I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
38. Kedatangan Ksatria


__ADS_3

"Kak Fain, Kakak tidak apa-apa?"


"************ Kak Fain masih sakit?"


"Apanya yang 'akan jadi istri'! Seorang istri tidak akan pernah menyakiti suaminya!"


Terima kasih atas kepedulian kalian, anak-anak ... tapi nampaknya aku memang pantas mendapatkan yang satu ini.


Gisele selalu bersikap lemah lembut terhadapku dan aku terlalu percaya diri dengan status Vit-ku sehingga aku lupa kengerian seorang wanita ketika menyangkut usia—terutama di usia sekitar Rosetta.


Lain kali aku akan berusaha tak menyinggung usia perempuan lagi, baik itu sengaja maupun tidak.


Berkat bujukan Risa anak-anak panti meninggalkanku di kamar dan pergi bermain, sementara aku terbaring lemas di kasur.


Aku menghela napas berat. "Sakit .... Vitakinesis sekalipun tidak mampu menghilangkan rasa sakit rupanya."


Sekuat atau setinggi apapun statusku bukan berarti bisa meniadakan kelemahan mutlak lelaki ini, ya?


Menjadi lelaki itu menyedihkan.


Apa kuubah saja kelaminku jadi perempuan menggunakan Authority of Author? Seharusnya Authority of Author mampu melakukannya.


.... Tidak, harga diriku sebagai seorang lelaki tak akan membiarkan hal tersebut.


Lelaki memang mempunyai kelemahan fatal ini tapi laki-laki juga memiliki perannya sendiri.


Lagipula, kalau aku menjadi perempuan aku tak yakin dapat bertahan dari rasa sakit yang datang setiap bulan.


Butuh beberapa waktu sampai akhirnya rasa sakit pada selangkanganku mereda dan aku dapat kembali berjalan normal.


Aku kemudian mengerjakan rutinitasku semenjak hari kedua aku tinggal di panti.


Tidak, aku tak memasak makan siang karena Risa menggantikanku saat aku masih berjuang menghadapi kesakitan luar biasa di kasur.


Apa yang kulakukan sekarang, katamu? Aku memperbaiki bangunan panti.


Gedung ini sangat tua dan dapat roboh kapan saja tetapi dengan Repair, aku bisa memperbaiki bagian bangunan yang rusak dalam sekejap.


Dan berkat rutinitas ini Repair-ku telah mencapai level enam!


Repair (6) ; dapat memperbaiki benda yang telah rusak hingga tahap dan dalam jangkauan tertentu.


Jangkauan Repair kini diperluas hingga mampu memperbaiki benda mati seluas 8 meter persegi berkat kenaikan level dan aku tidak perlu lagi menyentuh benda target agar dapat diperbaiki selama berada dalam jangkauan lima meter dariku.


Experience Multiplier memang terbaik! Dan semua itu kembali ke Authority of Author!


Puja Experience Multiplier! Puja Authority of Author!


"Fain!" Risa datang dengan tergesa-gesa. "Ksatria kerajaan! Mereka datang kemari!"

__ADS_1


Tentu saja, mereka 'kan datang ke kota kecil seperti Rosel untuk menangkap kalau bukan membunuhku.


Aku menyudahi rutinitas memperbaiki panti dan melangkah menuju pintu ditemani oleh Risa yang terlihat begitu takut serta gugup.


Di luar aku menemukan lima ksatria berperlindung badan lengkap disertai senjata mereka masing-masing dalam kondisi siaga.


Empat pria dan satu perempuan.


Status mereka .... Wuah, tinggi semua.


Kekuatan mereka berlima secara kasar mendekati kalau bukan menyamai Rachiel namun satu orang ... pria di tengah memiliki status yang lebih tinggi dari Rachiel.


Jadi, merekalah Ordo Ksatria Pedang Kabut Emas, huh? Tidak buruk juga.


Kalian memang pantas disebut ordo ksatria paling elit se-Gilard.


Melihatku menampakkan diri di samping Risa, pria di tengah melangkah maju. "Kamukah Alfain? Sentinel peringkat merah yang membunuh Rachiel sekaligus menghancurkan keluarga Gozet?"


Dia memasang wajah indimitasi saat berkata demikian sambil mengeluarkan hawa—tidak, mungkin lebih tepatnya aura?—tipis berusaha menekanku.


"Benar, aku adalah Alfain." Aku membalas santai dengan senyum. "Apakah kalian kemari untuk menangkapku?"


