Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kerinduan


__ADS_3

Mami Janet mengajak Zee masuk ke dalam dan memperkenalkannya kepada Bu Cahyani.


Bu Cahyani yang belum pernah bertemu dengan Zee, terus memandangnya bahkan beliau sampai lupa berkedip saat Zee berjalan mendekatinya.


Mami Janet tersenyum begitu sudah di samping ranjang Bu Cahyani dan mengelus lengan kiri Zee. Haris ikut masuk dan kini berdiri di samping Mami Janet.


"Ma, kenalin ini Zee. Anak aku dan Mas Haris," ucap Mami Janet memperkenalkan Zee kepada Bu Cahyani.


"Cucuku...." Serunya dan tangan Bu Cahyani terulur. Zee segera menggapai tangan Bu Cahyani dan menggenggamnya.


Bu Cahyani tersenyum senang menatap wajah cantik cucunya itu. Begitupun Zee juga membalas senyumannya.


"Nenek."


Hati Bu Cahyani semakin terharu, mendengar perkataan Zee yang menyebutnya Nenek. Setetes air mata tumpah membasahi pipinya.


"Sini, Nak. Peluk Nenek," pintanya.


Zee segera menghambur ke dalam pelukan Bu Cahyani. Hatinya Bu Cahyani bergetar saat memeluk Zee dan pelukannya semakin erat. Beliau benar-benar sangat bahagia dan ribuan kupu-kupu berterbangan di perutnya. Hatinya meluap-luap tak terkira bisa merasakan pelukan hangat dari cucu yang tidak di ketahui nya.


Haris dan Mami Janet tersenyum haru melihat Zee tengah berpelukan dengan Bu Cahyani. Dirangkulnya pundak Mami Janet oleh ayah Haris.


"Aku senang melihatnya," bisik ayah Haris kepada Mami Janet dan mendaratkan kecupan mesra di pelipis Mami Janet.


"Maafkan Nenek, Nak. Selama ini Nenek mengabaikan kamu," ucapnya seraya melepaskan pelukannya.


"Dan ternyata cucu Nenek sangat cantik. Maafin Nenek ya Nak."


"Iya, Nek," jawab Zee seraya mengusap air mata Bu Cahyani dengan lembut.


"Nenek harus sembuh dan kita bisa berkumpul bersama. Nanti Zee akan menemani Nenek tidur," pungkas Zee.


"Iya. Nenek jadi bersemangat untuk segera sembuh dan bisa berkumpul bersama," ucapnya penuh semangat.


***


Malam harinya, Zee tengah duduk sembari chattingan dengan Marshall. Marshall kaget ketika Zee mengatakan kalau dirinya berada di Jakarta. Tanpa pikir panjang, Marshall langsung menelpon Zee saat itu juga.


Zee tersenyum melihat panggilan masuk. Zee bergegas keluar dari kamar rawat Bu Cahyani dan segera mengangkat telpon dari Marshall.


"Hal-- ," ucapan Zee terpotong karena Marshall langsung memberondong pertanyaan.


"Kamu serius berada di Jakarta. Kapan kamu ke Jakartanya? Kenapa nggak bilang-bilang kalau kamu mau ke Jakarta dan kenapa baru kasih tahu aku!," Cecar Marshall.


"Bisa nggak sih ngomongnya jangan cepat-cepat dan aku harus jawab yang mana dulu."


"Nggak usah di jawab. Sekarang kamu dimana? Aku mau ketemu sama kamu sekarang juga," cetusnya.


Zee menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Marshall.


"Zee... Jawab!" Marshall tak sabaran dan memang ingin segera bertemu dengan Zee, sang pujaan hatinya. Kerinduannya sudah sangat menggunung, bahkan Marshall sendiri sudah tak sanggup menahan kerinduan yang selalu menyiksa hatinya.

__ADS_1


"Di rumah sakit."


"Siapa yang sakit?!"tanyanya cepat.


"Ish... Biasa aja kali ngomongnya."


"Zee... Cepat jawab! Siapa yang yang sakit?" Marshall kembali bertanya. Marshall takut kalau Zee yang sakit.


"Yang sakit Nenek."


"Nenek?"


"Iya. Nenek aku, ibu dari ayah. Beliau yang meminta kami untuk ke Jakarta."


"Oh... Sekarang kamu share alamat rumah sakitnya. Aku mau ke sana sekarang juga, apalagi aku sudah sangat merindukan kamu."


"Besok saja. Sekarang sudah malam dan lagian waktu untuk menjenguk sudah habis."


"Aku nggak peduli. Pokoknya aku mau ke sana sekarang juga," kekeuh Marshall.


