
Mia—nama gadis yatim piatu tersebut—menggiringku menuju suatu tempat terpencil di Rosel.
Di sana aku menemukan sebuah gedung tua berhiaskan banyak tanaman rambat yang nampaknya bisa roboh kapan saja.
Halaman bangunan tersebut juga tak terawat. Rumput liar setinggi lutut mengelilingi gedung bobrok itu kecuali pada bagian jalan setapak mengarah pada pintu masuk.
"Mia, kamu yakin ini tempatnya?" Aku bertanya sambil menyembunyikan keterkejutanku.
"Ya!" Mia menjawab riang tanpa melepaskan genggaman dari tanganku. "Di sini tempat Mia tinggal bersama lainnya!"
Ah, begitu, ya.
Aku pikir kehidupan Fain di kediaman Ardenheim dulu sudah cukup sengsara namun ternyata masih banyak orang bernasib lebih buruk di dunia ini.
Terlebih lagi, anak-anak panti asuhan hanyalah anak kecil seumuran Mia atau paling tua sekitar 10 sampai 12 tahun menurut tebakan asal-asalanku.
Saat aku dan Mia berjalan mendekati bangunan panti asuhan sambil bergandengan tangan, pintu panti terbuka dan seorang wanita muda menampakkan diri.
"Mia!"
Wanita muda tersebut segera berlari mendekat saat menyadari keberadaan kami—tidak, mungkin lebih tepatnya mendekati Mia.
"Kakak!" Mia melepas tanganku dan ikut berlari menuju sang wanita, lalu memeluknya dan ....
Dia mengomeli Mia.
Yah, sudah kuduga. Tidak mungkin anak sekecil itu dibiarkan pergi berkeliaran seorang diri saat malam hampir tiba.
Jika itu aku mungkin aku sudah menjewer atau menjitak Mia sambil memarahinya habis-habisan.
Apa? Meskipun secara tampang aku terlihat tenang dan dewasa, sebenarnya aku cukup emosian terlepas dari usia asli mentalku.
Setelah dia selesai mengomeli Mia, si wanita muda menoleh ke arahku. "Ah, kamukah yang membawa Mia kemari? Terima kasih banyak."
"Tidak perlu berterima kasih." Aku tersenyum kecil. "Lagipula, aku juga dibantu oleh Mia. Katakan saja impas."
Dia memasang wajah heran sebelum memandang Mia meminta penjelasan.
Mia menceritakan bagaimana dia bertemu denganku dan apa yang kuminta .... Tapi, dia berakhir mendapat omelan panjang lagi.
Kali ini lebih mengarah pada hal-hal yang kukhawatirkan tadi.
Mengurus anak kecil lugu nan naif seperti ini memang merepotkan, ya.
Tetapi, di balik itu ada suatu berkah tersendiri.
Kamu bisa merasa terselamatkan ketika melihat senyum murni tanpa dosa mereka.
__ADS_1
Ya, aku berani berkata seperti ini karena didasarkan oleh pengalaman pribadiku sendiri.
Omelan terhadap Mia telah usai dan sang wanita menghela napas berat menghadapku. "Aku secara pribadi tidak keberatan tapi ... apa tidak masalah? Maksudku, panti ini sangatlah bobrok dan lusuh."
"Tidak masalah." Aku mengangguk. "Yang terpenting aku bisa beristirahat tanpa takut dibasahi oleh air hujan sewaktu tidur."
Wanita muda tersebut tersenyum kecut namun tak mengatakan apapun terlepas dari kondisi atap panti yang nampaknya tak menjamin kata-kataku barusan.
Pada akhirnya dia setuju dan membawaku masuk ke dalam panti bersama Mia.
Dia lalu memperkenalkan diri sebagai Risa, pengurus panti asuhan serta anak-anak yatim piatu lainnya.
"Ehm, maaf kalau tidak sopan, tapi aku tidak melihat barang bawaan apapun seperti makanan darimu." Risa menengok ke punggungku yang benar-benar kosong dengan wajah curiga. "Apa kamu yakin tidak sedang menipu kami?"
Aku tersenyum membalas. "Tenang saja, semua barang bawaanku ada di Storage. Aku punya persediaan makan dalam jumlah besar di dalam."
Tentu saja dia tidak langsung percaya namun demi melindungi senyum manis tak bercela Mia, Risa memperbolehkanku menginap di panti selama tidak keberatan.
Begitu sampai di dalam Risa disambut oleh anak-anak panti yang berjumlah sekitar 20 anak.