Pria tersebut mengerutkan dahi merasa terkejut—mungkin karena aku tidak merasa tertekan oleh aura yang dia keluarkan—dan menoleh ke rekan ksatrianya sejenak sebelum kembali menatapku.


"Kami ingin bicara secara empat mata denganmu." Dia berkata dan melirik Risa. "Bisakah kamu meninggalkan kami sebentar?"


Pada akhirnya Risa menurut lalu masuk ke dalam panti berserta anak-anak yang ikut keluar merasa penasaran.


Pria itu mengangguk sebelum kembali mengangkat suara. "Maafkan aku, namaku Alsain von Adamantalis. Pemimpin Ordo Ksatria Pedang Kabut Emas."


Orang ini pemimpin Pedang Kabut Emas? Tidak heran mengapa statusnya begitu tinggi dan koleksi skillnya juga tak kalah bervariasi dariku.


---


Alsain von Adamantalis / Male


Holy Knight (7) / 58 tahun


Str : 1.240, Vit : 860, Agi : 740, Dex : 1.470, Mag : 560, Wis : 820, Luk : 350


---


Skill : Sword Arts (10), Strengthen Body (10), Advanced Sword Arts (10), Master Sword Arts (6) Enhanced Dexterity (10), Advanced Enhanced Dexterity (8), Stamina Recovery (10), Power Up (10), Speed Up (8), Guard Up (10), Magic Up (4), Wisdom Up (5), Enhanced Sense (10), Shield Arts (10), Advanced Shield Arts (6), Light Magic (8), Holy Magic (4), Holy Sword Arts (8), Holy Shield Arts (5), Enhance Sword (8), Enhance Shield (6)


Extra Skill : Appraisal (4), Holy Knight (9), God of Shield Blessing (5), God of Sword Blessing (7), Extra Instinct (6)


---


Ya, orang ini kuat. Sangat kuat. Jauh lebih kuat daripada Rachiel.

__ADS_1


Dia mempunyai skill Holy Knight, huh?


Aku penasaran, apakah Leonard akan menjadi sekuat ini di masa depan?


Dan lagi, Extra Instinct?


Kalau tidak salah Extra Instinct meningkatkan insting pengguna terhadap berbagai hingga tahap tertentu.


Tidak heran mengapa dia ditunjuk sebagai pemimpin Pedang Kabut Emas mengingat instingnya terhadap banyak hal bisa dibilang akurat.


Apalagi status Luk-nya lebih tinggi dari Rosetta ....


Apa Luk-ku memang teramat rendah dibanding rata-rata?


"Jadi, tuan Alsain, hanya tinggal kita berenam di sini." Aku mengangguk. "Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"


Alsain menoleh ke sekitar memastikan tidak ada orang yang bisa mencuri dengar.


Hmm, kalau kau sekhawatir itu maka aku bisa mengurus kerahasiaan kita.


Nih, Audiokinesis.


Empat ksatria lain segera bereaksi sementara Alsain sendiri terlihat kebingungan.


Dia melihat empat rekannya menarik senjata tetapi Alsain tetap tenang.


Alsain kemudian mengisyaratkan agar bawahannya menurunkan senjata begitu menyadari perubahan di sekitar kami berdua.


"Kamu menggunakan Silent Room? Aku tak melihat kau memiliki Silent Room pada daftar skillmu." Alsain berucap dan mengernyit. ".... Kamu menyembunyikan kekuatanmu dengan cara tertentu?"


Aku mengangguk. "Bisa dibilang begitu."


"Sebagai tambahan, semua yang kau lihat melalui Appraisal adalah palsu." Aku memasang senyum sarkas. "Tuan Alsain beruntung mempunyai Extra Instinct dan tidak salah menilai status rendahku."


Alis Alsain berkedut merasa terkejut terhadap perkataanku namun raut mukanya sama sekali tak berubah.


Poker face yang bagus, tuan pemimpin ksatria.


"Huh, sepertinya kamu memang tidak bisa dianggap enteng." Alsain mendengus pelan. "Yang Mulia tidak salah memberiku perintah untuk memimpin misi kali ini."


Jadi, memang Raja Gilard yang mengutus kalian, ya?


Dia pasti merasa terancam dan khawatir aku akan mengobrak-abrik tataan negaranya sampai mengirim salah orang terkuat hanya untuk menangkapku.


Keputusanmu tidak buruk, Raja Gilard.


"Kalau begitu aku akan langsung ke intinya saja." Alsain berdeham sejenak sebelum melanjutkan. "Sentinel Alfain, maukah kamu bekerja sama dengan kami?"


.... Hah?

__ADS_1


__ADS_2