I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
41. Berubah Haluan


__ADS_3

Keesokan harinya sesudah mengantar kepergian Sain dan rombongannya aku melangkah menuju serikat sentinel.


Tentu saja aku juga memberikan ponsel kepada Sain sekaligus menjelaskan cara penggunaannya.


Ini dilakukan agar kami bisa saling bertukar informasi dan berkonsultasi mengenai para bangsawan korup tanpa perlu menghiraukan jarak yang tentunya aku juga meminta Sain merahasiakan keberadaan benda ini.


Ponsel tersebut juga dapat digunakan sebagai pembawa pesan darurat sehingga jika terjadi sesuatu di ibukota aku bisa langsung ke sana—meski nampaknya harus memakan waktu beberapa hari menggunakan Gravito Flight Sphere kecepatan penuh jika berangkat dari sini.


"Oh, Fain, kau sudah datang." Resepsionis serikat menyambutku begitu tiba.


Aku melangkah masuk sambil menyapa pegawai serikat lain. "Apa sudah permintaanku satunya sudah selesai?"


Resepsionis mengangguk dan menyerahkan sebuah kartu kepadaku.


"Selamat telah menjadi sentinel, Laplace," kata resepsionis tersenyum lebar.


Tidak, tak ada orang bernama Laplace yang dimaksud sang resepsionis selain diriku.


Benar, Laplace adalah identitas samaranku dan kartu yang baru saja kuterima merupakan kartu sentinel keduaku atas nama Laplace.


Dan tentu saja warna kartunya masihlah putih.


Ingat tentang permintaan yang kuminta dari Rosetta beberapa hari lalu?


Selain hak atas kepemilikan panti asuhan aku juga meminta kartu sentinel berdasarkan identitas lain sekaligus merahasiakannya.


Pegawai serikat cabang Rosel memang mengetahui hal ini tetapi mereka tak akan berani membeberkannya—tidak setelah memahami bagaimana aku menghancurkan keluarga Gozet menggunakan satu sihir, walau sebenarnya bukan sihir.


Tak ada satupun dari mereka yang berani membahayakan nyawa dengan membocorkan identitas rahasiaku.


Laplace sekarang menjadi identitas lainku yang awalnya ingin kugunakan sebagai samaran agar dapat bergerak bebas meski menjadi buronan, tetapi setelah menerima fakta bahwa aku tidak akan ditangkap atau dianggap kriminal, Laplace kehilangan tujuannya.


"Yah, apapun itu mempunyai dua identitas berbeda kurasa tidak ada masalah," gumamku memasukkan kartu sentinel Laplace ke dalam Spatial Storage.


Lagipula, aku merupakan tipe orang yang akan terlibat masalah, jadi sentinel pemula Laplace bisa menjadi kartu cadangan jika diperlukan.


Omong-omong soal identitasku sebagai Laplace, aku mengubah penampilanku menggunakan Form Shifter menjadi tubuh mudaku sewaktu masih hidup di bumi.


Meskipun kukatakan muda sebenarnya aku memilih penampilan saat berusia 18 tahun agar tidak terlalu menimbulkan masalah di serikat sentinel.


Rata-rata orang di dunia ini memulai karir sebagai sentinel di sekitar usia tersebut.


"Oh, ya, Fain." Resepsionis berbicara. "Apa kamu tak berencana mengubah kelasmu? Sentinel berkelas Servant itu sedikit menarik masalah."


Kalau dipikir lagi benar juga.


Aku pernah membuat keributan di serikat sentinel cabang Rilet karena kelas Servant-ku.

__ADS_1


Jika aku tidak salah ingat sistem penerimaan kelas mirip seperti skill.


Kelas biasa seperti Swordsman atau Archer bisa didapatkan melalui kegiatan yang sering dilakukan oleh orang tersebut, contohnya kelas Servant-ku dan Swordsman Leonard.


Sebagai anak haram dan tindakan Gustav, aku bekerja di kediaman Ardenheim sebagai pelayan sementara Leonard lebih sering mengisi hari-harinya dengan berlatih pedang.


Itulah mengapa aku memiliki kelas Servant sementara Leonard mendapatkan Swordsman.


Namun, terdapat beberapa kasus unik di mana segelintir orang tertentu memperoleh kelas tingkat lanjutan dan unik secara tidak wajar akibat keberuntungan atau terpilih oleh takdir.


Salah satunya adalah kelahiran para pahlawan sesudah serangan besar-besaran Raja Kekacauan dua setengah bulan dari sekarang.


"Aku berencana mengganti kelasku di kuil para dewa ketika sampai di kota besar," jawabku setelah berpikir sejenak.


Resepsionis tersenyum. "Kalau begitu aku menyarankan untuk mengganti secepat mungkin mengingat banyak sentinel tidak bisa menerima sentinel berkelas Servant memiliki peringkat lebih tinggi dari mereka."


