Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
Flashback ( 2 )


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba, dimana sekarang Haris dan Janet akan melangsungkan pernikahan. Haris sudah duduk di depan Pak Budi, ayah kandung Janet dan di sampingnya Pak Budi adalah bapak penghulu yang akan memimpin jalannya pernikahan bagi Haris dan Janet.


Sebelumnya Haris mengatakan kepada Pak Budi, kalau orang tuanya berhalangan hadir. Jadi pernikahan ini tidak di hadiri oleh orang tua Haris.


Maaf yah, aku harus berbohong mengenai orang tuaku, yang sebenarnya tidak mengetahui pernikahan ini. Batin Haris.


Haris menjabat tangan Pak Budi dan siap mengikrarkan janji suci pernikahannya di depan ayah mertuanya, penghulu dan para saksi yang ikut hadir.


Selesai melakukan ijab qobul, Janet yang duduk di samping Haris langsung bersalaman dan mencium punggung tangan Haris penuh takzim. Setelah itu Haris mencium kening Janet. Keduanya kini melakukan sungkem kepada Pak Budi dan Sri, ibunya Janet. Kedua orang tuanya Janet memberi petuah kepada Haris dan Janet, tidak lupa orang tua Janet menitipkan putrinya kepada Haris.


*


Kini Janet sudah berada di apartemennya Haris. keduanya baru saja selesai menghabiskan malam pengantinnya. Haris langsung menarik tubuh polos Janet yang masih lengket dengan peluh di tubuhnya dan mengecup pucuk kepala Janet.


"Mas, kapan kita akan memberitahu orang tua kamu, kalau kita ini sudah menikah," seloroh Janet. Sebenarnya Janet cemas dan takut akan pernikahannya, mengingat pernikahannya tanpa di restui oleh orang tua Haris dan orang tua Haris tidak mengetahui pernikahannya.


"Soal itu... Untuk sementara waktu. Orang tuaku jangan tahu dulu soal pernikahan kita. Bukannya aku nggak mau memberi tahu, tapi saat ini papaku lagi sakit dan aku nggak mau memperburuk kesehatan papa. Jika nanti waktunya sudah tepat, baru aku akan memberi tahu soal pernikahan kita."


Janet pun mengangguk mengerti.


Sebulan usia pernikahannya dengan Haris, Janet mendapatkan kabar kalau ibunya sakit keras. Janet membawa ibunya ke rumah sakit guna mendapatkan pengobatan, tapi sayang takdir berkata lain. Ibunya meninggal setelah sampai di rumah sakit. Janet langsung memeluk Ibunya yang sudah tiada. Haris mengelus punggung Janet yang bergetar karena Isak tangis.


"Ikhlaskan kepergian ibu. Ini sudah jalan terbaik yang Tuhan berikan untuk ibu," ucap Haris yang ikut sedih dengan kepergian ibu mertuanya itu.


*


Seminggu sudah kepergian ibunya. Janet yang saat ini tengah memasak sarapan pagi, di kejutan dengan kedatangan Bu Cahyani. Tatapan mata Bu Cahyani begitu tajam, dan terlihat dari guratan wajahnya memancarkan aura kemarahan yang berlipat-lipat.


Janet mematikan kompor dan menelan Salivanya, saat bertemu pandang dengan ibu mertuanya itu.


"Berani-beraninya kamu menikah dengan anak saya!" Hardik Bu Cahyani.


"Mama...." Seru Haris yang keluar dari kamarnya karena mendengar teriakkan mamanya.

__ADS_1


Bu Cahyani memindai tatapannya ke Haris yang kini berdiri di sampingnya.


"Jangan sebut mama, karena sekarang mama bukan ibu kamu lagi!" Sentak Bu Cahyani.


"Ma... Aku mohon jangan begitu," mohon Haris sembari mengiba kepada ibunya.


"Kenapa kamu membohongi mama dan mengatakan kalau kamu sudah putus sama wanita itu!" Geram Bu Cahyani, apalagi melihat Janet yang tertunduk diam.


"Dan sekarang apa? Bahkan mama tahu dari mulut orang lain kalau kamu sudah menikahi dia. Jika kamu masih menganggap mama ibu kamu, tinggalkan dia dan ceraikan dia!"


"Ma, mana mungkin aku menceraikan Janet. Aku sangat mencintai Janet, ma...." sergah Haris tak setuju dengan perkataan Ibunya.


"Kalau gitu, jangan lagi kamu menganggap mama ibu kamu lagi. Camkan itu baik-baik." Setelah itu Bu Cahyani memilih meninggalkan apartemen Haris.


