
Pada pagi harinya aku bangun di kamarku di penginapan sambil menguap besar.
Sejujurnya, aku ingin bermalam di gudang reyotku mengingat aku bisa menghabiskan malam bersama Gisele tapi aku sudah terlanjur menyewa kamar di sini, aku tak mau uangku terbuang sia-sia.
Aku dan Gisele sempat berbincang-bincang sejenak sesudah diskusiku dengan Gustav berakhir namun sayang, berkat pekerjaannya yang masih banyak dia pergi lanjut bekerja.
Sebelum dia pergi aku diam-diam mengerahkan Authority of Author untuk menulis ulang kolom skillnya.
Skill apa yang kuberi, katamu?
Hehe, bukan sesuatu yang luar biasa. Hanya sebuah skill biasa.
Stamina Recovery (1) ; dapat meningkatkan kecepatan pemulihan stamina alami dalam skala kecil.
Mengingat pekerjaan pelayan seperti Gisele membutuhkan banyak tenaga serta stamina, kurasa dia akan memerlukan skill tersebut.
Omong-omong mengenai skill, saat seluruh kediaman Ardenheim sudah terlelap aku menyelinap menuju kamar Leonard untuk memberikan dia skill yang berguna dalam pertarungan.
---
Leonard von Ardenheim / Male
Knight (3) / 14 tahun
Str : 58, Vit : 34, Agi : 21, Dex : 47, Mag : 12, Wis : 24, Luk : 50
---
Skill : Sword Arts (6), Brute Strength (5), Steel Will (2), Enchant Sword (4), Magic to Strength (4)
Extra Skill : Holy Knight (1)
---
Yep, aku memberikan Leonard skill Holy Knight. Aku sangat dermawan, bukan?
Holy Knight (1) ; dapat mempelajari dan menggunakan seluruh kemampuan dan skill sebagai Holy Knight.
Holy Knight sendiri adalah jenis kelas unik yang sangat sedikit pemiliknya di seluruh dunia berdasarkan novelku.
Kelas ini sangatlah kuat dalam segi serangan maupun pertahanan, terlebih lagi dapat menggunakan sihir suci yang juga sangat sedikit penggunanya.
Kalau aku tak salah ingat karakteristik sihir suci lebih condong ke sihir pendukung namun bagi seorang Holy Knight yang memiliki serangan serta pertahanan kuat, sihir suci dapat meningkatkan kekuatan mereka ke tahap abnormal.
Yah, mungkin tidak akan sampai ke tingkat abnormalku tetapi Holy Knight bisa kujamin teramat kuat bagi dunia ini.
Di masa depan Leonard pasti akan mendapatkan posisi jenderal besar di kerajaan Gilard—kalau kerajaan ini berhasil selamat dari serangan Raja Kekacauan dua setengah bulan dari sekarang.
Meskipun sikapnya agak kasar dan arogan namun pada dasarnya Leonard adalah orang baik.
Tentu aku juga mengingatkan agar Gustav memperketat pelatihan dan bimbingan Leonard agar dia tidak salah arah dan berakhir menjadi ksatria sombong klasik di berbagai novel fantasi.
Lalu, sebagai tambahan aku juga menyiapkan satu kejutan lagi untuk Gustav.
---
Charla von Ardenheim / Female
- / 12 tahun
Str : 2, Vit : 7, Agi : 4, Dex : 5, Mag : 31, Wis : 12, Luk : 80
---
Skill : -
Extra Skill : Sage (1)
---
Dilihat dari statusnya Charla merupakan penyihir jenius yang lahir beberapa tahun sekali.
Maksudku, lihatlah angka Mag itu. Bukankah memiliki angka di atas 30 terlalu curang untuk gadis berusia 12 tahun yang bahkan belum mendapat kelas ataupun pelatihan sihir?
Apalagi status Luk-nya—status yang menurut novelku dapat mempengaruhi takdir serta keberuntungan—mencapai angka 80.
Aku saja baru berhasil menggapai angka tersebut berkat tambahan status dasar dari ras naga dan vampir.
Anak ini akan menjadi sesuatu yang mengerikan di masa depan.
Dan untuk mendukung bakatnya itu, aku memberikan Charla skill Sage.
Sage (1) ; dapat mempelajari dan menggunakan segala ilmu dan teknik sihir sebagai Sage.
Kelas Sage juga sama uniknya dengan Holy Knight dan jumlah pemiliknya sama-sama sedikit.
