
Keesokan harinya setelah semua persiapan selesai aku membawa barang bawaanku keluar.
Meski kubilang barang bawaan sebenarnya tidak terlalu banyak juga, sih. Paling hanya baju atau beberapa perlengkapan harian yang cukup penting untuk menunjang kehidupan sehari-hari.
Aku tahu aku mempunyai skill Spatial Storage yang bisa menyimpan benda mati tapi mengingat aku masih berada di lingkungan Ardenheim, kuputuskan untuk tidak memakainya karena mereka bisa curiga dan mungkin mencegahku pergi setelah mengetahui aku memiliki Spatial Storage.
Spatial Storage (1) ; dapat menampung benda mati di dimensi lain dengan kondisi sempurna.
Menurut latar yang kuciptakan pada novelku, sebenarnya skill yang bisa menyimpan barang serupa Spatial Storage bukanlah sesuatu teramat langka namun mengingat Spatial Storage dapat menyimpan benda mati dalam kondisi sempurna skill ini bisa dikatakan kasus yang langka.
Normalnya skill sejenis Spatial Storage hanya mampu paling hebat melambatkan arus waktu di dimensi penyimpanan, tetapi Spatial Storage dapat menghentikan waktu sepenuhnya.
Jadi, Spatial Storage bisa dikatakan adalah versi paling mukhtahir dari seluruh skill penyimpanan di dunia ini—meski untuk saat ini luasnya masih kubilang kecil.
Maka dari itu agar Ardenheim sekeluarga tak mencurigaiku aku membawa barang bawaanku di tas lusuh yang terdapat di gudang—kamarku.
"Tuan Fain." Seorang pria tua beruban dan berpakaian ala butler datang mendekat. "Tuan Gustav menitipkan ini untuk diberikan kepadamu sebagai bekal perjalanan."
Pria tersebut menyerahkan sebilah pedang serta sebuah kantung kecil yang setelah kuperiksa ternyata berisi beberapa keping koin perunggu.
Alisku secara spontan terangkat. "Huh? Ayahanda memberikan ini?"
"Benar. Beliau berkata tidak pantas jika seorang orangtua, terutama ayah, tak memberikan bekal sepeser pun ketika anaknya akan pergi."
.... Kau yakin dia berkata seperti itu? Setelah menyuruhku tinggal di gudang lusuh yang kusebut sebagai kamar? Aneh.
Tapi, yah, kalau diperhatikan lebih jauh meski Gustav terlihat dan terdengar seperti bangsawan berengsek, sebenarnya dia hanya seorang yang tegas dan menaati aturan serta etika bangsawan.
Aku tidak tahu mengapa Leonard sangat suka bermain fisik di balik Gustav yang begitu tegas dan ketat namun ... ya sudahlah, aku tidak terlalu mengerti.
"Baik, terima kasih sudah mengantarnya, Galus." Aku mengangguk dan menerima pedang pemberian Galus, sang kepala pelayan kediaman Ardenheim. "Tolong sampaikan terima kasihku juga kepada Ayahanda."
"Tentu saja." Galus membungkuk sejenak secara elegan memperlihatkan aura kepala pelayan yang begitu kental.
"Oh, ya, tolong juga ingatkan Ayahanda agar memikirkan baik-baik mengenai peringatanku."
"Peringatan ... maksud tuan Fain mengenai serangan besar-besaran Raja Kekacauan yang kemungkinan datang 3 bulan lagi?" Galus menatapku dengan sorot mata memicing.
Aku sekali lagi mengangguk namun tidak disertai jawaban lisan.
Benar, peristiwa Kehancuran Kerajaan Gilard berjarak kurang lebih tiga bulan dari sekarang dan bisa dipastikan bahwa aku bereinkarnasi ke sembilan bulan sebelum cerita utama pada novelku dimulai.
Itu berarti aku harus mengumpulkan minimal 10 koin emas dalam waktu tiga bulan ....
__ADS_1
Uang sebanyak itu jelas-jelas terlalu berlebihan untuk harga kontrak Gisele yang tersisa lima tahun dan biaya untuk membesarkanku selama ini.
Aku benar-benar ingin menghajar diriku sendiri dua minggu lalu sekarang karena menyebutkan 30 koin emas.
"Aku pribadi tidak begitu percaya terhadap peringatan tanpa bukti ini ... tapi baiklah, aku akan menyampaikannya kepada tuan Gustav."
Aku mengangguk mengonfirmasi persetujuan Galus. "Terima kasih."
Beberapa hari setelah aku menemukan kebenaran mengenai dunia ini yang ternyata adalah novel yang kutulis sendiri, aku datang menemui Gustav dan memperingatinya tentang kehancuran Gilard yang kusamarkan menjadi penglihatan dalam mimpi.
Tentu saja dia tidak menanggapi serius peringatanku yang tiba-tiba mencetuskan hal tersebut tanpa bukti dan mengatakan itu hanya mimpi.
