Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Teddy Bear


__ADS_3

"Siapa bos kamu?"


"Om Jefry...." Jawab Zee, yang menatap heran melihat ekspresi wajah ibunya itu.


"Jefry...." Gumam Mami Janet menggeram kesal.


"Kenapa? Bukannya ibu pernah bertemu dengannya di kosannya aku," ucap Zee lagi.


"Ya, ibu tahu. Jadi sekarang kamu kerja dengan Jefry."


"Iya. Aku kan sudah nggak kerja di cafe heaven lagi. Terus Om Jefry menawarkan aku kerja jadi model brandnya, Om Jefry," jelas Zee.


Mami Janet sangat kesal dengan sikap Jefry yang berani menarik Zee masuk ke dalam lingkungan keluarga Raharja. Apalagi Jefry sudah mempertemukan Zee dengan ayah kandungnya yang selama ini dirinya tutupi dan menganggap suaminya itu sudah mati.


"Zee, mulai sekarang kamu jangan temui kakaknya Jefry lagi. Ibu nggak suka kamu dekat dengannya," pinta Mami Janet.


"Kenapa ibu ngelarang aku untuk tidak menemui Om Haris lagi dan apa alasan ibu ngelarang aku?" Ucap Zee yang menurutnya sangat aneh, bila ibunya melarangnya menemui Haris.


"Kamu nggak perlu tahu kenapa ibu melarang kamu menemui kakaknya Jefry. Pokoknya, ibu minta kamu jangan temui dia lagi dan kamu harus nurut dengan perkataan ibu."


"Ibu ngelarang aku untuk tidak menemui Om Haris, sedangkan ibu sendiri tidak mendengarkan larangan aku, untuk berhenti dari pekerjaan ini," jawab Zee kesal.


"Zee!! Bisa nggak sih, jangan bawa-bawa pekerjaan ibu! Ibu punya alasan tersendiri, kenapa ibu tetap bekerja seperti ini! Dan kamu jadi anak harusnya nurut saja dengan perkataan ibumu ini," kesal Mami Janet.


"Sudahlah, Bu. Aku malas berdebat sama ibu. Jika ibu menyuruh aku untuk berhenti menemui Om Haris, jawabanku tetap akan menemui Om Haris. Aku pulang!"


"Tunggu! ibu belum selesai bicara sama kamu "


"Sudah ya, Bu. Aku mau pulang saja," tukas Zee.


Zee bangkit dari duduknya dengan rasa dongkol. Malas rasanya jika tiap kali bertemu dengan ibunya itu selalu saja berdebat. Setelah Zee keluar, Mami Janet menghela nafasnya dan langsung menyenderkan punggungnya. Mami Janet memijat pelipisnya, dan dirinya harus mencari cara agar Zee tidak lagi menemui Haris.


"Apa aku harus bicara sama Jefry dan memintanya untuk tidak membawa Zee masuk ke dalam kehidupan keluarganya," gumam Mami Janet.


***


Zee sudah sampai di kosannya, dan segera membersihkan diri. Selesai mandi, Zee merebahkan tubuhnya di atas kasur tipisnya, lalu di ambil handphonenya dari dalam tasnya dan melihat-lihat lagi foto dirinya bersama Marshall. Zee tersenyum simpul melihat foto-fotonya yang terlihat alay. Zee memegangi pipinya, dan tersipu mengingat kejadian tadi di dalam mobil, saat Marshall tiba-tiba mencium pipinya.

__ADS_1


"Iiih, kenapa aku jadi kayak gini sih," gumam Zee sembari memegangi kedua pipinya yang merona. Zee senyum-senyum sendiri, dan detak jantungnya juga meningkat.


"Nggak mungkin aku suka sama dia, si pemaksa nyebelin," gerutu Zee.


"Aargh... Kenapa dia sekarang ada di otakku terus sih!"


Tiba-tiba handphonenya bunyi. Zee mencebikan bibirnya saat tahu siapa yang menelponnya. Sebelum mengangkatnya, Zee merapikan rambutnya terlebih dahulu dan merapikan bajunya agar tidak kusut.


"Oke, sudah rapi."


Saat akan mengangkat telponnya, panggilan teleponnya berhenti. Zee menunggu panggilan telepon selanjutnya. Sekitar lima menit, Marshall belum juga menelponnya lagi. Oke, nggak masalah, Zee akan terus menunggunya.


Sepuluh menit berlalu, Marshall tak kunjung jua menelponnya. Zee mencibir Marshall kesal, saat sedang di nantikan telpon darinya, Marshall nggak telpon-telpon lagi. Bikin kesal aja.


