I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
69. Kondisi Lilia


__ADS_3

Seruan 'vampir' Eizan sukses menggemparkan seluruh kediaman Ardenheim namun beruntung berkat Gustav, kesalahpahaman tersebut telah terselesaikan dan semua penghuni mansion Ardenheim tak lagi menatapku penuh kehati-hatian.


"Sudah kubilang Kak Fain adalah kakak Charla! Kenapa Eizan tidak mendengar?!" Charla berseru sambil berkacak pinggang menceramahi Eizan.


Eizan, yang kini bersimpuh di lantai, hanya bisa tertunduk menyesali perbuatannya. "Aku sungguh minta maaf telah mengambil kesimpulan terlalu cepat."


Eizan berkata sebagai penyihir dia mengenali aura sihir makhluk hidup dan dalam kasus kali ini, dia dapat merasakan aura vampir serta beberapa aura tak dikenal bercampur dalam tubuhku sehingga membuat Eizan panik dan langsung menyerang tanpa pikir panjang.


Gustav telah menjelaskan aku memiliki kemampuan untuk beradaptasi dan mengubah rasku menjadi ras lain kepada Eizan serta para pelayan, sehingga mereka paham mengapa Eizan menyebutku vampir.


Omong-omong, aku juga sudah menunjukkan skill Multi Race pada kolom Extra Skill di layar status palsu buatan False Data kepada mereka semua, jadi kurasa mereka tak akan memandangku dengan penuh kewaspadaan lagi.


"Tuan Fain." Eizan melihatku. "Aku sungguh minta maaf atas kekasaranku terhadap kakak nona Charla dan tuan muda Leonard."


Aku mengangguk. "Tidak masalah. Aku juga sudah memberikan hukuman sesuai kepadamu jadi kurasa kita impas."


Eizan memiringkan kepala terlihat heran terhadap 'hukuman' yang kumaksud.


Aku menyuruh Eizan menyentuh Charla sebagai pembuktian dan ketika jarak jarinya hanya tersisa sekitar dua sentimeter dari kulit Charla, ekspresinya berubah menjadi penuh ketakutan seperti ketika aku mengerahkan Soul Terror.


"Aku mengerti." Eizan mengangguk pelan masih sedikit ketakutan sesudah menarik kembali tangannya. "Aku akan menerima hukuman ini dengan sepenuh hati."


Dia langsung terima begitu saja, huh? Tampaknya Eizan memang sungguh hanya panik melihatku dan bukan orang jahat.


Ya, itulah yang kutulis ulang dari Eizan menggunakan Authority of Author.


Dia akan melihat ketakutan yang sama seperti Soul Terror perlihatkan sebelumnya ketika hampir menyentuh Charla.


Hukuman yang tidak buruk, bukan?


Eizan lalu berdiri dan memperkenalkan diri. "Tuan Fain, namaku Eizan von Lastaria dan sesuai perkataanmu, aku memang penyihir yang dipekerjakan tuan Gustav untuk mengajari nona muda Charla sihir."


Memang jika dilihat secara statistik, statusnya lebih condong mengarah pada Mag dan skillnya sebagian besar berkaitan dengan sihir, dan dilihat dari sikap serta namanya dia berasal dari keluarga bangsawan Lastaria.


Aku tidak tahu keluarga Lastaria dan wilayah kekuasaan mereka jadi aku akan mengabaikan itu terlebih dahulu.


"Aku Alfain, dan seperti yang sudah dijelaskan oleh Ayahanda, aku merupakan anak haram keluarga Ardenheim yang telah diusir." Aku mengangguk membalas perkenalan Eizan. "Jadi, kau tak perlu bersikap sopan terhadapku seperti anggota keluarga Ardenheim lainnya."


Eizan terlihat sedikit keberatan tetapi menyetujui saranku. "Jika itu yang Fain inginkan."

__ADS_1


Bagus, dengan ini kesalahpahaman besar Eizan terhadapku telah selesai.


.... Tapi, ada yang aneh.


Gustav, Leonard, Seratina, Charla serta beberapa pelayan termasuk Gisele berkumpul di tempat ini namun aku tak melihat keberadaan Lilia.


Mengingat perubahan sikap ibu muda satu anak tersebut terhadapku ketika berpisah, aku tidak akan heran jika dia tiba-tiba datang dan memelukku tapi jangankan memeluk, dia pun tak datang menyambutku.


Apa sesuatu telah terjadi kepada Lilia?


"Omong-omong, Ayahanda, aku tidak melihat Ibunda kedua." Aku menengok ke sekitar sekali lagi memastikan sebelum kembali memandang Gustav. "Apa Ibunda kedua sedang berpergian?"