Soal harga diri sentinel, ya? Cukup masuk akal.


Setelah berbincang sebentar aku melangkah kembali menuju panti asuhan sambil memikirkan kelasku di masa depan.


Umumnya kelas akan muncul dengan sendirinya ketika seseorang mencapai usia tertentu dan standar usia tersebut bekisar antara 12 sampai 15 tahun.


Dan untuk mengganti kelas sendiri seseorang harus pergi ke kuil para dewa dan meminta berkah serta izin dari mereka—atau itulah yang orang-orang dunia ini percayai.


Padahal untuk mengganti kelas hanya perlu menyentuh altar atau patung ajaib bukan benar-benar meminta berkah atau izin dewa.


Jika itu hanya statusku maka aku bisa memanipulasinya dengan False Data tetapi kartu sentinel selalu memperlihatkan kelas pengguna, jadi aku tak ingin mengambil resiko berlebih.


Nah, kembali ke topik awal.


"Kelas apa yang seharusnya aku ambil?"


Kalau dilihat dari statusku maka bisa dipastikan aku mempunyai banyak pilihan kelas tapi mengingat kelas juga mempengaruhi pertumbuhan status dasar, maka aku harus memilih dengan baik.


Swordsman .... Tidak bisa.


Aku tak begitu bagus dalam pertarungan jarak dekat dan teknik pedang.


Menghadapi Rachiel dalam jarak dekat sekalipun aku tak akan menang jika bukan karena Instant Warp, Equivalent Exchange, serta faktor kejutan dan keberuntungan.


Mage .... Bukan juga.


Aku tidak punya dasar sihir dan lebih sering mengandalkan Kinesis sehingga Mage dapat dengan mudah tersingkirkan.


Hmm ....


Ya sudahlah, akan kupikirkan saja pada saatnya tiba nanti.

__ADS_1


Toh, aku masih mempunyai beberapa urusan di panti dan tak akan pergi selama urusan tersebut belum selesai.


Waktuku masih banyak.


Sesampainya di panti aku disambut oleh pelukan anak-anak yang terlihat ingin menangis.


Huh? Kenapa mereka bersikap seperti ini? Tadi pagi rasanya masih biasa-biasa saja.


"Kak Fain, jangan pergi!"


"Kalau Kak Fain pergi kami tidak bisa melakukan apa-apa!"


"Jangan tinggalkan kami, Kak Fain!"


.... Informasi mengenai rencana kepergianku bocor dari mulut siapa?


Aku spontan melirik Risa tetapi dia menggeleng cepat dan menaruh pandangan pada seorang anak berusia 13 tahun yang menunduk menatap tanah terlihat merasa bersalah.


Nampaknya ada yang tanpa sengaja mencuri dengar percakapanku dengan Risa semalam, huh?


Yah, kurasa tidak masalah.


Lagipula, cepat atau lambat aku harus memberitahu mereka.


Aku memasang senyum dan menepuk kepala anak-anak. "Dengar, ya. Kakak sebenarnya sedang dalam perjalanan rahasia untuk menyelamatkan kerajaan."


Aku kemudian menceritakan tujuan perjalananku yang tentunya adalah karangan semata—setidaknya hanya akan menjadi karangan jika aku tak bertemu mereka.


Tujuan perjalananku awalnya hanya demi mengumpulkan dana agar dapat menyelesaikan kesepakatanku dengan Gustav dan membawa Gisele pergi dari kerajaan ini sebelum Raja Kekacauan menyerang.


Dan demi itu, aku melakukan perjalanan menuju tempat tertentu.


Namun, perlahan tujuan tersebut mulai bergeser setelah melihat bagaimana sikap Ardenheim sekeluarga yang kini telah menerimaku dan kondisi anak-anak yatim piatu di panti asuhan ini.


Aku tidak bisa menelantarkan mereka dan kabur bersama Gisele menuju negeri tetangga demi menghindari serangan Raja Kekacauan.


Ditambah, kepercayaan Raja Gilard terhadapku yang menawarkan kesempatan emas untuk membersihkan para bangsawan korup nan tinggi hati tanpa perlu khawatir dihukum oleh kerajaan.


Maka dari itu aku mengubah tujuanku yang semula adalah melarikan diri dari Gilard bersama Gisele menjadi menyelamatkan kerajaan Gilard.


Tentu saja aku tidak searogan itu mampu mengusir serangan Raja Kekacauan seorang diri meski kekuatanku sejauh ini terbukti belum tertandingi oleh siapapun dan itulah mengapa aku harus menyelesaikan perjalananku secepat mungkin sebelum semua terlambat.


Butuh beberapa waktu agar anak-anak menjadi tenang kembali.


Ini sedikit merepotkan mengingat mereka menjadi sangat terikat denganku.


Aku kemudian menoleh ke arah anak berusia dua tahun lebih muda dariku tersebut. "Kita harus bicara nanti."

__ADS_1


__ADS_2