Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Mendapatkan Hukuman


__ADS_3

Matahari mulai merangkak naik, menggantikan gelapnya malam. Warna jingga di langit sangat indah di pandang mata. Tapi tidak untuk hati seseorang yang tengah patah hati itu.


Marshall yang saat ini tengah berdiri sembari menatap langit pagi. Menatapnya dengan pandangan sendu.


"Abang...." Panggil Andreo seraya mengetuk pintu.


"Abang, buka pintu na," mohon Andreo.


Marshall membuang nafasnya kasar, lalu Marshall bergegas membuka pintunya. Andreo, adik kecilnya tersenyum senang karena Marshall membukakan pintu.


Andreo mengulurkan kedua tangannya ke atas, dan memintanya untuk di gendong.


"Ada apa adik kecil?" Tanya Marshall yang gemas melihat adiknya itu.


"Ade, pengen maem di suapin sama Abang."


Marshall tersenyum tipis, melihat Andreo yang manja terhadapnya dan pastinya ia tidak bisa menolak permintaannya.


"Baiklah. Ayo, Abang suapin Ade."


Marshall langsung membawa Andreo turun dan melangkah ke ruang makan. Marshall mendudukkan Andreo di kursi, lalu Marshall mengambil makanan untuk adik tercintanya.


Hana tersenyum melihat Marshall mau menyuapi Andreo.


"Abang, nggak sekolah," tanya Aisyah yang baru datang.


"Sekolah."


"Ais berangkatnya bareng sama Abang ya," pinta Aisyah.


"Hmm...."


Marshall terus menyuapi Andreo sampai makanannya habis, setelah itu Marshall kembali ke kamarnya dan berganti pakaian.


Marshall langsung mengajak Aisyah berangkat sekolah.


"Abang nggak sarapan dulu?"


"Nggak laper." Jawabnya dingin


"Abang harus makan," suruh Aries.


Marshall tidak menjawab perkataan Aries dan Marshall langsung melengos pergi meninggalkan meja makan. Biasanya, sebelum berangkat sekolah, Marshall pasti mencium tangan kedua orang tuanya, tapi hari ini Marshall pergi begitu saja.


Hana menghela nafasnya, dirinya tak tega melihat Marshall seperti ini dan sikapnya berubah dingin.


"Lihat. Bagaimana sikap Abang sekarang," cetus Hana kepada suaminya.


"Sudah biarkan, nanti juga baik sendiri," balas Aries cuek.


"Jangan lupa, apa yang semalam aku katakan."


"Iya! Aku tidak lupa," timpal Aries lagi.


***


Dengan tidak semangatnya, Marshall berangkat sekolah. Memacukan motornya membelah jalanan.

__ADS_1


Tiba di sekolah, Marshall langsung melangkahkan kakinya menuju kelasnya.


Marshall menatap bangku yang biasanya di duduki oleh Zee. Seketika rasa sakit kini menerjang hatinya. Marshall membuang nafasnya perlahan seraya menutup matanya, lalu Marshall duduk di bangkunya.


Sebentar lagi jam masuk kelas, tapi sampai detik ini Zee belum menampakkan batang hidungnya. Hati Marshall bertanya-tanya, kenapa Zee tidak masuk sekolah.


"Selamat pagi," sapa Bu guru Nisa, yang baru saja masuk.


"Pagi juga, Bu," jawab semua murid, dan pelajaran pun di mulai.


Marshall terus saja memperhatikan arah pintu, berharap Zee masuk, tapi sampai jam istirahat Zee tidak datang.


Kenapa Zee tidak masuk sekolah?


Rasa khawatir jelas tergambar dari wajah Marshall, hatinya mencelos perih mengingat kembali kejadian kemarin.


Tanpa semangat, Marshall pergi ke kantin dengan Byan dan teman-temannya. Tiba-tiba Liora datang dengan wajah cerianya dan memamerkan senyum manisnya.


"Hai, Shall...." Sapa Liora ceria.


Marshall hanya meliriknya saja dan malas membalas sapaan Liora.


"Kamu mau makan apa? Biar aku pesenin," kata Liora lagi.


Marshall yang sudah muak melihat wajah Liora yang sok akrab dengannya. Langsung berdiri dan meninggalkan mereka semua.


"Mau kemana, bro," ujar Byan.


"Kemana saja, asal nggak ada wanita sialan itu," jawab Marshall sembari melirik sinis Liora.


Liora memanyunkan bibirnya. Niat hati mau mengambil hati Marshall, tapi malah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari Marshall.


"Sudahlah... Daripada mengharapkan Marshall. Mending sama gue," celetuk Widi seraya menarik turunkan alisnya.


