
Pagi-pagi sekali, Zee sudah bangun dan kini Zee berada di dapur. Zee ingin membuat sarapan untuk ibu tersayangnya.
Seorang wanita cantik mendekati Zee yang tengah memasak. Zee menoleh dan tersenyum kepada wanita itu. Wanita itu terlihat ingin berbicara dengan Zee, akan tetapi wanita itu terlihat ragu untuk memulai pembicaraannya.
" Kenapa, Mba? Sepertinya ada sesuatu yang ingin Mba sampai sama aku," ucap Zee yang masih fokus memasak.
"Iya, aku mau meminta tolong sama kamu," ucapnya ragu.
"Memang mau minta tolong apa?" Tanya Zee lagi. Zee mematikan kompornya dan menghadap ke arah wanita itu.
"Tolong bantuin aku keluar dari sini. Saat ini ibuku tengah sakit parah dan beliau sangat membutuhkan aku di sampingnya," terangnya dan wanita itu terlihat murung.
Zee melihat kesedihan di wajah wanita itu. Hatinya Zee terenyuh mendengar perkataannya. Anak mana yang tidak khawatir dan cemas mendengar ibu yang telah melahirkan kita tengah sakit parah.
"Aku sih mau-mau aja bantu Mba. Asal mba-nya jangan balik lagi ke tempat ini dan berhenti bekerja jadi wanita penghibur. Terlepas karena apa, sampai mba berada di sini."
"Sebenarnya aku tuh di jual sama papa tiri aku, demi uang lima puluh juta. Makanya, sekarang aku berada di sini dan sekarang aku ingin keluar dari sini. Aku bingung mau minta tolong siapa? Dan katanya kalau mau keluar dari sini, kita harus bayar denda." Ungkap wanita itu. Mata wanita itu terlihat sedih.
Zee menggelengkan kepalanya. Segitu kejamnya ibunya itu.
"Baiklah, aku akan bantu Mba keluar dari sini. Aku akan coba bicara sama ibu. Sekarang yang terpenting, mba terus mendoakan ibu mba, agar cepat sembuh."
Zee mengusap bahu wanita itu, berharap wanita itu tetap bersabar.
Zee menghela nafasnya, dan Zee tidak akan membiarkan wanita itu semakin sedih. Zee akan berusaha membebaskan wanita itu dari tempat terkutuk ini. Mungkin bukan hanya untuk wanita itu saja, tapi untuk yang lainnya.
Zee berharap semua wanita yang bekerja menjadi wanita penghibur, mendapatkan hidayah dan tidak kembali ke jalan yang sesat ini.
"Terima kasih ya, kamu sudah bersedia membantu aku keluar dari sini," ucap wanita itu tulus.
"Iya, sama-sama. O ya... Namaku Zee. Nama mba nya siapa?"
"Namaku Wanda."
Zee dan Wanda saling berjabat tangan dan saling lempar senyum.
"Kalau gitu, aku pergi dulu. Sekali lagi terima kasih sudah mau membantu aku."
__ADS_1
"Iya...."
Setelah Wanda pergi, Zee segera memindahkan masakannya ke piring.
Zee membawa hasil masakannya ke kamar ibunya. Zee tersenyum melihat ibunya sudah bangun dan tengah duduk di depan meja rias.
"Ini sarapannya, Bu."
Zee meletakkan sarapannya di nakas, lalu Zee menghampiri ibunya yang masih duduk di depan meja rias. Zee meraih sisir dan menyisir rambut ibunya itu.
Mami Janet tersenyum hangat melihat anaknya yang perhatian terhadapnya.
"Bu, aku boleh bicara sesuatu." Ucap Zee , yang kini sudah selesai menyisir rambut ibunya itu.
"Mau bicara apa?" Tanya Mami Janet.
"Ini mengenai seseorang yang ingin berbakti kepada ibunya."
"Siapa?" Mami Janet mengernyitkan dahinya.
