanya.


"Zee... Zee... Pergi ninggalin Abang, Bu," ucap Marshall lirih.


"Pergi?"


"Iya... Pergi meninggalkan Abang dan meninggalkan kota ini," lanjut Marshall yang semakin nelangsa.


"Sekarang... Abang nggak bisa bertemu dengan Zee lagi, Bu. Padahal Abang sudah memohon jangan tinggalkan Abang, tapi... Zee tetap pergi. Bu... disini... di dalam sini, sakit Bu," tunjuk Marshall di atas dadanya. Marshall terlihat sangat rapuh dengan kepergian Zee.


Hana sebagai seorang ibu, bisa merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat di cintainya itu.


"Abang yang sabar. Jika Zee jodoh Abang, suatu saat nanti bakal kembali ke pelukan Abang. Yang harus Abang lakukan, Abang terus lanjutkan kehidupan Abang meski tanpa Zee di samping Abang."


Marshall mengangguk kecil dan berusaha menerima kenyataan bahwa Zee sudah pergi meninggalkannya. Meski tak rela melepaskan Zee dari hidupnya, Marshall akan tetap mencintainya sampai Tuhan mempertemukan lagi.


"Abang jangan sedih. Abang harus tetap tersenyum dan Abang harus percaya akan cinta Abang yang akan membawanya kembali."


"Terima kasih, Bu. Sudah mau mendengarkan curahan hati Abang."


"Iya... kalau Abang ingin bercerita tentang masalah Abang. Ibu siap jadi teman dan pendengar yang baik dan juga jangan sungkan untuk bercerita."


"Iya, Bucan," balas Marshall.


"Abang harus kuat dan tidak boleh lemah, apalagi rapuh. Abang harus bangkit...." Hana terus memberi semangat kepada Marshall.


"Dan satu lagi... nggak boleh cengeng," ledek Hana seraya mengulum senyumnya.


"Bucan...." sungut Marshall.


Hana tertawa kecil, lalu Hana mengelus rambut Marshall.


"Jangan sedih ya...."


Marshall hanya mengangguk kecil, setelah itu Hana melangkah keluar dari kamarnya. Marshall kembali meratapi kepergian Zee dalam hidupnya.


Semoga saja kita bisa bertemu lagi dan di saat itu aku nggak akan melepaskan kamu lagi dari hidupku.

__ADS_1


__ADS_2