
Aku dan Rosetta tiba di dekat gerbang masuk Rudania berkat sihir ruang dan waktu para Space-Time Mage bawahan Salim yang tersisa.
"Hmph, gerbang masuk yang norak sekali." Aku bergumam memandang tulisan besar di atas gerbang. "Menjijikkan."
Di atas gerbang tersebut tertulis 'Selamat Datang di Kota Waktu Rudania, Tempat Para Penyihir Ruang dan Waktu Terhebat di Seluruh Gilard Berkumpul' dan sejenisnya.
Benar-benar membuatku muak.
Tapi, aku bisa merasakan pancaran Mana di gerbang tersebut.
Mungkin mereka memperkokoh gerbang dengan sihir ruang dan waktu agar tak hancur meski terkena serangan.
Tidak buruk.
Aku bisa mengaplikasikan hal ini ke banyak alat sihirku nanti.
"Siapa kalian?!" Penjaga gerbang menghunuskan senjata ke arah kami. "Kaliankah yang disebut tuan muda Salim?! Orang yang berani melawan keluarga besar Salues?!"
Oh, mereka sudah tahu? Kalau begitu itu akan menghemat waktu.
Aku tanpa belas kasihan mengerahkan sihir. "Wraith Magic ; Soul Extract."
Jiwa biru semi-transparan keluar dari tubuh para penjaga yang jatuh ke tanah sesudah aku mengenggunakan Soul Extract.
"Lalu dilanjut .... Wraith Magic ; Soul Eater." Aku memakan semua jiwa tersebut membuat mereka mati tanpa perlawanan.
Rosetta bergetar menyaksikan aku membunuh mereka tanpa kesulitan. "Fain, kamu dapat menggunakan sihir lanjutan roh hantu?"
".... Aku tak ingin membahas itu sekarang." Aku mengacuhkan pertanyaan Rosetta. "Kita bisa bicara nanti."
Aku kemudian mengangkat tubuhku menggunakan Gravito Flight Sphere ke udara. "Kamu bisa terbang?"
Rosetta mengangguk dan mengerahkan sihir angin menyusulku di udara.
Kami berdua terbang bersama ke langit Rudania.
"Rosetta, bisakah kamu menggunakan sihir angin untuk menyebarkan suara?" Aku bertanya tanpa menoleh.
Dia sekali lagi mengangguk patuh lalu merapal sihir. "Roh angin, dengarkanlah permintaanku, buatlah suara ini terdengar oleh semua orang. Wind Spirit Magic ; Wind Sound Spirit Amplification."
Aku memastikan Mana dan sihir Rosetta tersebar ke seluruh Rudania sebelum berterima kasih.
"Penduduk Rudania sekalian!" Aku berseru keras. "Namaku Alfain, dan kalian mungkin telah mendengar namaku sebagai orang yang menghancurkan keluarga Gozet di Rosel!"
"Sekarang aku datang kemari demi menuntut balasan kepada keluarga Salues yang telah membunuh keluargaku!"
Anak-anak panti mungkin bukan keluarga kandungku tetapi, mereka sudah seperti adik-adikku .... Dan aku tak akan memaafkan siapapun yang membuat keluargaku menderita.
"Aku tidak datang kemari untuk menghabisi kalian, para penduduk tak bersalah, tapi kalau kalian mendengar suaraku maka mengungsilah sebelum terlambat!" Aku berkata memberi peringatan. "Sasaranku hanyalah Salues sekeluarga! Kalian yang tak berkepentingan dan tak berhubungan dengan keluarga Salues dipersilahkan pergi dari sini!"
"Kuberi waktu sepuluh menit untuk mengungsi!"
Sesudah menyatakan itu aku meminta Rosetta menyudahi sihirnya.
Aku menoleh ke Rosetta. "Terima kasih. Kamu boleh turun dan bersembunyi. Jangan sampai terlibat."
__ADS_1
".... Kamu yakin mampu menghadapi mereka semua sendirian?" Rosetta terlihat ragu. "Mereka adalah kelompok besar penyihir ruang dan waktu terkuat di seluruh Gilard, kau tahu?"
"Aku tidak peduli. Mereka sudah memancingku maka mereka akan mendapatkan ikan besar sesuai harapan mereka," kataku tanpa emosi.
Aku lalu mengeluarkan sebuah kalung dari Spatial Storage dan memberikannya kepada Rosetta. "Kenakan itu dan aktifkan skillnya, dengan begitu kamu tak akan mudah ketahuan."
Rosetta menerima kalung tersebut dan mendaratkan sebuah kecupan lembut di pipiku yang otomatis membuatku terkejut.
"Jangan mati, oke?" Dia tersenyum tipis dan terbang menuju arah lain sembari mengaktifkan Presence Erasure pada kalung pemberianku.
.... Itu mengejutkanku.
Maksudku, aku sedang berada di situasi serius dan dia tiba-tiba main sorong?
Aku tidak mengerti jalan pikiran wanita itu.
Tidak, aku sebenarnya paham.
Dia ingin membuatku merasa lebih tenang karena pikiranku dipenuhi kabut dendam, dan itu dapat menggelapkan pandanganku dalam pertarungan, sehingga Rosetta memberiku sebuah kecupan ringan.
Kalau diingat melalui kilas balik pada kepergianku dari Rosel dia bahkan sempat memberiku ciuman panas yang biasa disebut french kiss ....
Uhh, mengingatnya kembali saja membuat wajahku terasa panas.
Sial, mau tak mau aku harus mengakui Rosetta benar-benar menjernihkan pikiranku hanya dengan satu kecupan lembut di pipi.
