I Am A Writer, So What?

I Am A Writer, So What?
55. Jeritan Dalam Kesunyian


__ADS_3

Setelah mengurus penjaga patroli di luar sekaligus bersenang-senang menggunakan sihir roh hantu baruku, aku melanjutkan penyusupan menuju bagian dalam kediaman keluarga Ruliand.


Roh hantu—daripada ras mungkin lebih tepatnya disebut sebagai monster.


Sebagian besar orang mungkin mengenalnya dengan sebutan Wraith.


Ya, itulah ras yang kupilih untuk mengisi slot ketiga pada Multi Race.


Mengapa aku memilih roh hantu, katamu? Tentu saja karena sangat berguna dalam hal menyusup.


Kemarin Sain mengingatkanku agar menghancurkan bisnis gula berbahan dasar para budak secara diam-diam sehingga aku berpikir Elena akan menugaskanku menyusup ke dalam kediaman keluarga Ruliand.


Maka dari itu aku mengubah rasku menjadi roh hantu sebelum tidur sembari mengisi kuota harian Authority of Author.


"Heh, begini rupanya interior kediaman keluarga Ruliand." Aku bergumam pelan memandangi berbagai ornamen serta lukisan terpajang pada dinding.


Kesan pertamaku terhadap kediaman ini adalah terlalu banyak dekorasi.


Aku tahu sebagai bangsawan bergelar Count III yang sedang naik daun dalam persaingan pasar gula Elias memajang semua ini demi memamerkan kekayaan keluarga Ruliand, tapi ini cukup berlebihan.


Aku mungkin lebih percaya jika saat ini aku memasuki rumah antik daripada rumah bangsawan.


Aku menutup mata dan bergumam lagi. "Wraith Magic ; Soul Detection."


Oh, prajurit malam di dalam bangunan berjumlah kurang lebih sepuluh orang, ya.


"Ada sihir yang terdeteksi di dekat pintu masuk! Semuanya bersiaga!"


Huh? Prajurit di bagian jauh dari sini bereaksi? Bagaimana bisa?


Sihir roh hantuku terdeteksi?


Jadi, mereka mempunyai alat pendeteksi sihir, ya?


Itu merepotkan.


Nah, sekarang apa yang harus kulakukan kalau sudah ketahuan?


Apa aku perlu meratakan semua bangunan ini menjadi sama tingginya dengan tanah?


Tidak, kelihatannya itu tak diperlukan. Sebuah ide terbesit di benakku.


"Kamukah penyusupnya?!" Seorang penjaga datang mendekat sambil menghunuskan senjata.


Aku tidak membalas dan mengerahkan satu sihir roh hantu lagi. "Wraith Magic ; Soul Possession."


Dalam sekejap tubuhku terurai menjadi untaian energi semi-transparan yang segera merasuki tubuh penjaga tersebut.


Bagus, sejauh ini berjalan cukup baik.


Tinggal sentuhan terakhir ....


"Hei, kau yang di sana!" Seseorang memanggilku. "Apa kau menemukan penyusupnya?"

__ADS_1


Aku menoleh ke belakang memasang wajah bodoh. "Huh? Penyusup apa?"


"Penyusup ya penyusup!" Dia ingin mengatakan sesuatu lebih jauh namun pandangannya jatuh pada benda bersinar di tanganku.


Dia bergegas mendekat dan melayangkan sebuah jitakan keras padaku. "Dasar bodoh! Kapten sudah memperingatkan jangan gunakan kristal sihir cahaya pada malam hari meski gelap!"


Penjaga tersebut mengomeliku selama beberapa saat hingga akhirnya penjaga lain datang dalam kondisi siaga, lalu menjelaskan bahwa sihir yang terdeteksi hanyalah berasal dari kristal sihir cahayaku.


Mereka semua mengumpat keras sebelum kembali ke pos jaga masing-masing meninggalkanku sendirian.


Aku mengusap dahi merasa lega sekaligus gugup. "Tadi itu hampir saja."


"Beruntung aku mengubah rasku menjadi roh hantu." Aku kemudian keluar dari tubuh sang penjaga dan kembali mengaktifkan Audiokinesis untuk mengunci semua suara di area lima meter.


Kesadaran penjaga tersebut segera kembali tetapi aku menggunakan Hypnokinesis dari Kinesis untuk membuatnya terlelap dalam tidur.


Aku menyeret dan mendudukkan penjaga itu di kursi terdekat.


Kalau tahu mereka mempunyai alat pendeteksi sihir maka aku sudah sejak tadi memakai Hypnokinesis bukannya sihir roh hantu.


Tidak, Hypnokinesis ini bukan memanipulasi pikiran seperti hipnotis melainkan hanya memanipulasi kondisi tidur-bangun atau sejenisnya pada seseorang.


Tapi, aku beruntung terdapat satu penjaga yang berjaga sendirian di dekat sini agar aku bisa merasuki tubuhnya dan membuat alasan.


Bayangkan saja kalau mereka datang berbondong-bondong ... aku pasti sudah ketahuan.


Aku benar-benar bersyukur roh hantu adalah ras pilihan ketigaku.


"Presence Erasure." Aku mengaktikan skill terbaruku sebelum melangkah lebih dalam.


Terkadang terdapat beberapa orang kuat yang bisa merasakan hawa keberadaan meski aku tak bersuara ataupun beraroma, jadi aku menulis ulang kolom skillku menggunakan satu jatah Authority of Author kemarin.