"Kenapa nggak telpon lagi sih!!" Sungut Zee, lalu Zee melemparkan handphonenya ke sampingnya dan mengambil bantal untuk di dekapnya.


Karena kesal menunggu telpon dari Marshall, Zee lebih memilih memejamkan matanya.


Drrtt Drrtt Drrtt


Zee segera mengangkat telponnya dan yang di tunggu dari tadi, akhirnya menelpon juga.


"Sudah tidur belum," tanya Marshall di sebrang telpon.


"Belum!" Jawab Zee masih dengan nada ketus.


"Boleh keluar dulu sebentar."


"Memang mau ngapain kamu nyuruh aku keluar," jawab Zee lagi.


"Pokoknya kamu keluar dulu," paksa Marshall.


"Iya-iya aku keluar."


Zee bangun dan bergegas keluar kamar dan betapa terkejutnya Zee melihat Marshall sudah berdiri di hadapannya. Marshall tersenyum manis menatap Zee.


"Ngapain kamu kesini?" Tanya Zee.

__ADS_1


Keduanya masih saling teleponan, walau Zee dan Marshall sudah saling berhadapan langsung.


"Karena aku nggak bisa tidur, makanya aku menemui orang cantik dulu yang sekarang tengah berdiri di depanku."


Seketika pipi Zee terasa menghangat, Zee memalingkan wajahnya yang merona itu. Untung saja diluar tidak begitu terang, jadi Marshall tidak melihat wajah Zee yang merona.


Marshall mematikan sambungan teleponnya, dan mendekati Zee.


"Apa?!" Ketus Zee.


Marshall hanya tersenyum saja. Marshall mengeluarkan sebuah boneka yang sejak tadi di sembunyikan di belakang tubuhnya, yaitu boneka Teddy bear.


"Selain ingin bertemu denganmu, aku juga mau ngasih ini buat kamu." Marshall menyerahkan boneka Teddy ke Zee.


"Terima kasih," jawab Zee seraya tersenyum manis. Senyum yang mampu melelehkan hati Marshall, karena senyum Zee itu sangat mahal. Kenapa mahal, karena Zee jarang sekali tersenyum, apalagi tersenyum seperti sekarang ini.


"Semoga kamu suka sama bonekanya dan bisa menjadi teman tidur kamu," ujar Marshall.


"Aku suka kok," jawab Zee masih dengan senyumannya.


"Aku senang dengernya. Kalau gitu aku pulang dulu," pamit Marshall dan Zee mengangguk.


Sebelum melangkah, Marshall lihat kanan dan kiri. Memastikan tidak ada seseorang di sekitar sana.


"Kamu cari apa?" Tanya Zee yang heran melihat Marshall tengok kanan dan kiri.


"Aman," gumam Marshall sangat pelan.


"Apa?" Kata Zee, yang tak mendengar ucapan Marshall.


Tanpa di duga oleh Zee, Marshall kembali mendaratkan sebuah kecupan manis di pipinya. Ini kedua kalinya Marshall mencium pipi Zee.


Setelah itu Marshall langsung memutarkan tubuhnya, dan bergegas menuju motornya yang terparkir di depan rumah orang. Sengaja Marshall memarkirkan motornya di depan rumah orang, agar Zee tidak curiga kalau dirinya datang ke kosannya.


Zee terdiam membeku, lalu Zee menyentuh pipinya yang di kecup Marshall. Tak menyangka kalau dirinya bakal di kecup untuk kedua kalinya. Setelah Marshall pergi, Zee cepat-cepat masuk ke dalam kamarnya dan Zee menyenderkan tubuhnya di belakang pintu. Entah kenapa, detak jantungnya kian berdebar kencang.


"Kenapa, jantungku terus berdebar-debar?" Seraya meletakkan tangannya di dadanya. Lalu di angkatnya boneka Teddy bear, dan senyum Zee terbit. Di dekapnya boneka itu dan membawanya ke kasur. Saat tangan Zee mengusap boneka bagian belakang, Zee menemukan sebuah tombol di belakang tubuh Teddy bear.

__ADS_1


Zee yang penasaran langsung menekan tombol itu dan seketika boneka itu mengeluarkan cahaya lampu dari dalam tubuh boneka dan bersuara kata, I LOVE YOU.


"Sok manis dia," cibir Zee, lalu Zee mencubit hidung boneka Teddy bear dengan gemas dan membawanya kedalam pelukannya.


__ADS_2