I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
19. Alasan Selama Ini


__ADS_3

Masalahku dengan para sentinel idiot telah berakhir dan setelah menunjukkan kemampuanku di hadapan warga kota yang menyaksikan, aku secara resmi diakui menjadi sentinel peringkat merah.


Kalau aku tak salah ingat aku meminta kepada Calvin agar dinaikkan sampai peringkat kuning jika berhasil menyelesaikan permintaannya tapi saat kutanya mengenai masalah ini, dia menolak dan memutuskan untuk mempromosikanku menjadi sentinel merah.


Alasannya adalah pencapaianku mengenai pembasmian desa Orc, Ogre, dan Troll seorang diri dalam satu hari—serta kekuatanku yang sama sekali tak sebanding dengan sentinel peringkat kuning lainnya sebagai tambahan.


Yah, aku tidak begitu keberatan atas kenaikan peringkatku yang lompat dari sentinel biru menjadi merah mengingat dengan peringkat ini, aku bisa mengambil permintaan lebih sulit dengan bayaran lebih besar.


Tetapi, satu hal yang sedikit melenceng dari bayanganku ....


"Jadi, kamu sentinel yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir di kota, Fain?" Gustav bertanya dengan ekspresi serius.


Ya, saat ini aku berada di kediaman Ardenhiem—atau lebih tepatnya berada di ruang kerja Gustav.


Sekarang aku berhadapan secara empat mata dengan ayahku.


Aku menatap Gustav tanpa rasa ragu. "Kalau yang Ayahanda maksud mengenai sentinel yang membasmi desa monster di sekitar agar tak membahayakan Rilet dan menghajar sentinel-sentinel idiot nan besar kepala, maka benar, itu aku."


Kami saling bertukar pandang selama beberapa saat sebelum dia menghela napas panjang.


"Kau ini, ya ...." Gustav memijat kepalanya. "Apa kamu sengaja menyembunyikan kekuatanmu selama ini? Padahal kamu selalu babak belur saat latih tanding melawan Leonard."


Daripada menyembunyikan mungkin lebih tepatnya aku baru saja memperolehnya.


Sudah sekitar lima hari semenjak aku diusir dari kediaman Ardenheim dan selama lima hari tersebut aku menggunakan kemampuan Authority of Author untuk menulis ulang diriku sendiri berulang kali.


Yah, aku tidak selalu menggunakan Authority of Author untuk menulis ulang diriku tetapi juga menciptakan beberapa benda yang kunilai cukup berguna dan bermanfaat.


Aku menggeleng pelan. "Tidak juga. Bisa dibilang aku baru-baru saja menjadi lebih kuat."


"Baru?" Gustav mengerinyitkan dahi.


Dia memasang wajah serta pose duduk serius menatapku. "Kamu mengatakan bahwa dirimu yang selama ini kukenal lemah tiba-tiba bertambah kuat sampai mampu mengalahkan puluhan sentinel veteran sekaligus menghabisi begitu banyak desa monster?"


Aku mengangguk mengiyakan pertanyaan Gustav.


Secara status dan teknik aku beberapa hari lalu jelas kalah jauh dibanding Leonard tetapi berkat Authority of Author, sekarang rasku adalah naga sekaligus vampir.


Status dasar dua ras ini memang pada dasarnya lebih tinggi dari manusia meski telah berlatih bertahun-tahun, jadi dilihat murni dari status aku yang sekarang jauh lebih unggul dari Leonard.


Meskipun aku masih kalah dalam segi teknik berpedang ataupun pengalaman bertarung, aku yakin dapat menang kalau harus bertanding melawan Leonard sekarang.

__ADS_1


Aku tidak berbohong mengenai pernyataanku, 'kan?


Gustav terlihat bimbang dan ragu terhadap penjelasanku.


Tentu saja, mustahil seseorang menjadi begitu kuat sampai mampu membasmi ratusan monster lengkap bersama pemukimannya seorang diri hanya dalam beberapa hari.


Aku tak akan menyangkal jika dia tidak bisa langsung mempercayai perkataanku.


Setelah beberapa saat Gustav menghela napas berat dan .... Huh?! Gustav ... tersenyum?!


Tidak mungkin! Apa dunia akan hancur lebih cepat?! Apa Raja Kekacauan akan menyerang Gilard besok?!


Tidak tidak, aku sama sekali belum siap untuk menghadapi pasukan besar Raja Kekacauan!


"Fain, kamu tumbuh jauh lebih baik dari yang kukira." Gustav berucap sembari tersenyum lembut. "Aku jadi menyesal harus mengusirmu dari keluarga."


Huh? Apa ini? Kenapa dia tiba-tiba menjadi lembek terhadapku?


Oh, jangan-jangan dia ingin mengambil keuntungan dariku setelah aku bertambah kuat? Aku tidak akan membiarkan itu terjadi meskipun kau adalah ayah kandungku di dunia ini!


Gustav tertawa kecil. "Kamu pasti berpikir aku berniat mendekatimu untuk mencari keuntungan darimu, 'kan?"


