Hujan Ajarkan Aku Kuat

Hujan Ajarkan Aku Kuat
mencuci panci


__ADS_3

Sejak kencannya gagal, Marshall tak putus asa untuk mengajak Zee untuk kencan lagi. Akan tetapi, ayah Haris tidak mudah begitu saja memberi izin. Mau tidak mau Marshall harus melewatinya dulu, meski kesal Marshall tetap menjalankannya.


Seperti saat ini, ketika Marshall meminta izin mengajak Zee jalan-jalan sore. Ayah Haris tidak semudah itu mengatakan iya boleh, tapi ayah Haris memberi tantangan yaitu harus mencuci panci besar dengan pantat panci super duper hitam.


"Sebelum kamu pergi, kamu bersihkan panci ini sampai kinclong dan jangan lupa. Itu pantat pancinya harus kamu gosok sampai kinclong juga. Ngerti kamu!"


Marshall menelan Salivanya, bukannya tak sanggup jika hanya membersihkannya saja, tapi masalahnya si pantat panci? Apa mungkin bisa sampai kinclong. Sedangkan yang Marshall tau menghilangkan pantat panci yang sudah sangat hitam itu sangat sulit.


"Sekarang kamu kerjakan," titah ayah Haris.


Ayah Haris langsung meninggalkan Marshall yang masih mematung di tempatnya dengan senyum tipisnya.


"Ayah jahat!" Dengus Zee dengan bibir manyunnya. Baginya, ayahnya itu keterlaluan. Memang salah kalau ada lelaki yang suka sama dirinya?.


Berkali-kali Zee menggerutu ayahnya itu, tapi ayah Haris tetap santai dan duduk meminum kopinya yang masih mengeluarkan asap panas dengan satu kaki di naikan ke atas kursi.


"Aah... Nikmatnya kopiku," cetus ayah Haris.


"Iih... Ayah nyebelin!" Zee merengut kesal seraya menghentak-hentakkan kakinya. Kemudian Zee menemui Marshall di dapur. Zee menatap Marshall dengan tatapan kasihan.


"Ayah benar-benar nggak punya perasaan!" gerutu Zee pelan.


Zee mendekati Marshall yang tengah jongkok membersihkan panci tersebut.


"Aku bantu ya," tawar Zee dan Zee juga ikut jongkok di samping Marshall.


"Eh! Nggak usah. Nanti tangan kamu jadi kasar. Sudah nggak apa-apa aku sanggup kok ngebersihinnya. Kamu nggak usah risau dan kamu harus percaya sama aku," ucap Marshall meyakinkan Zee.

__ADS_1


"Tapi ini lama dan sulit untuk di bersihinnya." Zee benar-benar tidak tega membiarkan Marshall mengerjakan pekerjaan yang nggak seharusnya di kerjakan olehnya.


"Aku kan sudah bilang. Aku sanggup kok ngebersihinnya." Sekali lagi Marshall meyakinkan Zee dengan memberikan senyum manisnya.


"Kalau gitu, aku temani kamu aja disini. Biar kamu semangat," ucap Zee.


"Nah... Kalau itu boleh. Biar tambah semangat lagi beri satu ciuman di pipi," timpal Marshall seraya mendekatkan wajahnya ke Zee.


Zee mendorong pipi Marshall. "Nggak!"


"Ya... Nggak jadi semangat deh...." Lesu Marshall memanyunkan bibirnya.


Tidak lama Mami Janet yang sudah pulang dari warung, tercengang melihat Marshall tengah membersihkan pancinya, apalagi yang di lihatnya tengah menggosok-gosokkan pantat panci yang hitam itu.


"Loh... Loh... Kok, kamu membersihkan panci sih! Kamu juga Zee, kenapa kamu membiarkan dia membersihkan panci ini," omel Mami Janet.


Zee bangun dari jongkoknya. "Yang seharusnya di salahin tuh bukan aku, tapi ayah. Ayah yang menyuruh Marshall membersihkan panci ini sampai kinclong," adu Zee kepada Mami Janet.


"Iyalah. Marshall kan datang kesini cuma mau ngajakin aku jalan tapi ayah malah nyuruh ngebersihin panci." Sekalian aja Zee mengadu kelakuan ayahnya kepada sang ibu.


"Marshall, sudah hentikan. Jangan di teruskan dan biarkan pancinya di situ. Kalian mau jalan. Jalan saja."


Akhirnya Mami Janet jadi penyelamat buat Marshall. Marshall segera mencuci tangannya dan segera berdiri.


"Terima kasih, Tante. Kalau gitu saya dan Zee pamit pergi dulu," pamit Marshall.


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Mami Janet.

__ADS_1


"Iya, Tante. Ayo Zee kita berangkat," ajak Marshall.


Zee dan Marshall segera meninggalkan dapur dan saat akan melangkah keluar rumah, ternyata ayah Haris tengah duduk di teras seraya memberi makan burung kesayangannya itu.


"Eh, siapa yang nyuruh kamu pergi," ucap ayah Haris yang melihat Marshall keluar rumah seraya menggandeng tangan Zee.


Seketika langkah Marshall terhenti karena mendengar ucapan ayah Haris.


"Ibu! Sudah kalian berdua pergi saja," timpal Mami Janet.


"Iya Tante," jawab Marshall.


Marshall dan Zee segera berangkat dan pergi sesuai dengan rencananya. Sedangkan ayah Haris mendelik ke arah Mami Janet, karena membiarkan Zee pergi dengan Marshall.


"Kenapa kamu membiarkan dia pergi," ucap ayah Haris.


"Memang salah, kalau aku membiarkan Zee pergi dengan Marshall ! Hemm...." Kata Mami Janet.


"Ya ... Nggak salah, tapi kita sebagai orang tua Zee, wajib waspada. Siapa tahu tuh anak cuman iseng doang," balas ayah Haris yang tetap tidak mau kalau anaknya itu hanya di permainkan saja.


"Iseng darimana? Kalau Marshall cuma iseng, sudah aku tendang anak itu dari dulu mereka pacaran. Sudahlah... Kita harus positif thinking dan aku percaya Marshall itu nggak kaya kamu!"


"Loh! Kok aku yang kena?" Ayah Haris merasa heran.


"Makanya! Kalau nggak mau di salahkan. Biarkan anak kita menjalin kasih dengannya. Sekarang giliran ayah yang mencuci panci itu sampai kinclong." Titah ibu negara dan apa yang sudah di suruhnya tidak bisa di ganggu gugat.


"Ya... Aku lagi aku lagi yang kena," keluh ayah Haris yang langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi.

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


Hai, pembaca setia cerita ini. Othor minta maaf ya, sudah beberapa hari ini, othor nggak update karena othornya sudah hampir seminggu sakit. Mungkin othor belum bisa update secara rutin dan doakan othor ya. Terima kasih πŸ™πŸ™


__ADS_2