Sebagian besar dari mereka berusia tujuh sampai sepuluh tahun dan hanya sekitar tiga orang yang nampaknya di atas 10 tahun tetapi semua memiliki kesamaan, yaitu pakaian lusuh serta badan kurus nan kurang gizi.
"Kakak ...." Salah seorang anak berusia 8 tahun memandangku penasaran. "Kakak siapa?"
Anak-anak lain juga ikut menoleh ke arahku sambil tetap memeluk Risa.
Aku berjongkok dan tersenyum. "Namaku Alfain, kalian bisa memanggilku Fain."
"Aku kemari untuk tinggal bersama dan memasak untuk kalian selama beberapa hari."
"Benarkah?!"
"Kakak sungguhan?!"
"Tapi, kakak tidak terlihat membawa makanan atau bahan makan ...."
Meski beberapa memiliki pandangan menusuk dan curiga namun sebagian besar dari mereka melompat girang dengan senyuman besar.
Senyum tak berdosa anak-anak memang tak terkalahkan.
Aku kemudian mengeluarkan toples camilan tak terbatas dari Spatial Storage dan menyerahkannya kepada anak pertama yang bertanya. "Makan ini dulu sebelum makan malam siap. Bagi dengan temanmu dan jangan serakah, ya."
"Wah, permen!"
"Ada kue kering juga!"
"Ini ... apa?"
__ADS_1
Awalnya mereka terlihat penasaran tapi setelah beberapa saat, mereka memberanikan diri untuk mencoba dan akhirnya jatuh ke dalam perangkap camilan.
Enak, 'kan? Toples camilan tak terbatas memang terbaik.
Aku sungguh jenius telah menciptakan benda ajaib seperti ini menggunakan Authority of Author.
"Baiklah, hari sudah mulai gelap. Waktunya memasak." Aku berdiri dan menoleh ke Risa. "Bisa kamu tunjukkan dapur kepadaku?"
Risa masih tertegun menatap toples camilan tak terbatas namun ketika aku memanggilnya, dia segera pulih dan mengantarku ke dapur panti.
Dapur panti tidak memiliki banyak alat masak dan kondisinya juga cukup parah. Terdapat banyak retakan dan noda kotor di dinding maupun lantai—bahkan aku bisa melihat lubang-lubang kecil di lantai kayu.
Hmm, sedikit Repair harusnya bisa memperbaiki tempat ini sampai tahap tertentu.
"Repair." Aku mengerahkan Repair pada lantai serta dinding dapur tetapi hanya berhasil memperbaiki sekitar satu meter keliling persegi.
Yah, mau bagaimanapun juga Repair masih level satu. Aku memang tak berharap banyak dapat langsung memperbaiki seluruh bangunan tapi setidaknya dapur harus diperbaiki terlebih dahulu.
Aku kemudian menggunakan Repair berulang kali hingga bagian dapur terlihat rapi meski bercak noda tidak bisa hilang.
Tapi, mungkin ini kesempatan yang bagus untuk menaikkan level Repair.
Baiklah, aku akan menghabiskan waktuku di sini untuk memperbaiki gedung panti menggunakan Repair!
"Sip, dengan ini aku bisa memasak lebih leluasa." Aku mengangguk dan menoleh ke arah Risa. "Risa, sebaiknya kau memperhatikanku memasak .... Ada apa?"
Risa memasang wajah bengong memandang dapur. "Fain ... apa yang baru saja kau lakukan?"
"Aku hanya memperbaiki dapur menggunakan skill." Aku menatap Risa heran. "Ada yang salah?"
"Ti-tidak ...."
Tidak, pasti ada sesuatu yang aneh. Ekspresimu mengatakan semuanya.
.... Ah, kalau dipikir lagi Repair termasuk dalam daftar Extra Skill yang langka.
Tak heran dia begitu terkejut.
Yah, kesampingkan itu, aku mengabaikan reaksi Risa dan mulai memasak menggunakan bahan dari bumi—yang tentu saja kubeli dari superphone.
Hmm? Ya, aku membelinya dari superphone menggunakan mata uang dunia ini.
Di luar dugaan ternyata bahan makanan dan makanan dari bumi relatif murah.
Aku hanya perlu menggunakan satu koin perunggu dan beberapa koin besi agar mampu membeli banyak bahan masakan untuk porsi dua puluh orang lebih sedikit.
Superphone memang ajib!
__ADS_1