
Berkali-kali Marshall mendengus kesal, lantaran ayahnya Zee benar-benar mengganggu acara ngedate nya bersama Zee. Gimana Marshall tidak kesal. Ayah Haris duduk di tengah antara Zee dan Marshall, membuat Marshall menggeram di dalam hatinya.
Marshall terus berkomat-kamit dan melirik kesal ke arah ayahnya Zee. Sedangkan ayah Haris tetap terlihat santai dan tidak memperdulikan perasaan kedua anak muda itu. Benar-benar ayah yang tidak pengertian.
Zee juga merasa tak nyaman dan tidak bebas melepaskan rasa cintanya terhadap Marshall. Padahal dirinya ingin sekali bersandar di pundak Marshall, sambil menonton film bergenre romantis.
Acara nonton yang tadinya ingin romantis-romantisan gagal total. Ini pertama kalinya seorang Marshall kencan di buntuti oleh ayah si cewek. Benar-benar membuat Marshall sedikit frustasi, karena tidak bisa bebas deket-deketan sama zee. Setelah filmnya selesai, Marshall, Zee dan ayah Haris memilih makan di restoran cepat saji.
"Zee, ayah mau yang paket combo," pintanya.
"Baik, ayah." Zee segera memesannya dan mengantri terlebih dahulu.
"Kamu mau kemana?" Cegah ayah Haris kepada Marshall.
"Mau nemenin Zee, Om."
"Nggak usah. Kamu disini saja," tukas ayah Haris.
Marshall yang tadinya sudah berdiri, kini duduk lagi.
"Sudah lama kamu kenal anak Om," ucap ayah Haris.
"Sudah, Om."
"O ya... Tapi kok Om baru lihat kamu," tanya ayah Haris lagi.
"Karena saya tinggalnya bukan disini, tapi di Jakarta," terang Marshall.
"Jakarta?" Haris menautkan alisnya.
"Iya. Saya kenal dengan Zee waktu kami masih sekolah di SMA Nusa Bangsa dan baru kemarin kami bertemu lagi."
Ayah Haris mangut-mangut. Zee sudah datang membawa makanannya. Marshall segera membantu Zee membawa nampan berisi paket ayam goreng dan minuman.
Marshall, Zee dan ayah Haris segera memakannya. Selesai makan mereka memilih untuk pulang, karena waktu sudah menunjukkan sekitar pukul setengah sepuluh malam.
Zee tetap di boncengin oleh ayahnya dan Marshall mengikutinya dari belakang.
Tiba di rumah, ayah Haris memasukkan motornya ke rumah. Sedangkan Zee masih menemani Marshall di luar.
"Kamu jangan kapok ya," kata Zee.
"Iya, tapi tetap saja aku nggak leluasa ngedeketin kamu." Marshall tetap mengungkapkan kekecewaannya.
"Tapi nggak apa-apa kok, anggap saja ini sebagai bentuk usaha aku mendapatkan restu dari ayah kamu," sambung Marshall.
"Zee! Cepat masuk. Ini sudah malam," tegur ayah Haris di ambang pintu.
"Iya, ayah," jawab Zee. Setelah itu ayah Haris masuk kembali ke dalam rumah.
"Begini ya, rasanya ngedeketin anak gadis orang. Harus melewati ayahnya dulu," tukas Marshall.
__ADS_1
Zee hanya tersenyum.
"Tapi sebelum aku pulang, beri aku sebuah ciuman di sini." Tunjuk Marshall di pipi kirinya.
Zee mengangguk dan memajukan wajahnya mendekati pipi kiri Marshall. Saat akan mendaratkan bibirnya di pipi Marshall, Marshall langsung merubah posisi wajahnya sehingga bukan pipi yang Zee cium, melainkan bibirnya Marshall.
Zee membulatkan matanya dan Zee akan menarik wajahnya, tapi Marshall menahan kepala Zee.
Marshall terus memangut bibir Zee dengan lembut dan menikmati momen ini. Mumpung ayahnya Zee tidak ada dan tidak mengawasinya.
Marshall menarik wajahnya dan mengusap bibirnya Zee yang basah.
"Aku pulang," pamit Marshall dan Zee menjawabnya dengan anggukan.
Sekali lagi Marshall mencium bibir Zee, tapi kali ini hanya sebentar. Marshall segera naik ke motornya.
"Sana masuk," suruh Marshall dan Zee pun melangkah masuk ke dalam rumahnya.
