I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
9. Aku Berjanji


__ADS_3

Hari demi hari berlalu semenjak aku mempelajari kebenaran dunia ini yang ternyata adalah novel buatanku sendiri.


Selama itu pula aku berlatih sendirian dan kamar bak gudang reyotku serta halaman yang tak terlihat oleh siapapun, sekaligus memperkuat diriku menggunakan Authority of Author untuk mengumpulkan skill.


Status serta daftar skillku telah meningkat cukup drastis dibanding sebelumnya.


---


Alfain Ardenheim / Male


Servant (3) / 15 tahun


Str : 20, Vit : 17, Agi : 12, Dex : 15, Mag : 2, Wis : 10, Luk : 10


---


Skill : Cleaning (3), Cooking (4)


Extra Skill : Translation (3), Appraisal (2)


Unique Skill : Authority of Author (2)


Special Skill : Hyper Growth (3), Eternal Wisdom (2), False Data (1), Experience Multiplier (3), Multi Mind (3), Spatial Storage (2), Form Shifter (2), Equivalent Exchange (2), Material Shaper (2)


---


Ya, sekiranya seperti itulah perkembangan status dan skillku selama dua minggu terakhir.


Memang banyak skill baru yang kuciptakan melalui Authority of Author dan semua ini lumayan mencukupi kemampuan bertahan hidupku.


Mengingat Authority of Author hanya bisa digunakan sekali sehari aku menghabiskan delapan hari untuk menggunakan demi memperbanyak skillku, sementara lima jatah Authority of Author lainnya kugunakan untuk menciptakan beberapa perlengkapan.


Sayangnya, selama itu pula Gisele nampaknya menjaga jarak dariku.


Setiap kali aku mendatanginya dia segera mencari alasan dan pergi dari hadapanku. Itu menyakitkan sekali, kau tahu.


Yah, kurasa tidak perlu diherankan mengingat dalam kesepakatanku dengan Gustav aku bisa dibilang ingin membeli Gisele dan hal ini terhitung seperti membeli budak.


Aku rasa wajar jika dia membenciku setelah aku memperlakukannya seperti budak.


Tapi .... "Hatiku tetap saja terasa sakit."


Aku meringkuk di kasur sambil menahan air mata.


Padahal ini malam terakhirku berada di sini tetapi Gisele nampaknya sama sekali tidak mau mendatangi atau hanya sekedar menyapaku. Ini menyedihkan ... sangat menyedihkan.


Aku ingin menangis.


Tepat pada hari ini aku berusia 15 tahun namun tidak ada peristiwa spesial yang terjadi hari ini.


Sepertinya hari ulang tahun tidak dianggap sebagai hari penting di dunia ini, padahal aku sempat menulis bahwa karakter utama di novelku merayakan ulang tahun teman kelompoknya.


Ah, benar juga, aku 'kan anak haram.


Tidak mungkin ada pesta ulang tahun atau kejutan kecil untukku yang seorang anak haram.


Maksudku, selama dua minggu terakhir Leonard dan adik perempuannya yang berasal dari Lilia—kalau tak salah namanya Charla—terus mengusikku setiap kali aku berada di perpustakaan atau tengah berlatih sendirian.


Ibu mereka memang tidak ikut merundungku namun mereka juga tak menghentikan anak mereka dan hanya melihat dari jauh.


Yah, bukan berarti Leonard dan Charla merundungku seperti tukang rundung di bumi. Mereka seringnya merundung secara verbal dan beberapa kali menjahiliku saat sedang latihan, terutama Leonard.

__ADS_1


Entah mungkin karena harga diri sebagai seorang pewaris nama Ardenheim dia sering menantangku adu pedang saat kebetulan melihatku sedang latihan—meski pada akhirnya aku selalu berakhir babak belur melawannya.


Sedangkan Charla .... Anak itu lebih sering menertawakan dan mengejekku setelah aku dibuat babak belur oleh Leonard yang sebenarnya secara usia adalah adikku lebih muda beberapa bulan.


Ya, aku adalah anak tertua di keluarga ini, meski statusku tetaplah anak haram.


Meskipun bersikap demikian Charla tidak menunjukkan permusuhan atau persaingan ketat seperti Leonard, tapi nampaknya gadis berusia 12 tahun itu memang memandang rendah diriku—yah, meski mereka semua juga seperti itu.


Leonard sendiri meskipun sikapnya kasar dan suka bermain fisik, dia juga tak menunjukkan permusuhan mendalam seperti kebencian atau sejenisnya.


Apa mungkin itu cara mereka menunjukkan perhatian dan ingin bermain bersama kakaknya walaupun anak haram?