Pertanyaanku disambut suasana muram oleh Gustav maupun semuanya, bahkan Charla yang biasanya riang pun ikut menunduk sedih.


Gustav kemudian menjelaskan Lilia saat ini terbaring lemah di ruangannya setelah terkena penyakit cacar beberapa hari lalu dan diisolasi demi mencegah penyebaran cacar.


Hanya satu pelayan paling dekat dengan Lilia yang diizinkan masuk untuk merawat wanita malang tersebut.


Aku penasaran, apakah dia tertular olehku? Padahal aku baru berkontak dengan Lilia sekitar tiga hari setelah aku sembuh.


Charla, yang kini duduk di sebelahku, semakin tertunduk lesu mendengar kondisi ibunya.


Peluang kematian cacar tanpa perawatan tepat dapat mencapai 90% dalam dunia ini.


Kurasa wajar mengapa mereka terlihat putus asa dan berusaha mengalihkan perhatian dari kenyataan tersebut seperti halnya Charla berusaha tetap tersenyum riang menyambut kedatanganku tadi.


Tapi, aku yang sekarang telah memiliki Kinesis dan aku yakin dapat mengatasi masalah ini.


"Ayahanda, biarkan aku mengobati Ibunda Kedua," kataku mengejutkan mereka semua.


Gustav mengerutkan dahi. "Fain, aku tahu kamu berhasil melewati siksaan cacar ... secara ajaib, tapi bukan berarti kamu langsung dapat menyembuhkan penyakit ini."


Aku dapat melihat sedikit kesedihan pada sorot mata Gustav saat dia mengingat kembali fakta bahwa Fain asli telah meninggal akibat penyakit serupa.


Aku tersenyum tipis menanggapi. "Ayahanda, apakah Ayahanda lupa kekuatan asliku?"


Gustav tertegun sejenak dan tertawa kecut. "Benar juga, aku lupa kamu adalah ... itu."


Penghuni kediaman lain yang mendengar terlihat bingung terhadap pembicaraan kami tetapi kami tak punya waktu bersantai.

__ADS_1


Gustav segera mengantarku ke ruangan Lilia yang terlihat jelas suasana gelapnya.


"Aku tahu kamu mampu, tapi Fain, berhati-hatilah." Gustav mengingatkan di depan pintu ruangan.


Aku mengangguk pelan dan mengetuk pelan pintu tersebut. "Ibunda Kedua, ini Fain. Aku akan masuk."


Tanpa menunggu jawaban aku segera membuka pintu dan memasuki ruangan Lilia.


Mataku segera tertuju kepada sesosok wanita anggun berambut putih keperakan terbaring lemah di atas ranjang mewah.


Aku juga dapat melihat jendela serta gorden ruangan tertutup rapat demi mencegah penularan, padahal salah satu tindakan pencegahan cacar adalah berjemur di bawah sinar matahari mengingat virus cacar lemah terhadap sinar ultraviolet.


Yah, kurasa tidak ada gunanya mempermasalahkan itu sekarang, apalagi hari sudah menjelang sore.


Aku mendekati ranjang tempat Lilia berbaring dan menggenggam tangannya. "Ibunda Kedua, Fain di sini. Aku datang berkunjung."


Lilia perlahan membuka mata dan menggeser posisi kepala mengarah kepadaku.


"Fain ...." Dia nampak sedikit terkejut melihat kedatanganku. "Apa yang kamu lakukan .... Kamu tidak boleh berada di sini .... Kamu bisa tertular ...."


Terlepas dari kondisinya yang begitu parah dia masih mengkhawatirkanku.


Dia sungguh wanita idaman.


"Aku kemari untuk menyembuhkan Ibunda Kedua." Aku tersenyum lembut menanggapi peringatan Lilia.


Lilia tidak percaya lalu menolak niatku dan menyuruhku segera keluar agar tidak tertular tetapi aku tak mendengar perkataannya.


"Mungkin ini karmaku telah memperlakukanmu ... sedemikian rupa di masa lalu ...." Lilia memasang senyum pasrah sembari mendesah. "Aku akan menghadapi hukumanku ... secara langsung ... tanpa gentar ...."


Oh, ayolah, jangan berkata seolah-olah kau akan mati kapan saja.


Dengan keberadaanku, sang Penulis, di sini aku tak akan membiarkan siapapun bernurani baik mati.


Terutama jika itu keluarga tersayangku.


Lagipula, kalau Lilia mati maka Charla akan sedih, dan itu berlaku untuk seluruh kediaman Ardenheim.


Aku menggenggam tangan Lilia erat dan memejamkan mata mengerahkan Kinesis. "Nosokinesis."

__ADS_1


__ADS_2