
Setelah mengetahui kalau anaknya mengalami perundungan yang ketiga kalinya. Mami Janet merasa sedih, di pandangnya anaknya itu dari samping. Mungkin memang sudah saatnya dirinya harus berhenti dari pekerjaan itu.
Pilihannya mengajak Zee pergi ke kampung halaman almarhumah ibunya adalah keputusan yang tepat. Di sana tidak ada yang mengetahui soal kehidupannya disini, jadi aman dan pastinya Zee tidak akan lagi mendapatkan Bullying dari teman-temannya.
Surat pindah sekolah sudah berada di tangan ibunya. Zee dan Mami Janet berjabat tangan dan mengucapkan terima kasih. Setelah itu, Zee dan Mami Janet pamit undur diri dari hadapan Bu guru Nisa.
Pada saat itu pula, Marshall datang ke ruang guru dengan membawa buku paket di kedua tangannya.
"Itu bukannya, Zee?" Gumam Marshall, melihat Zee dan Ibunya pergi.
"Ngapain Zee dan Ibunya datang ke sekolah?" Marshall terus bertanya-tanya soal ke datangan Zee dan ibunya.
"Marshall, kamu ngapain berdiri di sana?" Ucap Bu guru Nisa yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.
Marshall terhenyak melihat Bu guru Nisa sudah berdiri di sana.
"Ini... Saya di suruh sama Pak Luki mengantarkan buku paket."
"Oh... Simpan saja di sana."
"Iya, Bu."
Marshall segera membawa buku paket tersebut di tempat yang di tunjuk oleh Bu guru Nisa.
Marshall mendekati meja Bu guru Nisa dan ingin bertanya soal kedatangan Zee dan Ibunya.
"Bu... Mmm... Saya boleh bertanya?"
"Boleh, soal apa?"
"Tadi saya lihat Zee dan Ibunya datang kesini. Kalau boleh tahu Zee kenapa, Bu?" Tanya Marshall yang sangat penasaran dengan kedatangan Zee dan Ibunya. Apalagi sudah dua hari ini Zee tidak masuk sekolah.
"Oh... Itu. Zee dan Ibunya meminta surat pindah sekolah," terang Bu guru Nisa.
"Apa? Zee mau pindah sekolah! Kemana, Bu?" Cecar Marshall dan terkejut mendengar soal kepindahan Zee.
"Katanya sih ke kampung halaman ibunya."
Marshall yang tak mau kehilangan Zee, langsung keluar dan berlari mengejar Zee.
Marshall mencari-cari Zee dan Ibunya di pinggir jalan. Marshall terus berlari menelusuri trotoar jalan dan berharap Zee belum pergi dar sini, tapi sayang seribu sayang, Marshall tidak menemukan Zee dan Ibunya.
Dengan keterputus asaan, Marshall melangkahkan kakinya ke sekolah. Rasa sedih dan takut kehilangan Zee kini menyeruak menyesakkan dadanya.
"Lama banget kamu nganterin buku paket," cetus Sigit teman sebangkunya, tapi Marshall tidak menjawab sebab hati dan pikirannya tengah kalut.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Sigit lagi.
"Zee...."
"Kenapa dengan Zee?"
"Zee mau pindah sekolah," jawab Marshall lirih.
"Pindah? Serius! Kemana pindahnya?"
"Ke kampung halaman ibunya," jawab Marshall semakin lirih dan sendu.
"Git, aku nggak mau kehilangan Zee. Aku cinta banget sama Zee. Aku harus gimana?"
"Kamu kejar dia lah. Nanti pas jam istirahat, kamu bolos saja. Aku akan membantu kamu bolos sekolah," timpal Sigit.
Marshall mengangguk dan Sigit menepuk-nepuk punggung Marshall yang terlihat putus asa.
Jam istirahat pun tiba. Sigit membantu Marshall bolos sekolah. Dari belakang gedung sekolah, Sigit mengajak Marshall ke tempat yang memang sudah sering menjadi jalan keluar untuk bolos.
"Aku cuma nganter kamu sampai sini saja," tukas Sigit. " O iya, dari sini kamu jalan ke arah ujung selokan itu dan dari situ kamu tinggal jalan ke kiri. Nah, nanti di sana kamu akan menemukan jalan, tepatnya gang yang tidak jauh dari gedung sekolah kita."