Gisele sekalipun hanya menertawai peringatan tersebut dan mengatakan hal serupa dengan Gustav kepadaku.
Yah, aku bisa memahami mengapa mereka tak percaya kepada peringatanku.
Siapa pula yang percaya terhadap perkataan tak jelas dari seorang anak haram?
Saat aku tenggelam dalam pikiranku sendiri mataku menangkap Gisele di belakang mendekat dan menyodorkan sesuatu kepadaku.
"Fain, aku tahu ini tak seberapa namun jika kau berkenan ....." Gisele menyerahkan sebuah gelang rajutan yang terdiri dari belasan benang berbeda warna.
Aku menerima gelang tersebut dengan wajah bingung. "Kak Gisele, ini ...?"
"Uhm .... Itu gelang sederhana buatanku." Gisele berkata. "Kupikir bisa menjadi jimat untuk perjalananmu."
Imut!
Hei, bertahanlah, jantungku! Kalau kau sampai pingsan maka aku yang akan mati!
Aku menarik nafas perlahan menenangkan diri sebelum berucap. "Tentu saja tidak. Aku akan mengenakan dan menjaganya setiap waktu."
"Begini saja tidak masalah?" tanyaku seusai mengikat gelang pemberian Gisele pada pergelangan kiriku.
"Satu hal lagi." Gisele meraih lengan kiriku dan mengecup punggung tangan serta gelang tersebut lalu berbisik kepada gelang pemberiannya. "Tolong lindungi Fain dari segala mara bahaya."
Dia lalu memandangku sesudah berbisik pada gelang dan tersenyum hangat. "Ya, tidak masalah. Semua sudah lengkap."
...
....
.....
__ADS_1
AAHHH! Aku ingin membawa kabur Gisele saat ini juga!
Tapi, jika aku membawa Gisele sekarang maka aku bisa dipenjara oleh Gustav karena melanggar kesepakatan sekaligus penculikan! Bukan mustahil aku dihukum mati setelah itu!
Sabar, Fain! Sabar!
Jika kau ingin pergi bersama Gisele maka kumpulkanlah minimal 10 koin emas terlebih dahulu! Jangan langsung bawa kabur!
Lagipula, jikapun aku menculik Gisele sekarang maka dia mungkin tak terima atas tindakanku dan hal itu justru akan menjadi serangan makan tuan bagiku ....
Tahan dirimu, Fain.
"Kalau begitu aku juga mempunyai sesuatu untukmu."
Aku berdeham sejenak sebelum mengeluarkan sebuah cincin kayu dari saku celana dan menyerahkan cincin tersebut kepada Gisele.
"Ini ...." Gisele terbelalak menerima cincin kayu itu dan kembali menatapku. "Apa tidak apa-apa bagiku menerima sesuatu sebagus ini?"
"Tidak masalah. Aku memang membuatnya khusus untukmu." Aku tersenyum menanggapi kata-kata tersebut.
Cincin ini memang terbuat dari kayu dan aku bukanlah seorang prajin hebat, namun dengan menggunakan Material Shaper aku bisa mengubah bentuk suatu material hingga mendetail dalam skala kecil.
Material Shaper (2) ; dapat memanipulasi bentuk suatu material dalam skala kecil hingga tahap tertentu.
Sekilas skill ini tidak terlalu hebat tetapi dalam hal bertahan hidup, Material Shaper sangatlah berguna.
Aku bisa membuat berbagai peralatan dari bahan seadanya seperti pedang atau pisau batu yang kukumpulkan dan kuubah bentuknya di saat darurat.
Skill ini juga dapat membantuku menghemat pengeluaranku untuk membeli perlengkapan keseharian. Lumayan berguna untuk bertahan hidup di alam liar, bukan?
Gisele memandang cincin kayu di tangannya dengan senyum lebar—yang tentu saja membuatku ikut tersenyum.
"Sini biar kupasangkan untukmu." Aku mengambil cincin tersebut dan memasangkannya pada jari manis sebelah kiri Gisele.
Ekspresi Gisele berseri-seri begitu aku memasangkan cincin pada jemari manisnya. "Fain, apakah kamu mengerti arti memasangkan cincin pada jari manis seorang gadis?"
"Tentu saja. Aku tidak 'sepadat' itu." Aku mengangguk sambil tersenyum. "Dan aku akan memberikanmu yang asli suatu saat nanti."
Gisele tersenyum begitu manis menanggapi. "Ya, aku akan menunggumu."
Setelah mengucapkan perpisahaan kepada Gisele dan pelayan lainnya, dan juga Gustav yang diam-diam memperhatikan dari jendela lantai atas, aku melangkah melewati gerbang kediaman Ardenheim untuk pertama kalinya.
Aku akan kembali lagi dalam waktu tiga bulan seusai menuntaskan tujuanku.
__ADS_1
Aku akan kembali bukan sebagai Alfain Ardenheim, melainkan Alfain saja.
Hanya seorang Alfain.