Kecupan pembawa ketenangan memang sungguh ada rupanya.
.... Apa aku termasuk orang mesum kalau begini?
Aku mengalihkan perhatianku kepada sejumlah penyihir berjumlah sekitar 20 orang yang dipimpin oleh seorang pria berjubah putih bernuansa hijau dengan pola banyak lambang jarum dan jam menghiasi jubah.
Dia membawa pedang besar di punggungnya.
Mereka terbang menyesuaikan ketinggianku.
Penyihir ruang dan waktu bisa terbang juga, ya?
Tidak, daripada terbang mereka lebih seperti menaiki tangga.
Mungkin itu sihir ruang dan waktu tingkat lanjut yang menghentikan waktu pada udara di sekitar telapak kaki atau bagian tubuh lainnya dan digunakan sebagai pijakan?
Penggunaan yang cukup menarik.
"Jelata bodoh, apa kamu serius?" Pemimpin mereka menyapaku dengan ejekan. "Kamu sendirian, berniat melawan seluruh keluarga Salues, yang merupakan keluarga penyihir ruang dan waktu terhebat di seluruh Gilard? Apa kamu sudah kehilangan akal?"
"Ah, benar juga." Dia tertawa seperti orang sinting. "Mungkin keluargamu yang terbunuh oleh pasukan adikku membuatmu tidak waras."
Para penyihir di belakangnya ikut tertawa keras menanggapi perkataan sang pemimpin.
Aku membalas dengan senyuman sarkas sambil menyilangkan tangan di dada. "Terhebat? Lelucon bagus."
Dahi pemimpin tersebut berkedut mendengar balasanku.
"Kalian belum melancarkan serangan apapun dan masih mengaku terhebat? Aku belum melihat satupun kehebatan sihir ruang dan waktu keluarga Salues yang disebut 'terhebat' ini." Aku memainkan jari telunjuk sambil mempertahankan senyum sarkas memprovokasi. "Maju sini kalian, ulat manja berbaju sutra."
__ADS_1
Pemimpin penyihir menggeram. "Kau yang meminta!"
"Space-Time Magic ; Space-Time Breakdown!" Para penyihir merapal mantra bersamaan dan menciptakan sebuah ruang lingkup besar memenuhi area sekitar.
Hmm, mereka menggunakan sihir tingkat lanjut untuk membuat waktu pada area sejauh 100 meter dalam bentuk bola terhenti—tidak, mungkin lebih tepatnya dipercepat hingga ke tahap waktu hampir berhenti sepenuhnya.
Sihir yang tidak buruk tetapi, sihir semacam ini pasti menguras banyak Mana.
"Hah! Setelah berkata sombong tentang menghancurkan keluarga kami sekarang waktumu terbekukan oleh sihir ruang dan waktu kami!" Pemimpin tertawa terpingkal-pingkal menanggapiku yang terdiam. "Dasar belatung jelata bodohnya tak tertolong!"
Aku diam bukan karena terkena sihirmu, tahu.
Aku hanya diam menunggu serangan kalian.
Aku menghela napas panjang mengejutkan si pemimpin dan penyihir lain. "Sudah? Kalian tidak menyerang?"
"Bagaimana bisa?!" Pemimpin penyihir menjerit lalu kembali tenang. "Ah, kamu mempunyai artifak yang bisa mengabaikan sihir ruang dan waktu, huh? Licik sekali."
"Kalau begitu ingatlah nama ini dan menyesallah di neraka ...." Pemimpin menarik pedang besar di punggung. "Aku, putra keempat puluh tiga keluarga utama Salues, Salas von Salues yang akan mencabut nyawamu!"
Dia maju sambil membawa pedang besar.
Putra keempat puluh tiga, huh ....
Yah, si Salim anak ketujuh puluh enam .... Kurasa tidak perlu diambil pusing.
"Chrono Break," kataku bergumam.
Dalam sekejap sihir Space-Time Breakdown hancur menjadi serpihan kecil dan berubah menjadi cahaya, mengejutkan Salas beserta penyihir bawahannya.
"Kamu sedang menghadapiku, jadi jangan memperhatikan yang lain." Aku maju menggunakan Instant Warp dan berbisik.
Sebelum Salas sempat merespon aku sudah mengayunkan lenganku memisahkan tubuh Salas dari kepalanya begitu mudah seolah sedang memotong tahu.
Salas mati tanpa mengetahui ataupun menyadari bagaimana dia bisa terbunuh.
Sungguh akhir menyedihkan.
Ups, pedangnya nampak berharga.
Membuang kesempatan dalam kesempitan itu haram hukumnya.
Aku meraih pedang Salas dan mengayunkannya dengan mudah bagaikan memainkan bulu.
Pedang yang cukup bagus. Tidak buruk sama sekali.
Aku kemudian mengalihkan pandangan menuju dua puluh penyihir ruang dan waktu bawahan Salas yang masih membeku tak mengerti apa yang terjadi. "Kalian tidak maju? Kalau begitu izinkan aku."
Sambil mengerahkan Chrono Accel, aku bergerak lebih cepat dari cahaya dan menebas leher mereka semua memakai pedang besar milik Salas.
Ketika aku melepas Chrono Accel tubuh serta kepala mereka berjatuhan ke tanah sembari mengguyur warga di bawah dengan darah mereka.
Heh, apanya yang terhebat? Kalian masih kroco level terendah di mataku.
Rachiel sekalipun masih lebih hebat dibanding kalian.
__ADS_1