Presence Erasure (1) ; dapat menghilangkan hawa keberadaan pengguna secara sempurna hingga tahap tertentu selama beberapa saat.


Berbeda dari Hide Presence milik Calvin yang hanya menyembunyikan hawa keberadaan, Presence Erasure dapat menghilangkan keberadaanku dari sudut pandang orang lain.


Aku sendiri tidak paham bagian 'secara sempurna hingga tahap tertentu' itu namun menurut kesaksian Elena tadi siang ketika aku mencoba, dia tak bisa merasakan keberadaanku kalau bukan karena aku berdiri di depannya.


Mungkin Presence Erasure memang bukan skill peredam hawa keberadaan sempurna tetapi setidaknya satu atau dua tingkat di atas Hide Presence biasa.


Dan lagi, berkat Audiokinesis dari Kinesis aku dapat memanipulasi suara yang kusebabkan sehingga misi penyusupanku berjalan baik—meski sempat menghadapi masalah genting akibat menggunakan sihir secara teledor.


Lagipula, sekarang aku adalah roh hantu.


Aku bisa melayang di atas tanah tanpa bantuan Gravito Flight Sphere dan juga menembus segala benda fisik selama benda tersebut tidak mengandung sihir.


Itulah mengapa aku dapat memasuki kediaman keluarga Ruliand tanpa perlu membuka pintu depan.


Aku memang jenius.


Dengan bantuan Presence Erasure serta karakteristik khusus ras roh hantu, misi penyusupanku berjalan lancar tanpa sihir roh hantu.


Aku memeriksa semua ruangan yang kulewati namun tak ada satupun dokumen atau hal fisik berkaitan lokasi pabrik rahasia keluarga Ruliand tempat di mana Elias mengolah para budak menjadi bahan dasar gula.

__ADS_1


Hmm? Kamar sebelah sana masih terang, huh?


Aku kemudian mendorong kepalaku ke dalam kamar tersebut untuk mengintip dan ....


"Jackpot," kataku sepelan mungkin.


Kamar ini adalah kamar Elias dan seperti yang diharapkan, dia masih bangun pada jam ini.


Elias memandang selembar keras sambil cengar-cengir. "Elena .... Elena .... Elena .... Ah, nona Elena-ku yang manis ...."


Wuah, orang ini kelewat berbahaya.


Dia terlalu tergila-gila terhadap Elena.


Aku yakin Elias mempunyai keinginan untuk menguasai Perusahaan Daedalus seperti para pelamar lainnya tapi nampaknya dia sungguh tertarik pada gadis itu.


Aku sebaiknya mengambil kesempatan ini untuk merekam kelakukan Elias sekarang sebagai oleh-oleh bagi Elena nanti.


Dia pasti tertawa terpingkal-pingkal menonton rekaman ini besok.


Ah, dia sudah menguap pertanda akan segera tidur.


Ayo gunakan kesempatan ini untuk menjahili si baji-ngan satu ini.


Aku meraih pundaknya perlahan lalu berbisik sepelan mungkin. "Apa yang kamu lakukan malam-malam begini, Elias?"


"Wuaaaa!" Elias menjerit keras sampai terpelanting dari kursi.


"Si-si-siapa kau?! Ha-hantu?!" Dia segera berlari ke ujung ruangan dengan ekspresi penuh rasa takut dan horor sambil menunjukku. "Kau hantu! Ha-hantu tanpa wajah!"


Aku terkekeh melihat reaksi Elias. "Benar, aku adalah hantu."


"Hantu dari semua budak yang telah kamu bunuh demi kepentinganmu sendiri, Elias." Aku melangkah mendekat disertai senyum menakutkan—meski tidak terlihat karena aku mengerahkan Hallucikinesis dari kinesis.


Aku membuat ilusi kepada semua orang berjarak dua puluh meter dan membuat mereka melihat diriku tak memiliki wajah.


Kemampuan yang tepat untuk memerankan roh hantu, bukan?


Elias bergemetar begitu hebat melihat wujud roh hantu tanpa wajahku. "Bu-budak? Ma-maksudmu para budak yang kupersembahkan kepada Setan Makanan itu?"


Setan Makanan? Ah, maksudmu bangsa setan gaib yang seperti roh itu, ya?


Kalau tak salah aku memang menciptakan ras ajaib seperti setan sebagai pengganti iblis jahat selain Raja Kekacauan jika dalam cerita fantasi serupa mengingat ras iblis pada novelku hidup damai dengan manusia.


Mungkin orang-orang akan lebih paham jika menyamakan bangsa setan gaib ini dengan jin jahat di bumi.


"Benar." Aku mendekatkan wajahku kepada Elias sampai berjarak 10 sentimeter menambah ketakutan. "Aku akan membalaskan dendam mereka tidak peduli apa yang akan kamu lakukan ke depannya."


Aku mengangkat tangan mengarah pada Elias. "Sekarang tidurlah dan nikmati hari-hari penuh kesengsaraanmu yang akan datang, Elias von Ruliand."


Pada malam itu Elias menjerit sekuat tenaga berulang kali namun tak ada satupun penghuni kediaman yang mendengar jeritan luar biasa kerasnya berkat Audiokinesis.


Mungkin inilah maksud pepatah jeritan dalam kesunyian.

__ADS_1


__ADS_2