.... Tidak, sebaiknya aku tak menanggapnya begitu.


Jika salah aku mungkin bisa dihajar setengah mati oleh mereka berdua, belum lagi oleh Gustav dan kedua istrinya.


Ya ampun, kehidupan anak haram memanglah tidak mudah.


Saat mataku mulai terasa berat dan ingin segera terlelap, telingaku menangkap suara ketukan pintu dan satu suara tak asing. "Fain, kamu di dalam? Ini Gisele. Bolehkah aku masuk?"


Huh?! Gisele?! Kenapa dia datang larut malam seperti ini?!


Aku buru-buru bangkit dan membukakan pintu, menemukan Gisele tengah berdiri di hadapanku mengenakan ... kamisol tipis?!


"Ka-Kak Gisele, kenapa datang kemari larut malam begini? Terlebih lagi dengan pakaian seperti itu ...."


"Ah, aku baru mau tidur tapi kuputuskan untuk menemuimu dulu." Gisele menggaruk pipi terlihat malu sambil berkata demikian. "Jadi, boleh aku masuk?"


"Oh, ya, tentu." Aku segera mempersilahkan Gisele masuk dengan jantung berdegup kencang.


Tentu saja, memangnya ada pria yang masih suci mampu menjaga ketenangan saat seorang gadis berkunjung ke kamar menggunakan pakaian tipis tengah malam?! Jawabannya adalah tidak ada!


Bagaimana aku harus menanggapi ini? Apakah kutawari teh hangat saja dulu? Mungkin lebih baik begitu.


"Te-terima kasih." Gisele menundukkan kepala ketika berucap demikian.


Kalau kau merasa malu mengapa kamu mengenakan pakaian tipis begitu dan datang malam-malam begini ke kamarku? Apa kau sengaja mempermainkan hati suci seorang pria berusia 25 tahun di dalam tubuh ini?


Aku kemudian duduk di kursi reyot berseberangan dengan Gisele dibatasi oleh meja bundar tua di tengah, lalu menuangkan teh untuk diriku sendiri dan menyeruputnya pelan.


Hmm, kemampuan menyeduh tehku nampaknya meningkat sedikit—meski aku tidak tahu seberapa detail meningkatnya ini.


Setidaknya berkat meminum teh tersebut aku berhasil menenangkan debaran jantung tak karuanku tadi.


"Jadi, Kak Gisele, bisa aku bertanya mengapa kau datang ke kamarku malam-malam begini sambil mengenakan pakaian seperti itu?" Aku bertanya sesudah meminum tehku lagi.


Gisele terlihat gugup dan malu ketika aku kembali menyinggung pakaiannya, namun dia dapat menjaga ketenangan dan menatap mataku. "Fain, mengenai kesepakatanmu dengan tuan Gustav .... Apa itu benar?"


Huh? Kamu baru menanyakan hal yang sudah lama lewat? Ke mana saja kamu selama ini?


"Itu benar." Aku mengangguk.


Ekspresi Gisele nampak lesu dan kecewa setelah mendengar jawabanku. Dia nampak kehilangan semangat sekaligus kepercayaan.


Aku kembali menyeruput teh hangat sebelum sekali lagi berkata. "Tapi, tolong jangan salah paham aku hendak membelimu seperti budak."


"Aku ingin membeli Kak Gisele agar kakak tidak perlu terikat lagi dengan keluarga Ardenheim." Aku berkata dengan lugas menatap mata Gisele yang kini terlihat terkejut memandangku.


Sebuah lengkungan lembut terbentuk pada bibirku melihat reaksi Gisele.


"Kak Gisele, aku tahu kau bekerja sebagai pelayan di kediaman ini untuk meneruskan kontrak mendiang ibumu."

__ADS_1


Aku hanya mendengar semua ini dari pelayan lain namun ibu Gisele dulunya adalah seorang budak yang kemudian diselamatkan oleh Gustav bertahun-tahun lalu dan demi membalas kebaikan tersebut, Gustav meminta ibu Gisele untuk melayaninya sebagai pelayan selama 20 tahun.


Namun sayang, berkat berbagai kompilasi penyakit yang dideritanya ketika masih menjadi budak, ibu Gisele meninggal dunia dan meninggalkan Gisele di tangan keluarga Ardenheim.


Gustav merasa sayang ibu Gisele yang merupakan pelayan mendekati sempurna meninggal sehingga dia mendorong kontrak tersebut kepada Gisele yang juga berakhir menjadi pelayan.


Ini terjadi sepuluh tahun lalu yang mana pada waktu itu Gisele masih berusia 8 tahun.


Ibu Gisele hanya sempat menyelesaikan 5 tahun dari keseluruhan kontrak tersebut dan menyerahkan 15 tahun sisanya kepada Gisele.