.... Seperti yang diharapkan oleh bangsawan bergelar Viscount II. Dia bisa menebak jalan pikiranku.


"Kamu mungkin tidak percaya namun masalah perlakuanku terhadapmu selama ini memiliki alasan kuat." Dia berkata. "Kamu nampaknya juga sudah cukup dewasa untuk memahami hal ini, jadi dengarkanlah aku."


Mengapa orang abad pertengahan berlatar fantasi selalu mendekati jendela ketika hendak membicarakan sesuatu yang serius? Apa agar terlihat lebih keren?


Yah, kesampingkan komentarku, Gustav menjelaskan alasan atas semua perlakukan yang kuterima selama hidup di kediaman keluarga Ardenheim.


Jika harus diringkas maka alasannya hanya satu, yaitu kewajiban seorang bangsawan.


Kebangsawanan di dunia ini—atau mungkin hanya berlaku di Gilard saja—tidak memperbolehkan adanya anak haram tinggal bersama keluarga utama.


Biasanya sebelum beranjak dewasa yang mana berusia 15 tahun, anak haram suatu bangsawan akan diberi rumah kecil di luar kediaman keluarga utama dan ditelantarkan seorang diri tanpa seorang pun yang mengurus mereka.


Setelah anak haram mencapai usia 15 tahun maka keluarga bangsawan wajib mencoret namanya dari silsilah keluarga, entah apakah anak haram tersebut dalam kondisi sekarat atau bahkan sudah mati.


Tidak ada kewajiban bagi bangsawan untuk merawat anak haram mereka.


Mereka hanya diperintahkan agar mengusir anak haram mereka saat mencapai usia 15 tahun. Tidak kurang dan tidak lebih.

__ADS_1


Jika hal ini benar maka Gustav memperbolehkanku tinggal di gudang reyot seorang diri dan diberi tugas sebagai pelayan pun bisa adalah hal mengejutkan mengingat betapa tegas dan lugasnya Gustav sebagai seorang bangsawan.


"Dan sebagai tambahan, setiap bulan akan ada inspeksi dari pihak ibukota saat datang mengambil pajak wilayah." Gustav menambahkan.


Dia berkata jika anak haram ketahuan tinggal bersama keluarga utama maka mereka tersebut bisa dipenggal dan pangkat kepala keluarga utama akan diturunkan sebagai hukuman melanggar aturan.


.... Hei, aku tidak ingat pernah membuat latar seperti ini pada novelku.


Apa-apaan latar kelam nan kelewat kejam terhadap nasib anak haram di kerajaan ini?


Aku tahu aku tak menulis detail mengenai Gilard mengingat kerajaan ini hanya latar tambahan yang telah hancur berkat serangan besar-besaran Raja Kekacauan, tapi tidak perlu sampai sekejam ini juga, 'kan?


Siapa yang mengambil alih dunia ini setelah aku menamatkan novelku? Apa ada yang membuat sekuel atau hanya sekedar fiksi penggemar?


Aku perlu memberinya jitakan.


Aku menghela naoas panjang setelah Gustav selesai bercerita. "Jadi, Ayahanda sungguh terpaksa melakukannya demi menyelamatkanku, huh?"


"Aku tak memintamu untuk percaya tapi, ya." Gustav mengangguk sesudah kembali duduk di kursi. "Aku melakukan semua itu demi melindungimu dan menepati janjiku terhadap Merlina."


Merlina, ya?


Menurut cerita Gisele dan pelayan lainnya, Merlina adalah nama ibuku dan sejauh ini hanya dialah pelayan yang mengandung anak Gustav tanpa hubungan resmi.


"Aku mungkin bukan orang yang sepenuhnya baik tetapi aku adalah pria yang menepati janji."


Dia menundukkan kepalanya sejenak kepadaku. "Hanya hal itu saja yang aku ingin kamu percayai dariku."


Orang ini meskipun tegas dan keras terhadap anaknya tapi dia bukanlah orang jahat.


Insting penulis fantasiku berkata demikian.


Aku tersenyum tipis menanggapi kata-kata Gustav. "Tidak perlu seperti itu, Ayahanda."


"Sejak awal aku sudah tahu Ayahanda bukanlah orang yang bertindak tidak rasional." Aku mengangguk. "Selama aku tahu alasannya itu sudah lebih dari cukup bagiku."


Gustav terlihat tertegun sesaat sebelum memasang senyum yang jarang dia tunjukkan. "Terima kasih."


Aku sebenarnya ingin memotret Gustav menggunakan superhone mengingat ini adalah kesempatan langka melihat dia tersenyum, tapi kalau aku melakukan itu dia pasti akan bertanya mengenai keberadaan superphone hingga mendetail.


Setelah beberapa waktu bercerita dan terbawa emosi, wajah Gustav kembali seperti biasa dan dia menatapku dengan serius.

__ADS_1


"Kembali ke topik awal," katanya bernada tegas. "Fain, aku tahu ini terdengar tak tahu malu tapi aku harus tahu ...."


"Bagaimana kamu mendapatkan kekuatan sebesar itu dalam waktu singkat?"


__ADS_2