Begitulah Marshall, yang selalu memaksa kehendaknya. Jika sudah berkata sekarang maka dirinya akan segera menemuinya. Tidak peduli sudah malam atau belum.


"Iya-iya, aku share alamatnya." Zee mengalah.


"Ya sudah, aku langsung ke sana." Marshall langsung mematikan teleponnya sepihak.


Zee kembali menggelengkan kepalanya, tapi di dasar lubuk hatinya, Zee juga merindukan Marshall.


'Tunggu aku.' Balasnya.


Sekitar satu jam, Marshall sudah sampai di parkiran rumah sakit dan langsung menghubungi Zee.


"Bu, aku ke bawah dulu ya," izin Zee kepada Mami Janet.


"Mau ngapain?"


"Menemui Marshall. Dia sudah berada di bawah."


"Oh... Iya, tapi jangan lama-lama."


"Iya, ibu."


Zee bergegas keluar dan menuju ke lantai dasar, dimana Marshall tengah menunggunya.


Marshall tersenyum begitu melihat Zee tengah berjalan menghampirinya dan seketika rasa rindu itu semakin mengekang hatinya.


"Maaf lama," ujar Zee ketika dirinya sudah di depan Marshall.


"Nggak masalah." Sebenarnya Marshall ingin langsung memeluk Zee saat itu juga, tapi keadaan tidak memungkinkan untuk memeluknya. Apalagi banyak perawatan yang berlalu lalang.


"Kita ngobrol di luar saja," ajak Marshall seraya menarik tangan Zee.

__ADS_1


Marshall dan Zee kini duduk di luar, suasana di sana sedikit tamaram. Marshall langsung menarik Zee ke dalam pelukannya, demi mengobati kerinduannya.


"Aku kangen banget sama kamu," bisik Marshall.


Zee tersenyum mendengarnya. "Aku juga," balas Zee.


Marshall melerai pelukannya dan menatap wajah Zee, kedua tangannya menangkub di pipi Zee dan Marshall langsung mencium bibir Zee sebentar.


"Aku senang kamu balik lagi ke Jakarta."


"O iya...!"


"Iya dan pastinya kita bisa bertemu kapanpun dan aku nggak harus menahan rindu yang begitu menyiksa hatiku."


"Uuh... Sini peluk lagi. Aku masih kangen banget sama kamu," sambung Marshall seraya menarik kembali Zee untuk di peluk.


Zee hanya tersenyum dan menurut saat Marshall kembali memeluknya, hingga sebuah deheman keras mengejutkan keduanya.


"E'hem."


Marshall langsung melepaskan Zee dari pelukannya dan menengok ke belakang. Marshall langsung menelan Salivanya ketika dirinya melihat sosok tegap tengah berdiri di sana. Apalagi dirinya melihat tatapan tajam dari orang tersebut.


"Berani-beraninya kamu main peluk anak orang!" Sentaknya.


"Zee, kenapa bapakmu terlihat sangar begitu," bisik Marshall.


Zee mencubit lengan Marshall.


"Sakit Zee," keluh Marshall dan mengusap lengannya yang tadi di cubit Zee.


"Zee, sini kamu!" Tegas ayah Haris dan Zee segera mendekati ayahnya.


"Kamu juga! Ngapain mau di ajak ke tempat gelap-gelapan seperti ini," omel ayah Haris. "Sekarang kamu kembali ke kamar rawat Nenek."


"Iya, yah." Zee menurut dan meninggalkan Marshall dan ayahnya di sana. Zee menoleh ke belakang dan hanya untuk melihat Marshall.


Setelah Zee pergi dan tidak terlihat lagi. Ayah Haris melangkah maju mendekati Marshall.


Marshall semakin menelan Salivanya beberapa kali. Ayah Haris menggelengkan kepalanya dan tanpa di duga ayah Haris menjewer telinganya.


"Berani-beraninya mengajak Zee ke tempat gelap dan apa tadi, kamu mencium Zee," kata ayah Haris dan semakin menarik telinganya.


Marshall hanya bisa menahan dan meringis sakit.


"Jika besok kamu kayak gini lagi. Om nggak bakalan izinin kamu ketemuan sama Zee lagi. Ngerti kamu!"


"Iya, Om."


Ayah Haris melepaskan jewerannya dan berbalik badan. Baru saja dua langkah, ayah Haris kembali memutarkan tubuhnya.


"Satu lagi. Jangan berani-beraninya mencium Zee, jika ketahuan kamu bakal END," sembari memperaktekan leher di potong. Setelah itu ayah Haris meninggalkan Marshall seorang diri.

__ADS_1


__ADS_2