
Liora menghentakkan kakinya kesal, karena Marshall menolaknya dan tidak mementingkan dirinya dan memilih latihan basket dengan teman-temannya ketimbang dengan dirinya, yang notabenenya adalah pacarnya.
Marshall pun pergi dari rumah Liora dan membiarkan Liora merajuk karena dirinya memilih pulang dan tidak peduli dengan kemarahan Liora. Sedangkan Liora mencebikan bibirnya kesal melihat Marshall pergi begitu saja tanpa ada peluk-pelukkan, seperti yang sering mereka lakukan ketika Marshall pamit untuk pulang.
"Sebel... Sebel...!" Kesal Liora, lalu Liora masuk ke dalam rumah dan menutup keras pintu rumahnya.
Marshall pulang menggunakan taksi online, saat tengah mengamati jalanan dan kebetulan taksi yang di tumpangi nya melewati jalan pahlawan. Pandangan Marshall tertuju kepada sosok wanita cantik dengan baju tidurnya yang melekat di tubuhnya dan dia adalah Zee. Zee tengah berjalan ke arah pedagang pecel ayam.
"Berhenti, Pak," ucap Marshall dan taksi itupun berhenti.
"Kenapa, mas?" Tanya pak drivernya, seraya melirik Marshall dari kaca spion.
"Saya turun di sini saja," terang Marshall sembari mengulurkan uang.
"Tapi, Mas. Tempat tujuannya kan masih jauh?" Ucap pak driver lagi.
"Iya, saya tahu. Tapi saya turun di sini saja," pungkas Marshall, lalu Marshall membuka pintu mobil dan turun.
Marshall kemudian menghampiri Zee yang tengah berada di tenda pecel ayam itu. Tanpa di sadari Zee, Marshall langsung duduk di sampingnya. Pandangan Zee terfokus ke layar ponsel.
"Lagi lihatin apa?" Kepo Marshall menatap wajah Zee dari samping.
"Eh! Kamu kok ada di sini?" Terkejut Zee melihat Marshall yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kalau aku ada di sini, berarti aku mau makan," tukas Marshall.
"Mang! Pecel lelenya satu ya," pinta Marshall, dan penjual pecel ayam itupun mengangguk.
Zee kembali fokus dengan ponselnya dan mengabaikan keberadaan Marshall di sampingnya.
"Oh ya, kalau boleh tahu. Sebelumnya kamu sekolah dimana?" Tanya Marshall karena dirinya bingung mau ngomong apa, karena Zee diam saja.
Zee tidak menjawab pertanyaan Marshall dan hanya melirik saja tanpa mau menjawabnya. Marshall menghela nafasnya, karena Zee mengabaikan pertanyaan yang di lontarkannya. Apa sesusah itu pertanyaan yang tanyakan nya, sehingga Zee tidak mau menjawabnya. Pikir Marshall sembari melirik Zee.
Pecel ayam milik Zee sudah matang dan sudah ada di depannya. Zee langsung saja memakannya, begitupun juga dengan pecel lele milik Marshall. Mereka berdua makan tanpa ada pembicaraan, sesekali Marshall melirik Zee yang tengah menyantap makanannya.
Zee lebih dulu menyelesaikan makannya, setelah itu Zee membayar dan segera pulang. Marshall yang melihat Zee akan pulang, langsung menghentikan makannya dan ingin mengantarkannya pulang ke rumahnya, tapi sebelum itu Marshall membayar terlebih dahulu.
Marshall berjalan cepat ke samping Zee yang lebih dulu melangkahkan kakinya. Zee melihat heran kepada Marshall yang kini ikut melangkahkan kakinya menuju gang kosannya.
"Mau nganterin kamu pulang? Kenapa memangnya?" Jawab Marshall.
"Nggak perlu, aku bisa pulang sendiri tanpa di antar sama kamu," tolak Zee.
"Tapi, aku tetap mau antar kamu pulang," kekeuh Marshall.
"Ngapain! lebih baik kamu pulang."
__ADS_1
"Aku nggak mau pulang, sebelum mengantarkan kamu pulang," kekeuh Marshall
"Terserah kamu lah!" ucap Zee.
Akhirnya Marshall mengantarkan Zee pulang, sepanjang perjalanan menuju kosannya, Zee diam saja. Marshall juga diam dan bingung mau memulai pembicaraan apa.
"Masih jauh rumah kamu?" tanya Marshall.
"Nggak," jawabnya singkat.
Marshall mengernyitkan dahinya ketika keduanya sudah tiba di sebuah kos-kosan. Marshall menatap Zee yang kini tengah membuka kunci pintu kamar kosannya.
"Kamu ngekos?" Tanya Marshall.
"Iya," jawab Zee singkat.
"Kamu ngekos sendiri atau sama orang tua kamu?" Tanya Marshall lagi.
"Itu bukan urusan kamu. Sana pulang!" Usir Zee, karena Marshall tak kunjung pergi dari depan kosannya.
"Kamu usir aku." seraya menunjuk telunjuknya ke dirinya sendiri.
"Iya, dan aku mau tidur," ujar Zee, lalu Zee membuka pintunya . "Sana pulang!" dan setelah itu Zee menutup pintunya tanpa mempedulikan keberadaan Marshall yang masih berdiri di depan kosannya.
__ADS_1
"Susah banget sih, berteman dengannya," gerutu Marshall seraya memandangi pintu kosan Zee yang sudah tertutup rapat, lalu Marshall melangkah pergi meninggalkan kosan Zee.
Di dalam Zee mengintip Marshall dari balik gorden jendela, dan Zee melihat tatapan kecewa dari wajah Marshall. Bukannya Zee tidak mau berteman, tapi Zee takut kejadian seperti dulu lagi terulang. Dimana teman-temannya menjauhi dirinya setelah tahu kalau dirinya seorang anak dari mucikari, dan Zee nggak mau itu terjadi lagi. Zee berusaha tidak mau terlalu dekat dengan siapapun, baginya nggak ada teman yang tulus. Sudah cukup baginya dengan kesendirian ini dan tidak mau lagi dekat dengan siapapun, entah itu perempuan atau laki-laki.