"Dia adalah seorang anak yang ingin berbakti kepada ibunya yang saat ini tengah sakit parah, dan hanya dia satu-satunya orang yang harus berada di sisi ibunya itu. Tapi sayangnya, dia tidak bisa merawat ibunya itu, karena dia saat ini tengah terpenjara di lubang penuh dosa."
"Maksud kamu apa? Siapa yang kamu maksud dia," kata Mami Janet yang masih bingung.
"Siapa yang di maksud dia. Dia adalah Wanda. Seorang anak yang telah di jual oleh papa tirinya, hanya karena demi uang. Papanya tega menjual anak tirinya. "
"Wanda...?"
"Iya, Wanda. Bu, aku mohon bebaskan dia dari sini. Biarkan dia merawat ibunya yang sakit parah. Sekarang coba, seandainya ibu berada di posisi ibunya Wanda. Apa yang ibu rasakan ketika ibu tengah sakit lalu jauh dari anak ibu."
Mami Janet terdiam, ia juga baru saja sakit dan ia merasa sedih ketika ia sakit tapi Zee tidak ada di dekatnya. Tapi saat Zee sudah berada di dekatnya, seketika hatinya senang bisa di rawat oleh anak tersayangnya.
"Bu... Aku mohon dengan sangat. Bebaskan Wanda dari sini. Saat ini hanya Wanda yang menjadi harapan ibunya."
Zee memohon penuh harap agar ibunya mau membebaskan Wanda begitu saja, tanpa ada embel-embel denda.
"Tapi Zee... Wanda itu kembangnya indehoy. Banyak lelaki yang menginginkan tubuhnya dan Wanda itu mahal. Ibu nggak bisa bebaskan dia dari sini."
__ADS_1
Zee mendengus geram dengan ibunya. Apa yang ada di otak Ibunya itu, sungguh Zee tidak mengerti jalan pikiran ibunya itu. Begitu picik hati ibunya itu.
"Bu...! Apa ibu nggak punya hati. Ibunya Wanda itu tengah sakit P A R A H. Dimana hati nurani ibu! Padahal ibu adalah seorang ibu yang sama-sama memiliki seorang anak."
"Ya... mau gimana lagi. Ibu nggak bisa lepaskan Wanda. Itu sangat di sayangkan, bila ibu melepaskan dia dari sini."
Zee mengusap wajahnya.
"Baiklah. Jika ibu nggak bisa melepaskan Wanda dari sini, aku akan melakukan hal nekat."
Zee melangkah keluar dan membuka pintunya kasar. Mami Janet yang khawatir dengan ucapan Zee, segera mengikuti langkah anaknya itu.
Mami Janet tahu, watak anaknya itu. Jika dia sudah nekat maka akan susah di cegahnya dan dirinya tidak akan membiarkan itu terjadi.
Zee sudah berdiri di lantai bawah, lalu Zee menggeser sofa-sofa menjadi satu. Zee melangkah cepat ke arah tirai dan menarik tirai tersebut.
Mami Janet yang melihat itu, semakin gelisah melihat anaknya itu tengah mengumpulkan kain gorden.
"Zee, apa yang kamu lakukan!"
"Ibu mau tahu apa yang akan aku lakukan!" Berang Zee yang semakin emosi.
Mami Janet membulatkan matanya, melihat Zee mengeluarkan korek api dan Zee meraih kain gorden itu dan akan membakar kain gorden itu, yang artinya Zee akan membakar isi rumah ini.
"Stop! Jangan di bakar! Oke... Ibu akan membebaskannya," cegah Mami Janet dan ia tidak mau rumahnya yang selama ini menjadi tempat bernaungnya harus di bakar oleh anaknya sendiri.
"Aku nggak percaya dengan ucapan ibu!"
"Ibu... Ibu serius dengan ucapan ibu."
Zee menyipitkan matanya melihat ibunya yang terlihat ketakutan kehilangan rumahnya, yang selama ini menjadi tempat ATM-nya mendapatkan uang.
Zee tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Ini adalah cara satu-satunya mengancam ibunya dan ia berhasil memperdaya ibunya itu.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_ \*\*\*\*\* \_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍
__ADS_1
To be continued....