Sage biasanya berfokus pada kemampuan sihir universal dan dapat menggunakan hampir semua sihir selama tak ada batasan ras, lalu status Mag Charla juga akan meningkat drastis di masa depan.
Aku akan mendukung Leonard dan Charla dari belakang dengan kedua skill ini.
Gustav, kuserahkan bimbingan mereka berdua kepadamu!
Jangan sampai aku perlu turun tangan dan terpaksa membunuh salah satu dari mereka di masa depan karena mereka mengambil langkah yang salah!
.... Apa? Biarpun begini aku merupakan pria penyayang keluarga, tahu.
Aku membuka jendela kamar dan menarik napas dalam-dalam. "Ah, udara pagi di dunia ini memang segar sekali."
Nah, hari ini apa yang akan kulakukan?
Menjalankan tugas sentinel untuk membereskan permintaan cukup beres dan berkat itu keamanan Rilet dapat terjaga dengan baik.
Aku juga sudah memperkuat keluargaku sehingga aku dapat meninggalkan Rilet tanpa beban.
Lagipula, jika kota ini mengalami masalah serius Gustav juga bisa langsung menghubungiku dengan ponsel yang kuberikan kepadanya semalam—tentu dilengkapi fitur isi ulang energi secara mandiri dan koneksi terhadap superphone-ku.
Tidak, ponsel yang kumaksud bukanlah superphone melainkan ponsel jadul yang terkenal tak terhancurkan, Nohkia.
Ponsel itu kubeli dari aplikasi toko di superphone sehingga aman untuk digunakan secara rahasia oleh Gustav saat keadaan darurat.
Selain keberadaan Gisele yang mengikatku dengan kota ini maka kurasa aku tak punya keperluan lagi di sini.
Mungkin sudah waktunya aku pergi melanjutkan petualanganku.
Kurasa aku akan berangkat besok setelah berpamitan dengan Gisele dan Calvin, serta sentinel lain yang mulai menghormatiku sejak pertarungan massal menghadapi para sentinel idiot beberapa hari lalu.
Kalau begitu untuk hari ini .... "Mari bermalas-malasan!"
Dan dengan begitu aku menghabiskan hariku bermain game sambil ngemil dari toples beragam camilan tanpa batas yang kubuat menggunakan Authority of Author kapan hari.
Sungguh, Authority of Author ini bisa melakukan apa saja, ya.
***
Keesokan harinya aku berangkat menuju gerbang kota di mana terdapat sekelompok orang menunggu.
Aku melihat terdapat Gisele, Calvin, beberapa sentinel, serta .... Huh? Gustav? Lalu, Leonard dan Charla? Seratina dan Lilia juga?!
Rombongan campur aduk macam apa ini?!
__ADS_1
.... Bukannya aku hanya mengabari Gustav melalui ponsel dan meminta salamku pada Gisele? Kenapa dua pasang anak dan ibu itu juga ikut di sini?
Aku tidak keberatan dengan Seratina tapi ... aku kurang akur dengan Lilia mengingat dia adalah tipe wanita yang nampaknya ahli menyembunyikan jati diri.
Tapi, setidaknya dia tak memiliki niat buruk terhadap Rilet atau keluarga Ardenheim.
Aku sempat memeriksa Lilia menggunakan skill terbaruku, Eyes of Hidden Truth.
Eyes of Hidden Truth (1) ; dapat menguak kebohongan ataupun niat jahat seseorang.
Deskripsi skill-skill ini terlalu sederhana sampai aku tidak mengerti apa syarat dan batas penggunaannya.
"Ayahanda, Ibunda pertama dan Ibunda kedua." Aku memberi hormat ala bangsawan kepada keluargaku.
Gustav mengangguk pelan bersama Seratina, sementara Lilia ... sepertinya dia hanya diseret oleh Gustav untuk mengantar keberangkatanku.
"Fa—Kak Fain!" Leonard berseru.
.... Huh? Ada angin apa dia memanggilku 'kak'?
Charla menatapku dari belakang badan Leonard. "Kak Fain ...."
Kamu juga?
Apa aku akan menemui ajalku tak lama setelah meninggalkan Rilet? Aku tak mau hal itu terjadi!
Saat aku kebingungan Gustav datang mendekat dan berbisik. "Aku mengatakan kepada mereka bahwa kau berdoa tanpa henti kepada dewa untuk menganugerahkan Extra Skill pada mereka berdua."
