I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
37. Bola


__ADS_3

Rombongan ksatria kerajaan yang disebut Rosetta kemarin nampaknya tiba di gerbang hari ini.


Rosetta sebenarnya hanya merasa penasaran apakah kerajaan akan bergerak atau tidak setelah mengetahui seorang sentinel mengambil nyawa seorang bangsawan sekaligus menghancurkan seisi keluarga bangsawan tersebut—apalagi bergelar Viscount I yang direncanakan akan dipromosikan menjadi Count V dalam waktu dekat.


Berkat rasa penasaran itu dia mengirimkan roh angin yang berhasil dia kontrak untuk mengawasi jalanan Rosel mengarah menuju ibukota Gilard, Castelan.


Dia berkata rombongan ksatria tersebut hanya terdiri dari lima orang saja.


Jumlah itu terlalu sedikit untuk sebuah rombongan ksatria adalah yang kukatakan ketika Rosetta memberitahukan diriku mengenai informasi tersebut, namun dia segera menatapku serius.


"Jangan anggap mereka sepele," tukas Rosetta memperingati. "Meski berjumlah kecil mereka merupakan anggota Ordo Ksatria Pedang Kabut Emas."


Pedang Kabut Emas kalau aku tak salah ingat adalah satuan ksatria paling elit yang pernah dimiliki oleh kerajaan Gilard dan satu anggotanya saja bisa dikatakan sekuat 10 sampai 50 prajurit biasa, itupun anggota ksatria biasa.


Jika latar pada novelku tidak berubah maka anggota eksekutif Pedang Kabut Emas bisa menyaingi lebih dari seratus prajurit biasa.


Tetapi tidak peduli sekuat atau sehebat apapun mereka, Ordo Ksatria Pedang Kabut Emas telah ditakdirkan runtuh bersama Gilard saat serangan besar-besaran Raja Kekacauan—atau setidaknya jika semua peristiwa berjalan sesuai dengan novelku.


Memang benar dunia ini merupakan manifestasi novelku namun di saat yang sama pula dunia ini juga bukan sekedar tulisan fiksi dari imajinasiku.


Dunia ini nyata.


Aku tentu tidak sebodoh itu menganggap bahwa semua akan berjalan sesuai novelku yang kutahu.


Keberadaanku merupakan salah satu faktor luar serta kejanggalan jika dilihat murni dari cerita pada novelku.


Gila saja aku membuat karakter segila Fain yang mampu menulis ulang realita dunia secara bebas sesuai imajinasi serta keinginannya.


Mau jadi apa novelku jika ada karakter abnormal di luar nalar kecurangan seperti diriku?


Kesampingkan bahasan mengenai diriku, kelima ksatria Pedang Kabut Emas tersebut pastilah diperintah oleh keluarga kerajaan untuk pergi ke Rosel secepat mungkin.


Aku tidak perlu menjelaskan tujuan mereka kemari, 'kan?


"Tapi ... lima orang, ya." Aku mendesah berat. "Kupikir mereka akan menganggap diriku sebagai ancaman besar setelah menghancurkan keluarga Gozet begitu mudah seorang diri namun ...."


Ksatria elit yang diutus hanya lima orang .... Aku kecewa berat.


Rosetta menghela napas mengikutiku. "Mau bagaimana lagi? Kalaupun mereka mengutus banyak ksatria maka kecepatan mereka hanya akan melambat dan mereka tidak tahu pasti kapan kamu akan pergi dari kota ini."


"Mereka jelas mengutamakan kecepatan agar tak kehilangan jejak dan membiarkanmu berkeliaran di sekitar Gilard." Dia mengangkat bahu berkata demikian.

__ADS_1


Pendapat Rosetta memang tidak salah tapi mengapa terdapat perasaan tidak puas mengganjal di dadaku?


Apa aku mulai terkorupsi oleh dorongan alami manusiawiku untuk menghancurkan setelah mendapat kekuatan besar?


Aku sering mendengar pepatah bahwa kekuatan besar cenderung akan membuat penggunanya korup.


Mungkinkah itu yang terjadi kepadaku saat ini?


Tidak, bukan itu.


Perasaan ini lebih mirip seperti kesal diremehkan daripada ingin menghancurkan.


Lagipula, aku telah memutuskan untuk menggunakan kekuatanku demi orang-orang baik dan berbudi luhur seperti Risa dan anak-anak panti di tengah dunia yang kelam ini.


Aku tidak akan tersesat dalam mengayunkan kekuatan selayaknya dewa ini.


Semoga saja begitu.


"Omong-omong, Rosetta, apa kamu tak ikut menyambut rombongan ksatria itu?" Aku menunjuk ke arah gerbang kota yang mungkin kini dikerumuni oleh warga dari jendela. "Bukankah kamu ketua serikat sentinel Rosel?"


"Memangnya apa hubungan menjadi ketua serikat dan rombongan ksatria?" Dia menjawab sambil mengangkat alis merasa heran.


