Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kemarahan Marshall


__ADS_3

Axel, lelaki yang selama ini menyukai Zee, sejak pertama melihatnya dan hari ini Axel ingin mengungkapkan perasaannya yang sudah tidak bisa di tahannya lagi.


Axel tidak peduli kalau Zee sudah memiliki kekasih, yang terpenting dirinya bisa memiliki Zee, walau harus jadi yang kedua. Axel benar-benar sangat mencintai Zee, dan hatinya sudah di butakan oleh rasa cinta yang terus terpupuk.


Axel terus menatap wajah Zee, menantikan sebuah jawaban 'Iya' dari mulut Zee. Dengan berharap penuh, Axel memandangi Zee dengan sejuta rasa cinta yang dimilikinya.


"Terima, terima, terima...." Sorak semua yang melihat pernyataan cinta Axel.


Zee membuang nafasnya dan menatap Axel yang masih berlutut dihadapannya.


"Terima kasih, atas cinta yang kamu miliki untukku, tapi maaf... Aku nggak bisa menerima cinta kamu." Zee menolak cintanya Axel dan lagian Zee tidak menyimpan rasa cinta terhadap Axel. Zee hanya menganggap Axel sebatas teman, tidak lebih dari itu.


"Yaaahh...." Sorakan kecewa dari semuanya.


"Zee, gue mohon jangan tolak cintaku. Gue benar-benar tulus mencintai kamu dan gue nggak jadi masalah jika harus jadi yang kedua." Axel berusaha meminta Zee untuk menerimanya.


"Maaf, Axel. Aku nggak bisa, lagian aku hanya menganggap kamu sebatas teman."


Axel berdiri dan menarik Zee masuk kedalam pelukannya. Zee jelas memberontak pelukan Axel, tapi Axel semakin mengeratkan pelukannya dan tidak akan melepaskan Zee dari pelukannya.


"Pokoknya, kamu harus jadi milikku," paksa Axel, tidak peduli dengan perasaan Zee.


"Axel, lepaskan aku," pinta Zee sembari melepaskan diri.


"Nggak, Zee. Gue nggak akan melepaskan kamu, sebelum kamu menerima cinta gue."

__ADS_1


"Axel, aku mohon lepaskan aku."


"Eh, Axel. Lepaskan Zee dan kamu harus terima atas penolakan Zee." Friska menimpali ucapan Axel, yang terus memaksa Zee dan Friska juga berusaha menarik Zee dari pelukan Axel.


"Terima gue dulu jadi pacar kamu. Baru gue akan melepaskan kamu," tukas Axel.


"Nggak, Axel. Aku nggak bisa jadi pacar kamu. Lepaskan aku!" Zee tetap berusaha melepaskan diri dari pelukan Axel.


Karena kesal atas penolakan Zee. Axel mengangkat wajah Zee dengan tangan kanannya dan Axel mencium bibir Zee.


Semua orang terbelalak melihat Axel mencium bibir Zee dan tidak memperdulikan sekitarnya. Zee juga terkejut dengan tindakan Axel yang tiba-tiba menciumnya.


Axel terus memangut bibir Zee dengan liar dan Zee jelas memberontak tindakan Axel. Zee berusaha melepaskan diri, tapi Axel malah semaki liar menciuminya. Ayu, Friska dan Ria menarik tubuh Axel dan Zee, akan tetapi Axel semakin memperdalam ciumannya dan juga mengeratkan pelukannya.


Zee hampir kehabisan nafas, karena Axel tak mau melepaskan ciumannya yang sangat liar dan kasar. Zee menjatuhkan tasnya karena kewalahan menghadapi ciuman Axel.


Marshall yang baru saja tiba di kampus Zee, segera menelpon Zee. Deringan pertama sampai ketiga, Zee tidak mengangkat telponnya.


"Apa masih ada kelas ya," gumamnya.


Marshall, akhirnya memutuskan ke kantin dan akan menunggu Zee di kantin saja. Saat berjalan menuju kantin, Marshall melihat sekumpulan orang tengah melihat orang tengah berciuman di tengah lapangan.


Pandangan Marshall terhalang oleh tubuh Ayu, hingga Marshall tidak begitu jelas melihat Zee yang tengah berusaha melepaskan diri.


"Cih, sampai segitunya ciumannya," cibir Marshall, lalu Marshall kembali melangkahkan kakinya.

__ADS_1


"Axel, lepaskan Zee!" Teriak Friska.


Seketika Marshall menghentikan langkahnya mendengar nama Zee disebut. "Zee?"


Marshall kembali melihat ke arah lapangan, dimana seorang lelaki tengah mencium paksa seorang wanita. Darah Marshall mendidih saat kedua maniknya menangkap Zee tengah di cium paksa oleh Axel.


Kedua tangan Marshall terkepal erat, dengan nafas memburu menahan kemarahannya. Marshall berlari cepat menuju lapangan dan saat sudah berdiri di belakang Axel, Marshall langsung menarik baju Axel hingga terdengar suara robekan bajunya Axel. Marshall juga menarik rambut Axel, hingga beberapa helaian rambutnya rontok.


"Aaww...." Pekik Axel kesakitan karena rambutnya di Jambak dengan sangat kasar.


Setelah Zee terlepas dari kungkungan Axel, Marshall langsung memberi bogem mentah ke rahang Axel. "Kurang ajar elo! Berani-beraninya cium cewek gue!" sarkas Marshall geram.


Marshall terus menghajar Axel tanpa ampun, mendendang dan meninju Axel. Marshall bahkan tidak memberi celah untuk Axel melawannya , hingga Axel terjatuh dengan wajahnya sudah bonyok. Marshall menarik baju Axel dan kembali melayangkan tinjunya di wajah Axel.


"Stop, shall." Jerit Zee dan berusaha menarik tubuh Marshall.


"Stop! Aku mohon stop."


Dengan terpaksa Marshall melepaskan Axel, dengan tatapan berang. Zee berusaha menarik tubuh Marshall, menjauhi Axel yang sudah babak belur. Sebelum meninggalkan Axel yang tergeletak di lantai lapang, Marshall kembali menginjak kaki tulang kering Axel.


"Aargh...." Axel meng erang kesakitan dan Axel memegangi kakinya yang di injak oleh Marshall.


"Sudah! Aku mohon sudah jangan hajar dia lagi. Dia bisa mati jika terus kamu menghajarnya," ucap Zee seraya terus berusaha menarik tubuh Marshall. Zee tidak mau kalau Marshall terus-terusan menghajar Axel.


Dengan nafas yang memburu, Marshall meninggalkan Axel. walau dirinya belum puas menghajar Axel. Tangannya masih ingin menghabisi Axel, sampai Axel masuk rumah sakit.

__ADS_1


Axel menatap kepergian Marshall dan Zee, dengan tatapan yang menyala-nyala membakar kemarahannya sampai ke ubun-ubunnya.


"Akan gue balas perbuatan elo," lirih Axel menahan dendam kusumat terhadap Marshall.


__ADS_2