Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Kedatangan Ibu


__ADS_3

Zee sudah di jemputan oleh Jefry, dan sekarang Jefry mengajak Zee makan siang terlebih dahulu di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit tempat kakaknya Jefry di rawat.


Zee dan Jefry sudah berada di dalam cafe tersebut dan sudah pesan makanan. Keduanya duduk di dekat kaca besar menghadap ke jalan raya yang memperlihatkan lalu lalang kendaraan.


"Zee, Om mau bicara serius," ucap Jefry menatap lekat wajah Zee.


"Bicara apa?" Jawab Zee menatap Jefry yang terlihat sangat serius.


"Gini... Om mau kasih tambahan kerjaan buat kamu." Jefry menjeda kalimatnya, sedangkan Zee menunggu kelanjutan ucapan Jefry dengan tatapan lekat.


"Ini soal kakaknya, Om. Apa kamu bersedia sering menemui dan menemani kakaknya, Om? Jujur, Om tidak bisa setiap hari menemui dan menemani kakaknya, Om dan jika kamu bersedia, Om bakal kasih bayaran tinggi jika kamu bersedia temani kakaknya, Om," ucap Jefry yang menatap lekat wajah Zee, sembari menanti sebuah jawaban dari Zee.


"Boleh sih Om. Tapi... Bagaimana kalau aku ada kerjaan?"


"Kamu boleh temani kakaknya Om, jika kamu tidak begitu sibuk," balas Jefry.


"Baiklah, aku bersedia."


Jefry menghela nafas lega, dan berharap dengan hadirnya Zee di dekatnya bisa membangunkan kakaknya yang sudah belasan tahun tertidur panjang dan semoga ada sebuah keajaiban buat kakaknya itu.


"Oh ya, Om. Kalau boleh tahu, nama kakak Om, siapa namanya?" Tanya Zee yang menatap lekat wajah Jefry.


"Nama kakak Om, ialah Haris Raharja," jawab Jefry.


"Oh... Namanya Om Haris?" Sahut Zee sembari manggut-manggut.


"Kalau boleh tahu, penyebab kakaknya Om koma, kenapa?" Zee kembali bertanya. Jujur Zee sangat penasaran dengan apa yang terjadi, sehingga membuat Haris koma.


"Maaf... Om belum bisa ceritakan penyebab kakaknya Om koma," ucap Jefry.


Ada sedikit kecewa di hati Zee, tapi Zee sadar siapalah dirinya ini dan hanya orang lain. Jadi wajar kalau Jefry tidak mau menceritakan penyebab Haris koma.


Selesai dengan makan siangnya, kini keduanya langsung menuju ke rumah sakit dan menemani kakaknya Jefry yang bernama Haris. Zee tersenyum, begitu melihat Haris yang masih betah menutup matanya. Zee langsung mendekati Haris dan duduk di samping Haris. Sedangkan Jefry memilih duduk di sofa sembari membuka laptopnya.


"Hai, Om! Gimana kabarnya? Semoga Om cepat sadar dari tidur panjang, Om," tutur Zee tersenyum tipis menatap Haris yang sampai saat ini masih betah menutup matanya.

__ADS_1


"Apa Om mau berteman denganku? Jika Om mau berteman denganku, Om harus cepat bangun dari tidur panjang Om. Tapi jika Om masih betah menutup mata dan nggak mau bangun, maka aku nggak mau berteman dengan Om."


Dan Zee terus saja berceloteh, membicarakan apapun. Jefry yang duduk di sofa tersenyum senang dengan celotehan Zee dan berharap kakaknya cepat tersadar dari komanya.


Zee terus berbicara tentang apapun, bahkan Zee juga bercerita tentang kesehariannya. Entah kenapa, jika Zee berada di dekat dengan Haris, hati Zee seperti sudah terikat erat dengan lelaki yang masih betah menutup matanya itu.


Selesai bercerita, Zee menggenggam tangan lelaki yang terbaring itu. Tatapannya begitu lekat memandangi Haris yang sampai sekarang masih betah menutup matanya.


Entah kenapa jika aku dekat dengan Om, hati aku seolah sudah terikat kuat dengan Om. Bahkan hatiku terasa damai di dekat Om.


Batin Zee terus bertanya-tanya tentang perasaan hatinya.