Rosetta melangkah mendekat dan memeluk pundakku dari belakang lalu berbisik pelan. "Serahkan saja mereka kepada walikota dan mari habiskan waktu berduaan untuk terakhir kalinya sebelum kamu kabur sebagai buronan."


.... Wanita ini memang ahlinya menggoda lelaki, ya.


Kalau saja bukan karena sudah mempunyai Gisele sebagai nomor satu di hati mungkin aku sudah jatuh berulang kali ke dalam perangkap godaannya.


Apa? Meskipun aku pernah mengatakan sering tergoda oleh Rosetta, kami hanya melakukan kontak seksual sekali saja pada hari aku menerima bayaran Metal Manticore sekaligus menyelamatkan Rosel dari tangan besi Gozet sekeluarga.


Mungkin aku bukan lelaki baik-baik tetapi aku juga bukan laki-laki yang bisa disebut playboy.


Aku menghela napas sejenak dan mencubit pipi wanita muda tersebut. "Aku tahu maksudmu ingin mengurangi perasaan gugupku tapi jangan bercanda dengan hal sensitif pada waktu seperti ini."


"Tapi aku tidak sedang bercanda." Rosetta berkata tanpa terganggu oleh cubitanku. "Aku serius ingin menjadi wanitamu."


.... Bagaimana aku harus mengatakan ini?


Aku pikir dia hanya main satu malam saja dan itupun terjadi karena kurangnya kemampuan serikat untuk memberi imbalan sepadan kepadaku.


Aku melepas cubitan pada pipi Roseta dan tanpa sadar memasang wajah kecut. "Kamu serius?"

__ADS_1


"Tentu saja." Dia menjawab tanpa ragu sambil berkacak pinggang. "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Aku sama sekali tidak keberatan—tidak, aku ingin mengandung anak dari lelaki kuat seperti dirimu."


Dia lalu menarik kerah bajuku mendekat. "Dan insting wanitaku berkata kamu akan mencapai banyak hal besar di masa depan."


"Maka dari itu aku harus segera mengamankan posisiku terlebih dahulu." Rosetta tertawa kecil sebelum melepas kerahku.


Jadi, singkatnya kau hanya menginginkan posisi dan keturunan kuat, huh?


Kau ini mantan bangsawan atau apa? Jahanam sekali jalan pikiranmu.


Kalau kau bukan wanita cantik dan kenalanku mungkin aku sudah menawarimu satu atau dua bogeman mentah, dasar ketua serikat mata duitan.


"Omong-omong, Fain, kamu tidak keberatan dengan wanita yang lebih tua, 'kan?" Rosetta tersenyum tipis tapi aku bisa merasakan lengkungan itu bukanlah senyuman yang sebenarnya.


Aku balas memasang senyum mengejek sambil melipat tangan tak merasa gentar. "Kamu masih sadar jarak usia kita hampir dua kali lipat, huh?"


Pandangan mata Rosetta seketika menjadi lebih dingin dan menusuk. "Kamu mempunyai Appraisal juga, huh? Kamu sudah melihat status serta usia asliku?"


"Begitulah." Aku mengangguk sembari mengusap dagu. "Kalau harus jujur aku sedikit terkejut penampilanmu masih terlihat begitu muda dan menarik dari yang sebenarnya."


Dibanding sebagian besar wanita seumuran Rosetta yang telah kujumpai sejauh ini, dia masih nampak menawan dan menggoda terlepas usianya yang hampir mencapai kepalan tiga.


Entah apakah ini berkat penampilan awet muda alami atau buatan melalui sihir—mengingat dia setidaknya mampu menggunakan tiga jenis elemen sihir.


Bukan mustahil dia menggunakan suatu sihir untuk mempertahankan penampilan mudanya seperti karakter wanita berusia 50 tahun tertentu pada komik terkenal di bumi.


Hmm? Ada apa dengan Rosetta?


Dia terlihat bergemetar dan berjalan mendekat, lalu mengayunkan kaki—


"Hargh!"


Aku menjerit sekuat tenaga dan sepersekian detik kemudian tumbang ke lantai dengan kedua tangan secara spontan mengatup di sekitar ************ yang terasa begitu nyeri tak tertahankan.


Rosetta mengibaskan rambut dan melangkah menjauh. "Kamu harus belajar mengenai wanita lebih banyak, Fain."


Sial .... Aku lengah ....


Aku mempunyai status Vit tinggi sebagai pertahanan tetapi mengapa masih terasa sesakit ini ...?


Kalau dipikir lagi jitakan Gustav sebelumnya juga dapat menembus pertahanan sejumlah 300 poin lebih padahal statusnya tidak begitu tinggi.

__ADS_1


Apa sistem dunia yang telah kubuat sedemikian rupa di novel tidak berguna ketika berhadapan dengan hal-hal seperti ini?


.... Argh, bolaku ....


__ADS_2