Gisele telah melayani keluarga Ardenheim selama 10 tahun lamanya dan hanya tersisa 5 tahun sebelum waktu kontraknya habis, lalu dalam jenjang waktu tersebut dia membuat janji kepada ibuku yang juga telah merawatnya untuk menjagaku.


Para pelayan berkata Gisele melihatku sebagai adik dan terus melindungi serta menjagaku dari berbagai macam hal seperti rundungan Leonard dan mendengar itu, tentu saja aku ingin dia juga bebas dari kontrak serta keluarga ini dan ikut bersamaku setelah pengusiranku.


Aku awalnya tidak keberatan jika dia tak bersedia mengikutiku namun setelah mengetahui kebenaran dunia ini dan peristiwa yang akan datang, Kehancuran Kerajaan Gilard, aku bersikeras akan membawanya pergi dari kerajaan ini.


Tentu saja alasan ini tetap kurahasiakan.


"Karena itulah aku ingin Kak Gisele ikut bersamaku seperti biasanya." Aku menggaruk pipi sambil tersenyum kering sesudah berkata demikian. "Tidak perlu sebagai pelayan, teman biasa juga tak apa-apa. Sebagai pelayan itu hanya kedok agar Ayahanda menyetujui permintaanku."


"Apa kakak bersedia pergi bersamaku setelah aku berhasil mengumpulkan dana yang disetujui oleh ayahanda?" Aku menatap Gisele dengan mantap, ingin meyakinkan gadis berusia tiga tahun lebih tua ini agar ikut bersamaku.


Saat aku melihat Gisele, ekspresinya terlihat begitu terkejut dan air mata mengalir dari kedua matanya namun segera dia usap sampai habis.


Dia tersenyum kepadaku. "Fain, apa kau tahu seberapa besar nilai 30 koin emas itu?"


Ugh .... Aku begitu bodoh menawarkan harga setinggi itu sebagai gertakan kepada Gustav waktu itu.


Tapi, sebagai pria aku tak boleh menarik kata-kataku.


"Tentu saja." Aku mengangguk. "Aku pasti akan mengumpulkan uang tersebut dan membawamu pergi dari sini."


"Aku berjanji," kataku dengan mantap.


Gisele nampak tertegun menyaksikan pernyataan penuh keteguhanku dan tertawa kecil sesudahnya.


Huh? Apa aku suatu melakukan kesalahan yang layak ditertawai? Aku rasa tidak juga, dah.


"Fain, oh, adik manisku, Fain." Gisele berdiri dari kursi dan berjalan mendekatiku, lalu membelai lembut pipiku.


Ah ... belaian lembut nan hangat ini .... Meskipun kurang dari sebulan semenjak aku bereinkarnasi ke dunia ini, entah mengapa sentuhannya terasa begitu kurindukan.


Sesuatu yang asing tetapi anehnya juga terasa amat familier.


Gisele sekali lagi tersenyum lembut dan kembali berkata. "Baiklah, aku akan ikut denganmu begitu kamu menyelesaikan kesepakatanmu dengan tuan Gustav."


Aku mengangguk sembari menikmati sentuhan lembut tangan Gisele pada pipiku, lalu menjulurkan tangan dan mengacungkan jari kelingking kepadanya. "Aku janji akan membawamu keluar dari sini."


Gisele tertawa kecil kemudian menepis tanganku dengan lembut dan tanpa peringatan apapun, bibirku dibalut oleh sensasi lembut dan hangat namun asing bagiku.


Aku tidak bisa memproses sensasi tersebut tetapi aku dapat melihat bahwa bibirku dengan bibir Gisele tengah bersentuhan.


Hal itu berlangsung selama beberapa detik sebelum Gisele menarik mundur badannya dengan ekspresi lembut seperti biasa.


"Hei, Fain. Mengingat hari ini adalah hari ulang tahunmu yang kelima belas, aku ingin memberikanmu sesuatu yang istimewa bagiku."


Tanpa sempat aku membalas atau berkomentar, Gisele menanggalkan kamisol tipis serta seluruh kain pada tubuhnya.


Dia kemudian berkata dengan lembut namun sangat teramat menggoda. "Maukah kamu berbagi malam yang tak terlupakan denganku?"


Aku tidak mampu menemukan kata yang tepat untuk membalas kalimat tersebut dan pada akhirnya, aku menuruti isi hati serta insting manusiawiku.

__ADS_1


Pada malam itu aku menghabiskan seluruh waktuku bersama Gisele di gudang lusuh yang kusebut sebagai kamar yang mungkin untuk terakhir kalinya kugunakan.


__ADS_2