"Jadi, meskipun kamu sudah diusir dari keluarga Ardenheim kamu akan selalu menjadi keluarga kami, Fain." Gustav tersenyum tulus sesudah menjelaskan itu.
Si licik satu ini .... Dia menggunakan kepolosan anak untuk membuat mereka menghormatiku.
Aku tak tahu harus berkata apa terhadap ayah licikku satu ini.
"Hei, Fain. Jaga dirimu baik-baik." Calvin berucap seusai Gustav mundur dan berbisik pelan. "Kamu seharusnya memberitahuku kalau kau anak haram keluarga Ardenheim."
"Mana bisa begitu. Aku sudah diusir dari rumah, tahu." Aku balas berbisik. "Aku bisa dihabisi Ayahanda jika mengaku sebagai bagian keluarga Ardenheim."
Calvin nyatanya tak mengubris perkataanku dan hanya tertawa receh. "Yah, apapun itu jangan lupa kembali kemari setelah menyelesaikan perjalananmu."
Dia lalu melangkah menjauh setelah berkata demikian.
Tidak perlu kau ingatkan pun aku akan kembali dalam dua setengah bulan lagi demi menjemput Gisele.
Aku kemudian hendak mendekati Gisele mengucapkan perpisahan untuk kedua kalinya namun jalanku dihadang oleh Leonard dan Charla ... dan kedua ibu mereka.
"Fain, aku ingin berterima kasih atas apa yang kau perbuat terhadap anak ini," kata Seratina sembari mengusap kepala Leonard. "Padahal dia selalu menghajarmu sampai babak belur saat latih tanding di rumah."
"Ibunda! Tidak perlu diungkit lagi soal itu!" Leonard mendengus sebelum mengalihkan pandangan ke arahku.
Dia terlihat .... Hmm? Malu? Wajahnya sedikit merona seperti rambut merahnya.
"Kalau kamu hendak menyatakan cinta kepadaku maka aku akan menolak tegas," kataku sedikit bergidik membayangkan Leonard dan aku ....
Argh, hentikan imajinasi berlebihanmu, otak bodoh!
Ini salah satu kelebihan sekaligus kelemahanku sebagai penulis novel fantasi yang membuat otakku secara otomatis membayangkan kata demi kata yang kubaca ataupun kurangkai!
Aku tidak mau kemampuan alami seperti ini!
Leonard berseru keras. "Siapa bilang pengakuan cinta?! Kakak sadar kita berdua laki-laki, 'kan?!"
"Aku hanya ingin meminta maaf ... atas perlakukanku selama ini ...." Leonard melihat ke arah lain menahan rasa malu. "Latih tanding kita waktu itu ... menyenangkan ...."
Apa sebenarnya dirimu? Tsundere?
"Padahal aku selalu menertawakan Kakak tapi Kakak malah berdoa untukku sampai dewa memberikanku skill Sage!" Charla menangis semakin keras.
Air mata Leonard juga nampaknya hampir merembes mendengar tangisan Charla.
Dua anak ini .... Terlepas dari lahir dan tinggal di lingkungan bangsawan yang baik, mereka tetaplah anak-anak—meski Leonard sebentar lagi akan sepantaran denganku.
Dalam kasusku, aku adalah pria berusia 25 tahun yang merasuki tubuh pemuda berusia 15 tahun. Aku jelas jauh lebih dewasa dibanding Leonard secara mental.
Aku terenyum dan menepuk kepala keduanya. "Tidak apa-apa. Kakak tak mempermasalahkan sikap kalian satu kalipun."
"Bagaimanapun juga Kakak adalah anak haram dan perlakuan kalian terhadap Kakak merupakan hal lumrah."
Itu benar. Aku adalah anak haram.
Aku tak sepantasnya berada di hadapan keluarga Ardenheim yang terhormat secara tak formal seperti ini.
Tapi ... biarkan aku melaksanakan tugasku sebagai kakak untuk pertama dan mungkin yang terakhir kalinya.
"Tak apa." Aku memeluk keduanya erat. "Apapun yang terjadi Kakak akan selalu menjadi kakak kalian yang mendukung dari kejauhan."
Pada akhirnya bukan hanya Charla tetapi Leonard pun ikut menangis—meski tidak sekeras Charla.
Dia masih mempunyai harga diri sebagai lelaki yang menangis dalam kesunyian.