Setelah melihat Zee masuk. Marshall segera meninggalkan rumah Zee dengan senyum terus mengembang. Meski kencannya gagal tapi dirinya berhasil mencium bibirnya Zee. Mungkin ini bonusnya.
Marshall sudah sampai di villa dengan langkah ringan dan wajah yang berseri-seri.
Marshall langsung merubuhkan tubuhnya di atas kasur, masih dengan senyumnya. Membuat ketiga sahabatnya itu terheran-heran.
Dhika yang melihat Marshall senyum-senyum sendiri dan tidak jelas, membuat dirinya ingin melakukan sesuatu. Dhika menghampiri Marshall dan memegangi kepalanya dengan tangan kanannya.
"Pergi kamu Cong! Jangan ganggu temanku, Cong!" Ucap Dhika dan membuat Marshall menatap heran melihat kelakuan Dhika terhadapnya.
"Minggat kamu, Cong! Kalau tidak gue cekik kamu, Cong!"
"Eh! Bengek. Kamu kira aku ke surupan apa!" Bengis Marshall yang langsung menyingkirkan tangan Dhika di kepalanya.
"Oh... Aku pikir elu kesurupan. Habisnya elu pulang-pulang senyum-senyum sendiri," jawab Dhika seraya ancang-ancang menghindari amukan Marshall.
"Sialan lu!!" Kesal Marshall dan langsung menyerang Dhika.
Dhika ngibrit berlari keluar kamar, tapi sayang Marshall lebih cepat menangkap tubuh Dhika dan menggulingkannya di lantai.
"Rasain ini," tukas Marshall sembari menindih tubuh Dhika.
"Ampun, Shall...." Teriak Dhika.
Marshall menyingkir dari tubuh Dhika dan kembali melangkah ke atas kasurnya.
"Berat tau nggak badan elu!" Cibir Dhika.
"Berisik!" Ketus Marshall.
Byan dan Sigit hanya menggelengkan kepalanya, tapi tawanya masih terdengar.
Marshall mengeluarkan handphonenya dan mencari nomor pujaan hatinya. Marshall langsung menelpon Zee dan tidak menunggu lama, Zee langsung mengangkat telponnya.
__ADS_1
"Halo sayang...." Sapa Marshall.
Ketiga sahabatnya itu mendengus mendengar suara manja Marshall.
"Sudah tidur belum?"
"Belum," jawab Zee.
Marshall menekan tombol loud speaker.
"Pasti lagi mikirin aku ya," balas Marshall.
"Nggak juga."
"Bohong, aku nggak percaya," tukas Marshall seraya melirik ketiga sahabatnya itu.
"Ayo jujur. Kamu lagi mikirin aku kan."
"Iya-iya. Aku memang tengah mikirin kamu," jawab Zee di ujung telepon.
"Pasti kamu juga lagi mikirin soal tadi."
"Soal yang mana?" Tanya Zee.
"Soal kita ciuman di depan rumah kamu," tukas Marshall dan hal itu sukses membuat ketiga sahabatnya mencibir Marshall.
"Apaan sih."
"Tapi kamu suka kan dan pastinya kamu pengen lagi di cium sama aku."
"Nggak juga," jawab Zee.
Sedangkan Sigit, Byan dan Dhika memilih keluar dari kamar. Ternyata mendengarkan perkataan Marshall membuat jiwa jomblonya meronta-ronta.
"Huuh dasar bucin," sungut Dhika seraya melempar bantal ke arah Marshall.
Marshall hanya menjulurkan lidahnya dan melanjutkan obrolannya dengan Zee. Hingga dua jam sudah berlalu, tapi Marshall dan Zee masih telpon.
Sigit dan Dhika menggelengkan kepalanya, karena sudah dua jam Marshall masih teleponan.
"Wow! Sudah malam. Masih saja teleponan," tegur Dhika dan di balas dengan delikan Marshall.
Marshall tidak memperdulikan Omelan Dhika, dirinya tengah asik berbincang dengan Zee.
Dhika menutup telinganya dengan bantal, karena Marshall masih melous speaker telponnya.
Dhika geram, karena dirinya sudah mengantuk tapi terganggu dengan kelakuan Marshall yang sengaja melous speaker telponnya.
"Shall, besok lagi telponnya. Gue sudah ngantuk tahu!" Geram Dhika.
"Iya-iya, ini juga udahan," sahut Marshall.
__ADS_1
"Sayang, udah dulu ya telponnya. Met bobo dan muach."
Dhika merasa jijik mendengar ciuman Marshall dan Marshall mematikan sambungan teleponnya, dengan senyum tersungging di bibirnya.