"Oke... Aku ngerti. Thanks ya, kamu sudah membantu aku bolos dan doain, semoga Zee belum pergi," kata Marshall.
"Pasti. Semoga Zee nggak jadi pergi," ujar Sigit.
Kebetulan saat sudah di pinggir jalan, Marshall menemukan tukang ojek dan segera naik ke boncengan motor.
"Kemana nih?" tanya tukang ojek.
"Ke jalan pahlawan."
Mang ojek gegas melajukan motornya membelah jalanan. Sepanjang perjalanan pikiran Marshall tidak bisa tenang dan ingin secepatnya sampai di kosannya Zee. Kalau dalam keadaan darurat seperti ini, ingin rasanya meminjam pintu ajaib Doraemon.
Akhirnya Marshall sampai di depan gang kosan Zee. Marshall meminta kepada mang ojek untuk masuk ke dalam gang.
Marshall turun dan membayar ongkos ojeknya. Marshall secepat kilat menghampiri kamar kosan Zee.
Tok tok tok
Marshall mengetuk pintunya, tapi pintunya tak kunjung di buka oleh Zee. Marshall terus mengetuk pintu sampai berulang kali, berharap Zee ada di dalam.
Marshall semakin putus asa, karena pintunya tidak di buka-buka. Marshall mengambil handphonenya dan menelpon Zee, tapi sial telponnya tidak di angkat oleh Zee.
"Kamu lagi ngapain di situ?" Tanya seorang wanita paruh baya, yang ternyata pemilik kosan ini.
__ADS_1
"Maaf, Bu. Mau tanya, ibu tahu pemilik kamar kosan ini."
"Tahu, tapi... Neng Zee nya sudah pergi dan tidak ngekos lagi," jawab ibu kos.
Marshall mengusap wajahnya kasar. Ternyata dirinya terlambat datang.
"Ibu tahu Zee pergi kemana?" Tanya Marshall dengan rasa gelisah.
"Tadi sih bilangnya mau ke agen travel yang di jalan Surapati. Kalau nggak salah tujuannya ke kampung halaman ibunya."
"Terima kasih Bu atas infonya."
Marshall bergegas lari ke jalan raya. Untung saja Mang ojek yang tadi masih berada di sana.
"Mang... Mang... Anterin aku lagi ke agen travel yang di jalan Surapati," desak Marshall dan tak mau membuang waktunya.
Dirinya harus secepatnya sampai di sana dan berharap Zee belum meninggalkan kota ini. Marshall terus berdoa, agar Zee tidak pergi meninggalkannya.
Tiba di agen travel. Marshall mencari keberadaan Zee di setiap mobil travel.
"Zee...!" Marshall terus menyerukan namanya dan di mobil yang terakhir. Marshall menemukan Zee yang tengah duduk anteng bersama ibunya.
"Zee...!" Panggil Marshall dengan wajah sedikit lega.
"Marshall...."
Zee terkejut melihat Marshall berdiri di pintu mobil, dengan tatapan sendu.
"Eh, kamu kan pacarnya Zee ya?" Seloroh Mami Janet.
"Bu, aku turun dulu sebentar."
"Iya, tapi jangan lama-lama. Sebentar lagi mobilnya berangkat."
Zee mengangguk dan segera turun dari mobil. Zee berjalan sedikit menjauh dari mobil dan menatap sedih wajah Marshall.
"Zee... Aku mohon jangan pergi." Marshall memohon dan mengiba.
"Maaf, Shall. Aku harus pergi, lagian di antara kita sudah berakhir. "
"Nggak, Zee. Aku sampai detik ini masih sangat mencintai kamu. Aku mohon jangan tinggalkan aku." Marshall terus memohon dengan sangat. Berharap Zee tetap tinggal disini.
"Aku nggak bisa. Aku dan ibuku sudah sepakat meninggalkan kota ini. Aku minta maaf...."
"Zee...." Marshall menarik tangan Zee dan membawanya ke dadanya. Bola mata Zee dan Marshall sudah berkaca-kaca. Sungguh Marshall tidak mau kehilangan Zee.
__ADS_1
Marshall langsung memeluk Zee. Dirinya tidak memperdulikan tatapan orang lain. Marshall bahkan semakin erat memeluk Zee.