Setelah beberapa saat berlalu mereka dengan enggan melepaskan pelukanku dan ditarik oleh ibu mereka, Seratina dan Lilia ...?
Huh?! Kenapa kau ikut menangis juga?!
"Fain ...." Lilia menitipkan Charla kepada Seratina dan memelukku. "Maaf, aku ternyata salah menilaimu ...."
Huh? Apa? Menilai? Aku?
Maksudmu, pandangan tak sedap yang selama ini kau arahkan padaku itu sedang menilai?!
Dia menguatkan pelukannya. "Aku pikir kamu hanyalah anak haram Gustav yang tak berharga .... Aku salah."
"Meskipun Leonard dan Charla memperlakukanmu dengan kejam, kamu tak membenci mereka bahkan tetap menyayangi mereka sebagai saudara."
Air mata Lilia menetes di pundakku.
Setelah mengatakan itu dia melepas pelukannya dan menatap mataku. "Terima kasih telah menjadi saudara yang luar biasa dan ... jika bisa aku ingin kamu memaafkanku."
Lilia bercerita singkat bahwa dirinya adalah putri dari sebuah keluarga bangsawan hancur yang dipersunting oleh Gustav sebagai istri kedua, dan masa lalunya dengan seluruh saudaranya tidaklah baik.
Dia juga telah melihat banyak anak haram yang jika tidak mati maka akan bertahan hidup dan membalas dendam kepada keluarga utama atas perlakuan yang mereka terima.
Itulah yang menyebabkan keluarga bangsawan Lilia hancur.
Semenjak saat itu dia membenci anak haram dan terus mengawasiku penuh kecurigaan secara ketat, namun hari ini terbukti bahwa kebencian dan kecurigaannya terhadapku yang seorang anak haram sama tidak tak berdasar.
Aku dan saudara haram Lilia adalah dua orang yang berbeda.
.... Begitu rupanya.
Dia mengalami trauma dan menumbuhkan rasa benci terhadap anak haram akibat kejadian tersebut.
Pantas saja sikapnya selalu dingin dan sarkastik terhadapku, lalu sorot matanya yang kukenal selama ini sama sekali berbeda dari Lilia yang sekarang.
Dia mungkin belum dapat mengatasi traumanya mengenai anak haram namun dia memaksakan diri untuk meminta maaf atas kebodohannya sendiri yang terjerat oleh kebencian dan rasa takut.
Aku bisa merasakan dia bergemetar saat memelukku tadi.
Lilia .... Wanita ini telah melalui peristiwa mengerikan seperti itu, ya.
__ADS_1
Aku memasang senyum kecil menatap Lilia. "Tidak apa, Ibunda kedua."
"Ibunda kedua tidak perlu merasa bersalah karena sejak awal Ibunda kedua tak melakukan kesalahan apapun." Aku memegang tangan Lilia sembari berkata. "Apa yang Ibunda rasakan dan lakukan merupakan hal biasa bagi manusia."
"Ibunda kedua hanya tidak ingin Charla mengalami hal yang sama seperti Ibunda, bukan?"
Ekspresi Lilia melunak dan kembali menangis kemudian merangkulku lagi, namun kali ini dia tak mengatakan apapun.
Dia hanya menangis di pundakku selama beberapa waktu dan tak ada yang berani mengganggunya.
Butuh beberapa saat bagi Lilia untuk tenang dan melepas pelukannya dariku.
Sejujurnya, dipeluk oleh wanita dewasa tidak buruk juga.
Apalagi dadanya menempel pada badanku .... Ehem!
Aku sudah pernah merasakan milik Gisele secara langsung! Jika hanya sekedar menyentuh aku tak akan kehilangan kendali!
Mungkin.
Berikutnya adalah ... Seratina.
"Ibunda pertama, apakah ada yang ingin Ibunda katakan? Ibunda mempelototiku sejak tadi." Aku berkata.
Seratina memalingkan wajahnya dariku. "Hmph, aku hanya tidak suka dirimu yang merupakan anak haram dari pelayan itu dan si sok keras satu ini."
Dia melirik ke arah Gustav yang kini terlihat sedikit gugup.
Oh, jadi sosok tegas dan keras seperti Gustav sekalipun tidak bisa melawan istri, ya.
Hubungan yang sangat menarik.
Lebih baik kau pertahankan kewibawaanmu di luar rumah, pak penguasa kota.
"Fa-Fain, kamu tak perlu ikut mengejekku!" Gustav berseru menyadari aku menyeringai.