Haris mengusap wajahnya kasar dan menarik nafas panjang.


"Mas, bagaimana ini. Gara-gara aku, mas sudah tidak di anggap anak oleh ibu kamu," ujar Janet merasa bersalah.


"Mau bagaimana lagi, daripada aku harus meninggalkan kamu dan aku nggak akan sanggup kehilangan kamu, sayang."


"Nanti aku bicara lagi sama mama," jawab Haris yang langsung memeluk Janet, sekarang hidupnya akan terus bermuara pada Janet.


Waktupun terus bergulir, dua bulan sudah usia pernikahannya dan saat ini Janet tengah duduk di closet dan memandangi benda tipis bergaris dua. Janet tersenyum bahagia karena sekarang dirinya tengah mengandung buah cintanya bersama Haris.


Saat akan mengatakan kepada Haris soal kehamilannya, Haris di telpon ibunya dan memintanya datang ke rumahnya, karena papanya Haris jatuh sakit.


"Aku ke rumah orang tuaku dulu," pamit Haris dan di anggukan oleh Janet.


Setelah beberapa jam lamanya, Janet mendapatkan ponselnya bergetar, tanda pesan masuk ke ponselnya. Janet membuka pesan tersebut dan membacanya. Janet ternganga membaca pesan tersebut yang mengatakan kalau Haris tengah berselingkuh dengan wanita lain. Di dalam pesan tersebut ada alamat dimana Haris berada dengan wanita lain.


Tanpa pikir panjang, Janet bergegas menemui Haris. Sekitar setengah jam, Janet tiba di sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Janet segera mengetuk pintu rumah tersebut dan langsung di buka oleh ART-nya.


"Dimana Haris?" Tanya Janet tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Pak Haris ada di dalam kamar," jawab Art itu dengan nada gugup.


"Tunjukkan dimana kamarnya?!"


"Disana," tunjuknya di lantai atas.


Janet bergegas menuju kamar tersebut, saat sudah di depan kamar. Janet langsung membuka pintu kamar itu dan betapa terkejutnya dirinya melihat Haris tengah bergumul dengan wanita lain tanpa sehelai benang menutupi tubuh Haris dan wanita itu.


Seketika hatinya hancur berkeping-keping melihat suami yang di cintainya itu tengah bercumbu mesra dengan wanita lain. Dadanya langsung terasa sesak, sakit bukan main.


"Maaasss...!!" Teriak Janet yang sudah berurai air mata.


Haris yang sudah di tulikan oleh hawa naff sunya tidak memperdulikan Janet dan melanjutkan permainan panasnya.


Janet menggelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang di lihatnya, bahkan Haris tidak memperdulikan dirinya. Janet yang sudah tidak sanggup melihat suaminya tengah bercumbu mesra dengan wanita lain, langsung meninggalkan kamar tersebut dan turun tergesa-gesa ke pintu keluar. Dunianya terasa runtuh, hatinya terkoyak sakit. Sungguh dirinya tak menyangka kalau Haris begitu jahat mengkhianatinya.


"Sakit ... Sungguh sakit hati ini," rintih Janet sembari memegangi dadanya yang menyesakkan. Air matanya terus mengalir deras membasahi pipinya.


Janet memilih pergi ke rumah ayahnya, tapi saat tiba di sana. Rumah ayahnya ternyata di segel oleh bank dan bagaimana dirinya tidak mengetahui kalau ayahnya memiliki hutang. Janet bertanya kepada tetangga ayahnya dan mereka bilang kalau Pak Budi pergi merantau ke luar kota bersama ibu sambungnya, setelah rumahnya di segel.


Janet kembali pergi ke jalan dan tak tahu arah. Hidupnya yang sudah kacau karena Haris yang berselingkuh, di tambah lagi dengan ayahnya yang pergi menjauh dari hidupnya.


Janeta sudah kalut akan hatinya, hingga tanpa sadar dirinya hampir tertabrak mobil. Untung saja ada seseorang yang menarik tangannya ke pinggir jalan.


"Kalau jalan hati-hati! Hampir saja kamu ketabrak mobil!" Sentak wanita itu.


Janet semakin menunduk sedih, bukan karena di marahi oleh orang lain, tapi Janet sedih akan hidupnya.


"Sebenarnya kamu mau kemana sih! Kaya orang linglung gitu," ucap wanita itu dengan sedikit membentak Janet.


"Aku nggak tahu mbak. Hidupku sudah hancur...."


🌺🌺🌺🌺

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like πŸ‘πŸ‘


To be continued....


__ADS_2