"Ogah! Kamu itu jelek dan buluk dan miskin," hina Liora, lalu gegas bangun dan mencari keberadaan Marshall.


Marshall ternyata memilih tempat yang dulu sering Zee datangi dan sekaranglah Marshall yang mendatanginya. Di bawah pohon rindang, Marshall menatap handphonenya. Ia ingin sekali menelpon Zee, tapi ia ragu untuk menelponnya.


Marshall hanya ingin tahu saja, apa Zee baik-baik saja atau tidak.


"Telpon nggak ya...."


Karena penasaran dan Khawatir, akhirnya Marshall mencoba menelpon Zee.


Marshall mendesah samar, ternyata telponnya nggak di angkat oleh Zee.


"Aku kangen sama kamu," lirih Marshall, lalu di pandangnya foto Zee yang menjadi wallpaper di handphonenya.


"Ternyata kamu disini?" Seloroh Liora yang akhirnya berhasil menemukan Marshall.


"Ngapain kamu kesini? Apa kamu belum puas dengan apa yang sudah kamu perbuat!" Sinis Marshall berkata.


"Kamu ngomong apa sih... Aku tuh kesini cuma mau menghibur kamu tahu."


"Bodo! Aku nggak butuh hiburan dari cewek licik kayak kamu!"


Marshall kemudian pergi dari sana dan tidak memperdulikan teriakan Liora. Saat sudah di lorong-lorong kelas, seorang lelaki perawakan tinggi menghentikan langkahnya, tepatnya langkah Liora.

__ADS_1


"Berhenti." Gunawan menyetop langkah Liora.


"Iya, ada apa, Om?"


"Apa kamu yang bernama Liora?"


"Iya, betul. Kenapa ya...."


"Kamu ikut saya ke ruang guru," perintah Gunawan tegas.


Liora diam dan bingung, kenapa dirinya harus ke ruang guru?


"Cepat...!" Sentak Gunawan tajam.


"I-ii-ya, Om."


Liora sesegera melangkahkan kakinya menuju ruang guru dengan rasa bingung. Marshall yang penasaran, mengikuti Liora sampai depan ruang guru.


Ternyata di sana sudah ada Enzi, Popi dan Hanum. Marshall yang melihatnya dari balik jendela, semakin penasaran. Kenapa gengnya Liora di kumpulkan di ruang guru.


"Duduk," suruh Jefry yang memancarkan aura dingin.


Liora duduk berdampingan dengan ketiga sahabatnya.


Kepala sekolah, mendesah samar saat tahu kelakuan keempat siswanya itu.


"Maaf, Pak. Kenapa ya, kita di panggil ke sini?" Tanya Liora yang masih bingung dengan semua ini.


"Harusnya kamu sudah tahu, kenapa kamu di panggil ke sini," jawab Jefry dingin.


Liora dan ketiga temannya saling pandang dan wajah ketiga sahabatnya itu terlihat pucat. Liora menelan Salivanya, sekarang dia tahu kenapa dirinya di panggil ke ruang guru.


"Kenapa diam! Apa sudah tahu, kenapa kalian berempat di panggil kesini?" Sambung Jefry.


Liora dan ketiga temannya menundukkan kepalanya. Mereka tidak berani mengangkat kepalanya.


"Kamu tahu. Orang yang kalian bully itu adalah keponakan saya! Jadi darimana kalian bisa berasumsi kalau Zee itu seorang sugar baby!"


Mereka berempat diam dan tidak ada yang berani menjawabnya.


"Dan kalian berempat, saya pastikan kalian akan mendapatkan hukuman. Karena perbuatan kalian, sekarang keponakan saya tidak sekolah dan satu lagi. Kasus ini akan saya bawa ke ranah hukum dan saya pastikan kalian berempat akan merasakan yang namanya di balik jeruji besi."


Liora dan teman-temannya mengangkat kepalanya dan terkejut mendengar perkataan Jefry. Popi kini malah mengeluarkan air matanya.


"Om, ampuni kami. Kami janji tidak akan mengulangi lagi," ucap Hanum memohon dengan rasa sedih.


"Percuma! Kelakuan kalian sudah kelewat batas. Gun, apa polisi sudah menuju kesini?"


"Sepertinya sebentar lagi sampai," jawab Gunawan.


Liora dan teman-temannya semakin di landa gelisah dan mereka tidak mau masuk penjara. Apa yang akan di katakan nya kepada orang tuanya. Tangisan Popi semakin tak terkendali, sungguh dirinya tidak mau masuk penjara.


🌺


🌺


🌺

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍


To be continued....


__ADS_2