Seratina menghela napas mendengar tanggapan Gustav sementara aku tertawa kecil.
Wanita berambut merah tersebut berjalan mendekat. "Fain, aku mungkin tak akan bisa menerimamu sebagai anakku, tetapi kau tetap bagian dari keluarga Ardenheim."
...
....
.....
Woah, apa-apaan ini?! Seratina yang begitu cuek dan terang-terangan menyatakan ketidaksukaannya terhadapku sedang tersenyum?!
Wanita judes kalau memasang senyum memang memiliki pesonanya sendiri.
Dia lalu melangkah ke belakang dan mendorong punggungku. "Fain, kamu tahu tidak sopan bagi seorang pria untuk membuat wanita menunggu, 'kan?"
Seratina mendorongku ke arah Gisele yang .... Huh? Dia ngambek?
Apa ini? Imut sekali.
"Kak Gisele ...." Aku mencoba berbicara namun dia membuang muka.
.... Sial, Gisele biasanya selalu cantik nan anggun yang memancarkan hawa tenang sekarang sedang merajuk.
Imut!
Aku berulang kali memanggilnya tetapi dia tetap tak mau memandang wajahku.
Imut sekali, sialan!
"Kak Gisele." Aku meraih tangannya dan memaksa Gisele menatapku.
Dia membuang muka masih merajuk. "Apa?"
Oh, ya, tuhan .... Dia imut sekali.
Siapa yang menciptakan karakter seimut ini di novelku?
Aku perlu memujinya.
"Aku akan pergi," kataku memandang mata Gisele bersungguh-sungguh.
Ekspresi gadis bergaun pelayan tersebut melunak seketika.
Dia menggenggam tanganku dengan sorot mata sedih. "Apa kamu benar-benar harus pergi dari kota ini? Tidak cukupkah kamu tinggal di sini?"
Aku menggeleng pelan.
"Kak Gisele, aku masih harus memenuhi janjiku terhadap ayahanda." Aku menengok ke arah Gustav sejenak dan kembali memandang Gisele. "Dan juga, janjiku padamu. Kak Gisele tentu masih ingat, 'kan?"
Gisele mengangguk dengan enggan.
Aku tersenyum lembut. "Kalau begitu aku harus pergi dan bekerja keras agar dapat membawamu bersamaku."
Dia tampak ingin menangis namun berhasil ditahan.
"Gisele." Aku berkata sembari meraih pipi Gisele dan mendorong wajahku mendekati bibirnya. "Aku mencintaimu."
Jika sebelumnya Gisele yang mengambil langkah proaktif maka kali ini giliranku.
Bibir kami saling bersentuhan selama beberapa saat sebelum akhirnya terpaksa kuakhiri—meski aku juga merasa enggan melakukannya.
Ekspresi Gisele saat ini begitu dihiasi kejutan dan warna merah yang membuatku tertawa kecil.
Aku menggenggam erat tangannya. "Kamu akan menungguku, 'kan, Gisele?"
".... Ya," jawabnya tersenyum manis.
Senyuman ini akan menjadi bahan bakar dalam perjalananku.
Aku merasa yakin bisa menghadapi semuanya jika melihat senyum ini.
Aku kemudian menoleh ke arah rombongan sentinel di dekat Calvin. "Hei, kalian! Jaga kota ini dan Gisele untukku!"
"Tentu saja, Abang Fain!"
"Tak perlu Abang ingatkan pun kami akan melindungi kota ini dan semua orang di dalamnya!"
Seruan para sentinel membuat diriku dan Gisele tersenyum bersama untuk terakhir kalinya pada perpisahan kedua ini.
Aku melepas tangan Gisele dan melangkah keluar melalui gerbang kota.
"Kalau begitu aku berangkat," kataku melambai kepada Gisele, Gustav dan lainnya.
Mereka semua mengantarku.
Baik itu ayah yang kusangka keras nan jahat, Gustav, dua adik yang dulu selalu merendahkan dan berlaku kejam terhadapku, Leonard serta Charla, dan bahkan dua ibu tiri yang sama sekali tak kusangka menaruh perhatian tersendiri terhadapku, Seratina dan Lilia.
Mereka mengantarku menuju perjalanan panjang dan berat, tapi itu sudah lebih dari cukup.
Setidaknya saat ini, di dunia ini, aku mempunyai alasan untuk hidup dan berjuang.
Aku memiliki tempat untuk kembali.
__ADS_1