Zee melirik jam di pergelangan tangannya, dan ternyata sekarang sudah petang.


"Om... Aku pamit pulang dulu. Besok aku akan datang lagi menemani Om," ucap Zee seraya bangun dari duduknya. Entah dorongan dari mana, Zee ingin mencium keningnya Haris.


Cup


Satu kecupan manis mendarat di kening Haris. Jefry yang melihatnya tersenyum lebar.


Zee menegakkan kembali tubuhnya, lalu Zee mengelus punggung tangan Haris. "Aku pulang dulu, Om," pamit Zee.


Jefry sudah berdiri dan mendekati Zee. Jefry langsung mengajak Zee pulang.


Jefry mengantar Zee pulang ke kosannya. Sekitar satu jam, mobil yang di kendarai oleh Jefry tiba di ujung gang kosannya, Zee. Jefry memarkirkan mobilnya di pinggir jalan,lalu Zee keluar begitu pun juga dengan Jefry.


"Om, akan mengantar kamu sampai depan kosan," ucap Jefry dan Zee mengangguk setuju di antar oleh Jefry. Keduanya beriringan berjalan menuju kosannya.


"Ibu...." Gumam Zee, begitu tiba di dekat kosannya.


"Ibu?" Tanya Jefry bingung.


"Iya, itu ibu aku." Tunjuk Zee ke arah ibunya yang berdiri di depan pintu kosannya.


Zee mempercepat langkah kakinya mendekati ibunya.

__ADS_1


"Bu...." Panggil Zee.


Mami Janet menoleh ke arah Zee. Mami Janet terkejut melihat anaknya pulang bersama dengan Jefry. Tatapan Mami Janet begitu tajam menatap Jefry yang kini sudah berdiri di depannya itu.


"Ada apa ibu datang kesini?" Tanya Zee yang berdiri di sampingnya.


"Ibu datang kesini karena ibu rindu kamu," ungkap Mami Janet.


Zee tersenyum senang karena ibunya itu merindukan dirinya. Jarang sekali ibunya itu mengungkapkan kerinduannya, tapi hari ini ibunya datang dan mengatakan kalau ibu rindu.


Zee langsung memeluk ibunya dari samping dan tersenyum sumringah. Zee melerai pelukannya dan mencium pipi sang ibu.


"Zee senang kalau ibu kangen sama Zee," ungkap Zee. Ya... Sebaik dan seburuk apapun seorang ibu, tetaplah beliau adalah ibu yang sudah melahirkan kita ke dunia ini dan disini Zee hanya seorang anak yang harus hormat kepada ibunya, walau pekerjaan sang ibu tidak di sukainya.


"Iya.... Sekarang masuklah. Ini sudah malam, bukannya besok kamu sekolah," ucap Mami Janet lagi sembari membelai rambut legam Zee dengan sayang.


"Iya... Kalau gitu Zee masuk. Apa ibu juga mau masuk?"


"Iya... Nanti ibu nyusul, cepat kamu masuk," titah Mami Janet lagi.


Zee mengangguk lalu pandangannya berpindah ke Jefry. " Om, terima kasih sudah mengantarkan aku pulang."


"Iya, sama-sama," balas Jefry seraya menganggukkan kepalanya.


Zee pun masuk ke dalam kosannya, sedangkan Mami Janet menatap curiga terhadap Jefry yang sudah berani mendekati putri semata wayangnya.


"Ikut aku! aku mau bicara sama kamu," ujar Mami Janet dengan nada ketus.


Jefry mengikuti kemana Mami Janet melangkah meninggalkan kosannya Zee. Hingga tiba di ujung gang, Mami Janet langsung mengarahkan tatapan tajam wajah Jefry.


"Aku peringatkan kamu! jangan lagi kamu dekati anak aku. Paham kamu!" Tegas Mami Janet yang menatap Jefry sinis.


Jefry tersenyum jumawa seraya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Apa mba takut, kalau suatu saat nanti Zee akan mengetahuinya?"

__ADS_1


"Aku nggak akan membiarkan itu terjadi! Sudah cukup selama ini aku yang merasakan kesedihan ini," ucap Mami Janet dan tidak akan membiarkan Zee mengetahui kejadian masa lampau.


__ADS_2